7 Buku Klasik Tiongkok Terbaik

aldisurjana_Liaozhai_Jinpíngmei_Rulin_waishi_Hongloumeng_Xiyouji_Shuihu_Zhuan_Sanguo_Yanyi
Ketujuh buku terbaik ini dipilih oleh Mao Zonggang, sarjana Tiongkok yang paling terkenal, yang hidup di abad ke-17 pada awal Dinasti Qing (1644-1911). „Kisah Tiga Negara“ (Sanguo Yanyì), „Batas Air“ (Shuihu Zhuan), „Perjalanan ke Barat“ (Xiyoujì) dan „Impian Paviliun Merah“ (Hongloumeng), „Rimba Cendekia“ (Rulin waishi), „Petualangan Ximen dan Enam Istrinya“ (Jin Píng Mei) serta „Kisah Aneh Liaozhai“ (Liaozhai Zhiyi). Sekarang, ketujuh buku terbaik ini telah difilmkan dan menemukan popularitas yang baik di dalam dan di luar negeri.

aldisurjana Kisah Tiga Negara Sanguo Yanyi Romance of the Three Kingdoms

1. Kisah Tiga Negara,

atau Sanguo Yanyi (Romance of the Three Kingdoms) karya Luo Guanzhong (1330-1400 M.) dianggap sebagai novel sejarah terlengkap pertama dari Tiongkok. Luo Guanzhong hidup pada zaman yang mencakup mulai dari akhir Dinasti Yuan sampai dengan awal Dinasti Ming. Didalam novelnya, ia menceritakan tentang pertempuran antara tiga kerajaan Wei, Shu dan Wu, yang berlangsung selama 100 tahun sekitar 184 s/d 280 sesudah Masehi. Luo Guanzhong menggunakan banyak nama tokoh yang realistis, seperti Zhuge Liang penasihat militer yang bijaksana dan imajinatif dan perdana menteri kerajaan Shu, Cao Cao, yang licik dan pendiri kerajaan Wei yang selalu curiga, Guan Yu, Jendral pemberani dan setia, Zhang Fei, Jendral pemberani dan sembrono, dan beberapa nama lagi. Mereka digambarkan sedemikian memikat sehingga pembaca sangat mencintainya.

aldisurjana Batas Air Shuihu Zhuan Water Margin

2. Batas Air, 

atau Shuihu Zhuan (Water Margin) dianggap sebagai pemaparan atau penggambaran genial tentang pemberontakan petani waktu itu. Penulisnya bernama Shi Nai’an (1296-1370 M.) dan hidup di persimpangan antara Dinasti Yuan dengan Dinasti Ming. Berdasarkan peristiwa sejarah selama Dinasti Song Utara di Liangshan, sekarang Shandong, diceritakan seluruh kejadian pemberontakan petani di bawah kepemimpinan Songjiang. Dikatakan,. ‚Penguasa telah mendesak rakyat untuk bangkit melawan‘. Novel yang mempunyai banyak tokoh ini memiliki 108 pahlawan yang berjuang penuh semangat melawan penindasan. Salah satu episodenya, bagaimana „Wu Song mengalahkan Harimau“ atau „Lu Zhishen mencabut pohon Yangliu (willow)“ sampai hari ini masih sering dibaca.

aldisurjana Perjalanan ke Barat Xiyouji Journey to the West

3. Perjalanan ke Barat,

atau Xiyouji (Journey to the West) karya Wu Cheng’en berasal selama Dinasti Ming (1368-1644 M.) dan dianggap novel mitos yang paling sukses dalam sejarah sastra Tiongkok. Novel ini menceritakan kisah biksu Xuanzang, yang di abad ketujuh sesudah Masehi membawa kitab suci Buddha dari India ke Tiongkok. Novel ini, seperti judulnya, menggambarkan perjalanan ziarah seorang Biksu Tang bersama dengan tiga muridnya (Sun Wukong, Zhu Bajie dan Sha Heshang ) ke barat, untuk mengambil sutra Buddha. Sepanjang jalan mereka mengalami 81 situasi sulit dan berbahaya, mengalahkan jin dan hantu sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Sosok yang paling menarik adalah si Raja Kera Sun Wukong. Dia cerdas dan berani, tidak takut kepada para dewa dan berkelahi dengan kesaktiannya yang luar biasa melawan semua jin dan hantu, yang akhirnya dikalahkan atau dibunuhnya. Sebuah novel yang penuh phantasie dan menikmati popularitas besar di Tiongkok.

aldisurjana Impian Paviliun Merah Hongloumeng Dream of the Red Chamber

4. Impian Paviliun Merah,

atau Hongloumeng (Dream of the Red Chamber) karya Cao Xueqin (1715-1764 M.), Seorang penulis dari Dinasti Qing, adalah sebuah karya dari keahlian tertinggi. Menceritakan kisah cinta tragis Jia Baoyu dan Lin Daiyu dan Kebangkitan serta kehancuran dari keluarga pejabat tinggi aristokrat. Semua tokoh seperti Wang Xifeng, Xue Baochai, Qingwen digambarkan dengan alur cerita yang menarik dan menggunakan bahasa yang elegan, sehingga dianggap sebagai puncak novel klasik Tiongkok dan juga menempati posisi penting dalam sejarah sastra di dunia.

aldisurjana Jin Ping Mei Jinpíngmei The Plum in the Golden Vase The Lotus

5. Petualangan Ximen dan Enam Istrinya,

atau Jin Ping Mei (The Plum in the Golden Vase or The Golden Lotus) – adalah sebuah karya sastra terkenal karya Lanling Xiaoxiao Sheng dari Dinasti Míng (Abad ke 16), kevulgaran alur ceritanya menyebabkan novel ini dianggap sebagai novel erotis dan tidak diakui sebagai novel bermutu, namun seiring perkembangan dinamis masyarakat, novel ini kemudian mendapatkan statusnya sebagai salah satu karya sastra terbaik Tiongkok. Novel ini menceritakan kehidupan dan rumah tangga seorang pemilik apotek dan pedagang sutra kaya bernama Ximen di provinsi Shandong, alur cerita utama adalah petualangan erotisnya, yang di samping memiliki 6 orang istri resmi, juga masih mempunyai banyak skandal dengan perempuan lain dan konflik yang terjadi antara perempuan yang bersangkutan. Juga diuraikan dengan sangat teliti tentang kehidupan sehari-hari mengenai: pakaian, makanan, praktik-praktik seksual, kebiasaan pemakaman dan lain-lain, tanpa diperhalus atau bahkan dihilangkan. Sampai saat ini, Jinpingmei adalah salah satu sumber budaya sosial yang sangat penting untuk akhir periode Míng.

aldisurjana Rimba Cendekia Rulin waishi The Scholars

6. Rimba Cendekia, 

atau Rulin waishi, (The Scholars) adalah sebuah novel karya Wu Jingzi dari tahun 1749, yang membahas secara satir tentang kehidupan dan karya sarjana dan pejabat kelas atas kekaisaran Tiongkok dan juga tentang sistem ujian kekaisaran. Alur cerita berlangsung di kota-kota delta Yangzi, khususnya Nanjing, Yangzhou, Suzhou dan Hangzhou pada awal Dinasti Ming. Secara keseluruhan, 35 karakter utama dan lebih dari 200 karakter minor muncul di alam epik yang beragam dari Rimba Cendekia.

aldisurjana Kisah Aneh Liaozhai Zhiyi Strange Stories from a Chinese Studio

7. Kisah Aneh Liaozhai, 

atau Liaozhai Zhiyi (Strange Stories from a Chinese Studio) karya Pu Songling (1640-1715), terdiri dari 431 cerita tentang makhluk Mitologi Tiongkok antara lain „Siluman Rubah betina berekor sembilan“, yaitu Siluman Rubah cantik yang masuk ke dalam kehidupan lelaki gagah. Meskipun disebut siluman, tapi tidak semua Siluman Rubah itu jahat, banyak juga yang baik dan bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk pria yang dicintainya. Pu Songling menghabiskan seluruh kehidupannya di kampung halamannya di Shandong, di mana ia membuka Kedai teh dan banyak mendengarkan cerita-cerita aneh dari para tamunya, yang kemudian dicatat dan dipublikasikan.

Disusun oleh Aldi Surjana

https://aldisurjana.wordpress.com/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s