Bab 17 Sepasang Pedang Matahari dan Rembulan

aldisurjana_sepasang_pedang_matahari_dan_rembulan_jit_goat_siang_pokiam“Hahahaha….. tak percuma Niocu bergelar Ban Su To, terpaksa aku mengaku. Memang aku bermarga Yelu. Namaku Ceng yang berasal dari nama Kwee Ceng Tayhiap. Ayahku ingin agar aku selalu mengingat nama leluhurku sehingga memberikan nama demikian.

“Yelu Ceng-sicu, apakah datang kesini juga karena ingin merebut Jit Goat Siang Pokiam?”

“Wah…wah…. Niocu menuduh yang bukan-bukan. Senjataku adalah tongkat, buat apa aku ikut berebut pedang. Aku hanya numpang lewat saja sambil melihat keramaian orang-orang kang-ouw berebut pedang. Sejak peristiwa perebutan Ih Thian Kiam dan To Liong To, sudah lama tidak terjadi keramaian seperti sekarang ini. Hanya saja untuk memilikinya aku tidak tertarik!”

“Hmmmm… Pedang Langit dan Golok Naga tetap dibiarkan patah oleh kaisar Hongwu dan disimpan didalam ruang penyimpanan pusaka kerajaan tanpa pernah ditempa ulang. Kini malah muncul keributan baru karena dua pedang ini.”

Ban Su To Niocu membuka bungkusan kulit kambing sehingga terlihat sebatang pedang yang sarungnya berukir bunga seruni yang indah. Dicabutnya Jit Pokiam, dan terlihat cahaya terang memancar dari pedang bagaikan matahari bersinar cerah. Pedang itu sendiri berhawa panas menyengat, sehingga Ban Su To Niocu harus mengerahkan tenaga dalam untuk menolak pengaruhnya.

“Pedang ini adalah milik kerajaan, karena merupakan hadiah dari kaisar Tung-yang-kok (negeri diseberang laut timur – sekarang jepang) kepada kaisar Hongwu. Pedang pusaka ini adalah buatan empu pembuat pedang Tung-yang-kok terkenal yang bernama Okazaki Masamune, khusus dibuat sebagai hadiah untuk kaisar Beng yang mengusir bangsa mongol. Bunga seruni ukiran ini sendiri adalah lambang kekaisaran Tung-yang-kok. Dengan demikian adalah hak kaisar Beng menyimpannya di istana kaisar. Sedangkan Goat Pokiam adalah pusaka istana kaisar sejak jaman dinasti mongol. Tentu pula setelah penguasa mongol telah terusir, Goat Pokiam tetap dimiliki oleh penguasa istana kaisar sekarang”

Yelu Ceng menghampiri Bu Dian Long sambil bertanya,”Hiante, bagaimana Goat Pokiam bisa berada ditanganmu? Kenapa pula bajumu copang-camping robek tidak keruan? Sampai ku sangka engkau ini pengemis kaypang.”

“Ahhh…Siawte bukan anggota kaypang, sedangkan baju robek ini gara-gara si hwesio cabul” Kemudian Dian Long mulai bercerita tentang diri dan pengalamannya mulai dari awal bertemu dengan Jit-tok Hoa sampai kedatangan Yelu Ceng.

“Keluarga Bu dari Bu-kee-cung? Bukankah keluargamu keturunan Bu bersaudara murid Kwee Ceng Tayhiap yang terkenal mempertahankan kota Siang-yang? Ilmu silatmu pastilah lihay karena kudengar sepasang pendekar Bu mewarisi 18 telapak penakluk naga milik Kwee Ceng Tayhiap. Selain itu juga mereka mewarisi ilmu andalan It Teng Taysu yang bernama It-yang-ci dari ayah mereka Bu Sam-tong yang merupakan murid It Teng Taysu.”

“Ah…sayang sekali kepandaian keluarga Bu tidak seperti yang sicu perkirakan. Bakat leluhurku Bu bersaudara tidaklah terlalu bagus, sehingga Hang Liong Sip Pat Chiang yang di wariskan oleh Kwee Tayhiap tidak bisa dkuasai dengan sempurna oleh mereka. Turun temurun ilmu tersebut diterima oleh keluarga Bu dengan bakat yang kurang bagus, sehingga generasi yang sekarang ini hanya mampu memainkan 10 jurus awal Han Liong Sip Pat Chiang berikut kembangannya. Sedangkan It-yang-ci yang diajarkan leluhur Bu Sam-tong juga tidak sempurna seratus persen. Boleh dikatakan kalau kami keluarga Bu memiliki ilmu hebat tetapi menguasainya secara tanggung.

“Tidakkah mereka mewariskan kitab yang berisikan teori ilmu secara lengkap? Dengan demikian kalaupun ada keturunannya yang berbakat akan bisa menguasainya dengan sempurna”, lanjut Yelu Ceng.

“Kakekku pernah menceritakan hal ini ketika aku masih kecil. Beliau pernah bilang kalau Bu bersaudara pernah menuliskan kauw-koat (teori ilmu silat) yang diberikan kepada anak mereka sebelum Siang-yang dikepung oleh pasukan mongol pada pertempuran terakhir. Entah dimana kauw-koat itu sekarang, entah jatuh ke tangan pasukan mongol yang menyerbu ataukah masih disimpan oleh leluhur kami ditempat rahasia, siapa yang tahu. Cerita kakekku ini lama kelamaan menjadi mirip legenda atau dongeng saja bagi generasi kami.”

Tiba-tiba Ban Su To Niocu menyela pembicaraan mereka,”Engkau sendiri kenapa baru sekarang muncul di dunia kang-ouw? Selama ini aku tidak pernah mendengar kabar keluarga Yelu walaupun cuma secuil.”

“Hahaha…keluarga Yelu memang tidak seperti keluarga Bu yang patriot membela negara dengan ilmu silatnya. Kakek moyangku turun temurun lebih suka berdagang atau mempelajari ilmu pengobatan dari pada ilmu silat. Kakekku dan ayahku sendiri adalah tabib yang lebih suka menolong orang terluka dari pada membuat orang lain terluka. Walaupun demikian jiwa patriot mereka tidak kalah dengan orang lain. Kakekku sudah banyak menolong para patriot dan penduduk yang terluka ketika terjadi perang mengusir penjajah mongol, begitu juga dengan ayahku yang menolong orang saat perang saudara antara kaisar Jianwen dan kaisar Yong Le. Kauw-koat Ta-kauw Pang-hoat dibiarkan menjadi pusaka keluarga tanpa dipelajari isinya. Sekian lama, baru aku yang akhirnya membaca dan mempelajarinya.”

Dian Long menghela nafas kemudian memberi hormat pada Ban Su To Niocu dan berkata,” Sekarang apa yang hendak Niocu lakukan? Apakah tetap akan menyerangku dan merebut Goat Pokiam?”

 

Bersambung

Cerita hasil keroyokan bareng anggota serialsilat.com: 23.10.2007
Aminus, B_man, Kucink, Mel, Tembuyun Belitong, Trulythe (Aldi Surjana), Toan_ie, dan Zetta

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s