Bab 26 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaXimen mengambil keperawanan Nona Bunga Kamar

Pada suatu hari, kembali tiba giliran tetangga Ximen, Hua Tse Hsu, untuk menjamu kawan-kawannya. Semua komplit hadir. Seperti biasa, meja perjamuan dipenuhi makanan dan minuman mewah yang berlebihan. Untuk hiburan tarian dan nyanyian serta musik di tangani oleh dua orang gadis penyanyi yang sangat menarik, yang bakat dan penampilannya tidak kalah dengan „ranting Bunga persik“ di istana Kaisar.

Setelah lagu kedua, para gadis penyanyi meletakkan alat musiknya, bagaikan ranting bunga dibuai angin mendekati meja perjamuan, dan memberi hormat sambil bertekuk lutut. Ximen  begitu terpesona, sehingga ia langsung menitahkan pelayannya Tai A’rl untuk memberikan sepotong perak pada setiap gadis. „Siapakah kedua gadis ini?“ tanyanya pada tuan rumah. „Mereka benar-benar menguasai seni“

Belum sempat Hua Tsehsu menjawab, seperti biasa  pembonceng Ying mendahului: „Tuan besar menjadi sangat pelupa. Yang memainkan kecapi bertali 12 itu kekasihnya Hua kita dari rumah pelesiran di belakang. dan yang memainkan Pipe bertali 6 itu bukan lain adalah nona „Bunga Kamar“, yang dulu pernah aku pujikan padamu. Tuan besar telah mengambil bibinya Li Kiao’rl ke rumah menjadi istri kedua, tetapi tidak mengenal keponakan kandungnya!“

„Ah, si kecil itu rupanya!“ jawab Ximen  dengan senyum dikulum. „Sudah tiga tahun aku tidak melihatnya. Bukan main, ia sudah tumbuh menjadi gadis jelita!“

„Bagaimana kabar ibu dan kakak perempuanmu?“ tanya Ximen  pada „Bunga Kamar“ beberapa jam kemudian, ketika dengan elegan datang ke mejanya menuangkan arak, „Mengapa kau tidak pernah sowan kepada bibimu?“

„Sejak beberapa tahun ibuku sakit, jadi aku sampai hari ini tak dapat selangkah pun meninggalkan rumah. kadang-kadang aku harus ke tempat tinggal kakakku, yang mempunyai seorang teman asing dari Kiangsu, membantunya melayani tamu, sehingga kadang-kadang aku dua atau tiga hari tidak pulang ke rumah, selain itu rumah kita juga selalu penuh, dan aku harus menangani urusan hiburannya. Jadi, kau lihat, aku sama sekali tak ada waktu, walau pun tentu saja aku ingin mengunjungi kalian. Tetapi mengapa kalian menghindari rumah kita dan kau tidak pernah mengirim Bibi berkunjung?“

Ximen  yakin dari kata-katanya ada terdengar sedikit tantangan. Ia merenung sebentar. Kemudian ia berkata: „Bagaimana, bila aku dan dua kawan baikku mengantarmu nanti pulang ke rumah?“

„Kau bercanda, bukan? Kakimu yang mulia akan sulit melangkahi pintu rumah kami.“

„Aku tidak pernah bercanda“ Untuk menguatkan kata-katanya, Ximen  mengeluarkan sebuah sapu tangan indah dan sebuah kotak pasta parfum teh dari lengan bajunya yang lebar dan menghadiahkannya kepada dua gadis itu.

„Kapan kita berangkat?“ tanya kedua gadis itu, „Kami ingin mengirim pengawal jalan lebih dulu agar ibu menyiapkan kedatangan kita nanti.

„Begitu yang lain pamit pulang, kita langsung berangkat“

Tak lama kemudian meja perjamuan  pun bubar, dengan lentera di tangan, kawan-kawannya pulang ke rumah masing-masing.  Ximen  bersama Ying dan Hsia Hsita adalah yang terakhir. Kemudian mereka menaiki kuda, dan bersama sama mengawal tandu-tandu yang bermuatan Bunga Kamar dan Bunga rumah.

Tibalah mereka di depan rumah ibu Li. Kedua tandu menghilang di pintu masuk, dan kemudian kakak Bunga Kamar yang lebih tua datang menyilakan tamu masuk. Setelah itu muncullah ibu Li, dengan susah payah berjalan dengan tongkat, punggungnya melengkung kaku kena rematik. „Angin apa yang membawa yang mulia suami adikku ke sini?“

„Janganlah kau marah, ibu Li, tetapi urusan dagang tidak melepaskanku untuk mengunjungimu“

Ibu Li memandang kepada kedua kawan Ximen. „Kedua tuan ini juga sudah lama tidak muncul lagi“

„Tidak ada waktu“ jawab Ying. „Tapi hari ini kita bertemu si kecil kalian di rumah saudara Hua, jadi kami mengantarkannya pulang, sekalian menemuimu. Sekarang, cepat keluarkan arak! Kita membutuhkan beberapa cawan arak baik“

Duduklah mereka bersama, ibu Li membersihkan meja, menyiapkan makanan dan minuman, dan menyalakan lilin pesta.  Dan tak lama kemudian Bunga Kamar pun kembali muncul, mengenakan pakaian baru. Kedua saudara perempuannya menghibur tamu dengan tarian dan permainan, meniup seruling naga, memukul tambur kulit badak dan menggerak gerakan tubuh berirama. Di sini seni dan kejelitaan remaja bergabung menjadi satu. Di sini orang bisa mengatakan, bahwa umur manusia tidak terlewatkan dengan percuma.

Ximen  ingin mendengar sebuah lagu yang dibawakan oleh Bunga Kamar. Ia mendatangi kakak perempuannya: „Kedua kawanku sudah pernah mendengar seni bernyanyi adik kecilmu. Maukah engkau memintanya untuk menyanyikan sebuah lagu?“

Tentu saja ibu Li dan kedua gadis itu mengerti, bahwa Ximen  hanya bicara berputar-putar dan sudah tak tahan ingin mengambil keperawanan Bunga Kamar. Jadi saat untuk bertahan, agar mendapatkan harga yang lebih pantas. Bunga Kamar tetap duduk tersenyum tetapi tidak bergerak. Kakak perempuannya mengambil kesempatan untuk berkata sambil  meminta maaf: „Ia telah menikmati pendidikan cukup tinggi dan pendiam seperti dia, tidak akan bernyanyi dengan begitu saja.“

Ximen  mengerti. Ia meletakkan potongan perak seberat 5 Ons ke atas meja. „Untuk sementara, ini sedikit untuk alat-alat rias dan bedak“, katanya, “ Nanti ia masih akan mendapat beberapa buah gaun sutera cantik rajutan emas.“

Bunga Kamar berdiri, lalu mengucapkan terima kasih untuk hadiah, yang langsung disimpan oleh pelayannya, dan dengan senang hati mulai bernyanyi. Begitu muda seperti dia, tanpa tergesa-gesa, dengan gemulai mengiringi nyanyiannya dengan gerakan sempurna, dari lengan bajunya melambai dengan anggun ujung saputangan berhias ronce-ronce merah keperak-perakan, bagaikan sekuntum Bunga yang menari di atas ombak. Apa yang dinyanyikan, adalah sebuah cuplikan dari lagu „Mengendarai awan“

Saking terpesonanya, Ximen  sampai tak tahu apa yang harus dilakukan setelah Bunga Kamar selesai bernyanyi. Malam ini, ia melewati malam di kamar kakaknya Bunga Kamar. Bahwa ia ingin menjadi orang pertama pada yang lebih muda, itu sudah tidak dapat ditawar lagi. Keesokan harinya, Ximen mengirim pelayannya Tai A’rl ke toko sutera, untuk membelikan 4 buah gaun mewah untuk Bunga Kamar seharga 50 Ons perak.

Li Kiao’rl, istri Ximen kedua,menjadi sangat bangga, ketika ia mendengar, bahwa keponakannya mendapat kehormatan untuk diambil keperawanannya oleh Ximen. Untuk merayakan kejadian ini, ia menyumbang pada ibu Li, kakaknya, sebanyak 50 Ons perak untuk kebutuhan jamuan makan, musik, perhiasan dan pakaian.

Tiga hari lamanya peristiwa pemerawanan Bunga Kamar dipestakan. Tentu saja teman-teman Ximen berdatangan memberi selamat, dan setelah secara proforma memberikan sedikit sumbangan biaya, mereka menggunakan kesempatan ini untuk makan minum sepuas puasnya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming „Rou Pu Tuan“, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s