Bab 28 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaTeratai Emas menyerahkan diri pada seorang budak

Sementara itu si malang Tai A’rl sudah tiba di rumah. Ia berdiri sambil menangis di hadapan Nyonya Bulan, dan melaporkan hasil tugasnya. Mong Yuloh dan Teratai Emas juga hadir di kamar yang sama.

„Apakah kau membawa pulang tuanmu?“ ada yang bertanya padanya.

„Ah, tendangan dan omelan yang kuterima. Semua akan dihajar habis-habisan, bila masih ada yang disuruh ke situ lagi“, jawabnya.

„Betul-betul tidak adil“  kata Nyonya Bulan sambil berpaling kepada kedua istri Ximen  lainnya. „Kalau tidak mau pulang ya boleh saja, tetapi mengapa ia harus memukul si malang Tai A’rl?“

„Bisa saja ia menganiaya pelayannya dengan tendangan, tetapi mengapa ia marah pada kita?“ sambung Mong Yuloh berbalik marah.

„Ia tidak seharusnya menganggap, bahwa seorang pelacur mempunyai rasa cinta padanya“ kata Teratai Emas dengan nada menghina. „Jenis yang begini itu hanya mengincar uangnya saja. ada pepatah yang bilang: Tidak cukup emas sekapal, untuk memberi makan satu rumah pelesiran“ Teratai Emas tidak menyadari. bahwa kata-katanya itu dimengerti oleh Li Kiao’rl yang berdiri dibalik jendela. Teratai Emas telah menghina keponakan dan keluarganya, sejak saat itu Teratai Emas mendapat seorang musuh baru.

Sambil uring-uringan Teratai Emas pulang ke paviliunnya. Ia harus menghabiskan waktu-waktu yang membosankan, satu jam terasa satu bulan. Akhirnya ia mengambil keputusan. Ximen  tidak pulang ke rumah, ia yakin itu. Begitu hari menjadi gelap, ia menitahkan kedua dayangnya untuk tidur. Kemudian ia ke luar ke taman. Seolah-olah jalan-jalan  keliling taman seperti biasa, tetapi kali ini ia mempunyai tujuan.

Tujuannya tak lain tak bukan, adalah rumah gubuk pemuda perawat taman Kintung . Dengan suara lirih ia memesan agar pemuda itu datang ke paviliun. Setelah ia memasukan pemuda itu dan mengunci pintu. ia menyediakan arak dan mempersilakan pemuda itu terus minum sampai mabuk. Setelah itu Teratai Emas melepaskan ikat pinggang dan pakaiannya lalu menyerahkan diri pada pemuda itu.

Sejak itu, setiap malam Teratai Emas menerima pemuda tukang kebun dalam paviliunnya. Pagi-pagi sekali sebelum terang tanah, ia membiarkan pemuda itu keluar. Di atas segalanya sebagai tanda suka, ia menghadiahkan pemuda itu sebuah gelang kepala emas, tiga buah tusuk konde emas dan sebuah kantung parfum sutera. Tentu saja ia percaya kekasih mudanya akan menjaga rahasia. Teratai Emas tidak tahu, bahwa anak muda itu sering mabuk-mabukan dan bermain dadu dengan sesama pelayan dan mengoceh dalam kesempatan itu.

Singkatnya, suatu hari kabar angin  pun sampai ke telinga kedua musuh Teratai Emas, yaitu Sun Hsueo dan Li Kiao’rl. Tentu saja keduanya langsung menghadap Nyonya Bulan untuk menceritakan kabar angin tentang Teratai Emas yang dibencinya. Nyonya Bulan tak mau mempercayainya. „Ah, itu karena kalian tidak menyukainya“ kata Nyonya Bulan memutuskan dan menyilakan keduanya meninggalkan ruangan.

Pada malam berikutnya, terjadi kesialan. Teratai Emas lupa mengunci pintu dapur dan dayangnya Bunga Aster, yang kebetulan tengah malam masuk ke dapur, memergokinya. Esok paginya dayang Permata mendapat tahu, dan melalui Permata juga Sun Hsueo ikut tahu. Sun Hsueo memberi kisikan pada Li Kiao’rl, lalu keduanya sekali lagi menghadap Nyonya Bulan.

„Kali ini saksinya dayangnya sendiri“, jamin keduanya, „dan bila kau tidak mau memberitahukan pada tuan Ximen, maka kami yang akan mengadukannya.“

Nyonya Bulan tidak berhasil menasihatinya agar jangan merusak suasana ulang tahun. Ketika Ximen  pulang ke rumah pada tanggal dua puluh tujuh bulan ke tujuh, dua hari sebelum ulang tahunnya, keduanya membuat ancamannya menjadi kenyataan dan menceritakannya pada Ximen. Rasa pahit seperti empedu menyerang Ximen. Ribuan urusan rumah tangga dan bisnis yang menunggunya untuk sementara dianggap tidak ada.

Ximen  berteriak memanggil Kintung  si pelaku kejahatan. Nyonya Teratai Emas yang sudah keburu mendapat kabar akan datangnya badai, cepat-cepat memanggil pemuda itu ke paviliunnya. Memerintahkan kepadanya untuk jangan membocorkan rahasia dan mengambil kembali gelang dan tusuk konde yang telah dihadiahkannya. Hanya saja, ia telah melupakan kantung parfum suteranya. Pendosa itu bertekuk lutut di hadapan tuannya di ruang depan dan interogasi  pun dimulai.

„Mengaku kau, bajingan celaka?“ Kintung  tetap membisu. „Ambil tusuk konde dari rambutnya dan perlihatkan padaku!“ bentak Ximen  pada empat orang pelayan bersenjata tongkat yang berdiri di kiri kanannya. Tetapi mereka tidak menemukannya. „Di mana kau menyembunyikan gelang Emas dan tusuk konde perak, he?“

„Aku tidak pernah memiliki benda semacam itu.“

„Apakah kau berkhayal? buka pakaiannya!“ Beberapa lengan kuat menghimpit, membuka paksa baju dan celananya. Dan apa yang terlihat? Sebuah kantung parfum dari bahan sutera tergantung di pakaian dalamnya. Pada pandangan pertama Ximen  sudah mengenali kantung parfum yang biasa digunakan Teratai Emas. „He, dapat dari mana kau barang ini?“

Kintung  yang sangat kecewa, memerlukan waktu banyak untuk mengumpulkan semangatnya, kemudian ia berbohong: „Itu kutemukan ketika menyapu di kebun“

Kemarahan membuat gigi Ximen  menjadi gemeletuk. „Ikat dÌa, dan hajar!“ teriak Ximen  kepada pelayan bersenjatanya. Tiga puluh kali tongkat bambu menghajar bokong Kintung ., sehingga kulitnya pecah dan berdarah. Kemudian dua jumput rambutnya di atas kening dicabut oleh pelayan Lai Po. Setelah itu ia diusir dari rumah Ximen.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s