Bab 24 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingSaking heranny Saikunlun sampai mengucek mata

Ia masih menunggu sehari, kemudian ia pergi mencari temannya Saikunlun. Ia pasti akan terheran-heran! Si pemuda tidak perlu berjalan jauh, kebetulan  temannya sedang dalam perjalanan ke tempat tinggalnya. Di depan pintu kuil mereka berpapasan. Siucai kita mengedipkan mata kepada temannya dan menarik lengannya kekamarnya.

„Temanku, sudah lama kau tak berkunjung dan bersembunyi didalam kamarmu. Mungkin kau sibuk dengan studimu.“

„Ah, studi! Biasa saja. Lebih penting bagiku adalah kemajuan yang kubuat selama ini dalam  Fang Shu „teknik kamar tidur“.

Temannya tersenyum mengejek.

„Aku mendengar kemajuan! Tidak akan begitu jauh, dengan kurangnya bahan mentah. Aku kan sudah berpesan kepadamu wanti-wanti, agar jangan menyibukan diri lagi denagn ‚Teknik kamar tidur'“

Wah! Dalam empat bulan sejak pertemuan terakhir kita, aku tidak mendapat kemajuan? Haruskah aku terus menerus menjadi bahan ejekanmu? Hal yang mentertawakan! Kau akan mengucek mata saking kagumnya pada kemajuanku!“

„Nah nah, tidak akan banyak, paling kemajuan dalam teori, tapi tidak dalam praktek – Usaha yang berlebihan. Bahwa seorang bocah lemah bisa berlatih18 jenis ilmu silat dengan boneka jerami, mungkin ya. Tetapi belum tentu, bahwa ia nanti mampu dalam pertandingan sungguhan“

„Kau lupa!: dari bocah akan menjadi lelaki dewasa, dan tubuh serta bagian-bagiannya akan tumbuh“

Ya sih, untuk anak yang masih tumbuh, seumuran 12 atau 13 tahun, bisa begitu, tapi kau kan sudah 20, pertumbuhanmu sudah habis. Semisalnya bagian tubuh yang bersangkutan masih tumbuh, maka hampir tak terlihat, paling banyak selebar rambut“

„Selebar rambut? Itu sih tidak perlu diomong. Juga jika hanya karena pertumbuhan sebanyak 1 inci, aku tidak akan menceritakannya. Tidak, yang bersangkutan harus beberapa kali lipat lebih besar dari sebelumnya, baru menguntungkan untuk disombongkan“

„Jangan kau mengigau! Pertumbuhan yang tiba-tiba itu tidak ada! Tetapi jika memang benar seperti yang kau katakan, untuk apa harus berputar-putar – sini perlihatkan!“

„Agar supaya aku bisa dipermalukan lagi seperti dulu? – Tidak! Saat itu aku membuat sumpah tertulis, yang kutempelkan di dinding, bahwa aku tidak akan memperlihatkan ketelanjanganku lagi didepan mata orang lain“

„Sudahlah, jangan terlalu sensitif, dan perlihatkan sini! Jika aku benar-benar menemukan pertumbuhan, maka aku akan memujimu. Mengenai kata hinaan dulu kepadamu, aku meminta maaf yang sedalam-dalamnya.“

„Hanya dengan kata-kata indah, bagiku tidak cukup – kecuali, kau  dengan sungguh-sungguh memberi bantuan dan membuktikan ketulusan persahabatan, dimana kau sekali-kali memberi kesempatan kepadaku untuk mencoba senjata baruku dan merayakannya dengan gendrang kemenangan dan tarian gembira.“

„Setuju! Kau bisa percaya padaku“

Setelah itu baru si Siucai bersedia untuk memperlihatkan ketelanjangannya. Sangat merepotkannya. Mengingat cuaca dingin – ketika itu awal musim dingin – ia mengenakan pakaian musim dinginnya yang paling hangat, baik rok maupun celana dilapisi kapas tebal. Karena khawatir roknya akan menyulitkan membuka celana dan menghindari pandangan, ia mengikatkan sabuknya keatas rok yang sudah digulung keatas, kemudian baru melepaskan celananya, membiarkan celananya jatuh kelantai dan dari bawah bajunya, ia memperlihatkan perkakasnya diatas kedua telapak tangannya. Caranya ia berdiri sambil mempertontonkan perkakasnya, memberikan pemandangan seperti pedagang keliling Persia, yang menggendong dagangannya didepan perut.

Temannya yang semula melihat dari jarak tertentu, berpikir pada dirinya sendiri: ‚Ia pasti mengikatkan „pipa“ keledai dibawah perutnya, untuk menipuku – darimana ia memperolehnya?‘ Tetapi ketika kemudian ia melangkah mendekati dan memperhatikannya dengan seksama, ia mendapat keyakinan yang mengejutkan, bahwa benda itu bukan dipinjamnya dari keledai, melainkan benar-benar sesuatu yang alami milik temannya. Sekarang, saking herannya, ia benar-benar harus mengucek matanya.

„Sekarang katakan, temanku, sihir apa yang kau gunakan, untuk merubah bocah kecilmu menjadi petarung gagah? “

„Sepertinya, karena hinaanmu tempo hari, telah membuatnya sakit hati. Tanpa setahuku, saking kesalnya, ia menjulur dan membesar. Kemungkinan ia marah besar kepadamu, sehingga membuatnya membengkak“ jawab si pemuda dengan wajah pura.pura serius.

„Jangan bergurau! – Aku lihat dengan jelas empat bekas luka memanjang, yang bisa dipastikan dari irisan pisau. Pasti diutak-atik tabib, jelas sekali, dan pasti tangan terampil, seorang tabib yang berpengetahuan luas, yang mampu sampai bisa merubah sedemikian rupa. Sudah jangan bercanda terus, ceritakan padaku, bagaimana kejadian sebenarnya‘

Setelah cukup mempermainkan temannya, akhirnya Siucai kita mau menceritakan tentang kejadiannya. Saking takjubnya, mulut temannya terngangah dan lidah menjulur:

„Jadi, sampai sejauh itu kau berani berkurban demi wanita dan kenikmatan cinta! Itulah yang disebut tekad! Hormatku yang sebesar-besarnya! Sekarang, karena kau sudah dipersenjatai dengan baik, aku tidak bisa menentang lagi apa yang kau dambakan. Baik, aku siap, memberikan bantuanku padamu dan memenuhi idaman hatimu. Cepat rapikan pakaianmu! Kita mau menyerbu benteng tanpa penundaan!“

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

3 Kommentare

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s