Bab 2.1 Rimba Cendekia (Rulin-waishi; The Scholars)

 

Aldi_Surjana_Rulin_Waishi_The_Scholars_Wu_Jingzi_Novel_dinasti_Qing

Sepertinya Wang Mian tidak pergi terlalu jauh, karena tidak lama kemudian ia sudah pulang ke rumahnya. Tetangga Zhin datang menghampiri Wang Mian dan menegurnya:

„Kau telah membuat masalah! Bagaimana mungkin, kau berlaku tidak sopan kepada seseorang, yang menguasai seluruh distrik!“

„Duduklah, Paman!“, jawab Wang Mian, „Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Kepala distrik Shi ini hanya memikirkan keuntungan jabatannya saja dari Wei tua, dan ia menyalahgunakan kekuasaannya untuk memeras rakyat kecil, di mana tidak ada kejahatan yang tidak berani ia lakukan. Dan dengan semacam manusia seperti itu aku harus bergaul? Jika ia sekali ini pulang ke rumah, pasti ia akan menceritakan semua ini dengan caranya kepada Wei tua. Aku sudah mengambil risiko atas tindakan balas dendam kedua orang itu. Paman yang baik, aku harus mengucapkan selamat tinggal kepadamu, karena untuk sementara waktu, aku akan bersembunyi di tempat lain. Hanya saja aku sangat berat meninggalkan ibuku sendirian.“

Sang ibu pun ikut bicara:

„Anakku, beberapa tahun terakhir, kau telah banyak menjual puisi dan lukisan, karena itu aku bisa menabung sebanyak tiga puluh sampai lima puluh ons uang perak. Jadi kau tidak usah kawatir, bahwa aku akan kekurangan beras dan kayu bakar. Aku sudah tua, tetapi aku tidak rapuh. Jadi tidak masalah, jika kau sekarang harus menyembunyikan diri. Selain itu kau kan tidak melakukan kejahatan apa pun, jadi sangat tidak tahu malu, bila para pejabat itu sampai menangkap ibumu.“

„Sudah benar begitu“, sahut tetangga Zhin, „Jika kau selamanya tinggal di desa ini, tak seorang pun akan tahu tentang kepandaianmu. Sekali ini, mungkin kau sebaiknya pergi ke kota besar. Siapa tahu, nasib baik menunggumu di sana? Dan mengenai urusan tetek bengek ibumu, aku si tua bangka yang akan menanggungnya.

Dengan terharu Wang Mian mengucapkan terima kasih pada tetangga Zhin. Setelah itu tetangga Zhin mengambil arak dan manisan untuk melengkapi makan perpisahan Wang Mian.

Pagi-pagi sekali Wang Mian sudah bangun, mengikat buntelnya dan makan sarapan pagi. Tidak lama kemudian datang tetangga Zhin. Wang Mian mengucapkan selamat tinggal pada ibunya, menjura dua kali pada Zhin tua, dan dengan penuh air mata ibu dan anak pun berpisah.

Wang Mian mengikat sepatu rumputnya erat-erat dan meletakan buntelnya ke atas pundak. Tetangga Zhin menenteng lampu lentera kecil dan mengiringi Wang Mian hingga ke gerbang desa. Di sana keduanya berpisah dengan penuh linangan air mata. Tetangga Zhin masih berdiri sebentar dengan lampu lentera putihnya memandang ke arah Wang Mian, hingga lenyap dari pandangan mata.

Karena Wang Mian melakukan perjalanannya tanpa istirahat dan tidur hanya berselimut embun dan per hari mencapai sekitar dua belas mil, maka ia cukup cepat mencapai Jinan, ibu kota provinsi Shandong.  Meskipun provinsi ini letaknya cukup jauh di utara, di ibu kotanya banyak orang kaya menetap, dan rumah-rumah berdesakan cukup padat satu sama lain.

Ketika Wang Mian tiba di sana, uang bekalnya hanya tersisa sedikit, dan hanya mampu membayar sewa sebuah kamar sempit, yang menjorok ke jalan di sebuah biara. Ia menjual syair ramalan dan kata-kata bijak, yang ditulisnya di atas kertas. Juga ia melukis beberapa lembar bunga dan herbal dan di ditawarkan untuk dijual kepada para pejalan kaki yang berlalu lalang di depan jendela kamarnya. Dengan itu ia mempunyai sedikit pemasukan uang. Dalam sekejap setengah tahun telah berlalu.

Di Jinan terdapat tidak sedikit orang beruang, yang tak berpendidikan, yang mengingini lukisan Wang Mian; tetapi mereka tidak datang membeli sendiri, melainkan mengirim orang kasar, yang tanpa otak berteriak dan menawar harga, sehingga Wang Mian kehilangan ketenangannya.

Akhirnya Wang Mian kehilangan kesabarannya, lalu melukis gambar seekor kerbau besar dan menempelnya di tembok. Juga menambahkan sejumlah tulisan mengolok-olok ke atas gambar tersebut. Namun karena ia kawatir nantinya terjadi keributan, ia lalu pindah ke tempat lain.

Pada suatu pagi ia melihat dari jendela kamarnya banyak wanita dan lelaki, yang berjalan beriringan di jalan sambil mengeluh dan menangis. Ada yang membawa wajan besar dan ada juga yang menggendong anaknya dalam keranjang di punggung. Semuanya mengenakan pakaian lusuh dan terlihat pucat serta menyedihkan. Belum sempat satu rombongan berlalu, sudah disusul oleh rombongan lain lagi.

Beberapa dari para pengungsi duduk di lantai dan mengemis. Ketika ditanya, mereka menjawab, semuanya berasal dari provinsi dan kabupaten sepanjang sungai kuning. Air bah telah merobohkan bendungan, dan membanjiri gubuk-gubuk dan rumah-rumah mereka. Mereka semua, katanya terancam bahaya kelaparan dan pergi mengungsi; para pejabat tidak mengurus mereka, dan karena itu mereka harus pergi ke semua penjuru angin untuk mencari makanan.

Pemandangan ini membuat Wang Mian sangat terharu; Ia menghela napas dengan keras dan berkata dalam hati:

‚Air bah datang dari utara; tidak lama lagi semua akan kena bencana banjir; apa lagi yang kucari di sini?‘

Kemudian ia mengumpulkan semua uang peraknya, mengikat buntelnya dan melangkahkan kakinya ke arah kampung halaman.

Wang Mian kembali menginjakkan kakinya ke provinsi Zhejiang dan mendengar, bahwa tuan Wei tua sudah kembali bertugas di istana dan Kepala distrik Shi sudah mendapat jabatan yang lebih tinggi. Dengan itu ia tanpa halangan bisa menemui ibunya.

Untuk menjadi kegembiraannya, ia menemui ibunya dalam keadaan sehat seperti sebelumnya. Ketika ibunya tak ada habis-habisnya menceritakan tentang kebaikan tetangga tua Zhin, Wang Mian langsung membuka ikatan buntelnya, mengeluarkan satu bal kain sutera mentah dan sepotong kue lezat; dengan hadiah ini ia mendatangi Zhin tua untuk berterima kasih. Zhin tua langsung menyiapkan minuman selamat datang.

Dan seperti yang dulu ia lakukan, kembali Wang Mian membuat puisi dan melukis, dan dengan itu ia menafkahi dirinya dan ibunya. Enam tahun berlalu dengan cara ini, lalu ibunya jatuh sakit. Wang Mian telah meminta bantuan berbagai tabib, tetapi tak seorang pun berhasil menyembuhkannya. Ibunya meminta Wang Mian mendekat ke pembaringan. Setelah itu ia berkata:

„Aku merasakan, hidupku akan berakhir. Sudah sejak bertahun-tahun semua orang tahu akan kepandaianmu, dan aku harus membujukmu agar menjadi pejabat. Tetapi sebagai pejabat sulit bagimu untuk meneruskan garis keturunan ayahmu. Aku sudah sering mengalami, bahwa dengan pejabat itu sering berakhir dengan tidak baik. Dan kau dengan keangkuhanmu pasti suatu hari akan mendapat malapetaka. Anakku, dengar apa yang aku katakan: Menikahlah, asuhlah anakmu, rawat makamku dan apa pun yang terjadi, jangan jadi pejabat. Jika kau menjanjikannya, maka aku bisa menutup mulut dan mataku dengan tenang.“

Dengan penuh air mata Wang Mian berjanji. Ibunya masih bernapas beberapa kali, lalu pergi ke langit barat. Kesedihan yang mendalam membuat Wang Mian bagaikan hilang kewarasan; ia memukul dadanya, membanting-bantingkan kakinya dan menangis begitu keras, sehingga para tetangga ikut menangis. Dan terima kasih atas bantuan tetangga Zhin, yang segera mengurus perkabungan. Dari tiga tahun masa berkabung tidak diceritakan.

Sekitar setahun setelah berlalunya masa berkabung terjadi pemberontakan terhadap pemerintahan Monggol. Fan Guo-zhen menguasai Zhejiang; Zhang She-cheng menduduki Suzhou; Chen Yu-liang mengambil Hunan, Hupeh, Guangdong dan Guangxi. Semua itu adalah pahlawan dari rakyat biasa, yang berasal dari „Stepa dan rawa“.

Zhu Yuanzhang, yang nantinya menjadi pendiri dinasti Ming, memulai pemberontakannya di Kanton, merebut Nanjing dan menamakan dirinya sebagai raja Wu, ia adalah seorang panglima yang memikirkan keadaan tanah air. Dengan pasukan perangnya ia menghancurkan kekuatan Fan Guo-zhen dan menjadi penguasa seluruh Zhejiang. Langsung setelah itu situasi di kota-kota dan desa-desa kembali menjadi tenang.

Bersambung ke bab 2.2

Diterjemahkan oleh Aldi Surjana

Novel Dinasti Qing: „Rimba Cendekia“ (Rulin Waishi; The Scholars), Wu Jingzi

Mohon jangan mencetak atau memperbanyak terjemahan ini dalam bentuk apapun tanpa izin

 

 

 

Werbeanzeigen

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s