Seratus Aliran Pemikiran

aldisurjana_Seratus_Aliran_Pemikiran_Konfusianisme_Mensius_Mohisme_Yin-yang

Seratus Aliran Pemikiran; pinyin: zhuzi baijia; harafiah: „semua filsuf seratus aliran“) adalah semua filsuf dan aliran yang berkembang dari abad ke-6 hingga 221 SM, semasa periode Musim Semi Dan Musim Gugur dan Negara-Negara Berperang di Tiongkok kuno.

Masa perkembangan budaya dan pemikiran besar di Tiongkok, dipenuhi dengan kekacauan dan pertempuran berdarah, tapi masa itu juga dikenal sebagai Masa Keemasan dari Filsafat Tiongkok karena cakupan luas dari pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan yang berkembang dan diperbincangkan secara bebas. Fenomena ini disebut Persaingan Seratus Aliran Pemikiran; baijia zhengmíng; „persaingan seratus aliran“). Pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan yang diperbincangkan dan diperbaiki semasa periode ini telah memengaruhi secara mendalam gaya hidup dan kesadaran sosial hingga saat ini di negara-negara Asia Timur dan diaspora Asia Timur di seluruh dunia. Masyarakat intelektual di masa ini ditandai dengan sarjana-sarjana pengembaranya, yang sering dipekerjakan oleh berbagai penguasa negara sebagai penasihat dalam sistem pemerintahan, perang, dan diplomasi.

Periode ini diakhiri dengan berdirinya kekaisaran Dinasti Qin dan pembersihan atas perbedaan pendapat yang menyusulinya.

 

ALIRAN-ALIRAN YANG TERCATAT DALAM SHIJI

Sumber tradisional untuk periode ini adalah Shiji, atau Catatan Sejarah Agung oleh Sima Qian. Yang merujuk pada aliran-aliran pemikiran yang tertulis di bawah ini.

Konfusianisme

Konfusianisme (Rújia; „aliran sarjana-sarjana“) adalah kelompok pemikiran yang bisa dibilang memiliki efek paling abadi dalam kehidupan Tiongkok. Warisan tertulisnya terletak dalam Karya Klasik Konghucu, yang kemudian menjadi dasar dari masyarakat tradisional. Konghucu (551-479 SM), atau Kongzi “Guru Kong”, memandang masa-masa yang lebih awal di Dinasti Zhou sebagai keteraturan sosial politik yang ideal. Ia yakin bahwa satu-satunya sistem yang efektif yang diperlukan dalam pemerintahan meresepkan hubungan antara tiap-tiap individu: “Biarlah penguasa menjadi penguasa dan hamba menjadi hamba”. Selain itu, ia menyatakan bahwa seorang raja harus bajik untuk dapat memerintah negara dengan baik. Bagi Konghucu, fungsi pemerintahan dan stratifikasi sosial adalah kenyataan hidup yang harus dipertahankan oleh nilai-nilai etikal; karenanya manusia idealnya adalah junzi, yang diterjemahkan sebagai “laki-laki sejati” atau “manusia utama”.

Mensius (371–289 SM), atau Mengzi, merumuskan ajarannya untuk menanggapi Konghucu secara langsung.

Efek dari penggabungan karya Konghucu, kodefikasi dan penafsiran dari sistem hubungan yang berdasar pada perilaku etikal, dan Mensius, sintesis dan perkembangan dari penerapan pemikiran Konfusianis, mengarahkan masyarakat tradisional Tionghoa kepada kerangka yang meliputi banyak hal yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan.

Ada banyak penambahan ke dalam tubuh pemikiran Konghucu, baik langsung maupun sesudah satu milenia, dari dalam dan dari luar aliran Konghucu. Interpretasi yang diadaptasi ke masyarakat masa kini mengijinkan kefleksibelan dalam Konfusianisme, sementara sistem fundamental dari perilaku teladan dari naskah-naskah kuno membentuk intisari filsafatnya.

Sama sekali bertentangan dengan Mensius, menyangkut watak manusia, adalah interpretasi dari Xunzi (sekitar 300-237 SM), pengikut Konghucu yang lain. Xunzi mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya tidak baik; ia menegaskan bahwa kebaikan diperoleh hanya melalui pengendalian hasrat dan perilaku.

Legalisme

Doktrin aliran Hukum atau Legalisme (Fajia; „Aliran hukum“) diformulasikan oleh Li Kui, Shang Yang (sekitar 338 SM), Han Feizi (sekitar 233 SM), dan Li Si (sekitar 208 SM), yang menyatakan bahwa watak manusia selalu mementingkan diri sendiri; karenanya, satu-satunya jalan untuk memelihara ketertiban sosial adalah dengan menanamkan disiplin dari atas, dan menjaga pelaksanaan hukum yang ketat. Kaum legalis mengutamakan negara di atas segalanya, mengusahakan kemakmuran dan kekuatan perangnya di atas keselamatan rakyat jelata.

Legalisme sangat memengaruhi dasar filsafat dari bentuk pemerintahan kekaisaran. Selama Dinasti Han, unsur-unsur paling praktis dari Konfusianisme dan Legalisme diambil untuk membentuk semacam sintesis, menandai penciptaan dari bentuk baru pemerintahan yang akan tetap utuh hingga akhir abad ke-19.

Taoisme

Filsafat Taoisme atau Daoisme (Dàojia; „Aliran Jalan“) berkembang menjadi aliran kedua yang paling penting dari pemikiran Tiongkok. Perumusannya sering diatribusikan kepada orang suci legendaris Laozi (“Guru Besar”), yang konon lebih tua dari Konghucu, dan Zhuangzi (369-286 SM). Fokus dari Taoisme adalah lebih pada individu di dalam semesta alam dibanding individu di dalam masyarakat; oleh karenanya, tujuan hidup bagi tiap individu adalah berusaha menyesuaikan diri dan beradaptasi pada ritme dunia lazim (dan dunia gaib), untuk mengikuti Jalan (Tao) dari alam semesta, dan untuk hidup dengan selaras. Dalam banyak hal bertentangan dengan moralitas Kongusian yang kaku, Taoisme bagi banyak pengikutnya merupakan pelengkap bagi kehidupan sehari-hari mereka yang teratur. Seorang sarjana yang mengabdi sebagai pejabat biasanya akan mengikuti ajaran Kongfusian, tapi di waktu luang atau pensiun akan mencari harmoni bersama alam sebagai pertapa Taois.

Mohisme

Mohisme atau Moisme (Mòjia; „Aliran Mo“) dikembangkan oleh pengikut-pengikut Mozi (juga disebut Mo Di; 470-sekitar 391 SM). Meski aliran ini tidak bertahan melewati Dinasti Qin, Mohisme dipandang sebagai lawan utama Konfusianisme di periode Seratus Aliran Pemikiran. Filsafatnya terletak pada gagasan cinta universal: Mozi percaya bahwa “semua orang sederajat di hadapan langit”, dan bahwa orang harus berusaha meniru langit dengan mengupayakan pelaksanaan cinta kolektif. Epistemologi-nya dipandang sebagai empirisme materialis primitif; ia percaya bahwa kesadaran manusia lebih didasarkan pada daya pahamnya – melalui pengalaman indrawi, seperti penglihatan dan pendengaran – dibandingkan pada imajinasi atau logika internal, unsur-unsur yang ditemukan pada kemampuan manusia dalam keniskalaan.

Mozi menganjurkan kesederhanaan, mengutuk penekanan Konfusian pada ritual dan musik, yang ia cemooh sebagai berlebihan. Ia memandang penyerangan militer sebagai pemborosan dan menganjurkan pasifisme atau paling berat, pembentengan untuk membela diri. Pencapaian dari tujuan sosial, menurut Mozi, mewajibkan penyatuan pikiran dan tindakan. Filsafat politisnya mengusung persamaan dengan pemerintahan monarki ilahi: rakyat harus selalu mematuhi pemimpinnya, sementara pemimpinnya harus selalu mengikuti kehendak langit. Mohisme kemungkinan memiliki unsur-unsur meritokrasi: Mozi berpendapat bahwa penguasa harus menunjuk pejabat-pejabat lebih berdasarkan kebajikan dari kemampuan mereka dibandingkan pertautan keluarga mereka. Meskipun keyakinan umum pada Mohisme menurun di akhir Dinasti Qin, pandangan-pandangannya dikatakan menggema dengan kuat dalam pemikiran Legalis.

Aliran Yin-yang

Aliran Naturalis atau Yin-yang (Yinyángjia; „Aliran yin-yang“) adalah filsafat yang mempersatukan konsep yin-yang dan Lima Unsur; Zou Yan dianggap sebagai pendiri aliran ini. Teorinya mencoba menjelaskan alam semesta dalam istilah kekuatan dasar dalam alam: unsur yang mewakili yin (gelap, dingin, perempuan, negatif) dan yang (terang, panas, laki-laki, positif) dan Lima Unsur atau Lima Fase (air, api, kayu, logam, dan tanah). Di masa-masa awal, teori ini paling banyak dihubungkan dengan negara-negara Yan dan Qi. Di masa-masa kemudian, teori-teori epistemologis ini menjadi penting baik dalam akidah filsafat dan populer. Aliran ini diserap ke dalam alkimia Taoisme dan matra gaib serta kerangka medis Tiongkok. Catatan paling awal yang masih ada adalah naskah-naskah Ma Wang Dui dan Huang Di Nei Jing.

Logisian

Aliran Nama-Nama atau Logisian (Míngjia; „Aliran Nama-Nama“) berasal dari Mohisme, dengan filsafat yang berfokus pada definisi dan logika. Dikatakan sejajar dengan Sofis Yunani Kuno atau dialektisian. Logisian yang paling terkemuka adalah Gongsun Longzi.
ALIRAN-ALIRAN YANG TERCATAT DALAM HANSHU

Taishigong Zixu atau Shiji mendaftarkan enam filsafat utama dalam Seratus Aliran Pemikiran di atas. Yiwenzhi atau Hanshu menambahkan empat lainnya menjadi Sepuluh Aliran Shijia).

Aliran Diplomasi

Aliran Diplomasi atau Aliran Vertikal dan Horisontal (Aliansi) (Zonghengjia) menghususkan pada politik diplomasi; Zhang Yi dan Su Qin adalah pemikir-pemikir yang mewakilinya. Aliran ini lebih berfokus pada masalah-masalah praktis dibanding pada prinsip-prinsip moral apa pun, jadi lebih menekankan pada taktik politis dan diplomatis, dan keahlian debat dan melobi. Sarjana-sarjana dari aliran ini adalah ahli-ahli pidato, jago-jago debat, dan ahli-ahli taktik.

Agrikulturalis

Agrikulturalisme (Nongjia) adalah filsafat sosial agrarian dan politis awal yang menganjurkan komunalisme utopia petani dan egalitarianisme. Filsafat ini didirikan dengan maksud bahwa masyarakat manusia berasal dari perkembangan agrikultur, dan masyarakat berdasar pada “kecondongan alami manusia untuk cocok tanam.

Agrikulturalis percaya bahwa pemerintahan yang ideal, mencontoh pada pemerintahan semi-mitos dari Shennong, harus dipimpin oleh seorang raja bajik, yang bekerja bahu-membahu dengan rakyat dalam mengolah sawah. Raja Agrikulturalis tidak dibayar oleh pemerintah melalui kekayaannya; mata pencahariannya berasal dari keuntungan yang ia hasilkan dari bekerja di sawah, bukan kepemimpinannya. Tidak seperti Konfusian, Agrikulturalis tidak percaya dalam pembagian tenaga kerja, sebaliknya mengajukan bahwa kebijakan-kebijakan ekonomi dari negara harus berdasarkan pada pencukupan diri egaliter. Agrikulturalis mendukung pada harga-harga yang tetap, yang mana barang-barang serupa, tanpa memerhatikan perbedaan kualitas dan permintaan, ditetapkan dengan harga yang tepat sama, tak berubah.

Sebagai contoh, Mensius pernah mengritik penganjur utamanya Xu Xing karena menganjurkan bahwa penguasa harus bekerja di sawah bersama dengan bawahan-bawahannya. Salah satu dari murid Xu Xing dikutip mengritik Adipati Teng dalam percakapannya dengan Mensius dengan mengatakan: “Penguasa yang mulia mencari makan bagi dirinya sendiri dengan membajak sawah bersisi-sisian dengan rakyat, dan memerintah sembari memasak makanannya sendiri. Saat itu, sebaliknya, Adipati Teng memiliki lumbung padi dan gudang harta, jadi penguasa menghidupi diri sendiri dari menindas rakyat.”

Aliran Rupa-Rupa

Aliran Rupa-Rupa (Zajia) mengintegrasi ajaran-ajaran dari berbagai aliran, Lü Buwei mengumpulkan sarjana-sarjana dari berbagai aliran untuk menulis sebuah buku berjudul Lüshi Chunqiu secara kooperatif. Aliran ini mencoba menyatukan manfaat-manfaat dari berbagai aliran dan menyingkirkan cacat-cacat mereka yang dirasakan. Shizi (sekitar 330 SM) merupakan contoh naskah paling awal dari Aliran Sinkretis ini.

Aliran „Tutur Kecil“

Aliran “Tutur Kecil” Xiaoshuojia) bukanlah aliran pemikiran yang khusus. Bahwasanya, semua pemikiran yang diperbincangkan oleh dan berasal dari orang-orang tak terkenal di jalanan termasuk dalam aliran ini. Pada saat itu, ada beberapa pejabat pemerintahan yang bertanggung jawab mengumpulkan gagasan-gagasan dari orang-orang tak terkenal di jalanan dan melaporkan pada atasan mereka. Pemikiran-pemikiran ini membentuk asal-usul dari aliran ini. Hal ini menjelaskan namanya dalam bahasa Mandarin, yang secara harafiah berarti “aliran tutur kecil”.

 

ALIRAN-ALIRAN YANG TAK TERCATAT

Aliran-aliran ini tak terdaftar dalam Hanshu tapi memiliki pengaruh besar.

Yangisme

Yangisme adalah sebuah bentuk egoisme etikal yang didirikan oleh Yang Zhu. Pernah menyebar namun memudar sebelum Dinasti Han. Disebabkan oleh penekanannya pada individualisme, aliran ini memengaruhi generasi Taois kemudian.

Aliran Militer

Kelompok lain adalah Aliran Militer Bingjia) yang memelajari peperangan dan strategi; Sunzi dan Sun Bin merupakan pemimpin-pemimpinnya yang berpengaruh.
SEJARAH DAN ASAL-USUL

Yi Wen Zhi dalam Hanshu menyatakan bahwa pejabat-pejabat yang bekerja bagi pemerintah pada Dinasti Zhou kehilangan jabatan mereka ketika wewenang pemerintah Zhou mulai terpecah-belah di masa Zhou Timur. Dalam hal ini, pejabat-pejabat menyebar ke seluruh negeri dan mulai mengajarkan bidang pengetahuan mereka masing-masing sebagai guru swasta. Dengan cara ini aliran-aliran filsafat lahir. Secara rinci, Aliran Sarjana-Sarjana (yaitu Aliran Konfusian) lahir dari pejabat-pejabat Menteri Pendidikan; Taois berasal dari sejarawan-sejarawan; Aliran Yin-yang lahir dari ahli-ahli astronomi; Aliran Legalis dari Menteri Kehakiman; Aliran Nama-Nama dari Menteri Ritual; Aliran Mohis dari Wali-Wali Kuil; Aliran Diplomasi dari Menteri Kedutaan; Aliran Rupa-Rupa dari penasihat-penasihat pemerintah; Aliran Agrikultur dari Menteri Lahan dan Gandum; Aliran Tutur Kecil dari pejabat-pejabat kecil. Meski detilnya tidak jelas, pembakaran buku-buku dan penguburan sarjana-sarjana pada masa Qin merupakan akhir dari periode perbincangan terbuka ini.

Perlu ditekankan bahwa hanya Ru, atau Konfusian dan Mohis yang merupakan aliran-aliran terorganisasi nyata dari guru dan murid pada masa ini. Aliran-aliran lainnya diciptakan kemudian untuk menggambarkan kelompok-kelompok naskah yang menyatakan gagasan-gagasan yang sama. Tak pernah ada kelompok terorganisasi yang menggambarkan dirinya sebagai “Legalis”, misalnya, dan istilah “Daois” baru diciptakan di Han Timur setelah mewarisi pergerakan Huang-Lao di Han Barat.

Diterjemahkan oleh Nonik Dahlia dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Hundred_Schools_of_Thought

Golden Lotus: https://www.facebook.com/groups/goldenlotus24/

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s