Bab 26 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingKekerasan hati si cantik rontok dalam sekejap.

Sifat wanita juga sama seperti sifat lelaki, sekali-kali menderita dibawah tekanan „awan mendung“ dan juga merindukan „hujan“ yang membebaskan. Jelas sudah, bahwa wanita, yang memiliki mata tajam, menjadi kacau pada pandangan pertama lelaki ganteng, yang menjanjikan pembebasan tekanan yang menganggu dan melepaskan kesalehannya. Jadi bisa dilihat sebagai kemurahan hati dan kebijakan Sang Pencipta, jika Dia menghadiakan wanita lain dengan rabun jauh. Karena wanita semacam itu, terimakasih pada rabun jauhnya, imun terhadap godaan seperti itu. Kecuali pada suaminya, ia tidak punya mata untuk lelaki lain. meskipun didatangi lelaki terganteng seperti Pan An atau Sung Y¸. Dengan itu kegagalan perkawinan dan perselingkuhan terhindar. Sudah sejak zaman dahulu terbukti, bahwa perkawinan dengan wanita rabun jauh kebanyakan berlangsung bahagia dan tanpa skandal. Mungkin saja seorang lelaki gagah berdiri dihadapannya dan merayunya, wanita rabun jauh tetap bersikap sopan, acuh tak acuh dan menahan diri bagaikan terbungkus awan. Dibutuhkan sangat banyak diplomasi, untuk membuatnya mengambil perhatian pada lelaki tersebut.

Untuk membawa si wanita muda membuat kekecualian seperti itu, adalah hasil interaksi cerdas Siucai kita bersama temannya. Dan itu adalah pandangan  wanita muda ketangan dan ke wajah Siucai kita, yang membangunkan kuncup alam sadar si wanita muda menjadi mekar. Tiba-tiba si wanita muda bersedia. Tetapi kebanggaan kewanitaannya melarang untuk membukakan pintu hubungan. itu harus diserahkan pada si lelaki. Oleh karena itu dengan suara tawar ia berkata:

„Jadi, apakah kau serius mau membeli sesuatu atau tidak? Jika ya, maka aku akan mengambilkan bahan yang sangat bagus dari dalam“

„Tentu saja aku mau membeli. Selain untuk itu, untuk apa aku datang kesini?“

Wanita muda menghilang kedalam, dan tidak lama kemudian kembali lagi dengan satu bal sutera ditangan. Dibelakangnya terlihat seorang gadis pelayan muda mengiringinya dengan dua cawan teh diatas nampan. Kedua orang tamu mengambilnya.

Siucai kita meminum tehnya setengah kosong dan menyerahkannya kepada si pemilik toko dengan senyuman mengundang. Si wanita muda membalas isyarat rahasia Siucai kita dengan senyuman manis. Dengan itu si pemuda membuka pintu hubungan, dan si wanita muda tidak kehilangan kebanggaan kewanitaannya, jika menerima undangan si pemuda. Si pemuda memberikan isyarat yang lebih jelas, dimana ia  menyentuh dan sedikit menekan tangan si wanita, ketika memeriksa barang. Si wanita pura-pura tidak merasa, tetapi memberikan persetujuan rahasianya dengan mengoreskan ujung kukunya ke belakang telapak tangan si pemuda.

„Bahan sutera ini sangat baik. Kita beli.“ Dengan kata-kata ini Saikunlun mengakhiri pemeriksaan barang  dan permainan cinta rahasia pasangan muda. Pada waktu yang bersamaan ia mengeluarkan uang perak dari saku lengan bajunya dan memberikan pada temannya. Tanpa menawar harga, si Siucai langsung menyetujui harga yang diminta dan meletakan uang perak keatas timbangan uang untuk diperiksa.

„Perak murni masif? Silahkan nyonya memeriksa dengan mata sendiri“, kata si pemuda penuh arti, dengan sindiran tersembunyi yang merujuk pada dirinya.

„Hm, kelihatannya sih begitu, yang masih menjadi pertanyaan, apakah dalamnya asli dan berguna“ jawab si wanita muda atas sindiran si pemuda.

„Oh, bila nyonya tidak percaya, kami tinggalkan barang dan uang disini, dan datang kembali malam ini dengan catut dan menjepit uang perak, maka akan terbukti apakah isinya asli – dan betapa aslinya ia sebenarnya!“

„Tidak perlu. Jika uangmu benar-benar tanpa cacat, nanti kau pada belanja selanjutnya bisa mengulangnya lagi. Jika sebaliknya kau hanya sekali ini saja menjadi langgananku. Selesai!“

Saikunlun mengambil paket sutera kebawah lengannya dan menarik ujung baju si pemuda sebagai tanda, bahwa sudah waktunya untuk pergi. Sebelum keluar, si pemuda memandang si nyonya sekali lagi, agak lama dan dalam ke matanya. Meskipun rabun jauh, si nyonya bisa mengartikan pandangan lembut perpisahan si pemuda dan membalas dengan mengedipkan matanya. Dengan itu si nyonya memberikan kesan, yang selain bisa diartikan sebagai cemohan juga sebagai harapan.

Sekembalinya di kamar kuil, si pemuda berkata kepada temannya:

„Sepertinya usaha kita delapan atau sembilan persepuluh bagian sudah berhasil. Tetapi bagaimana selanjutnya? Bagaimana masuk kerumahnya?“

„Jangan khawatir. Sejauh yang aku ketahui dari hasil penjelajahanku, ia tinggal dirumahnya sendirian- kecuali seorang gadis pelayan, tetapi ia tidak masuk hitungan, ia masih anak-anak umur 12 tahunan, yang sore-sore sudah tidur kelelahan dan tidur nyenyak, ia tidak akan melihat atau mendengar.“

„Tetapi para tetangga? Jika mereka melihat kita masuk? Mereka akan memukul tanda bahaya dan berteriak ‚Maling! Rampok!‘ – bagaimana?“

„Jangan khawatir! Selama kau bersamaku tidak akan terjadi. Aku akan menggendongmu dan bersamamu menaiki dinding ke atas genteng, dari situ perlahan-lahan kita turun ke halaman dalam. Semisalnya ada genteng yang terlepas dan jatuh kebawah, itu suatu hal yang biasa, sering terjadi, untuk itu telinga para tetangga sudah terbiasa. Tidak! Yang menjadi pikiranku bukan itu: Apakah kau mengingat kata-katanya? Pada saat diskusi tentang keaslian perak, ia memberi pesan tersembunyi mengenai kekhawatirannya apakah kau mempunyai kemampuan diatas ranjang. Jadi, meskipun kau mempunyai kegantengan, tetapi apakah isimu, kekuatanmu, sehebat kegantenganmu? Bila tidak, kau hanya sekali saja sebagai langganan – Ia mengutarakannya liwat bahasa kiasan. Ingat peringatanku belum lama ini! Apakah kau sanggup memenuhi tuntutannya? Malam ini adalah ketentuannya, kau harus mengerahkan kelelakianmu! Apakah kau merasa sanggup menghadapi ujian ini? Hati-hati, jangan sampai tidak lulus! Harus cerdik, membatasi hanya dengan satu rit (trip) saja! Hindari rit kedua atau rit ketiga.“

„Masa sih gagal! Percayalah! Kau nanti sembunyi di dekatku sambil pasang kuping. Bagiku tidak masalah“, kata  si siucai sambil tertawa gembira dan menularkan kepada temannya untuk ikut tertawa terbahak-bahak.

Si pemuda sudah tidak sabar menunggu sampai malam, hingga „burung emas“ tenggelam di ufuk barat dan „kelinci perak“ terbit dari ufuk timur. Perasaannya seolah-olah akan menghadapi ujian negara. Metode apa yang akan digunakan oleh Komisaris ujian? Dan topik karangan apa yang akan diajukannya? – Semua itu akan kalian ketahui di bab selanjutnya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s