Pentung Lawan Pentung

aldisurjana_pentung_lawan_jin_ping_mei_golden_lotus_jinpingmei

Ketika itu di rumah gadai sedang ramai, Pengurus Fu dan Chen muda sibuk melayani pelanggan. Lalu Ibu susu Ju I’rl masuk membawakan sebuah poci teh kepada Pengurus Fu. Di tangan kirinya ia menggendong anak Nyonya Bulan, yang karena banyak orang menjadi ketakutan dan mulai menangis.

„Diam ya, anak nakal!“ kata Chen muda, sambil mengancam dengan jari pada si anak. Benar saja, si anak berhenti menangis. Dengan bangga atas keberhasilannya, Chen muda berbicara kepada langganan yang terheran-heran: „Lihat, ia menurut pada Ayahnya. Ayahnya yaitu aku“

Sebenarnya hanya gurauan, tetapi Ibu susu mengertinya lain dan mengecam Chen muda: „Omongan bagus, yang kau ucapkan di depan orang banyak. tunggu, akan aku ceritakan kepada Nyonyaku“

„Jangan macam-macam kau! Akan kutendang pantatmu!“ ancam Chen muda kepada Ibu susu, sambil dua kali membuat gurauan menendang dengan kaki kepada Ibu susu.

Ibu susu tidak mengerti gurauan dan dengan marah berlari kepada Nyonya Bulan. „Coba kau pikir, Tuan menantu mengaku di depan orang banyak sebagai Ayah dari anakmu!“ lapor nya dengan kesal.

Bagi Nyonya Bulan yang baik, omongan Chen muda sudah bukan gurauan lagi, dan bahkan sudah melebihi takaran. Ia, suri teladan kebajikan, dipermalukan di hadapan orang banyak! Keterlaluan.

Nyonya Bulan jatuh pingsan dan terbaring di lantai. Atas seruan minta tolong dari dayang Permata yang kebingungan, seluruh penghuni rumah berkumpul; dengan tujuh tangan dan delapan kaki berusaha mengangkat Nyonya Bulan yang pingsan ke atas pembaringan dan mengalirkan air jahe ke mulutnya.

Ketika ia akhirnya sadarkan diri, saking emosinya ia tidak mampu berbicara. Para wanita yang lain, setelah Ibu susu sekali lagi menceritakan kejadian di toko, satu persatu mengundurkan diri ke kamar masing-masing. Hanya Sun Hsueo yang tetap tinggal. Ia melihat kesempatan baik untuk mengadukan Nyonya Bulan dengan musuh lamanya.

„Anak muda ini jengkel, sebab kau tidak mengizinkannya lagi berhubungan dengan si Kelima dan terutama mengenai pengusiran Chunmei. Oleh karenanya ia mau menghabisimu. Jika aku menjadi kau, aku tidak perlu marah-marah, melainkan bertindak. Kau tidak akan mendapat ketenangan sebelum kau menyingkirkan para pengganggu.

Nyonya Bulan mengangguk setuju dan berembuk dengan Sun Hsueo mengenai detil dari aksi yang akan dilakukan. Sudah pada keesokan harinya rencana selesai disusun. Dengan alasan urusan toko, Chen muda dipancing ke kamar Nyonya Bulan. Baru saja tiba, Nyonya Bulan memerintahkan agar ia bertekuk lutut.

„Kau mengaku salah?“ tanyanya dengan kasar.

Dan ketika Chen muda menolak dengan menantang dan memasang muka tidak bersalah, Nyonya Bulan memberikan tanda, lalu tujuh, delapan Pelayan wanita dan Pembantu wanita bertubuh kuat, yang tadi bersembunyi di belakang tirai, langsung menyerbu dan memukuli Chen muda dengan pentung. Chen muda sudah jatuh telentang di atas lantai.

Di dalam penderitaannya Chen muda mendapat ide pikiran yang menolong. Ia berkata kepada dirinya sendiri: ‚Pentung lawan pentung‘. Cepat ia melepaskan celananya dan dengan nakal mempertontonkan pentungannya sendiri kepada para wanita. Terkejut melihat pemandangan yang menyeramkan, pasukan pengeroyok menjadi kocar kacir dan cepat melarikan diri ke kamar samping.

Tidak mudah bagi Nyonya Bulan untuk tetap menjaga sikap dan tidak tertawa. Ia masih sempat melemparkan makian. „Kura-kura tidak tahu malu!“, sebelum Chen muda menaikan celananya kembali dan ke luar dari pintu.

Cuplikan Jin Ping Mei (Petualangan Ximen dan enam Istrinya)
https://aldisurjana.wordpress.com/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s