Bab 21 Sepasang Pedang Matahari dan Rembulan

aldisurjana_sepasang_pedang_matahari_dan_rembulan_jit_goat_siang_pokiamCerita Si Kedok Hitam

Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng mendekati kedua orang she Bu itu dengan wajah penuh tanda tanya, tapi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sedangkan A Hu hanya berlutut disamping Bu Kiong sambil menangis dan memanggil-manggil “Loya (tuan)”.

Setelah kucuran darah berhenti dari luka, Bu Kiong menggapai ke arah Dian Long sambil berkata,” Kemarilah Long-ji, jangan kau menyela perkataanku. Racun bangsat tua itu sudah menyebar dan mengancam jantungku, aku hanya bisa menahannya dengan tenaga dalamku beberapa saat saja. Waktuku tak banyak dan jiwaku sudah tak terselamatkan lagi. Sebelum mati, aku ingin menceritakan sesuatu dan memberikan pesan terakhirku.”

“Tetapi Toa-siok, kalau kita cepat kembali ke Bu-kee-cung mungkin tabib Sie Pe Giok bisa …..”

“Sudah kubilang kalau waktuku tinggal sedikit, tak perlu kau membantah perkataan terakhirku,” potong Bu Kiong.

Mendengar kata-kata pamannya, Dian Long hanya diam tak berkata apa-apa, hanya bergerak membantu supaya pamannya dapat berbaring dengan tenang sambil mengerahkan tenaga dalam untuk membantu tenaga pamannya menahan racun.

Sebagai anak dan cucu dari seorang tabib, Yelu Ceng menghampiri Bu Kiong dan memeriksa sejenak. Sambil menghela napas akhirnya dia berkata,” Seorang ahli silat tentu paling tahu kondisi badannya sendiri.”

Wajah pucat Bu Kiong menoleh pada Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng dan berkata,” Semua hal ini diawali oleh perbuatanku dua tahun yang lalu. Aku memang terlalu berambisi ingin mengangkat nama Bu-kee-cung kami supaya bersinar terang didunia kang-ouw. Yang menyebarkan desas-desus didunia kang-ouw tentang Jit Goat Siang Pokiam adalah aku sendiri. Hanya saja aku tak menyangka kalau urusan ini memakan korban banyak nyawa. Hal ini yang menimbulkan penyesalanku.”

Terkejut ketiga orang itu mendengar perkataan Bu Kiong, hanya A Hu saja yang tak tahu menahu dengan urusan pedang tetap menangis tersengguk-sengguk. Sementara itu mulailah Bu Kiong mengisahkan masa lalunya.

 

Bu kiong adalah anak sulung dari Bu-kee-cungcu sebelumnya. Dari 5 bersaudara, adik ketiganya lah yang paling akrab bergaul dengannya. Mungkin karena mereka memiliki banyak kesamaan watak dan pikiran. Bersama adik ketiganya yang bernama Bu Kiat, Bu Kiong bercita-cita untuk mengharumkan nama Bu-kee-cung dan mengangkat nama kampung mereka supaya setara dengan partai persilatan besar lainnya seperti Siaw-lim pai maupun Bu-tong pai, walaupun ayah mereka berpesan untuk tidak mencampuri urusan kang-ouw dan politik kerajaan. Sayang sekali kemampuan seluruh keluarga Bu tidaklah sehebat yang disangka orang diluaran. Ilmu kepandaian mereka walaupun lihai tetapi tanggung sehingga tidak bisa mencapai puncak kehebatannya.

Sewaktu kecil, sama seperti anggota keluarga Bu yang lain, Bu Kiong dan Bu Kiat juga sering mendengarkan cerita kepahlawanan leluhur mereka beserta para pahlawan lain membela kota Siang-yang dari ancaman mongol, termasuk cerita Bu bersaudara meninggalkan kauw-koat pusaka yang hilang.

Bu Kiong dan Bu Kiat sepakat bahwa dengan mendapatkan kauw-koat pusaka yang hilang itu mereka dapat meningkatkan kepandaian hingga mencapai tahap yang lebih hebat dari ketua partai persilatan lainnya. Hal ini tentu akan membuat nama Bu-kee-cung terkenal menjulang tinggi. Sejak muda dan diperbolehkan untuk bertualang, mereka berdua berusaha mencari kauw-koat pusaka yang hilang itu. Mereka mencari mulai dari dalam kampung Bu-kee-cung, makam leluhur, hingga ke kota Siang-yang pun di jelajahi.

Waktu cepat berlalu, tak terasa dari pernikahan mereka lahirlah anak keturunan keluarga Bu yang baru. Bu Kiat memiliki anak laki-laki satu-satunya yang diberikan nama Bu Dian Long, sedangkan Bu Kiong memiliki 2 anak perempuan. Walaupun demikian cita-cita dan harapan mereka untuk menjayakan nama Bu-kee-cung belumlah padam. Mereka berdua tetap berupaya mencari pusaka keluarga yang hilang tersebut.

Sekian tahun usaha mereka sia-sia, hingga suatu hari ayah mereka meninggal dunia dan Bu Kiong ditunjuk oleh para tetua Bu-kee-cung untuk menggantikan kedudukannya sebagai cung-cu. Setelah itu yang banyak menghabiskan waktu untuk mencari adalah Bu Kiat, karena waktu Bu Kiong banyak dihabiskan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab cung-cu.

Ketika usia Dian Long beranjak 10 tahun, Bu Kiat pulang dari daerah mongol dalam usahanya mencari kauw-koat pusaka. Tetapi kali ini kepulangannya sambil membawa luka parah karena diserang oleh gerombolan perampok yang berilmu tinggi. Walaupun bisa bertahan hingga 3 hari, akhirnya Bu Kiat pun meninggal dunia. Bu Kiong yang marah mengumpulkan jago-jago keluarga Bu dan menggempur habis sarang perampok yang menyerang adiknya, membunuh seluruh anggota perampok dan membakar sarangnya hingga rata dengan tanah.

Tak lama setelah kejadian itu, istri Bu Kiat juga meninggal dunia menyusul suaminya dan meninggalkan Bu Dian Long sebatang kara. Sejak itu Bu Kiong dan istrinya mengambil dan merawat Dian Long bagaikan anaknya sendiri.

Bu Kiong merasa seluruh tanggung jawab kampung beserta cita-citanya begitu berat membebani pundaknya. Dia sering sekali menyepi di pemahkaman keluarga Bu sampai berhari-hari. Kadang terlihat Bu Kiong seperti mengobrol dengan mahkam adiknya, terkadang terlihat mengeluh didepan mahkam leluhur keluarga Bu.

Bersambung

Cerita hasil keroyokan bareng anggota serialsilat.com: 23.10.2007
Aminus, B_man, Kucink, Mel, Tembuyun Belitong, Trulythe (Aldi Surjana), Toan_ie, dan Zetta

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s