Bab 22 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingKeinginan dan kerinduan yang tak terpenuhi sudah bertumpuk

Pada malam ini pemuda kita tidak bisa tidur. Pertemuan dengan Tabib sakti pengembara masih terbayang-bayang dalam benaknya, dan dalam khayalannya ia sudah membayangkan, secepatnya setelah ia sembuh dari operasi yang berhasil, langsung menyerbu para wanita dan diantaranya ada yang sampai begitu marah. Bisa dimengerti, bahwa gambar khayalan masa depan yang begitu menggairahkan telah menyihir si kerdilnya menjadi segar bugar dan siap untuk bertindak.

‚Sudah sejak lama aku menjalani kehidupan yang penuh kesepian‘, katanya kepada dirinya sendiri. ‚Keinginan dan kerinduan yang tak terpenuhi sudah bertumpuk. Itu adalah penderitaan. Tidak lama lagi aku akan dioperasi, dan setelah itu kembali menunggu dan berpantang! – Sebelumnya harus sekali lagi mencari wanita, mengosongkan penyumbatan yang menggangu ini. – satu porsi sup kaldu, kemudian cuci gudang – dan membuatku lebih nyaman!‘

Ketika pikirannya sampai pada titik ini, secepatnya ia sudah bangun dan ingin berpakaian, untuk pergi kerumah pelesiran terkenal. Tetapi sambil menghela napas ia kembali berbaring. Ia mendapat ingatan: Pada jam larut malam begini mungkin para wanitanya sudah dipesan orang dan ia tidak dibukakan pintu, kepergiannya tidak berguna. Ia terus berpikir, dan ia mendapat ide lain:

‚Untuk apa aku membawa dua pelayan lelaki muda sebagai teman perjalanan? Mengapa menampik ‚koridor selatan‘, bila koridor utara tertutup?‘

Ia memanggil pelayannya yang lebih muda dan menyuruhnya naik keatas pembaringan untuk memainkan peran wanita. Shutung dan Ki‰nshao adalah nama fantasi, yang biasa digunakannya untuk memanggill kedua pelayannya.

Yang lebih muda, berumur 16 tahun, adalah anak yang cerdas, mengerti sedikit bahasa tulisan, oleh karena itu oleh tuannya mempercayakan untuk mengurus buku: ia melihat pada diri pelayan muda ini bagaikan kotak hidup pelindung buku, dari situlah si pelayan mendapat nama panggilan Shutung „Kotak buku“. Yang lebih tua, berumur 18 tahun, mendapat tugas untuk menjaga dan merawat pedang bermata dua sisi warisan keluarganya beserta sarung pedangnya agar tidak karatan, dari situlah nama panggilan Ki‰nshao „Sarung pedang“. Kedua-duanya adalah anak lelaki cakap. Dengan pipinya yang segar dan licin orang akan mengira sebagai anak gadis, jika tidak melihat kaki dan kelaminnya. Tetapi dalam hal watak keduanya berbeda. Yang lebih tua berpikiran sederhana dan keras kepala serta tidak pandai berpura-pura. Lain halnya dengan yang lebih muda, ia adalah anak muda yang licik dan secerdik rubah. Ia selalu tahu apa keinginan tuannya. ia sudah mendapat cara, jika dibutuhkan bisa seperti wanita dengan „belakang pendopo“ dan memudahkan tamunya masuk dengan goyangan perutnya, serta pandai menirukan desahan seorang wanita. Oleh karena itu tuannya sangat menyukainya dan itulah sebabnya mengapa malam ini ia yang dipanggil ke ranjang tuannya dan bukan yang lainnya.

Pada saat jeda, si pelayan usil tak tahan untuk mengajukan sebuah pertanyaan:

„Hsiang kung, tuan muda, sudah sejak lama kau hanya mengincar wanita, menampik dan menyisihkan yang seperti kami. Bolehkah aku bertanya, mengapa kau malam ini kembali berselera seperti dulu?“ terdengar suaranya, menirukan suara seruling seorang wanita.

„Untuk pesta perpisahan“

„Perpisahan? Apakah kau mau memberhentikan aku melayanimu dan menjualku kepada tuan yang lain?“

„Tidaklah. Dengan ‚perpisahan‘ maksudku bukan, bahwa aku akan berpisah denganmu, melainkan bahwa ‚Duta‘ ku hari ini datang untuk mengucapkan selamat berpisah ke Hou tang ‚pendopo belakang‘ mu“

„Mengapa ia ingin berpisahan?“

„Seperti kau tahu, aku baru-baru ini sudah memutuskan, untuk dioperasi supaya lebih bagus dan lebih gagah. Operasi ini akan membuatnya lebih besar dan lebih panjang, sehingga nantinya setiap ‚pintu audiensi‘ wanita manapun, apakah besar atau sempit. Ia akan masuk dengan paksa. Pintu ‚pendopo belakang‘ mu yang kecil sudah tidak mungkin lagi. Nah, betul kan, jika  kunjungan ‚Duta‘ ku hari ini disebut sebagai perpisahan?“

„Mungkin saja Dutamu tumbuh sedikit agak kecil, tapi kan biasanya tidak ada masalah – Mengapa harus dioperasi?“ tanya si anak muda yang kurang pengalaman ingin tahu.

Tuannya menjelaskan dengan singkat, bahwa dalam hal tertentu, selera wanita kebalikannya daripada selera pria, bahwa pria menyukai yang kecil dan lembut, sedangkan wanita kebalikannya, menyukai yang besar dan keras.

„Setelah operasi, kau hanya akan berhubungan dengan wanita dan menampik yang seperti kami?“

„Pi‰n shi, tepat begitu.“

„Ah, bisakah kau – maksudku, jika kau begitu berlimpah dengan wanita, sehingga kau tidak tahu lagi harus dikemanakan, dapatkah kau sekali-kali melimpahkannya juga padaku? – Maksudku, bisa saja dayang, wanita baik-baik toh punya dayang – Jika kau berkunjung pada wanita seperti itu, tolong ajaklah aku! – Aku juga kepingin sesekali mencoba menikmati wanita, juga tidak percuma aku melayani jentelmen gagah dan Sifu ‚permainan angin dan bulan'“, mohon si kecil.

„Jika hanya itu!

Seorang panglima perang yang baik,

tidak akan membiarkan serdadunya kelaparan,

sementara perutnya sendiri penuh.“

Mendengar itu si bengal menjadi senang dan menduakalilipatkan layanannya, sebagai hadiah perpisahan untuk duta tuannya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s