Bab 27 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingMeskipun ia mempunyai kecendrungan sensual, tetapi di lingkungannya ia berpura-pura saleh

Yanfang ‚Aroma‘ namanya. wanita muda istri pedagang sutera kecil Quan Laoshi. Anak perumpuan pintar dan cerdas putri seorang cendikiawan kota kecil, yang berkat bimbingan ayahnya sudah sejak kecil menguasai bahasa tulisan yang sulit dan sudah membaca kitab-kitab dari berbagai disiplin ilmu kesusastraan. Mengingat kecerdasannya yang diatas rata-rata dan kecantikannya yang luar biasa, maka orang tuanya tidak mau memberikannya kepada pria terbaik pertama sebagai istri dan karena itu menunda pertunangannya lebih lama, dari pada biasanya. Ia sudah berumur enam belas tahun, ketika orang tuanya akhirnya mengira telah menemukan calon menantu yang pantas. Ia adalah seorang anak muda yang baru saja lulus ujian pendahuluan di ibu kota daerah setempat, dengan nilai juara kesatu, yang dijaring oleh kepala daerah untuk mengikuti ujian provinsi, Yakin, bahwa orang seperti itu dengan mudah bisa menjamin masa depan keluarganya, langsung orang tuanya mengirim perantara pernikahan seperti lazimnya dan mendapatkannya sebagai anak menantu.

Tetapi sayang mereka telah salah berspekulasi. Belum genap setahun pernikahan si anak muda mati karena gangguan jiwa dan kelelahan. Aroma mengindahkan setahun penuh masa berkabung yang sudah ditentukan, kemudian ia memutuskan untuk menikah kembali. Pilihannya jatuh pada pedagang sutera Quan Laoshi. Meskipun ia mempunyai kecendrungan sensual, tetapi di lingkungannya ia selalu berpura-pura saleh. Jika di kota kembali terjadi skandal perkawinan yang memalukan, istri ini atau itu tertangkap basah dan menjadi bahan gunjingan, maka ia senang berperan sebagai orang sok benar sendiri, hakim kesusilaan. Kepada teman-temannya ia sering berceramah seperti ini:

„Kita harus berpikir dengan jernih: Jika kita memang sudah dihukum, karena pada kehidupan yang sebelumnya membuat kesalahan dan membuat diri kita berdosa, sehingga dilahirkan di dunia sebagai gadis, maka kita harus menerima, bahwa hidup kita tidak seenak kaum pria. Mereka bebas bepergian, melihat dunia, bergaul dan mengikuti hasrat hati bersenang-senang – semua itu tidak diperbolehkan pada gadis malang seperti kita. Kita diasingkan seumur hidup di kamar perumpuan. Satu-satunya kesenangan hidup yang boleh kita peroleh adalah kesenangan di ranjang perkawinan, sejauh suami kita masih menyisakan sedikit kegembiraan.  – ,dan sosialisasi kita terbatas hanya sebagai ibu kepada anak-anak kita, dengan syarat kita dikaruniakan anak. Itulah peraturan keberadaan wanita yang diinginkan oleh langit dan bumi. Oleh karena itu kita harus hidup baik-baik dan mengenyahkan semua pikiran petualangan cinta dari benak kita. Jika kita berselingku dibelakang punggung suami kita dengan lelaki lain, dengan itu kita melanggar moral dan peraturan umum dan meliwati batas keberuntungan sebagai wanita yang sudah ditentukan oleh takdir. Belum lagi risiko yang akan kita terima – tuduhan, omelan, bahkan pukulan dari suami, jika ia memergoki kita, gunjingan dan hinaan orang, jika mereka mendengar perselingkuhan kita -,begitulah peraturan kehormatan bagi kita. bahwa kita harus menguasai diri dan menjinakan sensual kita. Jika kita menginginkan sesuatu yang sensual, maka kita harus melakukannya dengan suami sendiri. Hanya itu satu yang masuk akal. Kita biarkan ia siang hari dalam pekerjaannya, mengurus bisnis, kita cukup puas memilikinya pada malam hari. Jadi pada malam hari bersama dengannya memasuki kamar tidur, melepaskan pakaian, naik ke ranjang kepadanya – tentu saja , semua itu dilakukan dengan tenang, santai, tidak tergesa-gesa dan tidak cemas – ,juga itu ada nilai dan daya tariknya. Coba bayangkan rasa takut, debaran jantung pada setiap pelukan, ya bahkan juga pada setiap sentuhan dibelakang punggung suami! Apakah itu berarti dan nikmat? Aku hanya bisa mentertawakan tentang wanita bodoh semacam itu, yang tersesat ke jalan salah. Mengapa mereka pada saat pertunangan tidak mencari yang tepat, dan sudah sejak awal mengarahkan untuk memilih tipe suami yang diingini? Ketika itu bebas bagi mereka untuk memilih. Ada yang meletakan nilai pada nama dan reputasi, baiklah, maka ia harus memilih bakat yang berkembang, seorang akademisi muda berbakat sebagai pasangan. Yang lain lebih memilih penampilan luar yang menarik, baiklah, maka ia akan ditemani oleh salah seorang pria ganteng. Yang ketiga tidak tergila-gila akan nama, reputasi maupun penampilan luar yang ganteng, yang terpenting baginya adalah kemampuan kelelakiannya, baiklah, maka ia harus memlih salah satu lelaki gagah. Dengan begitu, setiap wanita sejak awal bisa mengukir kebahagiaannya masing-masing, tidak ada kebutuhan, belakangan, setelah menikah, masih menguber-uber lelaki lain. “

Para pendengar wanita menganggap pernyataan seperti itu hanya sebagai teori kosong, yang setiap kalimatnya enak didengar, tapi sayangnya belum tentu bisa dipraktekan dalam dunia nyata. Seandainya mereka tahu, bahwa teori si pembicara adalah berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri!

Ketika masih gadis muda, seperti gadis-gadis lain seumurnya, juga Aroma memimpikan dan merindukan seorang suami idaman, yang harus memiliki tiga keunggulan: cerdik dan berpendidikan, ganteng, kemampuan sebagai suami. Pemuda akademisi yang dipilihkan orang tuanya, benar-benar memiliki bakat luar biasa, juga dalam hal penampilan luar cukup memuaskan seleranya. dengan gegabah ia mengira, bahwa si pemuda juga dalam hal ketiga memenuhi sebagai suami idaman. Disitu ia mengalami kekecewaan: terbukti sebagai „modal“ lemah, kekuatan dan durasi dalam pertempuran diatas ranjangnya tidak dapat diandalkan. Baru saja duduk, belum saja hangat, apalagi panas, ia sudah turun dari pelana. Sebagai seorang wanita yang sehat dan sigap, mana bisa ia mentolerir kehilangan tenaga sebelum waktunya dan menyerah begitu saja? Jika menuruti keinginannya, ia menginginkan pernikahan ini menjadi pertempuran penuh hasrat yang diiringi tarian bergairah dengan gong dan gendang. Ia tidak pernah merasa cukup. Jadi dengan semua cara, ia berusaha mendorong dan membangkitkan kembali kegarangan dari petarung yang sudah kelelahan. Seorang lelaki lemah seperti dia, tentu saja tidak dapat bertahan lama menghadapi persyaratan yang sangat menguras tenaga. Tidak lama, belum juga setahun, lilin kehidupannya sudah terbakar habis tanpa sisa. Ia mati keletihan.

Dari pengalaman pahit ini Aroma mendapat pelajaran: tidak lagi mengandalkan kecerdikan dan pendidikan atau tampang keren pada pasangannya, semua itu tidak asli, ganteng tapi tak berguna. Hanya satu yang pegang peranan, yakni kemampuan kelelakiannya. Jika ia dihadapi oleh sebuah pilihan dan pada calon tersebut tidak memiliki tiga macam keunggulan, maka dengan bijak, ia akan mengabaikan kecerdikan, pendidikan dan kegantengan dan hanya berpegang pada satu-satunya yang nyata: kemampuan kelelakiannya, semakin mampu, semakin baik.

Dari pengalaman itu, pada pernikahannya yang kedua kali, ia memilih seorang lelaki jelek, polos, si pedagang sutera Quan Laoshi. Bagi Aroma, muka kasar yang tidak menampilkan kecerdikan dan kekakuan calon suaminya tidak masalah, juga ia tidak pernah mempersoalkan uang dan mengambil risiko, bahwa si calon hidup dalan kondisi yang sederhana. Yang paling terutama baginya adalah, bahwa si calon sehat dan kuat dan, seperti yang dibisikan oleh mak comblang dan yang sering digosipkan orang, si calon memiliki perkakas, yang membuat milik serigala dan harimau hanya sebagai hiasan belaka. Dan oleh karena itu, ia mengambilnya sebagai suami.

Aroma tidak perlu menyesali pilihannya. Melebihi dari yang diharapkannya. Semula ia agak skeptis, dan menganggap apa yang digosipkan orang tentang kehebatan Quan Laoshi hanya berlebihan. Jadi ditengah pertempuran ia sudah menyiapkan diri, bahwa Quan Laoshi datang tidak dengan golok besar atau kapak raksasa, melainkan hanya dengan pedang ringan biasa. Dan mendapatkan kejutan yang menyenangkan, karena Quan Laoshi menyerbunya dengan sebuah tombak besar, yang tebalnya tidak dapat dirangkum oleh tangannya.

Sejak saat itu Aroma dilanda ketenangan yang luar biasa. ia benar-benar puas dan yakin, bahwa disamping suaminya ia akan merasa terus bahagia tanpa ada permintaan lain, meskipun di sekitarnya langit dan bumi ambruk. Hatinya menjadi tenang bagaikan mati, tidak ada lonjakan lagi, tidak ada pikiran petualangan, tidak ada kecanduan berkaca lagi.

Karena suaminya si pedagang sutera hidup dalam lingkup sederhana dan berpenghasilan tidak seberapa, ia membuat dirinya berguna, membantu di toko dari pagi hingga malam, mencabuti serpihan sutera dan menggulungnya menjadi benang sutera yang bagus. Karena kehendak takdir yang tak terduga, bahwa pemuda kita harus melihatnya, ketika ia sedang dibawah tirai, mengobrol dengan tetangga wanitanya yang tinggal berseberangan. Dan takdir telah bermurah hati: langsung dua kali Siucai bulak balik mempehatikannya dan mengaguminya dari luar dengan santai. Sebaliknya Aroma tidak terlalu memperhatikannya. Memang ia melihat seorang mahluk lelaki, tapi hanya dalam bentuk sketsa samar, penampilan detilnya, terutama roman muka, karena rabun jauh menjadi lolos dari perhatiannya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s