Bab 25 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaXimen menghukum Sun Hsueo

„Apa yang terjadi?“ tanya Teratai Emas
„Tanyakan si kecil! Ketika aku tiba di dapur, ia masih menunggu dan harus ikut menyaksikan, bagaimana orang itu untuk menyiapkan sedikit sarapan saja harus berlama-lama. Belum sempat aku mengatakan, bahwa tuan kita ingin cepat sarapan, ia sudah ribut, memaki aku sebagai ‚Budak pelacur‘ dan mengatakan kata-kata yang tidak enak ke alamat tuan Ximen, seolah olah dapur itu tempat untuk memaki maki dan bukan untuk masak.“

„Tuh!, apa kubilang?“ kata Teratai Emas pada Ximen. „Tidak boleh lagi kita menyuruh Bunga Prem ke dapur, orang itu selalu mengajak ribut. Aku dan Bunga Prem sudah dibuat mengerti olehnya, bahwa kita tidak boleh meninggalkan kamar. Makian semacam itu harus dilarang dari orang itu!“

Kata-kata tersebut mencapai akibat yang diingini. Dengan penuh amarah, Ximen  melangkah ke dapur, dan memberikan beberapa tendangan kepada Sun Hsueo. „Dasar!, tulang jahat kau!“ teriaknya kepada Sun Hsueo. „Mengapa si kecil yang aku suruh mengambil sarapan, kau maki-maki dan mengecapnya sebagai ‚Budak pelacur‘? mengaca dulu kau di air comberan!“

Baru saja Ximen  membalikkan tubuh, langsung yang merasa difitnah mencekal pembantu dapur, istri pelayan Lai Po, „Kau tadi melihat semua, bagaimana Bunga Prem bertingkah di sini. Apakah aku pernah mengatakan sesuatu padanya? Ia langsung ke luar bersama Bunga Aster dan menceritakan yang tidak benar pada tuan Ximen, dan menghasutnya, sehingga ia tanpa alasan menganiayaku! Aku akan berjaga jaga. Nanti kalau Budak pelacur itu datang ke sini lagi, awas dia!“

Dalam kemarahannya tak terpikir oleh Sun Hsueo, kalau kata-katanya terdengar oleh Ximen  yang sedang memasang kuping di luar. Tiba-tiba Ximen  sudah berada di hadapannya lagi dengan penuh kemarahan dan menggamparnya kiri kanan beberapa kali. „Terkutuk!, budak jahat! Kau mengatakan, kau tidak menghinanya? Aku baru saja mendengar dengan kupingku sendiri, bagaimana kau memaki makinya!“ Dan ia memukul dan memukul lagi, sehingga Sun Hsueo menangis karena kesakitan. Kemudian ia pergi meninggalkannya.

Setelah selesai sarapan, akhirnya Ximen  pergi berangkat ke pasar kuil. Dan Sun Hsueo yang tidak terima perlakuan Ximen  tadi pergi melapor pada Nyonya Bulan, hanya saja ia tidak tahu kalau ia dikuntit oleh Teratai Emas yang kemudian menguping di bawah jendela.

Teratai Emas mendengar semua pembicaraan di dalam antara lain Sun Hsueo mengatakan pada Nyonya Bulan, bahwa Teratai Emas telah meracuni mati suami terdahulunya. Dengan berang ia masuk ke kamar Nyonya Bulan dan melabrak Sun Hsueo. Setelah dilerai dan oleh Nyonya Bulan ia kembali ke paviliunnya. Di kamarnya, ia membetot semua perhiasan dari tubuhnya, mengacak-acak rias wajahnya. Dengan rambut terurai berantakan dan muka cemong penuh air mata, ia melemparkan tubuhnya ke ranjang dan tetap di situ hingga malam hari sampai akhirnya Ximen  pulang. Tertegun, Ximen bertanya, apa yang telah terjadi.

Dengan tersedu-sedu Teratai Emas menceritakan semua kejadian tadi, dan ia meminta surat cerai dari Ximen. „Aku dulu mau menikahimu bukan karena uang, melainkan mengikuti apa kata hatiku“ katanya dengan penuh penyesalan. „Dan sekarang aku harus menerima semua hinaan ini! Pembunuh suami dan berkali kali lagi pembunuh suami ia memaki aku. Sebaiknya aku tidak usah mempunyai pelayan lagi. Apakah mungkin aku mempunyai seorang pembantu yang sehari harinya dimaki maki dan dicela orang cuma karena gara-gara aku?Ö“

Ximen  tidak membiarkannya selesai bicara. Kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Bagaikan angin beliung ia tiba di hadapan Sun Hsueo. Dengan gusar ia menarik rambut Sun Hsueo dan memukulinya dengan sebatang bambu pendek berkali kali dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya Nyonya Bulan datang melerai.

Ximen  kembali ke paviliun Teratai Emas dan menyerahkan hadiah yang telah dijanjikan, yang dibeli dari pasar kuil. Mutiara-mutiara seberat 4 ons. Teratai Emas harus merasa senang. Ximen  telah memihak kepadanya dan memberikan kepuasan. kedudukannya menjadi lebih tinggi dalam keistimewaannya. Ia hanya perlu meminta satu, dan ia akan mendapat sepuluh kali lipat. Apakah ia tidak punya cukup alasan untuk merasa puas diri?

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s