Bab 30 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingMengambil kesimpulan akan kekuatan lawan

Tetangga wanita Aroma telah berlaku licik. Sudah dua kali awannya meledak, tetapi jika si pemuda bertanya, apakah ia sudah sejauh itu, ia selalu menjawab belum dan dengan gigih mengharapkan, bahwa si pemuda tidak mengurangi sorongannya. Mengapa ia menipu si pemuda? – Karena ia toh hanya wakil Aroma dan sadar sedang didengarkan oleh Aroma. Jika ia mengaku, bahwa ia sudah sejauh itu, maka kemungkinan Aroma akan mengantikannya. Tetapi ia toh menginginkan kenikmatan yang langkah ini, yang dimilikinya malam ini, menjadi lebih panjang, agar bisa dinikmati sepuas-puasnya.

Tanpa tipu menipu sepertinya dalam permainan cinta ini tidak akan berlangsung. Kedua belah pihak telah saling tipu. Si wanita telah menipu pasangannya karena kebutuhan pribadi. Lain halnya dengan si pemuda, ia menipu demi harga diri. Karena pertanyaannya pada si wanita, apakah ia sudah sejauh itu, selalu dengan gigih dijawab dengan belum, maka demi gengsinya sebagai jentelmen, pertanyaan sebaliknya pun yang semestinya di-iya-kan dijawab belum olehnya dan dengan gagah berusaha sekuat tenaga melanjutkannya. Si pemuda tidak ingin mengecewakan si wanita. Cukup berat bagi si pemuda. Sebenarnya ia ingin sedikit istirahat untuk mengumpulkan napas. Dalam babak pertempuran ini, si pemuda mirip orang mabuk yang duduk diatas keledai, dengan kepala kesana kesini pada setiap langkah. Pertempuran ini sudah lebih mendekati kekejangan.

Sepertinya si wanita sudah merasakan perbedaan antara serangan awal yang gagah dengan serangan sekarang yang agak kejang, dan dengan lemah lembut ia bertanya:

„Kekasih, apakah padamu sudah sejauh itu?“

Masih saja ia menjaga gengsi. Pertanyaan si wanita baginya sama seperti jeweran pak Guru pada murid yang kepergok ketiduran di kelas. Si pemuda menduakalilipatkan serangannya, hingga keringat membanjir dan napas terengah-engah.

Akhirnya si wanita berbelas kasihan.

„Wo tiu la! – Aku sudah sejauh itu! – Berhenti! – Aku tidak bisa lagi! – Bisa mati aku! – Peluklah daku dan berbaringlah disebelahku!.“

Dengan kata-kata ini ia menawarkan gencatan senjata kepada si pemuda. Dengan lega si pemuda menerima penawaran tersebut.

Sementara itu Aroma berperan sebagai tamu pagar. Selama itu diatas sofa empuknya yang terletak di ujung ranjang, ia mendengarkan semua kejadian.

Semula, ketika si wanita tetangga mengeluarkan suara jeritan dan serangannya tidak ada kemajuan, Aroma berkata kepada dirinya sendiri, jadi, begitu kecil juga perkakasnya tidak, sepertinya besar dan hebat. Dan dengan itu, separuh keraguannya berkurang. Ketika kemudian ia mengikuti kejadian lebih lanjut, terlihat kekuatan durasi tempurnya, yang tentu saja membuat hatinya cukup puas: ‚Penakluk dan penguasa di kamar perumpuan – Dengan senang hati dan tanpa penyesalan aku ingin memliki si pahlawan malam ini juga‘

Ia menggunakan kesempatan, ketika kedua pasangan sedang tertidur nyenyak, untuk turun dari sofanya dengan perlahan-lahan. Sekarang ia berdiri di kegelapan dan berpikir. Sebenarnya sekarang ia bisa menyusup ke bawah selimut dan ikut bermain, jika keduanya nanti bangun. Tetapi didalam kegelapan ia tidak dapat membedakan, mana si wanita tetangga dan mana si pemuda, bisa saja nanti ia salah tarik. Selain itu, jika ia ikut main, dalam kegelapan si pemuda tidak bisa melihat kecantikannya, dengan itu si pemuda kehilangan rangsangan untuk mendapat tenaga baru. Si pemuda sudah sangat lelah, untuk itu Aroma sangat menyayangkan dirinya. Tidak, bukan dengan cara itu, harus dengan cara lain yang lebih baik.

Diam-diam ia berbalik ke dapur. Disana ia meletakan ketel yang berisi air segar keatas perapian. mengipasi apinya dan kemudian menyalahkan lampu. Dengan lampu ditangan ia kembali ke kamar tidur, melangkah ke depan ranjang, menyibak kelambu, menarik selimut sutera yang menutupi kedua pasangan, menerangi wajah si pemuda dan dengan pura-pura marah berkata:

„Hei, apa-apaan ini, tengah malam masuk kerumah dan main gila di ranjang orang! – Bangun! Bangun! Ayo jawab!“

Dengan sangat terkejut si pemuda bangun. Mengantuk dan agak kacau membuatnya mengira, bahwa yang datang adalah suami si wanita, yang sengaja bersembunyi dan akan memerasnya. Ia menjadi ketakutan, hingga keluar keringat dingin di punggungnya , Tetapi setelah ia mengumpulkan semangat dan membuka mata, dibawah penerangan lampu ia melihat, yang berdiri didepan ranjang adalah si wanita idaman. Ia mengucek mata. Bagaimana mungkin? Ia kan sedang tidur bersamanya – atau ia mempunyai saudari kembar? – Ia menengokan kepalanya dan memandang wanita yang tidur di sebelahnya. Sekarang, dibawah penerangan cahaya lampu, ia bisa melihat wajahnya untuk pertama kali. Terkejut, membuatnya menggeser tubuhnya kebelakang. Kulit hitam, dipenuhi bopeng bekas cacar dan kulit dekil! Hidung pesek, mulut yang begitu lebar! Rambut acak-acakan, kusam, tak bercahaya! Pandangannya turun kebawah ketubuhnya. Bentuk tubuhnya cukup bagus, tetapi kulitnya banyak noda, meskipun lembut dan kencang.

„Siapa kau sebenarnya?“ tanya si pemuda.

„Aku tetangga dari rumah seberang dan atas permintaan nyonya Aroma untuk sementara menjadi wakilnya. Aku harus mengujimu. Pada hari itu, ketika kau memandangi jendela di depan rumahnya, disitulah mulainya…“ itulah pengakuan si wanita dan menceritakan duduk perkaranya dari akar hingga ke pucuk.

Si wanita turun dari ranjang dan secepatnya mengenakan pakaiannya, itupun terbatas hanya celana berlapis kapas, jubah berlapis kapas dan sepatu pantofel, sisanya seperti kaus kaki dan lain-lain diraupnya begitu saja dengan tangan untuk dibawa pulang. Setibanya di pintu ia berkata sekali lagi kepada si pemuda:

„Meskipun berwajah jelek, aku akan tetap setia sebagai pelayanmu. Bahwa aku malam ini berbagi ranjang denganmu, itu kulakukan untuk temanku, tetapi bisa juga sudah ditentukan oleh kehidupan sebelumnya, siapa tahu? Seandainya nanti kau datang lagi dan ada sisa waktu seperapat jam untukku, pelayan setiamu siap setiap saat.“

Ia menjurah kehadapan si pemuda dan kemudian kehadapan Aroma, menggumamkan beberapa patah kata terimakasih dan pergi. Aroma mengantarnya sampai ke pintu rumah, membiarkannya keluar dan mengunci pintu kembali. Bagaimana Aroma melakukan „ujian utama“ pada Siucai kita, akan kalian ketahui di bab selanjutnya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Werbeanzeigen

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s