Bab 16 Sepasang Pedang Matahari dan Rembulan

aldisurjana_sepasang_pedang_matahari_dan_rembulan_jit_goat_siang_pokiamPewaris Ilmu Pengemis Utara dan Kaisar Selatan

Saking asyiknya dengan urusan Jit Goat Siang Pokiam, mereka yang berada didarat tidak sadar ada perahu mendekat. Orang didalam perahu itu terlihat masih muda, paling berumur 25 tahunan, warna biru pakaian yang dikenakannya terlihat sudah pudar saking tuanya, terlihat ada beberapa tambalan. Walaupun demikian pakaiannya bersih, tidak seperti pengemis yang kumal. Tangannya terlihat memegang tongkat pancing dari bambu.

Tee-It Thian-Mo yang merasa gusar belum berhasil medapatkan pusaka, tiba-tiba melemparkan am-gi (senjata gelap) ke arah pemuda di atas perahu. Tak disangkanya pemuda yang dianggapnya nelayan biasa itu justru menangkis am-gi dengan tongkat pancingnya.
Trang…trang…trang….Berturut 3 am-gi ditangkis olehnya.

Tiba-tiba pemuda itu meloncat dari perahu ke pinggir sungai, padahal jarak antara perahu dan daratan masih lumayan jauh. Ginkang yang dikerahkan tidak boleh dianggap main-main.

Setiba didaratan dia langsung menyerang Tee-It Thian-Mo dengan tongkat pancingnya yang sudah tak bertali.

”Kurang ajar, sudah menyerangku gelap-gelapan, am-gi mu malah memutuskan tali pancingku. Harus kubalas perbuatanmu”

Baru kali ini Tee-It Thian-Mo menghadapi serangan ilmu tongkat yang aneh. Tak pernah sebelumnya dia melihat ilmu tongkat pemuda ini walau sudah malang melintang didunia kang-ow puluhan tahun. Kadang serangan tongkat itu mengincar dadanya, tapi secara mendadak membelok menusuk matanya. Benar-benar kewalahan Tee-It Thian-Mo kali ini. Semenjak Kakek iblis perlente itu diserang pemuda bertongkat, dengan sendirinya pertarungan segi tiga berakhir. Dian Long dan Ban Su To Niocu juga lebih tertarik melihat pertarungan baru tersebut dari pada rebut sendiri.

Ban Su To Niocu tertegun melihat cara pemuda itu memainkan tongkat. Pernah gurunya bercerita tentang ilmu tongkat kebanggaan kaypang (partai pengemis) yang bernama Ta-kauw Pang-hoat (ilmu tongkat pemukul anjing). Biasanya Ta-kauw Pang-hoat turun temurun diajarkan hanya kepada ketua kaypang. Saat benteng Siang-yang runtuh diserang tentara mongol ratusan tahun yang lalu, para pemimpin teras kaypang termasuk bekas kaypangcu (ketua partai pengemis) Oey Yong dan kaypangcu saat itu Yelu Chi tewas bersama Kwee Ceng Tayhiap dan ratusan pendekar yang ikut mempertahankan Siang-yang. Sejak saat itu ilmu Ta-kauw Pang-hoat juga bagaikan lenyap dari muka bumi. Ketua kaypang yang sekarang malah hanya menerima tongkat pemukul anjing sebagai tanda ketua tapi tidak menguasai Ta-kauw Pang-hoat, sehingga pamor kaypang ikut anjlok bagaikan partai gurem yang punya anggota banyak tapi tak punya pengaruh.

Tak tahan menghadapi ilmu tongkat aneh pemuda itu, Tee-It Thian-Mo meloncat mundur. Tadi Ban Su to Niocu bertarung hanya dengan tangan kanan karena tangan kirinya masih memegang bungkusan kulit kambing pipih panjang. Kalau dia maju juga bersama pemuda bertongkat ini, walaupun dibantu murid-muridnya belum tentu dia bisa mengimbangi. Tipis harapannya mendapatkan pedang pusaka hari ini. “Biarlah kubiarkan dulu mereka memegangnya, toh dengan jaringan mata-mataku mudah untuk menemukan mereka lagi, “ pikir Tee-It Than-Mo.

“Kita pergi!” Bentak Tee-It Thian-Mo pada anak muridnya sambil melocat ke arah hutan diikuti oleh Jit-tok Hoa. Kiam Hoa masih sempat melirik ke arah Dian Long sekejap sebelum ikut meloncat mengikuti suhu-nya.

Ban Su To Niocu mengangkat tangannya memberi hormat pada pemuda bertongkat sambil berkata,”Saudara muda sungguh lihay bisa mengusir anjing dengan pukulan tongkat, padahal tongkat yang digunakan hanyalah tongkat pancing biasa. Aku adalah kenalan baik kaypangcu, siapakah nama saudara dan dari cabang kaypang manakah?”

Pemuda itu tersenyum,”Ban Su To Niocu sungguh jeli mengetahu nama ilmu tongkat yang kupakai, tapi sayang sekali cayhe bukanlah anggota kaypang”.

Terkejut Ban Su To Niocu mendengar jawaban pemuda itu. Bagaimana bisa Ta-kauw Pang-hoat bisa dikuasai oleh orang luar kaypang pikirnya, kecuali ada satu kemungkinan.

“Kalau begitu, apakah saudara she Yelu?” tanya Ban Su To Niocu lebih lanjut.

“Hahaha… apakah cayhe she Yelu atau she Chu (marga keluarga kaisar Beng) tentulah tak berguna diketahui oleh Ban Su To Niocu yang mulia. Lagipula she Yelu adalah she bangsa Liao bukan? Cayhe sendiri tidak mengerti bahasa Liao, Hahaha…”.

“Hmmm, bekas ketua kaypang yang terakhir menguasai Ta-kauw Pang-hoat adalah Yelu Chi seorang Liao yang menikah dengan Kwee Hu, anak pendekar Kwee Ceng. Jika keturunan mereka menikah dengan orang Han turun temurun, tentu saja turunan mereka tidak bisa berbahasa Liao bukan?”

Bersambung

Cerita hasil keroyokan bareng anggota serialsilat.com: 23.10.2007
Aminus, B_man, Kucink, Mel, Tembuyun Belitong, Trulythe (Aldi Surjana), Toan_ie, dan Zetta

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s