Bab 23 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingSetelah empat bulan penyembuhan dalam pengasingan,

Pada hari berikutnya Siucai-sebelum-tengah-malam pergi mencari sepasang anjing yang dibutuhkan untuk operasi. Ia membeli seekor anjing jantan muda yang kuat berotot, seekor anjing betina muda, membawanya ke kandang terpisah di halaman kuil dan selama menunggu hingga hari operasi, memberikannya makanan-makanan kesukaan anjing secukupnya.

Ketika hari yang ditunggu-tunggu tiba, pergilah ia diiringi oleh kedua pelayannya ke tempat tinggal Tabib sakti. „Kotak Buku“ menuntun kedua anjing dengan tali, „Sarung Pedang“ mengangkat satu keranjang besar berisi makanan dan satu guci arak. Operasi ini harus berlangsung dalam suasana makan minum yang menyenangkan. Itu akan mengurangi ketegangannya,

Sehubungan dengan kerahasiaan ilmu pertabiban, Tabib sakti memilih tempat tinggal di daerah sepi yang jauh dari lalu lalang manusia. Yaitu di sebuah kuil tua yang sudah bobrok, didaerah tak berpenghuni, jauh diluar kota. Disitulah si Tabib sakti tinggal atau lebih tepatnya lagi bersembunyi. Karena bangunan kuil yang sangat luas, tidak ada seorangpun pendeta atau pengunjung kuil. Maka ia benar-benar sendiri dan bisa melaksanakan praktek rahasianya dibelakang pintu terkunci tanpa terganggu atau diketahui orang lain.

Setelah ucapan selamat datang yang singkat, tanpa basa basi si Tabib langsung menangani pasiennya.  Pertama-tama ia melakukan pembiusan setempat dengan salep yang sudah disiapkan. Si pasien merasa seperti diteteskan air es. Setelah itu ia merasa, seolah-olah bagian tubuh tersebut sudah tidak ada lagi. Apakah digaruk dan dicakar, ditekan dan digencet, tetap tidak terasa. Itu membuatnya setengah lebih tenang. Sekarang ia yakin, bahwa sayatan pisau tajam nanti, tidak akan terasa apa-apa. Dengan ceria ia duduk bersama si Sifu menghadapi meja makan, untuk menikmati makanan yang tadi dibawanya.

Dari meja makannya, diantara makan dan minum, si pemuda mengawasi kejadian dihadapannya. Kedua ekor anjing muncul dalam adegan. Anjing-anjing itu, setiap ekornya dituntun oleh seorang pelayan, dilepaskan satu sama lain. Keduanya terlihat senang, dan tanpa menarik tali dan menyalak atau melawan. Didalam benak anjingnya mungkin mereka berpikir untuk memperlihatkan terimakasihnya, bahwa tuannya memberikannya sedikit kebebasan bergerak. bila dibawa ke tempat sepi tanpa manusia lain, biasanya ia akan dilepas agar bisa berlari-lari sesuka hatinya. Anjing malang! Seandainya mereka tahu, apa yang direncanakan tuannya! Bahwa tuannya akan menganggu kesenangannya, dan karena „modal“ nya kekecilan, akan merampok „modal“ si anjing yang menyedihkan!

Muda dan sehat, seperti keadaannya, keduanya langsung kawin dan „dempet“. Ketika keduanya bersenang-senang, tali anjing tetap terikat dileher, dibawah pengawasan para pelayan. Setelah ada tanda dari si Sifu, pada saat anjing sedang enak-enaknya, tali ditarik sekeras-kerasnya, pada jurusan yang berlawan, seolah-olah ingin memisahkan pasangan anjing. Tentu saja pasangan yang sedang mabuk cinta tidak mau dipisah. Dalam perlawanannya menahan tarikan tali, terlihat pemandangan seperti akar teratai patah, yang separuhnya masih menempel dengan keras.

Si jantan menyalak marah dan menahan lebih erat lagi dengan kaki belakangnya ke  pantat si betina. Tidak mau kalah, si betinapun memprotes dengan salakan keras dan menekankan pantatnya lebih keras ke „utusan“ pasangannya. agar supaya tidak terlepas sebelum waktunya.

Sebuah kesempatan baik, karena „utusan“ si jantan setengahnya masih tertancap didalam, setengahnya lagi menyelinap keluar, digunakan oleh si Sifu untuk memotong di pangkalnya dan mencopot ujungnya dari si betina. Sesudah itu ia mengirisnya menjadi empat bagian memanjang.

Sekarang bagian si pasien. Ia harus berbaring, si Sifu mengambil pisau dan menyayat si kerdilnya dengan empat irisan memanjang tanpa terasa sakit. Cela yang terbuka diisi dan dicangkokkan dengan irisan jaringan daging yang dulunya milik si anjing jantan.

Setelah itu si kerdil yang sudah diisi, dioleskan salep luka dan diperban. Dengan itu operasipun selesai, dan tabib dan pasien kembali duduk di meja makan dan melanjutkan menikmati makanan, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Keesokan harinya si pemuda kembali ke tempat tinggalnya, untuk tidak meninggalkannya lagi selama empat bulan mendatang. Ujian berat selama jangka waktu tersebut sangat membebankannya, bukan saja dari luar tetapi juga dari dalam. Dengan susah payah, ia berhasil mengusir pikiran tentang wanita dan rumah pelesiran yang memenuhi dadanya, dan membebaskan dirinya dari semua khayalan yang menggairahkan. Bahkan tidak sekalipun ia mengurus si kedilnya. Juga ia tidak tergoda, untuk mengendurkan perban dan melihat pasien dibawahnya. Selama empat bulan ini ia hanya menghabiskan waktunya untuk belajar bersama buku-bukunya

Akhirnya masa penungguan selama empat bulan berlalu. Ia melepaskan perban, membersihkan pasien dan memperhatikannya secara seksama: Ia mesti tertawa ternahak-bahak:

„Lihat, bagaimana si kerdil telah berubah! Ia telah menjadi raksasa! Benar-benar operasi yang berhasil! Dengan perlengkapan senjata seperti ini, aku akan menyerbu semua bentengan!“  Jadi ia bergembira dalam kebisuan.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s