Bab 29 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingGemuruhnya pertempuran pendahuluan  .

Saat itu sekitar senja, penduduk sudah mulai menyalahkan lampu dirumahnya, ketika si wanita tetangga dari seberang jalan, dengan hati-hati menutup pintu rumahnya dan dibawah lindungan kegelapan malam bergegas menyeberangi jalan.

Nyonya Aroma, yang suka bersenda gurau, menerima tamu malamnya dengan cemberut dan ekspresi pura-pura, memperlihatkan penyesalannya.

„Sayang sekali kedatanganmu sia-sia. Ia telah mengirimkan surat pembatalan. Suratnya baru saja tiba. Malam ini ia ada urusan penting, ia harus menghadiri perjamuan yang tidak bisa dihindari. Jadi kau bisa langsung kembali pulang.“

Wanita tetangga mendengarnya dengan kecewa yang penuh aaaah. Matanya memercikan bunga api dan hidungnya mendenguskan uap. Hatinya mendidih. Mengapa Aroma tidak mengabarkan sebelumnya? Maka ia bisa menghemat perjalanan kesini.  Atau, ia menduga, Aroma menyesali perjanjian tadi? Ingin mengusir tamu yang tidak diingini, agar bisa menikmati malam ini sendirian? Baru saja ia akan mengamuk, Aroma sudah mendahuluinya dengan tawa yang berderai-derai. yang membuat awan ketidaksenangannya dan dugaannya kembali sirna.

„Tertipu! Kok gampang percaya! Aku hanya ingin sedikit menggodamu. Untuk menenangkanmu: Ia akan datang! Kita harus cepat bersiap-siap“

Ia mengajak tetangganya ke dapur. Disana mereka berendam air hangat didalam bak mandi besar yang letaknya diatas perapian. Kembali ke kamar tidur, memindahkan sebuah sofa empuk ke ujung ranjang. Disitu Aroma akan duduk menunggu sebagai „tamu pagar“. Kemudian ia membiarkan temannya menunggu di belakang pintu rumah.

„Dorong palang pintunya, dan tunggu dibelakang pintu atas kedatangannya. Ia akan mengetuk pintu sebagai tanda, Langsung pada ketukan pertama, kau tarik palang pintunya dan biarkan ia masuk. Jangan biarkan ia mengulang atau terlalu keras mengetuk pintu, nanti bisa terdengar oleh tetangga dan membangkitkan kecurigaan. Segera, setelah ia masuk, langsung palang pintunya kau dorong kembali. Dan masih ada satu hal: jika kau nanti bersama dia sudah didalam kamar dan kau akan naik keranjang kepadanya, usahakan untuk membisu, tetapi jika ia mengajukan pertanyaan dan kau harus menjawabnya, maka jawablah dengan suara berbisik, hati-hati dengan suara, jika tidak semuanya akan menjadi gagal.“

Si wanita tetangga berjanji akan mematuhi petunjuk sebaik-baiknya, dan mengambil tempat menunggu di belakang pintu rumah, sementara itu Aroma memadamkan semua lampu dirumah itu dan kembali ketempat tunggunya di sofa yang letaknya diujung ranjang.

Sekitar satu jam kemudian, si wanita tetangga kembali masuk ke kamar. Ia sudah bosan menunggu, tapi pintunya tak ada yang mengetuk. Baru saja ia akan membuka mulut, membuat laporan kepada nyonya Aroma, tiba-tiba dari kegelapan ada yang memeluk dan menciumnya. Semula ia mengira, jangan-jangan Aroma, yang kembali bercanda dengannya? Untuk memastikan, ia merabakan tangannya kebawah, dan lihatlah, ia membentur sesuatu yang panjang, keras – seorang lelaki!

„Kekasih! kau!  – Tapi bagaimana kau masuk?“ bisiknya, tidak, ia mendesah.

„Dari atas genteng“

„Bukan main!, apa yang kau tidak mampu! Kau adalah lelaki sejati!  – Ayo! Kita naik ke ranjang!“

Mereka melepaskan pakaian, dimana si wanita tetangga lebih tangkas. Si pemuda belum selesai melepaskan pakaian, si wanita sudah telanjang bulat telentang diatas ranjang. Akhirnya si pemuda selesai. Ia naik keatas ranjang, mengambil tempat dihadapan si wanita, meraba kakinya, untuk seperti biasa akan mengangkatnya keatas pundaknya. Tetapi ia meraba tempat kosong. Si wanita sudah lama mengangkat kedua kakinya keatas dan melebarkannya. Ia sudah siap menerima.

„Malah lebih baik, jadi aku tidak perlu membuat pemanasan lembut yang merepotkan, jadi langsung bisa ke tujuan“, kata si pemuda dalam hati dan menyorongkan ’senjata penyerangnya‘. Atas serangan besar-besaran tentu saja si wanita tidak siap. Benda apa itu, yang begitu tangguh, tanpa basa basi menerobos masuk kedalam ‚pintu‘-nya. Ia menyepakan kakinya dan menjerit.

„Eit! – Pelahan-lahan! Kau menyakitkanku!“ kata si wanita, menarik napas dan menekan keluar.

Seorang jentelmen seperti dia langsung mengistirahatkan serangannya, meraba-raba ‚pintu‘ dengan jarinya dan dengan lembut melebarkan kedua daun pintu dan untuk beberapa lama memijat dengan lembut. kemudian ia memulai serangan baru. Tetapi tetap tak berhasil menerobos masuk kedalam benteng pertahanan, hanya kepala ‚kura-kura‘ yang masuk sepanjang satu Inci, pasukan utama masih tertahan diluar.

Si pemuda berkata kepada si wanita:

„Dengan taktik lembut tidak akan berhasil. Sebaiknya langsung dengan serbuan sepenuh tenaga. Awalnya mungkin terasa sakit, tetapi kau harus menahannya, semakin banyak kau nantinya merasakan gairah. “

Dan si pemuda menyorong dengan keras. Tetapi si wanita kembali menyepakan kakinya dan melepaskan dirinya dari sipemuda.

„Shi pu te! Tidak bisa! Kasih sedikit ludah dong!“, mohon si wanita

„Tidak boleh! Itu bertentangan dengan semua peraturan! Dengan ludah atau salep, itu hanya untuk mengambil keperawanan, selain itu tidak!“, protes si pemuda dan memulai serangan baru, untuk kembali terbentur perlawanan.

„Shi pu te! tidak mungkin! Jika kau terlalu bangga untuk berbeda dengan peraturan main yang biasa, maka biarlah aku yang mengerjakannya.! “

Ia meloloskan dirinya dari si pemuda, meludah ke telapak tangannya dan mengoleskan setengahnya ke ‚pintu’nya dan setengahnya lagi ke kepala dan leher ‚kura-kura‘ si pemuda.

„Sekarang mungkin lebih mudah. Tetapi perlahan ya!“

Si pemuda tidak mengindahkan permohonan si wanita, bahkan sebaliknya, ia ingin memperlihatkan kebisaannya, dimana ia mencengkeram bokong si wanita dan dengan sekali sorong menekan dengan kuat ke si wanita, sehingga terdengar suara berdebap. Sekali ini terobosannya berhasil. Seluruh kekuatan pasukannya berhasil masuk dengan selamat kedalam bentengan.

Si wanita menjerit sedikit, sekali ini rasa sakitnya lebih sedikit dibanding kekagumannya.

„Tidak, bahwa seorang ahli kitab, seorang kutu buku dan orang rumahan sepertimu mampu bertempur sedemikian rupa – orang menganggapnya suatu hal yang tak mungkin! Tanpa peduli, apakah aku akan mampus, langsung menyerbu masuk hingga ke dasar! Tidak ada yang lebih parah – Ayo keluarkan! Cepat!“

„Wah! Sekarang itu baru saja dimulai!“ jawab si pemuda dengan gembira dan dengan kekuatan penuh menyorong. Semula setiap sorongan, si wanita akan mengeluarkan suara erangan kesakitan. Setelah lima puluh kali sorongan ia membisu. Setelah lebih dari seratus sorongan, ia mulai mengerang lagi, tetapi erangan kenikmatan. Memang begitulah pada kaum wanita, bahwa mereka dengan suara yang sama bisa mengutarakan perasaan yang berlainan, sekali suara kesakitan, sekali suara gairah. Dengan suara yang sama bisa dikenali, bahwa kenikmatan sudah mendekati puncak, bahwa awan diatas gunung ajaib hampir meledak.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Werbeanzeigen

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s