Uang Kertas – China Abad ke-9

aldisurjana_The_Genius_of_China_Grace_Tjan_Uang_Kertas-abad_ke_9
Bangsa China menemukan uang kertas pada akhir abad ke 8 atau awal abad ke 9 Masehi. Nama aslinya ‚uang terbang‘ karena begitu ringan dan bisa melayang kalau dipegang. Uang kertas yang pertama sebenarnya berupa giro (draft) bukan uang sungguhan. Seorang pedagang dapat mendepositkan uangnya di ibu kota, lalu memperoleh sertifikat kertas yang dapat ditukar dengan uang tunai di kota-kota propinsi. Usaha swasta ini dengan cepat diambil alih oleh pemerintah pada tahun 812. Teknik ini lalu digunakan untuk mengirim uang pajak ke ibu kota. ‚Sertifikat penukaran‘ dari kertas juga digunakan. Sertifikat ini diterbitkan pejabat pemerintah di ibu kota dan dapat ditukar dengan komoditi seperti garam dan teh di tempat lain.

Uang kertas yang sebenarnya, yang dipakai untuk alat tukar dan didukung oleh deposit uang tunai, rupanya muncul pada awal abad kesepuluh di Propinsi Sichuan sebagai usaha swasta. Pada awal abad ke 11, pemerintah memberi izin bagi enam belas usaha swasta untuk bertindak sebagai ‚bank‘ yang dapat mengeluarkan uang kertas yang dapat dipertukarkan (notes of exchange); namun pada tahun 1023 pemerintah mengambil alih usaha swasta ini dan mendirikan badan resmi sendiri untuk menerbitkan uang kertas dalam berbagai denominasi yang didukung dengan deposit uang tunai. Oleh karena itu kita mungkin dapat menetapkan tahun 1023 sebagai tahun berdirinya bank cadangan devisa pemerintah pertama.

Uang yang dicetak bank ini memuat ketentuan bahwa ia hanya berlaku selama tiga tahun, lengkap dengan tanggalnya. Batasan waktu seperti ini umum bagi uang kertas China sampai abad ke 19. Pada tahun 1107, uang kertas telah dicetak memakai beberapa balok cetak dalam enam warna.

Uang yang diterbitkan pemerintah proporsinya sangat besar. Pada tahun 1126, tujuh puluh juta ‚tali‘ (string) (satu tali sama dengan seribu keping uang tunai) telah diterbitkan secara resmi. Uang kertas ini telah diterbitkan dalam jumlah yang sangat besar tanpa didukung oleh deposit apapun, dan inflasi yang mengerikanpun terjadi. Inflasi dapat dipandang sebagai suatu fenomena yang timbul bersamaan dengan uang kertas, yang muncul karena uang tersebut tidak didukung oleh sesuatu yang lebih substantial. Jenis inflasi lain dalam sejarah mungkin harus digambarkan secara berbeda. Kenaikan harga yang melaju sebelum penggunaan uang kertas, seperti yang terjadi dengan penuh skandal pada zaman Kekaisaran Romawi, sering disebabkan karena penurunan nilai uang berbentuk koin. Kekaisaran Romawi terkenal sering membuat koin dengan nilai yang telah ditentukan dari logam yang makin lama makin murah dan tak ada nilainya.

Penurunan nilai semacam ini harus dibedakan dari inflasi yang sebenarnya, yang timbul dari penerbitan uang kertas, dan oleh karenanya ‚ditemukan‘ di China bersamaan dengan uang kertas yang menjadi penyebabnya.

Masalah lain yang tak lama kemudian muncul di China adalah pemalsuan. Kalau koin dari logam berharga beredar yang nilainya sama dengan nilai intrisinknya, satu-satunya cara untuk memalsukannya ialah dengan menggunakan logam palsu yang disamarkan. Namun uang kertas mengundang pemalsuan karena sifatnya sendiri, karena nilai dari uang kertas itu bukan terletak pada bahannya, melainkan pada otoritas yang menerbitkannya. Karena siapa saja dapat mencetak di atas kertas, otoritas yang menerbitkan uang kertas tersebut harus membuat proses pembuatan uang kertas begitu rumit sehingga uang kertas itu tak dapat dengan mudah direproduksi dengan persis. Oleh karena itu proses produksi yang kompleks sejak awal telah dikembangkan, termasuk penggunaan berbagai warna, desain yang sangat kompleks dan campuran serat dalam kertas yang digunakan. Bahan dasar untuk membuat kertas uang adalah kulit pohon murbei yang terkadang dicampur benang sutra. Seseorang bisa menukar uang lama yang sudah usang, akan tetapi harus membayar sedikit ongkos untuk membayar biaya cetaknya.

Dari kasus pemalsu yang mendetil dari tahun 1183, kita dapat mengetahui bahwa pemalsu tersebut telah mencetak 2600 lembar uang palsu dalam periode enam bulan sebelum ia ditangkap. Ia adalah seorang pengukir blok cetak, dan ia mengukir sebuah balok kayu pir dengan desain yang meniru desain uang yang sesungguhnya. Kalau seorang pemalsu ditangkap, ia akan dihukum mati.

Ketika bangsa Mongol menguasai China, mereka menerbitkan semacam uang kertas yang disebut ‚uang sutra‘. Deposit yang mendukung uang ini bukan logam berharga melainkan benang sutra. Semua uang lama harus dicairkan dan ditukar dengan uang sutra ini, dan orang Mongol menyebarkan mata uang bersama ini ke wilayah kekuasaan mereka dan daerah-daerah diluarnya. Pada tahun 1294, uang sutra China dipakai sebagai mata uang di Persia. Pada tahun 1965, dua spesimen uang sutra ditemukan oleh para arkeolog.

Ketika Marco Polo mengunjungi China, ia begitu terkesan dengan uang kertas sampai ia menulis satu bab khusus tentangnya, yang mengambarkan semua yang berkaitan dengan pembuatan dan peredarannya. Ia melukiskan cara uang kertas diterbitkan:

Semua lembaran kertas ini diterbitkan dengan penuh khidmat dan otoritas seperti kalau mereka terbuat dari emas atau perak murni; dan pada setiap lembarnya, berbagai pejabat yang berwajib harus menulis nama mereka dan menaruh cap mereka diatasnya. Dan kalau semua sudah dipersiapkan, pejabat yang ditugasi oleh Khan mengolesi cap yang diberikan kepadanya dengan cat merah dan mencapkannya di kertas tersebut, sehingga cap yang dihasilkan berwarna merah; uang itu menjadi otentik. Siapapun yang memalsukannya akan dihukum mati.

Uang kertas pada akhir Dinasti Ming tidak seberapa efektif. Dinasti Ming menerbitkan uang kertas baru pada tahun 1375 yang disebut ‚Uang Berharga Ming Agung‘. Uang ini hanya diterbitkan dalam satu denominasi saja selama dua ratus tahun ketika ia menjadi alat penukar yang sah. Tentu saja hal ini sangat menyusahkan bagi semua keperluan komersial, walaupun uang tembaga juga diperbolehkan beredar untuk dipakai dalam transaksi sehari-hari. Karena inflasi, Uang Berharga ini sedikit demi sedikit kehilangan nilainya dan akhirnya diganti dengan perak. Pada pertengahan abad ke 17, Dinasti Ming mencoba untuk menerbitkan uang kertas lagi setelah dua ratus tahun, namun implementasinya buruk, sehingga menimbulkan inflasi besar, dan akhirnya gagal. Uang kertas yang berskala nasional dan teratur menghilang sampai pengaruh Eropa membangkitkannya kembali di zaman moderen.

Ketika metode yang lebih tua untuk menerbitkan uang kertas diketahui di Barat, metode ini berpengaruh secara mendalam pada perbankan Barat. Hamburg Bank yang lama dan sistem perbankan Swedia diselenggarakan menurut sistem China. Jadi beberapa prosedur fundamental perbankan dunia Barat secara langsung berasal dari China. Uang kertas Barat pertama diterbitkan di Swedia pada tahun 1661. Amerika mengikutinya pada tahun 1690, Perancis pada tahun 1720, Inggris pada tahun 1797, dan Jerman baru pada tahun 1806.

Diterjemahkan oleh Grace Tjan
Dari buku The Genius of China, hal. 117-118.

Golden Lotus: https://www.facebook.com/groups/goldenlotus24/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s