Khulung (Gu Long) Si Sukma Bebas

aldisurjana_khulung_gulong_si_sukma_bebas_by-db_asmoro1
Sebelum Khulung (Gu Long) muncul dengan gaya penulisannya yang khas, penulis-penulis dan penggemar cerita silat memakai karya-karya Chinyung (Jinyong) sebagai rujukan dalam gaya penulisan cerita silat. Bila Chinyung bisa diibaratkan sebagai gunung yang kokoh, maka Khulung adalah awan yang berarak bebas. Karenanya dalam dunia penulisan, Khulung mendapatkan julukan sebagai Si Sukma Bebas.

Berbeda dengan Chinyung yang sejak awal kemunculannya seperti sudah memiliki gaya yang baku dan hampir tidak berubah gayanya dari awal karir penulisannya sampai karya terakhirnya. Khulung mengalami fase-fase gaya penulisan sampai kemudian dia menemukan gayanya sendiri yang khas. Mungkin karena itulah meskipun usia kepenulisan Khulung lebih pendek dari pada Chinyung, tapi karya-karya Khulung lebih banyak karena Khulung banyak bereksperimen sampai dia menemukan gayanya sendiri dan setelah gayanya banyak ditiru para penulis-penulis yang baru diapun terus berusaha mencari sesuatu yang baru lagi.

Secara garis besar karir kepenulisan Khulung bisa dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode pertama dimana gaya kepenulisannya tidak jauh beda dengan penulis-penulis lainnya. Kemudian periode kedua dimana dia telah menemukan gayanya sendiri yang khas dengan dialog-diaolognya yang kuat dan lebih menekankan pada sisi emosi daripada gerak saat menggambarkan sebuah adegan pertarungan.

Setelah itu periode ketiga dimana periode ini bisa disebut sebagai masa penurunan kualitas karya-karyanya. Dalam periode ini Khulung terlalu banyak bereksperimen namun tidak pernah menyelesaikan tulisan-tulisannya, sehingga orang lain yang harus menyelesaikannya.

Berbicara mengenai Khulung tak lepas dari pena, alkohol dan wanita cantik. Banyak orang yang heran dan bertanya-tanya, bagaimana seorang Khulung yang mempunyai wajah pas-pasan itu bisa bersama dengan wanita-wanita yang cantik. Orang-orang pun banyak mengira bahwa para wanita itu hanya menyukai Khulung karena popularitas dan uangnya saja. Namun Ding Qing murid Khulung yang mengenalnya dengan baik mengatakan bahwa kharisma Khulung dalam kesepiannya itulah yang memikat banyak perempuan.

Ya memang kharisma kesepian bisa membuat seorang menjadi penasaran untuk mengungkap sisi misteriusnya. Namun Khulung yang yang selalu mengejar hal-hal baru dan menganggap bahwa wanita mudah didapat namun sahabat baik sulit untuk ditemukan, akhirnya membuat wanita-wanita itu marah dan meninggalkannya karena tak bisa mengampuni atas sikapnya itu.

Di sisi lain, baik sadar atau tidak sadar Khulung juga sepertinya memang memberikan peluang bagi para wanita-wanita itu untuk meninggalkan dan menyakitinya, sehingga dia bisa mengeksplorasi rasa luka yang dialaminya menjadi inspirasi sebuah tulisan yang luar biasa. Hal ini bisa dilihat dari karya-karyanya yang sering kali menggambarkan tentang tokoh-tokoh pendekar yang kesepian dan juga wanita-wanita yang cerdas namun kejam dan licik.

Namun ada suatu batas dimana diri sendiri akhirnya imun terhadap luka dan disaat luka hanya memberikan rasa frustasi tanpa inspirasi. Karya-karya Khulung akhirnya menjadi begitu buruk dan asal-asalan, sehingga menjadi sebuah titik nadir dalam karir kepenulisan Khulung sekaligus menjadi masa surut kejayaan cerita-cerita silat.

Pada tanggal 21 September 1985 Khulung jatuh koma dan meninggal karena kerusakan hati akibat terlalu banyak minim alcohol. Sesaat sebelum meninggal Khulung sempat bertanya “Mengapa tidak ada salah seorang teman-teman wanitaku yang datang mengunjungi aku?”. Bahkan pada saat upacara penguburannyapun hampir tidak ada sanak saudara dan wanita-wanita yang pernah dekat dengannya ikut menghadiri upacara tersebut.
Dari sekian banyak karya-karya Khulung yang berjumlah kurang lebih tujuh puluh dua karya tulis (ada beberapa yang tidak diselesaikan oleh Khulung dan akhirnya harus dilanjutkan orang lain) tidak semua saya sempat membacanya (ada juga yang tidak saya tuntaskan membacanya karena kualitasnya yang buruk). Ada beberapa yang sekiranya menjadi masterpiece dan saya rekomendasikan. Diantaranya adalah:

1.Pendekar Binal (The Remarkable Twins / Jueidai Xuang Jian) ~ 1967.

Karya ini dianggap sebagai awal kesuksesan Khulung dalam karir kepenulisannya, meskipun sebelum itu karya-karyanya seperti Amanat Marga (Flower-Guarding Bell / Hu Hua Ling) ~ 1962, Misteri Kapal Layar Panca Warna / Sukma Pedang (The Tale of Refining the Sword Like Cleansing the Flower / Huan Hua Xi Jian Lu) ~ 1964, Pendekar Baja (A Fanciful Tale of the Fighting World / Wulin Wai Shi) ~ 1965 dan Rencana Pendekar (A Graceful Swordsman / Ming Jian Fengliu) ~ 1966, sudah dianggap baik, namun Kisah Pendekar Binal telah benar-benar berhasil mengangkat namanya.

Kisah Pendekar binal ini sendiri menceritakan tentang persaudaraan, dendam cinta dan pegkianatan yang melibatkan dua orang saudara kembar yaitu Siau Hi Ji dan Hoa Bu koat yang kemudian terpaksa harus terpisah sejak kecil.

Kang Hong, ayah dari Siau Hi Ji dan Hoa Bu Koat adalah seorang pendekar yang meskipun tidak sebegitu hebat namun terkenal tampan dan baik hati sehingga membuat dua orang kakak beradik penguasa Istana Ih Hoa Kiong yang terkenal sakti yaitu Kiao Goat dan Lian Sing sampai tergila-gila padanya. Namun Kang Hong ternyata lebih menyukai pelayan mereka Goat Loh, sehingga membuat kedua putri tersebut marah dan membunuh mereka. Namun membunuh kedua suami istri tersebut ternyata tidak membuat puas mereka dan disaat mereka melihat bahwa Kang Hong ternyata mempunyai anak kembar, merekapun berencana agar bagaimana caranya nanti kedua anak tersebut bisa saling membunuh.

Akhirnya mereka membawa si sulung Hoa Bu Koat untuk dibesarkan sedangkan si bungsu Siau Hi Ji ditinggalkan dengan harapan akan ditemukan oleh saudara angkat Kang Hong yaitu Yan Lam Thian yang adalah pendekar pedang terhebat pada saat itu untuk dirawat sehingga saat dewasa nanti mereka bisa saling bertarung.

Yan Lam Thian kemudian memang berhasil menemukan Siau Hi Ji, namun dalam perjalanannya untuk membalas dendam, Yan Lam Thian di jebak oleh penghuni Ok Jin Kok (Lembah Kaum Penjahat) sampai menjadi lumpuh, sehingga Siau Hi Ji yang kemudian dibesarkan oleh para penjahat dari Ok Jin Kok tumbuh besar menjadi pemuda yang cerdas namun binal, sedangkan Hoa Bu Koat yang dibesarkan di Istana In Hoa Kiong tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan sopan.

2.Pendekar Harum / Maling Romantis.

Kisah Pendekar Harum dianggap sebagai sebuah trobosan baru dalam teknik penulisan cerita silat. Berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya, kisah ini lebih mirip dengan kisah detektif yang berseting dunia persilatan.

Cerita ini menceritakan tentang petualangan Chu Liu Xiang, seorang maling nomer satu di dunia persilatan. Dalam petualangannya memecahkan misteri-misteri yang terjadi di dunia persilatan, Chu Liu Xiang banyak dikelilingi oleh wanita-wanita cantik.

Kisah Pendekar Harum Sendiri terdiri dari beberapa judul seri yaitu: Maling Romantis (Lingering Fragrance in the Sea of Blood / Xie Hai Piao Xiang) ~ 1968, Rahasia Ciok Kwan Im (The Great Desert / Da Shamo) ~ 1969, Peristiwa Burung Kenari (The Thrush / Huamei Niao) ~ 1970, Mayat Kesurupan Roh, Legenda Kelelawar, Legenda Bunga Persik, Anggrek Tengah Malam dan Legenda Bulan Sabit.

Selain Pendekar Harum kisah yang serupa juga ditulis oleh Khulung, yaitu Kisah Pendekar Empat Alis (Lu Xiao Feng) yang juga terdiri dari beberapa seri. 3.Pisau Terbang Li / Pendekar Budiman (The Sentimental Swordsman and the Ruthless Sword / Duoqing Jianke Wuqing Jian) ~ 1970.

Diantara semua karya-karya Khulung, saya rasa ini adalah puncak dari kematangan gaya kepenulisannya. Mungkin karena penggambaran tokoh Li Sun Hoan yang kesepian begitu mirip dengannya sehingga dia bisa menyelami karakternya dengan baik.

Kisah pisau terbang Li sendiri menceritakan mengenai perjalanan hidup seorang Li Sun Hoan (Li Tam Hoa) yang karena karakternya sangat setia kawan sehingga sampai merelakan kekasih yang dicintainya untuk bersama dengan sahabatnya (hampir sebagian karya Khulung ada adegan seperti itu) meskipun toh sahabatnya itu kemudian mengkhianatinya namun Li Sun Hoan tak pernah menyesal, seperti penggambaran yang dia tulis dalam kisah tersebut.

Kelemahannya yang utama adalah bahwa ia terlalu pemaaf. Walaupun sering kali ia merasa bahwa ia tidak seharusnya mengalah, rasa simpatinya tidak dapat terbendung. Banyak orang tahu kelemahannya ini. Dan mereka suka memanfaatkannya. Ia sendiripun menyadarinya, namun entah mengapa, ia tidak bisa berubah. Walaupun seseorang menyakitinya sepuluh ribu kali, ia tetap tidak ingin menyakitinya sekali pun juga. Kadang-kadang ia tahu orang itu menipunya, namun ia tetap membiarkan dirinya ditipu. Karena ia sungguh yakin bahwa kalau sekali saja, seseorang berkata jujur padanya, seluruh pengorbanannya ini tidak sia-sia. Li Sun-Hoan adalah orang semacam itu. Ada yang menganggap dia pria sejati, ada yang menganggapnya tolol sekali. Tapi paling tidak, semua orang setuju, ia adalah pribadi yang unik.

Ada juga beberapa dialog lain dalam tulisan tersebut yang sepertinya mewakili pendapat Khulung dalam memandang sosok wanita:

Kwe ko-yang mengeluh dan berkata, “Kadang-kadang aku sungguh tidak mengerti mengapa wanita selalu menyakiti pria yang paling mencintainya.” Sahut Li Sun-Hoan, “Mungkin karena wanita hanya dapat menyakiti pria yang mencintainya. Jika pria itu tidak mencintainya, ia tidak akan peduli apa pun yang diperbuat wanita itu.” Kwe ko-yang tersenyum dan berkata, “Sepertinya kau sungguh mengerti tentang wanita.” Kata Li Sun-Hoan, “Tidak ada seorang pria pun yang mengerti tentang wanita. Jika seorang pria menyangka ia mengerti, ia akan mendapatkan penderitaan yang berlipat ganda dalam hidupnya.” Atau juga sebuah ungkapan seperti: Kalau seorang wanita menginginkan sesuatu, biarkanlah dia mendapatkannya. Mereka akan segera menyadari bahwa yang diinginkannya itu ternyata tidak seindah bayangan dalam benak mereka. Rasa tertarik seorang wanita akan sesuatu tidak akan bertahan lama. Namun jika kau menolak permintaan mereka, itu hanya akan menambah rasa tertarik mereka akan hal itu. Ini adalah salah satu masalah yang terbesar yang dimiliki wanita. Beribu-ribu tahun yang lalu mereka sudah memilikinya. Beribu-ribu tahun yang akan datang pun mereka akan tetap memiliki masalah yang sama. Anehnya, selama beribu-ribu tahun ini, begitu sedikit lakilaki yang memahaminya.

Dan masih ada banyak lagi ungkapan dan dialog dalam cerita ini yang menggambarkan pandangan-pandangan Khulung tentang kehidupan, terutama mengenai cinta dan persahabatan. Disamping itu Khulung juga membuat sekuel dari kisah ini yang menceritakan petualangan Yap Kay yang adalah murid dari Li Sun Hoan meskipun tidak sebagus sebelumnya.

Selain kisah Pisau Terbang Li, cerita serupa dengan penggambaran tokoh yang hampir mirip adalah kisah Pendekar Gelandangan / Pedang Tuan Muda Ketiga (The Sword of the third little master / San Shaoye De Jian) ~ 1975. Selain itu kisah Pendekar Riang (A Marry Hero / Huanle YingXiong) 1971 dan Antara Budi dan Cinta / Meteor Pedang dan Kupu-kupu (Shooting Star, Butterfly, Sword / Liuxing, Hudie, Jian) ~ 1973 juga adalah karya-karya lain Khulung yang layak direkomendasikan.

By DB Asmoro

Golden Lotus: https://www.facebook.com/groups/goldenlotus24/

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s