Lagu Penyesalan Panjang (Kisah tentang kaisar Tang dengan selir Yang Guifei)

aldisurjana_goldenlotus24_Yang_Gui_Fei_puisi_Bai_Juyi_fuyuan_zhou
Lagu penyesalan panjang adalah puisi terkenal yg berkisah tentang kaisar Tang dengan Selir Yang Guifei, karya Bai Juyi (772-846; Tang), yang dialihbahasakan oleh Fuyuan Zhou

LAGU PENYESALAN PANJANG
Bai Juyi (772-846; Tang)

Kaisar Han gila wanita mendamba yang meluluh negeri,
tahun-tahun berkuasa angan-angan belum juga terpenuhi.
Keluarga Yang memiliki putri mulai beranjak dewasa,
dipingit di dalam kamar tak ada orang yang mengenal.
Sedari lahir kecantikan wajah susah disembunyikan,
di suatu pagi terpilih bersanding disamping baginda.
Mata melirik sekali tersenyum ribuan warna memancar,
bedak wanita di enam istana semuanya pudar tak bersinar.

Musim semi nan dingin berendamlah di kolam Huaqing,
sumber panas nan licin membilas lemak yang membeku.
Berdiri dipapah sang dayang gemulai tiada bertenaga,
saat itulah baru mulai mendapat berkah cinta baginda.
Sanggul mega rupa bunga langkah emas luwes bergoyang,
kelambu teratai menghangat malam musim semi melintas.
Malam indah betapa singkat surya pun telah meninggi,
sejak ini sang kaisar tak lagi menghadiri upacara subuh.

Berpesta riang gembira perjamuan tiada pernah berhenti,
musim ke musim berpesiar malam ke malam bermesraan.
Di istana belakang yang rupawan ada tiga ribu orang,
tiga ribu kasih sayang ditumpahkan dalam satu badan.
Selesai berias di rumah emas jeiita menanti hadirnya malam,
usai berpesta di menara kumala mabok memadu musim semi.

Kakak lelaki adik wanita semua telah menjadi pahlawan,
begitu janggal cahaya mulia menerangi seluruh keluarga.
Ayah dan ibu seluruh penjuru negeri berbulatlah tekad,
janganlah beranak lelaki usahakan beranak perempuan.
Puncak ketinggian istana puspa menerobos mega nan biru,
musik dewata melayang di angin terdengar di mana-mana.
Nyanyian lembut tarian gemulai dipukau suling dan dawai,
sepanjang hari sang kaisar tak pernah kenyang memandang.

***

Tambur perang kota Yuyang datang menggoncang bumi,
menghentak membuyarkan Nanyian Bulu Lagu Pelangi.
Asap dan debu bangkit di sembilan lapis benteng menara,
ratusan kereta ribuan kuda berlarian menuju ke barat daya.
Panji kencana bergoyang goyang berjalan lantas berhenti,
keluar dari pintu ibu kota lebih seratus kilo ke arah barat.

Enam kompi tak mau beranjak sungguh tak berdaya,
di depan kuda leher sang jelita dijerat hingga binasa.
Pernik bunga berceceran di tanah tiada yang memungut,
susuk gelung kumala merak emas dan juga bulu jamrud.
Tak kuasa mencegah sang kaisar pun menutupi wajah,
saat berbalik terlihat darah dan air mata saling beradu.

Debu kuning luas menebar angin menggigil menderu,
dari pos Mega jalanan berputar mendaki bukit Jiange.
Di bawah bukit Emei jarang ada manusia yang lewat,
panji naga tak bercahaya sinar mentari pun meredup.
Air di sungai Shu membiru bukit Shu pun menghijau,
penguasa negeri siang dan malam memendam galau.
Di istana pengungsian menyaksikan warna bulan berduka,
di tengah hujan malam mendengar bunyi lonceng menyayat.

Langit berputar bumi bergulir kereta kaisar kembali,
sampai di tempat langkah tertahan tak sanggup pergi.
Di sini di dalam tanah kuning di bawah bukit Mawei,
tak nampak lagi wajah kumala yang gugur tersia-sia.
Raja dan menteri saling memandang busana membasah,
ke timur menatap istana biarlah kuda menuntun pulang.

Ketika pulang kolam dan taman tetap seperti semula,
teratai di kolam utama yangliu pun di Istana Samping.
Teratai selaksana wajah daun yangliu pun seperti alis,
menghadap semua ini bagaimana air mata tak menitik?
tatkala prem dan persik mekar dalam angin musim semi,
ketika daun wutong rontok di tengah hujan musim gugur.

Di selatan Istana Barat banyaklah rumput musim gugur,
daun rontok merah memenuhi teras tiada yang menyapu.
Rambut pemain kelompok opera sudah mulai memutih,
permaisuri, dayang istana dan para sida beranjak menua.
Senja di istana kunang-kunang terbang ingatan merayap,
sumbu lentera habis disulut mata pun tak mau memejam.

Beduk lonceng sayup-sayup mengawali malam panjang,
sungai galaxy meremang-remang langit menjelang fajar.
Bubungan bebek sejoli membeku bunga salju memberat,
selimut sutera hijau mendingin siapakah yang menemani?
Setahun telah lewat antara hidup dan mati jauh terbelah,
arwah sukma belum pernah datang mengunjungi mimpi.

***

Pendeta sakti datang bertandang di Wisma Belibis,
sanggup memanggil arwah berbekal ketulusan hati.
Tersentuh oleh kemelut baginda yang dilanda rindu,
diutuslah para pendeta melanglang tekun menelusur.
Menyibak udara memacu angin terbang laksana kilat,
naik ke langit masuk ke tanah berkeliling memohon.
Ke atas mengusut khayangan ke bawah menerjuni akhirat,
kedua tempat meremang-remang tak juga ada yang tampak.

Sontak terbetik kabar di atas laut ada Bukit Dewata,
kokoh berdiri di antara kekosongan dan kehampaan.
Gedung menara elok muncul di antara lima rupa awan,
di dalam bermukim dewi dewi nan cantik dan rupawan.
Di antara mereka ada seorang yang bernama Taichin,
wajah menawan kulit yang halus semuanya sebangun.
Di istana emas di kamar barat mengetuk pintu pualam,
mohon gadis pesuruh menyampaikan ke gadis dayang.

Begitu mendengar ada utusan raja Han berkunjung,
di kelambu sembilan bunga Sukma mimpi terhujung.
Merapikan gaun mendorong bantal berjalan melaun,
tirai mutiara dan pintu perak perlahan-lahan menyibak.
Sanggul mega setengah miring sehabis bangun tidur,
mahkota bunga tak tertata datang turun ke balairung.
Angin berhembus kain sang dewi melayang terangkat,
seakan menghadirkan tarian Gaun bulu Busana Pelangi.

Wajah kumala kesepian air mata pun melintang,
setangkai bunga per diguyur hujan musim semi.
Menatap sendu penuh cinta berterima kasih kepada raja,
semenjak berpisah wajah dan suara pun makin menjauh.
Cinta kasih di dalam Istana Mentari sekian lama terputus,
bulan dan hari di tengah istana Dewata sangatlah panjang.
Menunduk ke bawah menatap bumi manusia yang fana,
tak terlihat ibu kota Chang-an yang nampak kabut debu.

Lewat simpanan lama disampaikan cinta nan tulus,
menitip sebuah susuk emas setangkai bunga emas.
Susuk ditinggal sepenggal bunga disisakan sebelah,
perhiasan pun dipotong emas pun berusaha dibelah.
Bila hati senantiasa kukuh selaksana perhiasan emas,
langit di atas bumi di bawah dimungkinkan bertemu.

Menjelang berpisah masih berpesan menitip syair,
di dalam syair ada janji hanya berdua yang paham.
Bulan tujuh hari ketujuh dalam Istana Hidup Abadi,
bisikan di tengah malam di saat saat tiada manusia:
Di langit ingin seperti burung biyu terbang berpasangan,
di bumi berniat menjadi ranting lianli tumbuh bertautan.

Langit nan kekal bumi nan abadi ada waktunya habis,
penyesalan ini merambah rambah tak pernah berakhir!

alih bahasa : Zhou Fuyuan

Golden Lotus: https://www.facebook.com/groups/goldenlotus24/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s