Bab 21 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingTiga kurban

„Baik. Bukan berarti aku tidak yakin akan kepandaianku. Seandainya aku tidak memiliki pengalaman praktek yang cukup dan sebuah tangan yang tangkas, bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan sebuah operasi pencangkokan? Itu artinya, mempermainkan kehidupan sesama manusia. Tidak, yang menjadi pikiranku adalah menyangkut hal lain, kekhawatiranku berdasarkan alasan lain. Yang menjadi pertanyaan, apakah kau sanggup, setelah operasi berhasil, melakukan tiga ketidaknyamanan pada dirimu. Seperti yang aku lihat dari bakat dan kecendrunganmu, kau sudah harus melakukan kurban yang sangat besar. Tiga ketidaknyamanan apa, akan kujelaskan secara berurutan. Jika bagaimanapun juga kau tetap ingin dioperasi, baik, maka aku akan memenuhi keinginanmu. Tetapi jika kau tidak sanggup melakukan tiga kurban dengan senang hati dan gembira, maka dengan penuh penyesalan aku harus membatalkan operasi ini, dan kau tidak boleh lagi memaksakannya kepadaku“

„Apa ketiga kurban yang kau maksud?

„Yang pertama: seratus dua puluh hari lamanya setelah operasi kau tidak boleh melakukan hubungan seksual. Melakukan hubungan seksual selama empat bulan masa penantian ini, sudah dipastikan akan membahayakan kesehatanmu: pemisahan dan pelepasan antara bagian binatang dan bagian manusia pada alat kelaminmu adalah akibatnya, bagian binatang yang dicangkokan tidak akan melekat dan tumbuh bersama, bagian asli manusianya akan  menua dan menciut. Itulah yang kumaksudkan dalam pertanyaan ketiga: apakah pasien mempunyai cukup kesabaran dan daya tahan? Jadi yang kumaksud dengan daya tahan adalah bukan dalam hal menahan sakit, melainkan kesanggupan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Yang kedua: Setelah operasi berhasil, kau hanya boleh berhubungan intim dengan wanita berumur diatas dua puluh tahun. Wanita dibawah dua puluh tahun adalah tabu bagimu, juga bila ia sudah tidak perawan lagi, juga berlaku bagi semua wanita yang belum pernah melahirkan atau yang belum pernah berhubungan seksual, semua wanita ini akan menderita sakit yang luar biasa dengan alat kelaminmu yang sudah diperbesar, apalagi gadis kecil yang belum terjamah, baginya akan berakibat kematian, jadi dalam hal ini penguasaan diri adalah tata krama manusia berakal sehat. Selain itu, kau juga tentu tidak ingin berbuat salah dan aku sebagai tabib yang melakukan pengobatan akan merasa bersalah, bila membiarkan kepandaianku disalahgunakan.

Yang ketiga: tidak dapat dihindari, bahwa pada operasi akan kehilangan air mani dalam jumlah besar, yang nantinya akan mempengaruhi pembiakan. Anak yang dibibitkan setelah operasi, biasanya mati muda. Apakah kau bersedia untuk tidak mempunyai keturunan? Itulah yang kumaksud dengan pertanyaan ketiga: apakah pasien berani berisiko? Yang dimaksud bukanlah kesiapan untuk mati muda, melainkan kesediaan untuk tidak mempunyai keturunan.“

„Oh jika hanya itu! Aku bersedia menerima ketiga ketidaknyamanan ini. Tentang itu kau tidak perlu mengawatirkannya, Sifu tua yang terhormat, dan dengan tenang bisa memulai operasi.“

„Bagaimana bisa tidak berarti apa-apa bagimu? jelaskanlah.“

„Untuk yang kesatu: pada saat pengadakan perjalanan, aku sudah sejak lama menahan diri dalam hal hubungan seksual, Bermalam sendirian, tidak berbagi ranjang dengan seorang wanitapun – aku bisa mengatakan, bahwa disitu aku menjadi terlatih. Jadi lebih lama sedikit, anggap saja empat bulan setelah operasi meneruskan berpantang, bagiku tidak ada artinya.

Untuk yang kedua: Bagiku toh hanya wanita yang sudah matang yang menjadi pilihan, yang rambutnya disanggul ala ibu rumah tangga. Terhadap wanita muda yang belum matang aku tidak mempunyai keinginan, terhadap kesenangan yang meragukan mengambil kegadisan bukanlah ambisiku. Aku sudah cukup mengalaminya dengan istriku dirumah. Wanita muda yang belum berpengalaman,sama sekali tidak mengerti tentang seni bercinta. Kemanisan seksual hanya bisa diperolah dari wanita yang sudah matang, katakanlah antara dua puluh dan tiga puluh tahun, yang tidak hanya mengerti menerima, juga memberi dan menghadiakan, dan perasaan dibalas dengan perasaan. Seperti membuat pantun berbalas: wanita muda yang masih pemula tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan setengah pantun sebelumnya. Jadi mengenai kekhawatiranmu yang kedua, kau bisa tetap tenang. Bagiku itu bukan sebuah pengurbanan.

Untuk yang ketiga: Harus diakui, banyak orang menganggap keturunan sangat penting, bagiku pribadi itu tidak terlalu penting, apakah aku mempunyai anak lelaki atau tidak. Dalam hal ini pandanganku tidak sama dengan yang lain. Pada seorang anak lelaki toh seorang ayah umumnya tidak mendapat kegembiraan, bagaimanapun bisa diperhatikan, bahwa mereka sering berkembang menjadi tidak menurut, melawan, anak nakal tak berguna, daripada taat, pintar, penerus yang pantas. Tentu saja ada nilai-nilai tertentu, jika seseorang beruntung mempunyai anak yang baik, patuh dan pintar dan menjadi penopang di hari tua. Tetapi terlalu istimewa juga tidak. Bagaimana kebalikannya, jika mempunyai anak sesat, yang membuat ayahnya terhina, malu dan bangkrut dan membuat ayahnya mati sebelum waktunya karena geram dan sedih. Dalam hal ini adalah terlambat bagi si ayah untuk bertobat dan menyesali, bahwa dulu dengan sia-sia membuat anak tak berguna di ranjang pernikahan. Selain itu, paling sedikit satu dari sepuluh lelaki tidak mempunyai keturunan anak lelaki, bagiku bila aku tidak mempunyai keturunan, akan kuterima sebagai takdir. Apakah orang mempunyai keturunan atau tidak adalah kekuasaan yang diatas. Tidak masalah pencangkokan mempunyai pengaruh sedemikian rupa, singkatnya, keputusanku sudah tetap: aku ingin di operasi.“

„Baik, karena tekadmu sudah bulat, aku tidak perlu mengawatirkannya lagi dan akan melakukannya. Selanjutnya adalah pemilihan hari baik dan tempat untuk melakukan operasi. Apakah kau mau dioperasi di tempat tinggalmu atau di tempat tinggalku? Tentu saja harus diperhatikan, jangan sampai ada penonton.“

„Maka aku ingin mengusulkan, bahwa kita akan melakukannya di tempat tinggalmu. Di kamarku di kuil ruangannya sempit dan juga terlalu banyak orang keluar masuk, kita tidak akan mendapat ketenangan.“

„Setuju“

Sekarang, barulah si Tabib sakti mau menerima uang biaya operasi yang jumlahnya tidak sedikit. Ia mencatat tanggal lahir pasien dan memilih hari baik dari almanak astrologi. Dengan itu ikatan kesepakatan selesai. Si pemuda permisi dan pergi dengan girang.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s