Bab 24 Sepasang Pedang Matahari dan Rembulan (Tamat)

aldisurjana_sepasang_pedang_matahari_dan_rembulan_jit_goat_siang_pokiamEpilog

Beberapa saat kemudian, Dian Long mengangsurkan Goat Pokiam kepada Ban Su To Niocu sambil berkata,”Aku akan pulang ke Bu-kee-cung mengurus jenazah pamanku, harap Niocu bersedia memberikan penawar racun untukku.”

“Tentu saja aku akan menepati kata-kataku,” kata Ban Su To Niocu sambil mengambil sebuah bungkusan dari dalam bajunya,” Inilah resep Yo-bi-su dan madu tawon asmara yang sudah kuracik., tinggal diseduh dengan air panas dan diminum 1 kali sehari. Dalam waktu seminggu racun tawon asmara akan hilang tanpa mengganggu lweekang yang kau peroleh dari tawon asmara.”

Setelah memberikan pedang dan menerima bungkusan obat, Dian Long mengangkat tangannya untuk berpamitan. Tapi Yelu Ceng menggapai tangannya sambil berkata,” Tunggu dulu Bu-Hiante, ada yang ingin kubicarakan denganmu dan Niocu.”

“Hmmm…hal apa yang ingin engkau bicarakan?” tanya Ban Su To Niocu.

“Walaupun aku sebenarnya tidak ingin ikut serta dalam urusan ini, tetapi mengingat orang yang berada dibelakang peristiwa ini sangatlah berbahaya terpaksa aku Yelu Ceng ikut campur tangan. Niocu, bukankah tapi Bu Kiong cianpwe mengatakan kalau tokoh misterius itu adalah orang dalam istana kaisar malah kemungkinan besar mempunyai kedudukan tinggi, apakah tidak berbahaya kalau Jit Goat Siang Pokiam dibawa pulang ke istana kaisar?”

“Jadi, bagaimana pendapat Yelu-sicu mengenai hal ini?” tanya Ban Su To Niocu.

“Ah, aku yang bodoh ini sebenarnya tak pantas memberi pendapat didepan orang kang-ouw yang berjuluk Ban Su To.”

“Pendapat dari keturunan Kwee Ceng Tayhiap tentu saja berharga untuk didengar. Katakanlah,” lanjut Ban Su To Niocu.

“Baiklah. Mengingat tokoh misterius itu kemungkinan besar berada didalam istana kaisar, sebaiknya kedua pedang pusaka hendaklah dibawa terpisah. Kalaupun tokoh misterius itu dapat merebut salah satu pedang yang dibawa ke istana, pedang yang lain masih dapat diselamatkan dari tangan tokoh misterius itu. Menurut pendapatku, jika Jit Pokiam dibawa oleh Niocu ke kota raja Beiping untuk diserahkan kepada kaisar, Goat Pokiam biarlah tetap berada ditangan Bu-Hiante. Anggap saja Niocu meminjamkannya untuk sementara waktu. Toh jika Niocu ingin mengambilnya kembali tidak sulit untuk mencarinya di Bu-kee-cung. Lagipula aku percaya Bu-Hiante bukanlah manusia rendah yang ingin mengangkangi pusaka milik orang lain.”

“Tapi Yelu-twako, aku tidak….” belum sempat Dian Long menjawab, Yelu ceng sudah memotong ucapannya.

“Hendaklah hiante mau menerima pinjaman. Bagaimanapun hal ini untuk kebaikan dunia kang-ouw. Apakah hiante menginginkan kematian paman hiante sia-sia begitu saja?”

“Tapi kalau Niocu tidak…” kali ini yang memotong ucapan Dian Long adalah Ban Su To Niocu.

“Aku setuju, memang ide Yelu-sicu cukup baik. Akupun tadi berpikir untuk memisahkan kedua bilah pedang pusaka ini. Jika keadaan sudah tenang, aku akan menjemput kembali Goat Pokiam,” kata Ban Su To Niocu sambil menyerahkan kembali Goat Pokiam kepada Dian Long.

Dian Long menerima Goat Pokiam kembali dengan serba salah.

“Baiklah, siawte akan menjaga pedang ini dengan sebaik-baiknya sampai Niocu kembali mengambilnya. Sekarang siawte mohon diri terlebih dahulu,” kata Dian Long sambil bersoja kepada Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng.

Yelu Ceng membalas penghormatan Dian Long dan juga bersoja pada Ban Su To Niocu sambil berkata,” Urusan meminjam pedang ini sebaiknya dirahasiakan diantara kita bertiga, karena semakin sedikit orang tahu akan semakin baik.” Sambil melirik Toan kongcu yang berada cukup jauh dibawah pohon sedang bersemedi memulihkan luka dalamnya dan A Hu yang berlutut disamping jenazah Bu Kiong. “Dan cayhe juga mohon diri untuk berkelana sambil mencari informasi tentang rencana tokoh misterius itu. Lagipula, cayhe ini termasuk masih baru dan belum berpengalaman didunia kangouw, sekalian menimba pengalaman.”

“Baiklah kalau begitu. Harap kalian hati-hati karena bagaimanapun kepandaian dan kelicikan tokoh misterius itu jauh diatas kita. Bu Kiong yang berkepandaian hebat itu saja bisa kalah dalam seratus jurus. Benar-benar musuh yang berbahaya! Kalau ada informasi menarik harap kalian tidak segan mencariku di kota raja Beiping,” kata Ban Su To Niocu.

Ketiga orang itu saling menghormat satu sama lain. Setelah itu Yelu Ceng kembali ke arah sungai tempat dia meninggalkan perahunya tadi, sedangkan Dian Long mengajak A Hu pergi sambil memapah jenazah Bu Kiong.

Tinggal Ban Su To Niocu yang menunggu Toan kongcu sambil memperhatikan Bu Dian Long pergi dan bergumam,”Anak muda ini dalam tiga atau empat tahun kedepan pasti akan menggegerkan dunia persilatan. Dugaanku ini takkan mungkin meleset.”

Ketika matahari hampir terbenam, Ban Su To Niocu beserta Toan kongcu telah pergi menuju ibu kota Beiping. Terlihat dipinggir hutan, tempat bekas pertempuran tadi berlangsung, tujuh orang gadis berlutut didepan mayat Tee-It Thian-Mo entah dengan perasaan sedih ataukah perasaan terbebas dari kekangan. Matahari senja yang kemerahan menyinari ketujuh gadis yang menggotong pergi mayat Tee-It Thian-Mo dan menjadi saksi atas kejadian awal dari peristiwa besar yang akan terjadi tiga-empat tahun di depan.

TAMAT

Cerita hasil keroyokan bareng anggota serialsilat.com: 23.10.2007:
Aminus, B_man, Kucink, Mel, Tembuyun Belitong, Trulythe (Aldi Surjana), Toan_ie, dan Zetta.

Mohon jangan mencetak atau memperbanyak terjemahan ini dalam bentuk apapun tanpa izin

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s