Bab 25 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingPemuda kita hanya butuh satu kali memperlihatkan pesona dan ilmunya

Mendengar janji Saikunlun, Siucai kita menjadi senang. Cepat-cepat ia berpakaian, mengenakan topi musim dingin dan pergi bersama temannya. Tujuannya adalah rumah pedagang sutera tertentu. Saikunlun membiarkan temannya menunggu didekat situ. Ia sendiri pergi untuk bertanya-tanya pada tetangga sekitar.Tidak lama kemudian ia sudah kembali. Senyum dikulum berarti berita baik.

Kung shi! Selamat!  Kau beruntung! Masih malam ini juga idaman hatimu akan terpenuhi!“

„Apa? Apakah kau yakin mengenai itu? Aku belum mengenalnya sama sekali!“

„Begini, aku baru saja bertanya pada tetangga: Suaminya kebetulan sedang dalam perjalanan bisnis yang cukup lama, dalam sepuluh hari mendatang ia tidak akan kembali. Jadi kau bisa bersenang-senang dengannya selama sepuluh hari, untuk itu aku jamin. Sekarang kita masuk saja kedalam tokonya, kemudian kau hanya perlu sebentar mempermainkan pesona dan ilmumu untuk dapat mengaet hatinya, sisanya aku yang urus, dan aku berani bertaruh, bahwa masih malam ini juga kau dapat memasukinya,“

„Baiklah, aku percayakan padamu“ dan masuklah mereka, yang lebih tua menyingkap tirai kesamping, masuk kedalam toko.

„Apakah tuan Quan ada dirumah?“ mulainya.

„Tidak, ia sedang dalam perjalanan bisnis“, jawab si cantik, yang seperti biasa duduk dibelakang meja toko, tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan tangannya.

„Sayang sekali, aku ingin membeli beberapa bal kain sutera, bagaimana ya?“

„Masih ada toko sutera lainnya“ jawab si cantik santai. Ia masih tetap belum menatapkan pandangannya.

Lalu Siucai kita ikut bicara:

„Di toko lain mungkin tidak begitu bagus. Di toko lain tidak tersedia sutera sempurna tanpa cela yang semurni air. Selain itu temanku adalah langganan lama. Ia ingin tetap dari sumber yang sama. Di tokomu ia bisa belanja dengan tenang“

Ketika mendengar suara si pemuda, si wanita muda mendengarkan dengan penuh perhatian dan diam-diam memandang dan memperhatikannya.

„Baiklah, karena ia langganan lama, mengapa aku tidak berbaik hati kepadanya?“ Terdengar suaranya tidak terlalu dingin seperti sebelumnya

Kemudian Saikunlun mengambil kembali kendali pembicaraan.

„Ta Niang, Nyonya, Ketika aku terakhir membeli sutera disini, saat itu juga Ta Ye, tuan, kebetulan juga sedang tidak dirumah, kau yang melayani aku dan dengan tanganmu sendiri dan kau telah menurunkan beberapa bal sutera dari rak atas – masih ingatkah kau?“

„Benar, sekarang aku ingat“

„Bagus, maka kau akan ingat, bahwa ia tidak banyak omong dan menawar harga, melainkan langsung membeli dan membayar“, kata si Siucai kembali.

„Mengapa tadi kau menyuruh kami ke toko pesaing?“

„Aku mengira, barang di tokoku yang sederhana ini, tidak cukup baik untuk jentelmen yang begitu halus“

„Bahkan sebaliknya! malah terlalu bagus untuk Suan tse seperti aku“

„Baik, silakan duduk,aku akan mengambil contoh bahan“

Saikunlun cukup taktis, dengan membiarkan temannya mengambil tempat duduk di dekat si cantik. Ia sendiri duduk di bangku di belakang si pemuda.

Kemudian si wanita muda memberikan contoh bahan. Ia melakukannya masih dengan ekspresi wajah yang acuh tak acuh, tepat dan tegas, tanpa sedikitpun melirik kepada si pemuda, apalagi menghadiahkan sedikit senyum.

„Terlalu kuning!“ kritik si pemuda, sebelum mengambilnya dari tangan si wanita muda, untuk kemudian merubah pendapatnya, setelah contoh bahan ditangannya.

„Aneh“ – katanya kearah belakang, kepada temannya, „Tadi, selama ditangan si nyonya, kelihatannya terlalu kuning -sekarang, ditanganku, terlihat putih – bagaimana bisa begitu?“

Kemudian setelah berpikir sebentar dengan lincah ia melanjutkan:

„Aku tahu! – Letaknya di warna kulit yang putih terang, yang dimiliki si nyonya. Di tangan yang begitu putih mulus, bahan beraksi menjadi kuning, sebaliknya di tanganku yang hitam menjadi putih,“

Mendengar itu dan tanpa dapat ditahan, si wanita muda memandang dan memperhatikan tangan pelanggan mudanya.

„Sepertinya, tangan tuan muda terlalu hitam juga tidak“, katanya, dan ekspresi wajahnya tetap tepat dan tegas membeku dan tidak akan mencair menjadi senyuman kecil.

„Jika dibandingkan dengan tanganku, tangannya tidak terlalu hitam, dan jika dibanding dengan tangan nyonya, juga tidak bisa dibilang putih, pendapat Saikunlun diplomasi.

„Karena bagaimanapun bahan sutera ini cukup terang, mengapa kau tidak membelinya?“

„Sutera ini bagiku kurang terang. Terangnya hanya terlihat ditanganku, tapi itu bukan yang benar-benar terang. Yang ingin aku beli adalah semacam sutera yang juga terang ditanganmu. Tolong kau carikan untukku yang semacam itu!“

„Sama indahnya, sutera terang mungkin di seantero dunia tidak ada , tetapi sutera yang bertekanan terang, seperti pada warna kulit wajah yang dimiliki teman mudaku, sepertinya cukup baik“, cetus Saikunlun diantara keduanya, sambil menunjuk wajah temannya,

Penilaian dan gerak tangan Saikunlun menyebabkan, si cantik mengangkat pandangan matanya dan memperhatikan wajah si pemuda untuk pertama kalinya. Setelah itu, terlihat di wajah si cantik ungkapan kejutan yang menyenangkan, bahkan mendekati sebuah senyuman.

„Sekarang aku khawatir di seantero dunia tidak ada sutera yang kuning terang“, cetus si cantik bergurau.

Pembaca yang budiman mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa si wanita muda baru sekarang melayangkan senyumannya dan memperhatikan si Siucai.  Ceritanya begini: si wanita muda menderita rabun jauh!  Semula ia mengira tamunya hanya pembeli biasa dan oleh karenanya tidak memberikan perhatian. Ketika si pemuda menyinggung perkataan Suan tse, ia memperkenalkan diri sebagai akademisi muda, sebagai Siucai, sebagai Doktor tingkat ke 1, perhatiannya sedikit terbangun, namun masih tidak cukup, untuk menggerakan sepasang matanya. Ia menganggap si pemuda sebagai lelaki rata-rata. Begitulah adanya pada manusia penderita rabun jauh, bahwa ia harus berusaha keras untuk mengenali sesuatu pada jarak jauh dan usaha seperti itu biasanya dihindari oleh mereka.

Wanita penderita rabun jauh – biasanya cantik dan intelijen – juga ada baiknya: ia menyimpan perasaan untuk ranjang pernikahan, dan menghindari petualangan singkat. Jadi benarlah apa yang dikatakan dalam bahasa sehari-hari:

Separah apapun rabun jauh seorang wanita,
Di ranjang pernikahan ia sangat cakap. Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s