Bab 29 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaXimen menghukum Tratai Emas

Teratai Emas merasa seolah olah tergelincir masuk ke dalam gentong air es, ketika ia dari jauh mendengar suara jerit kesakitan orang yang dipukul. Sekarang Ximen  memasuki pintu rumahnya, ketakutan membuat seluruh anggota tubuhnya gemetaran, darah berhenti mengalir di urat nadi, napas  pun tersendat, tetapi ia tetap berusaha keras untuk tampil seperti biasa.

Sebuah tamparan melayang ke pipinya. Kemudian Bunga Prem dipanggil masuk. Ia mendapat perintah untuk menutup semua pintu paviliun dan melarang orang masuk. Dengan sebuah pecut kuda di tangan, Ximen  mengambil tempat di atas sebuah bangku dan dengan suara kasar memerintah Teratai Emas melepaskan pakaian dan bertekuk lutut di hadapannya. Membisu dan kepala tertunduk Teratai Emas menurut. „Perempuan gila, sekarang jawab yang sebenar-benarnya.“ bentak Ximen. „Bajingan itu sudah mengakui semuanya. Jadi, jangan kau ingkari! Berapa sering kau berselingkuh dengannya selama aku tidak di rumah?“

„Langit! langit! jangan kau biarkan aku dibunuh dalam keadaan tidak bersalah!“ ratapnya. „Sepanjang waktu aku tidak bersalah, pada siang hari aku bersama Mong Yuloh duduk menyulam, pada malam hari semua pintu terkunci dan aku tidur tepat waktu. Pintu samping tidak pernah kugunakan. Bila kau tidak percaya, tanyakan saja pada Bunga Prem!“ Dan dengan suara keras ia memanggil dayangnya.

„Tapi kau telah menghadiahkan padanya, seperti yang kudengar, sebuah gelang kepala emas dan tiga buah tusuk konde perak! Jangan kau menyangkal!“ lanjutnya dengan enggan.

„Aku difitnah orang!“ sesalnya dengan sedih. „Semua itu karangan orang-orang yang tidak menyukaiku, karena engkau telah menghadiahkan sedikit keistimewaan padaku. Orang seperti itu harus dipotong lidahnya sampai ke pangkalnya, dan mendapat kematian yang menyedihkan! Seandainya barang-barangku kurang satu saja, maka aku adalah orang yang tidak waras! Bila bajingan kecil itu mengatakan hal-hal yang tidak benar, pasti lidahnya telah berbohong!“

„Baik, dengan gelang kepala dan tusuk konde bisa saja benar, tetapi bagaimana dengan yang ini“ -ia mengeluarkan kantung parfum sutera dari lengan bajunya- „Apakah kau kenali barang ini sebagai milikmu? Bagaimana barang ini bisa ada di badan anak laki-laki itu, Apakah kau akan terus menyangkal…?“ Selama ini Ximen  berbicara dalam kemarahan, dan kali ini cambuk kudanya  pun ikut bicara, mencambuk daging wangi tanpa pakaian.

„Tuanku,“ mohonnya, tersiksa oleh sakit, „jangan kau bunuh budakmu ini!“ Ia akan bicara. „Kantung ini telah hilang di taman. Ikat pinggangku terlepas ketika aku bersama Mong Yuloh melewati semak bunga berduri. dan kantung  pun terjatuh. Belakangan aku baru menyadari, tetapi tak dapat kutemukan lagi. Dari mana aku bisa tahu, bahwa bajingan kecil itu yang telah menemukannya? Tidak pernah ia menerima dari tanganku.“

Ximen  tersentak. Penggambarannya sama persis seperti yang diceritakan tukang kebun. Melihat tubuh telanjang secantik bunga, tergeletak di lantai, menangis tersedu-sedu, maka sembilan per sepuluh bagian emosinya tersita, dan kemurkaannya pun dalam sekejap menguap ke negeri Jawa yang jauh. Dayang Bunga Prem dipanggil masuk dan duduk di pangkuannya. „Sekarang tergantung pernyataanmu, apakah aku akan mengampuni nyonyamu atau tidak, katakan, bahwa cerita nyonyamu selingkuh dengan tukang kebun itu benar?“

Si centil kecil itu tidak bodoh, ia menjawab dengan tangkas: „Ah, itu cerita tidak benar, aku sehari-hari selalu bersama nyonya, kita tak terpisahkan bagaikan bibir dengan pipi. Cerita dengan tukang kebun itu cuma karangan orang saja yang tidak lebih dari intrik jahat. Janganlah kau menoleransinya, bahwa kepalamu akan dilumuri lagi dengan omongan-omongan kotor lainnya seperti itu!“ kata-katanya berfungsi.

Ximen  melemparkan pecut kuda dan meminta Teratai Emas untuk mengenakan pakaiannya lagi. Sementara itu dayang Bunga Aster harus menyiapkan meja dan membawakan arak dan makanan. Sambil berlutut Teratai Emas menyodorkan mangkuk arak pertama.  Ximen  berkata: „Aku berikan kau pengampunan, tetapi di masa mendatang, bila aku sedang ke luar rumah, gunakan kesendirian itu untuk mencuci dan memurnikan hatimu. Tutuplah pintu dan gerbang sepagi mungkin. Jagalah dirimu, bahkan dalam pikiran pun tidak boleh terlintas hal-hal yang tidak benar. Bila nanti ada pengaduan lagi, aku tidak akan mengampuni kau“

„Budakmu mendengar perintah“ jawab Teratai Emas tergagap gagap, dan menyembah sebanyak empat kali. Dan kasus  pun selesai. Tetapi kebencian akan apa yang telah dilakukan pada dirinya terus memakan hatinya. Dan pada pesta hari ulang tahun Ximen  dua hari kemudian, tamu  pun berduyun duyun berdatangan, Teratai Emas tidak muncul. Dan ketika Bunga Kamar datang mengucapkan selamat, diiringi oleh bibinya Li Kiao’rl, sesuai prosedur yang berlaku untuk memberi hormat pada yang kelima, Bunga Prem telah mengunci semua pintu dan gerbang, sehingga paviliunnya mirip sebuah benteng besi tertutup rapat. Dan dengan muka terlumur hinaan, keduanya, Bibi dan keponakan meninggalkan paviliun.

Ketika Ximen  pada malam harinya mendatangi Teratai Emas, ia mendapatkannya dalam dalam keadaan sedih, rambut acak-acakan, wajah cantiknya pucat dan lelah. Lebih merendahkan diri dari biasanya, ia membuka ikat pinggang Ximen, membantu melepaskan pakaiannya, dan mencipratkan air hangat pada kakinya. Tetapi pada tengah malam, di antara kesenangan ranjang, ia mengeluarkan unek-uneknya, dan berbicara pada Ximen: „Kokoku, tahu tidak kau, siapa yang benar-benar cinta padamu? Cinta istri-istrimu yang lain itu bagaikan embun, yang siap ke pelaminan baru seandainya kau meninggal. Hanya aku yang benar-benar mengerti kau. Seandainya kau mengerti aku!. Apakah kau tidak merasa, kalau semua omongan itu berawal dari kebencian dan iri hati, karena kau telah mengistimewakan kedekatanku padamu? Jadi aku tak akan merasa heran, bilamana nanti ada yang menikamku dengan pisau belati. Dan juga kau telah merendahkan seseorang yang benar-benar mencintaimu. Apakah kau tidak ingat akan sebuah pepatah:

Merana mengepakkan sayap ke sana kemari,

Seekor ayam rumahan, bila akan diambil dagingnya.

Seekor ayam hutan tidak sesusah itu,

baginya selalu tersedia kesempatan untuk kabur.

Apakah engkau tidak merasa, bahwa aku sebagai ayam rumahanmu telah kau aniaya? Ketika kau baru-baru ini menendang Tai A’rl di rumah pelesiran, aku tidak mencelamu,  Mong Yuloh bisa menjadi saksi. Aku hanya memikirkan, bahwa di tangan si muka bedak kau bisa bangkrut habis habisan. Usahakan untuk mengerti diriku! Orang itu hanya mencintai uangmu, bukan dirimu. Janganlah kau dipengaruhi oleh orang-orang itu, percayalah padaku, budakmu yang berbakti!“ Juga dengan tangkas ia mengurung Ximen  dalam jaringan kata-kata lembut.

Tetapi tanpa menghiraukan peringatan Teratai Emas, beberapa hari kemudian Ximen sudah berada di sarang ibu Li. Bunga Kamar yang ketika itu sedang melayani tamu, langsung berlari ke kamar begitu melihat kedatangan Ximen. mengacak acak riasan wajahnya dan melemparkan diri ke tempat tidur, membenamkan mukanya ke bantal.

Kemudian Ximen  mendatangi tempat tidur Bunga Kamar diiringi ibu Li yang menceritakan hinaan yang ditelan Bunga Kamar ketika mengunjungi Teratai Emas. „Jangan terlalu diambil ke hati“ kata Ximen  menenangkan. „Sekali lagi ia begitu, nanti akan mendapat pukulan!“

Bunga Kamar mengagetkan Ximen  dengan sentuhan tangan ke mukanya.: „Penipu, kau mana berani memukulnya?“

„Mana tahu kau!“ tawa Ximen. „Bagaimana aku bisa menguasai peraturan di rumah selain itu, 20, 30 pukulan dengan cambuk kuda! Dan bila itu tidak menolong, maka rambutnya akan dipotong“

„Ah, kau cuma sok jago di depanku, coba ayo bawa bukti beberapa jumput rambut Teratai Emas kemari“

„Pasti, kau harus percaya itu.“ Ketika pada saat terang tanah keesokan harinya Ximen  permisi pulang pada Bunga Kamar. Dan Bunga Kamar pun tak lupa mengingatkan Ximen  akan janjinya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s