Bab 28 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingIa membiarkan yang lain melakukan „ujian pendahuluan“, tetapi „ujian utama“ akan dilakukannya sendiri.

Yang lebih intensif mengawasi si pemuda adalah tetangga perumpuan bermata tajam yang tinggal berseberangan. Tidak bisa melepaskan diri dari tatapannya. Ia benar-benar sudah tergila-gila pada Siucai kita.

Ia berumur sekitar tiga puluh tahunan dan sejauh itu, jika tidak memperhatikan wajahnya yang sangat jelek, ia adalah wanita dengan bentuk tubuh yang bagus. Suaminya juga pedagang sutera kecil dan berteman baik dengan Quan Laoshi. Meskipun masing-masing memiliki toko sendiri yang terpisah, tetapi mereka sudah terbiasa seperti mitra bisnis sebuah toko yang sama, bersama pergi ke pasar, dan tawar-menawar harga, jika ada barang yang mau dijual. bersama melakukan perjalanan ke provinsi lain dan tawar-menawar harga dengan petani sutera, ketika berbelanja kepompong sutera panenan baru.

Wanita kuat, sehat penuh hasrat yang berumur tiga puluh tahunan ini kepingin sekali merasakan petualangan cinta. Wajahnya yang dianak tirikan oleh sang pencipta bukanlah papan reklame yang cocok, untuk menarik pria dan membuatnya jatuh cinta, bahkan sebaliknya, penolakan. Ia sudah terlalu biasa, bahwa pria memandangnya dengan bola mata putih ketidakacuhan, agak diabaikan.

Dengan sengaja ia dijauhkan. Membuatnya terlebih-lebih mendambakan keberhasilan. sebelum terlambat. Kepingin sekali ia menikmati rasa yang menggelenyar, diam-diam dan penuh larangan diingini pria lain. Sejak pernikahannya ia merasa sangat tertekan. Suaminya adalah seorang tiran. Kesalahan sedikit saja dalam urusan rumah tangga, kalau tidak langsung ditampar dan dipukul, ia harus menelan makian dan cemohan. Rasa takut pada suaminya, membuatnya hati-hati dan tidak berani nekad melakukan perselingkuhan. Sejak lama ia sudah gatal ingin membalas suami tirannya dengan sebuah trik.

Ia menunggu hingga si pemuda menjauh, kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari menyeberangi jalan.

„Kenalkah kau padanya? – Maksudku jentelmen muda gagah, yang tadi memandangimu dari jendela toko“, katanya bagaikan air bah, dengan napas terengah-engah.

„Mana aku tahu. Dengan rabun jauhku aku tidak terlalu memperhatikan, siapa saja yang mondar mandir didepan. Pandanganku selalu pada pekerjaan tanganku, bahwa didepan ada pria berdiri dan memandangku melalui tirai, itu aku sudah terbiasa, itu kualami setiap hari. Biarkan saja ia memandang!“

„Tentu saja, tentu saja. Kau tidak perlu ambil pusing, jika ada pria yang memandangmu, maksudku, pria biasa. Tetapi dia, dia yang tadi kumaksud, tidak terlihat sehari-hari – Seandainya aku yang dipandanginya melalui jendela toko, aku akan kesenangan selama tiga hari tiga malam, dan aku tidak akan bosan memandangi dia. “

„Nah, nah! Pria seperti itu sudah harus dua belas persepuluh bagian sempurna , dan manusia seperti itu tidak pernah ada.“

„Wah! Jika aku katakan padamu, bahwa ia bukan hanya dua belas persepuluh bagian, tidak, bahkan seratus dua puluh persepuluh bagian kesempurnaan seorang jentelmen muda, bukanlah kata-kata yang berlebihan. Setiap hari aku berdiri didepan pintu, melihati pria yang lalu lalang. Tetapi yang begitu menawan seperti pemuda ini, dari ratusan pria, belum pernah aku melihatnya. Begitu halus dan anggun. Begitu putih dan segar kulitnya! benar-benar tak ada taranya! Pada setiap bagian tubuhnya orang akan jatuh cinta! bagaikan boneka sutera, enak dilihat, bagaikan sebuah gambar yang dilukis oleh tangan ahli. benar-benar orang bisa mati merindukannya!“

„Mentertawakan – kau berkhayal! – seolah-olah benar-benar ada! Tetapi jika yang seperti itu benar-benar ada, apa urusannya denganku? Mengapa aku harus mempedulikan tuan muda Li atau Chang?“

„Semakin tergila-gila ia padamu! Dengan termanggu-manggu ia menatapmu! Ia tidak dapat melepaskan diri dari wajahmu. Ingin sekali ia berdiri terus disitu, tetapi rupanya ia tidak mau terlalu mencolok, oleh karena itu dengan ragu-ragu ia terus pergi, untuk kembali lagi dan perlahan-lahan meliwati pintu untuk memandangimu. Sayang, tak ada yang tahu kemana ia menghilang. Sangat disayangkan! – Mungkin kau tidak melihatnya, sehingga tidak memikirkan. Semakin banyak ia dalam pikiranku, benar-benar kasmaran aku dibuatnya! – Bila aku jadimu! Aneh, bukan?.“

„Sepertinya perhatian si pemuda bukan padaku, melainkan padamu, dan kau menggesernya kepadaku, karena kau merasa malu untuk mengakui“

„Pada muka jelekku? – Izinkanlah, aku tertawa- Mana ada orang yang mau memandangi muka jelekku? – Tidak, tidak, itu untukmu! tidak lama lagi kau akan membuktikannya sendiri. Ia  pasti akan datang. Aku akan membuka mata, dan bila aku melihatnya datang, aku akan secepatnya lari kesini untuk mengabarkanmu. Maka kau bisa sedikit agak kedepan pintu, untuk melihatnya lebih dekat dan sekaligus untuk dilihat olehnya“

„Baiklah, kita tunggu, sampai ia datang kembali“, kata Aroma kepada tetangganya yang kasmaran. Namun dibelakang kedok ketenangannya, pada tiga hari mendatang ia agak mengharapkan. Namun toh keinginannya menjadi bangun, untuk berkenalan dengan si ganteng. Tetapi si pemuda tidak muncul, juga pada hari-hari selanjutnya. Maka ia mencoret dari ingatannya dan mulai melupakannya. sampai pada suatu hari yang indah.

Ketika itu sekitar empat bulan kemudian. Ketika kedua orang langganan barunya keluar meninggalkan toko, ia teringat akan penggambaran tetangganya.

‚Si pemuda elegan, pasti dia yang dimaksud tetangganya‘, berkecamuk di benaknya, dan ia melanjutkan renungannya: ‚Penampilannya benar-benar mengesankan, dalam hal ini sulit dicari tandingannya – yang menjadi pertanyaan apakah kelelakiannya juga begitu – Jika aku sudah mempertaruhkan nama dan kehormatan, maka harus juga menguntungkan, maka ia harus memiliki kemampuan kelelakian – Tadi menggunakan ungkapan ‚catut‘ dan ‚menjepit‘. dengan itu bisa dibuktikan keasliannya? – ungkapan seperti itu mempunyai dua arti, bisa juga dimengerti dari sisi lainnya – Ya, bagaimana sekarang? – Jika ia benar-benar datang kembali malam ini, bagaimana aku harus bersikap? Apakah aku harus mengusirnya atau mengizinkan masuk dan bermalam disini? – Apakah aku harus mempertaruhkan nama baikku atau tidak? Itulah pertanyaannya….‘  Ketika ia masih berpikir kesana kesini, tetangga wanita dari seberang sudah menyerbu  ia sangat bersemangat.

„Itu tadi dia! Itu tadi dia!“

„Siapa?“

„Itu si pemuda jentelmen, yang belum lama pernah aku ceritakan – Masih ingat kan kau? Ia baru saja membeli sutera darimu bersama tuan yang lebih tua“

„Oh, dia“

„Nah, bagaimana? Luar biasa, bukan?

„Dilihat dari penampilannya, ya – kelihatannya seperti pemimpi – juga tidak bermartabat, dan tidak serius“

„Kurang bermatabat, kurang serius bagaimana? Apakah kau menilai seseorang hanya berdasarkan moral? Cukuplah, bila kau menganggapnya sebagai manusia dan lelaki. Bahkan lelaki yang menyenangkan!“

„Baiklah – Tadi ia berani berlaku kurang ajar, untung suamiku tidak dirumah . kalau tidak…“

„Kurang ajar bagaimana? Apakah ia merabamu? Memelukmu? Menciummu?“

„Bukan kekurang ajaran seperti yang kau maksud. Ketika memperlihatkan contoh kain, secara kurang ajar ia berani menyentuh tanganku dan membelainya dengan lembut! – Bagiku sudah cukup, itu jelas-jelas adalah sebuah tantangan! Dan saat itu kita tidak sendirian!“

„Kalau cuma itu! – Dan bagaimana kau bereaksi? Ramah dan lembut?“

„Apanya yang lembut? Masih untung dia, aku tidak memakinya dihadapan temannya!“

„Itu sih kejam sekali. Jangan kau kesal padaku. Kalau mau bicara terus terang; kalian berdua, kau adalah sebuah kecantikan yang sangat langkah, dan dia adalah seorang pemuda jentelmen sangat ganteng. Kalian berdua, bagaikan sudah dijodohkan oleh langit dan bumi sebagai pasangan, jika bukan sebagai suami istri, toh pasangan cinta! Lain halnya dengan kau dan suamimu – jangan marah ya – tetapi aku tak terpikir ungkapan lainnya, bagaikan bunga segar yang baru mekar, harum semerbak, yang tanpa sengaja jatuh ke tahi kerbau! Sangat menyedihkan! Aku merasa kasihan padamu! Aku bersedia menjadi perantara, seandainya dia datang kembali…“

Bujukan lebih lanjut si tetangga sudah tidak penting lagi. Selama si tetangga berbicara, Aroma sudah selesai menyusun rencana. Sangat jelas baginya, bahwa ia harus menutup mulut si ibu tetangga, meskipun ia harus membelinya, dengan memberikan kesempatan padanya untuk ikut mencicipi gula-gula, bahkan sebagai yang pertama. Dengan cara semacam itu, dimana si ibu tetangga dipersilahkan sebagai orang pertama, sampai taraf tertentu melakukan ‚ujian pendahuluan‘. Bila si pemuda gagal menunjukan kemampuan kelelakiannya, maka ia akan membuat adegan dengan memaki-maki dan mengusirnya dari rumah, sehingga nama dan kehormatannya tidak terancam. Lain halnya, jika ujian penduluan hasilnya memuaskan, maka ia sendiri yang akan melakukan ‚ujian utama‘-nya. Sungguh rencana yang cerdik!.

Dengan keras Aroma menggelengkan kepalanya.

„Tidak, tidak, aku tidak mau ikut dalam permainan itu dan kesenangan itu kuserahkan padamu. Kau tidak perlu menjadi perantara, sebaiknya kau menjadi ‚gagang kapak‘. Bagiku sudah cukup, menjadi partisipan, pada saat kalian bersenang-senang.

„Apa? Aku! – Kau tentu bercanda, bukan? – Pada muka jelekku mana ada yang suka?“

„Tidak, tidak. aku sangat serius dengan usul ini. Jadi, dengar, ini rencanaku: Suami kita malam ini kebetulan tidak dirumah – Aku sendirian dirumah, jika si pemuda benar-benar datang, maka kesempatan ini menguntungkan. Sebelumnya semua lampu dan lilin dipadamkan, sehingga menjadi sangat gelap, kau tidak usah khawatir, bahwa karena wajahmu ia akan kabur. Ia akan mengira kau adalah aku dan kau bisa bersenang.senang sebagai aku dengannya. Selama itu, aku akan duduk bersembunyi di dekat situ sebagai partisipan. Dengan itu kehormatanku tidak tersentuh, tidak akan ada yang bicara jelek tentang diriku. Jadi bagaimana, apakah rencanaku bagus?“

„Bukan main! Ah aku sudah sangat gelisah dan tidak sabar menunggu – Tetapi masih ada satu hal yang aku belum mengerti: Mengapa kau sendiri tidak mau ikut menikmati kesenangan ini? Dengan urusan moralmu, kau sepertinya berlebihan“

„Oh, bukan urusan moral yang berlebihan! Aku hanya melakukan, ibarat ‚Maling, yang menutupi telinganya, ketika sedang mencuri lonceng.‘ Dengan sedikit menipu dirinya sendiri, ia mau menenangkan hati nuraninya, ia tidak tahu apa-apa. Secara terus terang, untuk urusan kesenangan ranjang, aku sudah cukup termanjakan, dan cukup mencicipi segala kenikmatan. Tetapi ini rahasia: sekaliber ‚bingkai sepatu‘, yang dimiliki suamiku untuk ‚ukuran sepatu‘ ku, sulit dicari saingannya. Sebuah bingkai yang kekecilan, tidak akan menggoyang dinding dalam sepatuku, juga bila ia setahun penuh bekerja keras.  Sekarang kau akan mengerti: kau harus menjelajahi medan, sekalian mengintai dan memata-matai untukku!“

„Aku memahami. Setelah itu kau ingin ikut ambil bagian. Tetapi aku ada satu permintaan: bila nanti kau masuk gelanggang pertempuran, tolong jangan kau mengganggu pas aku sedang enak-enaknya. Ingat apa yang dikatakan biarawan:

Setelah puasa panjang tidak cukup diberi makan,

Tidak! lebih baik dikubur hidup-hidup!

Itu adalah suatu kekejaman“

„Jangan khawatir. Aku tidak sampai sekeji itu“

Dengan itu konsultasi malam pun selesai. Apakah ‚bingkai sepatu‘ yang baru saja direnovasi akan pas pada sepatu yang bersangkutan, akan ditunjukkan di bab berikutnya

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s