Bab 24 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaTeratai Emas menghasut Ximen

Tidak mengherankan, bila nyonya Teratai Emas sebagai istri favorit yang diistimewakan menjadi tinggi hati dan sok kuasa. Sudah bawaannya selalu curiga, siang dan malam ia tidak mendapat ketenangan, setiap saat kecurigaannya muncul, mengintip dan mencuri dengar dari belakang pagar dan tembok. Suatu hari, entah karena alasan kecil apa, ia memarahi dayang Bunga Prem.  Si kecil Bunga Prem yang memang keras kepala dan tidak mudah terima begitu saja, berlari ke luar paviliun ke dapur, untuk melepaskan unek-uneknya di sana tanpa terganggu. Dengan sengit, ia memukuli meja dan bangku dengan kepalan tangannya yang kecil.

Tingkah lakunya menyebabkan Nyonya Sun Hsueo, yang seperti biasa mengurus dapur, mengatakan sesuatu yang seharusnya terdengar sebagai gurauan:  „Barang aneh, kehisterisanmu bisa kau lakukan di tempat lain!“

Bunga Prem, yang memang sedang murung dan mengambek, jadi tambah sewot. „Aku larang kau menghinaku!“ dengusnya.

Nyonya Sun Hsueo cukup bijaksana untuk menganggap tidak mendengar jawabannya. Si kecil berlari ke nyonyanya yang sedang berada di ruangan depan, dan dengan geram menceritakan kejadian tadi dengan Sun Hsueo, yang tentu saja ditambah tambahkan menjadi besar. „Coba pikir, nyonya, ia bilang, kau sendiri yang mengumpani aku kepada tuan Ximen, agar kau mendapat perlakuan istimewa.“ Tentu saja kata-kata itu membuat Teratai Emas menjadi gelisah.

Pembaca, di sini harus ada sedikit penjelasan. Walau pun Nyonya Bulan adalah seorang istri utama Ximen, tetapi dikarenakan alasan kesehatan, ia mendelegasikan sebagian tugas-tugasnya kepada istri Ximen  yang lain.  Urusan penerimaan tamu diwakilkan kepada Li Kiao’rl istri kedua. Ia mengerjakan juga pembukuan keuangan keluarga. Sun Hsueo sebaliknya mengurus dapur dan personal. Demikianlah, untuk mempermudah cerita ini lebih lanjut.

Kembali Ximen melewatkan malam di kamar favoritnya Teratai Emas. Riang seperti biasa, ia menjanjikan Teratai Emas, bahwa besok pagi setelah sarapan akan membelikannya mutiara dari pasar kuil. Ketika Ximen  menitahkan Bunga Prem untuk mengambil sarapan dari dapur -antara lain ia memesan Pasta biji teratai dan Sup ikan karper perak-, ternyata si kecil menolak, ia tidak mau menggerakkan kakinya ke dapur.  Teratai Emas yang tahu sebab musababnya menjelaskan: „Ada seseorang yang mengira, aku telah mengumpani si kecil padamu untuk dipakai, yang mana bisa diartikan cintaku padamu hanyalah sebuah kemunafikan, tentu saja semua itu ditujukan padaku untuk menghina. Sebaiknya jangan kau kirim si kecil ke dapur, kirim saja Bunga Aster.“

„Siapakah dia?“

„Pertanyaan yang berlebihan. Semua kuali di dapur menjadi saksi“

Jadi Bunga Aster yang dikirim Ximen  ke dapur. Setelah waktu berjalan lama, cukup lama untuk menyantap sarapan dua kali, Bunga Aster belum juga kembali. Ximen  sudah kehilangan sabar, akhirnya Teratai Emas memutuskan untuk mengirim Bunga Prem. „Coba lihat, di mana Bunga Aster, kelihatannya ia menunggu rumput tumbuh.“

Dengan enggan, Bunga Prem menurut perintah, Ia mendapati Bunga Aster masih berdiri dan menunggu di dapur. „Brengsek!“ bentaknya, „Nyonya akan memotong kedua kakimu!. Mengapa kau tidak kembali lagi? tuan Ximen  sudah kehabisan sabar. Ia mau pergi ke pasar kuil. Aku disuruh memanggilmu secepatnyaÖ“

Bunga Prem masih ingin bicara, tetapi kata-katanya dipotong oleh Sun Hsueo. „Budak konyol! Ketel ini dibuat dari besi, mana mungkin Supnya bisa langsung panas?. Pastanya juga belum matang, Orang tidak boleh menelan makanan yang belum matang, nanti kena cacing perut!“

„Tidak tahu malu!“ bentak Bunga Prem. „Apakah kau kira aku ke sini untuk bersenang-senang? tuan Ximen  akan marah besar, bila kuceritakan padanya.“ Ia menjewer Telinga Bunga Aster dan menyeretnya keluar.

„Aku lebih pantas untuk melaporkanmu, barang kurang ajar! teriak Sun Hsueo di belakang Bunga Prem dengan marah.

„Apakah kau melapor atau tidak, bagiku tak ada bedanya“, balas Bunga Prem. „Kau tak akan mampu menimbulkan perselisihan di rumah ini!“ Dengan marah ia meninggalkan dapur. Dengan muka kuning penuh amarah Bunga Prem menghadap nyonyanya bersama Bunga Aster.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s