Sebuah puisi jenaka di Rimba Cendekia

aldisurjana_aldi_surjana_Rulin_Waishi_Rimba_Cendekia_The_Scholars

Di dunia kangow berlaku bukan saja hukum „tukar pukulan“, tapi juga hukum „tukar kata-kata“. Sebuah puisi jenaka, yang dibacakan oleh seorang Cendekia muda, yang baru lulus ujian negara pertama (Xiucai) di sebuah jamuan makan untuk menyindir seorang Cendekia tua vegetaris, yang belum sempat mengikuti ujian negara karena masih harus mencari nafkah sebagai guru privat. Puisi itu dimulai dengan baris puisi, yang hanya terdiri dari satu kata; dari baris ke baris ditambahkan satu kata, hingga mencapai tujuh kata. Keseluruhannya berjudul ‚Seorang Guru‘.“

„Tuan
Doktor Bodoh
Tidak makan daging,
Jenggot menutupi pipi cekung,
tidak membaca buku sastra klasik,
menggunakan kuas, kertas menurut maunya sendiri,
baca: tahun baru aku datang kesini tanpa diundang.“

Juga ia masih menambahkan: „Untuk teman kita, yang berbakat, tentu perkataan bodoh tidak mengena. Namun ‚Tuan Doktor (Jìnshì)‘, ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, tetapi melanjutkan kata-katanya, „Tidak makan daging, Jenggot menutupi pipi cekung‘, ini baru cocok.“ Ia tidak meneruskan hingga baris terakhir, melainkan hanya tertawa terbahak-bahak, yang juga diikuti oleh yang lain. Bagaimanapun Cendekia tua vegetaris merasa sangat malu, dan saking malunya wajahnya langsung menjadi merah dan pucat.

Aldi Surjana

Cuplikan novel Rulin Waishi (Rimba Cendekia; The Scholars)
https://aldisurjana.wordpress.com/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s