Bab 1.3 Rimba Cendekia (Rulin-waishi; The Scholars)

 

Aldi_Surjana_Rulin_Waishi_The_Scholars_Wu_Jingzi_Novel_dinasti_Qing

Kepala kurir Zhai langsung berangkat ke rumah tetangga Zhin, memanggil Wang Mian dan menceritakan duduk persoalannya.

Tetapi Wang Mian hanya tertawa.

„Laporkan kepada Kepala distrikmu, tuan. Wang Mian hanyalah seorang petani kecil, mana berani ia menemuinya. Undangan yang begitu hormat, tidak sanggup aku menerimanya.“

Wajah Kepala kurir Zhai menjadi pucat dan dengan marah ia berkata:

„Bagaimana mungkin, ada orang berani menolak undangan junjungan kami? Dan apa yang aku harus laporkan kepada Junjunganku? Apakah berarti pimpinan distrik tidak berhak memanggil warganya?“

„Tuan, kau melihatnya dari tempat yang salah. Jika seandainya aku diundang secara resmi, maka tentu saja aku harus datang. Tetapi karena aku diundang secara pribadi, yang berarti, bahwa aku tidak dipaksa untuk datang. Jika aku tidak datang, bagi tuanmu tidak masalah.“

„Omong kosong!“ kata Kepala kurir Zhai. „Undangan resmi kau akan datang, tapi undangan yang santun kau tolak!“

Tetangga Zhin berusaha untuk menengahi:

„Tuan Wang, apa yang menjadi masalahmu? Kepala distrik telah mengundangmu dengan niat baik. Ikut saja bersama saudaraku. Sejak zaman dulu orang sudah tahu, bahwa pejabat tinggi bisa menghancurkan seluruh keluarga. Bagaimana kau bisa berani menentang penguasa?“

„Paman Zhin“, kata Wang Mian, „Tuan Kepala kurir sama sekali tidak tahu, apa yang sering kita bicarakan; Sama seperti lelaki gagah zaman dulu, seorang Hsia Liu dan Duan Gan-menolak undangan tuan penguasa, seperti itulah yang akan aku lakukan dan tidak pergi menemui Kepala distrik.“

„Kau akan membuatku mendapat masalah!“, teriak Kepala kurir Zhai, „Apa yang harus aku katakan pada majikanku?“

„Untuk kedua belah pihak urusan ini bukanlah hal yang mudah“, kata tetangga Zhin. „Yang satu menginginkan agar yang lain datang ke undangan, dan yang satu lagi tidak mau melakukannya. Jika kau tidak mau datang, maka saudaraku harus menyampaikan kabar yang tidak baik. Tetapi tunggu! Ada satu jalan! Kau saudaraku, cepat kembali ke kantor, tapi jangan melapor, bahwa tuan Wang tidak mau datang, melainkan katakan saja, tuan Wang sedang sakit, nanti setelah sembuh ia akan datang ke kantor Kepala distrik.“

„Untuk kasus sakit, kita membutuhkan keterangan tertulis dari empat tetangga.“ jawab Zhai tidak setuju.

Setelah bicara ke sana ke sini, Zhin tua kemudian menyiapkan makan malam, dan mereka duduk di meja makan. Kemudian secara diam-diam Zhin tua memberitahukan si pelukis muda, agar cepat pulang ke rumah ibunya untuk mengambil sedikit uang perak sebagai upah kurir untuk Zhai.

Setelah mendapat uang, Zhai pun merasa puas dan pergi untuk melapor ke kantor Distrik.

Kepala distrik Shi berpikir dalam hati:

‚Mengapa ya, jangan-jangan karena adat jelek Zhai, yang kadang-kadang bertingkah bagaikan harimau mengamuk, sehingga Wang Mian terkejut; Selain itu, pasti ia belum pernah menjumpai pejabat tinggi. Hal itu membuatnya tidak berani datang ke sini. Di sisi lain, guru tuaku sangat menyukai pria ini. Jika aku tidak secepatnya datang membawa si pelukis muda, maka ia akan menertawakan aku dan mengatakan, bahwa aku kurang menguasai situasi dan lamban. Jadi tidak ada jalan lain selain aku datang ke pedesaan dan mencari pemuda itu. Jika ia melihat kehormatan ini, ia akan kehilangan rasa takutnya. Ia akan memberanikan diri dan datang kepadaku. Kemudian aku akan mengajaknya menemui guru tua. Bukankah itu tindakan yang cepat dan cerdik?‘

‚Tetapi aku ini toh seorang Kepala distrik‘, lanjutnya dalam hati, ‚Jika aku mengunjungi petani biasa, maka itu akan merendahkan martabatku di mata dunia dan akan menjadi bahan tertawaan anak buahku. Ah, masa bodoh, guru tua kan kemarin telah memujinya begitu tinggi. Aku harus melakukannya.‘ Dan dengan itu keputusan telah diambil.

Keesokan harinya ia memesan pemikul tandu; pasukan penjaga dan segala macam pengawalan kehormatan ia tinggalkan di rumah, hanya delapan tentara dan dua pengawal dengan topi merah dan topi hitam yang akan mengawalnya. Kepala kurir Zhai juga ikut sebagai salah satu pemikul tandu, dan langsung berangkat ke pedesaan.

Penduduk desa mendengar suara gong bertalu-talu; ada yang mengendong anaknya, ada juga yang menuntun orang tua. Kemudian akhirnya tandu mendekati pintu gerbang rumah Wang Mian, dan mereka berkumpul di depan sebuah rumah gubuk kecil beratap jerami. Kepala kurir Zhai cepat berlari ke pintu dan mengetuknya dengan keras.

Setelah agak lama, seorang wanita tua datang tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat dan berkata:

„Wang Mian tidak di rumah, tadi pagi ia pergi  dengan kerbau betina dan belum kembali lagi.“

„Tuan Kepala distrik ingin bicara dengan anakmu. Apakah kau tidak mengerti? Katakan di mana ia berada, agar supaya aku bisa menjemputnya!“

„Ia benar-benar tidak di rumah. Aku tidak tahu di mana ia berada.“ Dengan kata-kata ini ibu Wang menutup pintu kembali dan menguncinya.

Ketika Zhai masih berbicara dengan ibu Wang, tandu telah tiba. Kepala kurir melapor sambil bertekuk lutut:

„Aku tidak menjumpai Wang Mian di rumahnya, Tuan bisa beristirahat di kantor Distrik. Sementara itu aku akan mencari Wang Mian.“

Zhai memikul tandu memutar ke belakang rumah Wang Mian. Di pekarangan rumah ada berbagai perangkat pertanian. Di dekat situ terlihat dinding dari gundukan tanah dan agak jauh sedikit tampak sebuah danau, yang tepiannya dipenuhi pohon ulmus dan murbai. Di seberang danau terlihat sawah-sawah yang tak terhitung luasnya. Di sana ada sebuah bukit kecil, dengan puncak hijaunya, yang dipenuhi pepohonan. Bukit itu jaraknya tidak sampai satu kilometer, dan karena itu masih bisa terdengar suara seruan dengan baik.

Iring-iringan Kepala distrik bergerak lurus ke depan. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh tampak seorang anak lelaki duduk menghadap ke belakang di atas seekor kerbau betina datang mendekat dari kaki bukit. Kepala kurir Zhai segera menghampiri dan bertanya:

„Zhin kecil kedua, apakah kau melihat tetangga Wang? Dapatkah kau katakan padaku, ke mana ia pergi dengan kerbau betinanya?“

„Paman Wang?“ ulang si kecil Zhin kedua.

„Ia pergi bersama kerabatnya; kurang lebih sepuluh mil dari sini; ia diundang minum arak. Ini kerbau betinanya,  katanya aku harus menggantikannya membawa pulang.“

Kepala kurir Zhai melaporkan berita ini kepada Kepala distrik, yang memandangnya dengan marah dan dengan kesal berkata:

„Jika begitu halnya, kita tidak perlu ke kantor Distrik lagi, kita langsung pulang ke rumah.“

Melalui kejadian ini Kepala distrik Shi Jen menjadi sangat gusar; sebenarnya ia ingin langsung mengirim opas untuk menangkap dan menghukum Wang Mian, tetapi ia khawatir guru tua menegurnya. Jadi ia berusaha untuk menguasai diri dan pulang ke rumah. Ia nanti akan mencari akal untuk menjelaskannya kepada guru tua. Dengan pikiran ini ia meninggalkan desa.

Bersambung ke bab 2.1

Diterjemahkan oleh Aldi Surjana

Novel Dinasti Qing: Rulin Waishi (The Scholars), Wu Jingzi

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s