Bab 15 Sepasang Pedang Matahari dan Rembulan

aldisurjana_sepasang_pedang_matahari_dan_rembulan_jit_goat_siang_pokiamLatar belakang tokoh – Ban Su To Niocu (fiksi)

Hampir semua orang tahu kalau Chu Goan Chiang sebelum nak tahta menjadi kaisar pertama dinasti Beng adalah seorang rakyat jelata yang pernah berprofesi berbagai macam seperti penggembala, biksu, bahkan preman untuk menyambung hidup ditengah kemiskinan akibat penjajahan mongol. Orang tua dan saudara-saudarinya kebanyakan mati akibat wabah dan kelaparan yang melanda tionggoan. Ketika Chu Goan Chiang naik tahta menjadi Kaisar Hong Wu, satu-satunya saudara yang tersisa yaitu adik perempuannya meninggal dunia setelah melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Bi Lian. She (marga) Chu baru saja memegang tampuk kekuasaan kekaisaran yang baru sehingga otomatis she Chu menjadi marga bangsawan kerajaan. Karena itu ayah Bi Lan memutuskan anak satu-satunya menggunakan she ibunya, untuk mengangkat derajat anaknya.

Chu Bi Lan tumbuh besar di kota Yingtian (sekarang Nanking) sebagai keponakan kaisar yang disayangi oleh seluruh anggota keluarga Chu termasuk pamannya kaisar Hong Wu. Sejak kecil, Chu Bi Lan dikenal dekat hubungannya dengan putra ke empat kaisar Hong Wu yang bernama Chu Ti (Zhu Di) bergelar Pangeran Yan. Bahkan ketika Chu Ti di perintahkan ayahnya untuk pindah dan mengurus kota Beiping (sekarang Beijing) yang terkena bencana kelaparan, wabah penyakit dan menghadapi ancaman mongol di utara, Chu Bi Lian ikut pindah bersama kakak sepupunya.

Ketika paman kaisarnya meninggal dunia dan cucu kaisar (anak dari putra mahkota Chu Piao yang meninggal karena sakit) diangkat sebagai kaisar baru yang bergelar Jianwen. Chu Ti yang banyak berjasa bagi dinasti Beng merasa tidak puas, lagi pula kaisar Jianwen terlihat ingin menyingkirkan paman-pamannya yang dilihatnya sebagai batu sandungan bagi mahkota kekaisaran yang di pegangnya.

Dari semua pamannya, Jianwen memandang Chu Ti adalah penghalang terbesar. Maka terjadilah perang saudara yang akhirnya dimenangkan Chu Ti. Pangeran Yan kemudian diangkat sebagai kaisar baru Beng bergelar Yong Le. Selama perang saudara antar she Chu ini, Bi Lian berpihak pada kakak sepupunya Chu Ti.

Sejak kecil Bi Lian dikenal sebagai anak yang cerdas dan mendapat pendidikan yang setara dengan anak-anak kaisar yang lain, malah bisa dikatakan dia lebih unggul. Banyak sekali buku-buku pengetahuan yang habis dilalapnya sehingga Bi Lian dikenal sebagai anak yang luas pengetahuannya.

Ketika berumur 12 tahun, Bi Lian diajak menyertai pangeran Chu Ti berburu di hutan sekitar Beiping, Bi Lian terpisah dari rombongan dan tersesat dihutan. Pada saat itu baru 14 tahun dinasti Beng berdiri dan Beiping yang merupakan bekas ibukota dinasti mongol masih dalam keadaan rawan. Bi Lian yang tersesat tentu saja dengan mudahnya bertemu para perampok yang masih banyak berkeliaran disekitar Beiping. Chu Ti yang kehilangan adik sepupu yang disayanginya kalang kabut dan memerintahkan para prajurit mencari Bi Lian disegala pelosok Beiping. Ternyata bukannya Bi Lian ditemukan oleh para prajurit, Bi Lian bahkan pulang sendiri tanpa kurang sesuatu apapun kembali ke benteng Beiping. Ketika ditanya apa yang terjadi selama dia tersesat, Bi Lian hanya menjawab seorang Lihiap (pendekar wanita) telah menyelamatkannya.

Sejak saat itu, Bi Lian sehari penuh dalam setiap minggunya selalu keluar benteng Beiping dan meminta untuk tidak dikawal. Pernah satu kali Chu Ti memerintahkan pengawalnya yang berilmu cukup tinggi menjaga Bi Lian secara diam-diam malah melaporkan setelah keluar benteng dan masuk ke hutan, putri Bi Lian tiba-tiba menghilang bersama seorang wanita setengah tua yang bisa terbang. Chu Ti maklum kalau Bi Lian bersama orang pandai, sehingga tidak khawatir lagi dikemudian hari.

Ternyata Lihiap yang menyelamatkan Bi Lian telah mengangkatnya sebagai murid, terutama setelah melihat bakat dan potensi yang luar biasa dalam diri Bi Lian. Gurunya sama sekali tidak pernah menyebutkan namanya kecuali she-nya Ciu. Sejak itu Bi Lian memanggil gurunya dengan nama Ciu-subo (ibu guru Ciu) atau subo saja.

Walaupun Ciu-subo sama sekali tidak pernah menyebutkan asal usul dirinya, tetapi ilmu silat yang dimiliki ternyata luar biasa. Ilmu silat andalannya bernama Kong-ciak Sin-na (Cengkeraman sakti burung merak) diturunkannya kepada Bi Lian. Ciu-subo menceritakan kalau Kong-ciak Sin-na pada awalnya merupakan sebuah ilmu luar biasa yang bernama cakar tulang putih sembilan bulan. Hanya saja karena telengas, selama bertahun-tahun terakhir Ciu-subo berusaha keras untuk memperlembut dan memperlunak ilmu cakar tulang putih sembilan bulan supaya tidak terlalu kejam sehingga terciptalah Kong-ciak Sin-na. Malah dahulu menurut Ciu-subo, ada seorang wanita yang bernama Bwe Tiaw-Hong menggunakan tengkorak manusia untuk melatih ilmu keji ini. Ilmu ini banyak menelan korban selama malang melintang di dunia kang-ouw.

“Aku juga pernah mencelakai orang yang semestinya tidak perlu kucelakai dengan ilmu ini” kata Ciu-subo sambil menghela nafas menyesal.

Setelah menceritakan asal usul ilmu Kong-ciak Sin-na, Ciu-subo kembali murung seperti pembawaannya sejak awal bertemu Bi Lian Sepertinya Ciu-subo menyimpan beban berat di dalam pikiran tetapi tidak ingin membagi bebannya pada orang lain. Karena Ciu-subo tidak pernah membicarakan urusannya, otomatis Bi Lian juga tidak ingin bertanya walaupun dalam hatinya ingin membantu meyelesaikan masalah subo-nya. Pembawaan Ciu-subo terkadang aneh. Kadang Ciu-subo terlihat angkuh bagaikan ketua partai perguruan besar, kadang menangis sendiri seperti menyesali sesuatu, tetapi Ciu-subo paling sering terlihat murung.

Selama 5 tahun Ciu-subo melatih Bi Lian dengan keras satu hari penuh dalam seminggu terutama ilmu merak sakti simpanannya. Setelah umur Bi Lian mencapai 17 tahun, tiba-tiba Ciu-subo pergi begitu saja dengan hanya meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan dirinya ingin pergi menyepi. Kepergian Ciu-subo membuat Bi Lian bersedih dan memutuskan diam-diam mencari kemana subo-nya pergi. Bi Lian kemudian meminta ijin kepada Chu Ti untuk pergi mengembara mencari pengalaman. Tahu akan kemampuan Bi Lian, Chu Ti-pun mengijinkannya untuk pergi mengembara. Hanya saja selama bertahun-tahun mengembara, ejak Ciu-subo tak pernah terlihat. Hingga akhirnya Bi Lian-pun menyerah.

Selama perang saudara melawan kaisar Jiangwen, Bi Lian kembali ke Beiping untuk membantu Chu Ti menggulingkan kekuasaan kaisar Jianwen. Nama besar Bi Lian mulai tersiar di dunia kang-ouw. Karena Bi Lian bertindak tanpa pernah meninggalkan nama, dunia kang-ouw memanggilnya dengan nama Ban Su To Niocu (Nona dengan selaksa pengetahuan). Hanya tokoh-tokoh besar saja didunia kang-ouw yang mengetahui bahwa Niocu yang ini masih punya hubungan kerabat dengan kaisar dinasti Beng.

Hanya saja walaupun Ban Su To Niocu tidak pernah melakukan tindakan kejahatan, sikap angkuhnya menyebabkan orang-orang kang-ouw kurang senang. Bagaimanapun Bi Lian masih berdarah bangsawan, sehingga sering memandang rendah orang lain. Walaupun awet muda, hingga berumur 50 tahun, Bi Lian masih belum menikah. Desas desus mengatakan kalau Ban Su To Niocu menganggap rendah para bangsawan yang melamarnya sebagai orang lemah jika dibandingkan dengan kepandaian silatnya. Sedangkan orang-orang kang-ouw yang melamarnya ditolak dengan alasan tidak pantas seorang bangsawan menikah dengan rakyat jelata.

 

Bersambung

Cerita hasil keroyokan bareng anggota serialsilat.com: 23.10.2007
Aminus, B_man, Kucink, Mel, Tembuyun Belitong, Trulythe (Aldi Surjana), Toan_ie, dan Zetta

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s