Bab 30 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaDukun Liu membantu Teratai Emas

Dalam keadaan masih setengah mabuk tibalah ia di rumah, tanpa berhenti di ruang depan ia langsung menuju paviliun Teratai Emas. Teratai Emas langsung tahu, bahwa Ximen  dalam keadaan setengah mabuk, ia berusaha berlaku baik padanya. Ximen  duduk di tepi ranjang dan memerintahkan Teratai Emas agar membuka sepatunya, belum sempat ia mengerjakan pekerjaan yang sangat merendahkan ini, sudah terdengar bentakan Ximen : „Lepaskan pakaianmu! Berlutut!“

Perasaan takut menghunjam Teratai Emas dan keringat dingin pun mengucur. Ia berlutut, tetapi tidak melepaskan pakaian. „Tuan, tolong jelaskan apa yang terjadi!“ pintanya. „Lebih baik mati dari pada setiap hari disiksa seperti ini!“ mengapa aku tidak ada benarnya, walau pun aku sudah berusaha ribuan kali? Penyiksaan dengan pisau tumpul seperti ini, aku tak tahan lagi!“

„Lepaskan pakaian atau kau akan lebih menderita!“ ancamnya. Kemudian ia berteriak kepada Bunga Prem yang berada di kamar sebelah, „Bawakan cambuk ke sini!“ tetapi Bunga Prem tidak menurut perintah. Ia harus mengulang perintahnya beberapa kali, baru Bunga Prem pelan-pelan masuk. Ketika ia melihat nyonyanya di lantai di depan ranjang bertekuk lutut, dan lampu yang jatuh ke kolong meja, ia berhenti tak bergerak.

„Adik Bunga Prem, tolonglah aku, ia mau memukulku lagi!“ terdengar suara putus asa nyonyanya.

„Urus urusanmu sendiri! Mulut bawel!“ teriak Ximen  pada Bunga Prem. „Mending kau berikan pecut ke sini, supaya aku bisa menghajarnya.“

Sekarang si kecil sudah tidak dapat menahan diri lagi. „Tidak tahu malukah engkau, tuan? Memang dia sudah berbuat salah apa padamu? tanpa alasan, hanya mendengar omongan orang langsung menyerang nyonya, bagaikan badai melewati Padang rumput menerjang halangan yang tidak ada. Apakah masih ada orang yang mengertimu atau menghormatimu? Maaf saja, aku tidak bisa“ Setelah itu, ia langsung meninggalkan kamar.

Ximen  tertawa kering, tertawa malu. Setelah itu ia memandang yang sedang berlutut. „Ke sinilah! Aku tidak akan memukulmu. Aku hanya ingin meminta sesuatu darimu. Maukah kau berikan?“

„Tuan, seluruh tubuhku adalah milikmu. Apa pun yang kau minta, engkau akan mendapatnya. Hanya saja aku tidak mengerti maksudmu“

„Aku menginginkan sejumput rambutmu yang indah“

„Untuk apa?“

„Untuk jala rambut“

„Benarkah? Baik, kau bisa mendapatkannya. Tetapi berjanjilah padaku, bahwa kau tak akan menyalahgunakannya“

„Aku berjanji“

Teratai Emas mengendurkan rambutnya, dan Ximen  memotong dengan gunting  sejumput rambut indah. Dengan hati-hati ia membungkusnya dengan kertas dan memasukannya ke dalam kantong. Teratai Emas meringkuk lembut ke dada Ximen. „Ah, aku akan selalu menurut padamu“ katanya dengan air mata berlinang. „Aku akan merasa senang, bila kau tidak menjadi manusia yang selalu berubah-ubah, Aku pun tak akan mengatakan apa-apa, bila kau menyukai dan mencintai wanita lain, hanya saja jangan kau terlalu merendahkan diriku“

Ximen  sudah tidak sabar menunggu, sampai akhirnya pada keesokan harinya ia berdiri di hadapan nona Bunga Kamar. Dengan bangga ia menyodorkan sejumput tebal rambut mengkilat Teratai Emas. „Nah, apakah aku telah menepati janjiku? benar-benar menghabiskan tenaga, sampai bisa mendapatinya. tanpa tipuan kecil tak mungkin berhasil. Aku telah membohonginya untuk membuat jala rambut, ha ha!“

„Apa hebatnya, sampai kau begitu tegang! Kalau kau begitu takut terhadapnya, mestinya kau tak usah menggunting rambutnya. Sudah! Sini berikan padaku! Nanti bila kau pergi akan kukembalikan.“ Bunga Kamar memanggil kakak perempuannya agar menemani tuan Ximen  untuk sementara. Ia sendiri menghilang ke kamarnya dengan sejumput rambut di tangan. Di situ ia membuka sepatunya dan memasukan rambut Teratai Emas ke dalam sepatu sebagai alas sepatu. Itu akan membuatnya setiap hari menjadi puas dengan menginjak injak rambut musuhnya.

Hari pun berlalu, dan Ximen tidak pulang ke rumah. Teratai Emas yang merasa diacuhkan, sejak kejadian rambutnya dipotong hatinya menjadi pilu. Selangkah pun ia tidak pernah meninggalkan paviliunnya, dan tidak enak makan. Nyonya Bulan yang merasa prihatin memanggil ibu Liu, seorang penasihat kesehatan dalam rumah tangga Ximen. Ibu Liu mengatur pasiennya setiap hari satu buah jamur obat dan sup tanpa bumbu untuk malam. Selain itu ia mengusulkan untuk membawa suaminya esok hari agar membuat Horoskop.

„Apakah ia juga mengerti ilmu ramalan nasib?“ tanya Teratai Emas tertarik.

„Ai, tentu saja, meskipun ia berjalan dengan tongkat buta, tetapi ia menguasai tiga hal. Kesatu ia bisa membuat horoskop dan memanggil roh. Kedua ia pandai membuat obat-obatan. Dan ketiga ia mengerti ilmu ‚Dukun‘.“

„Dukun?, mengapa begitu?

„Misalkan, Orang tua dan anak tidak cocok, Kakak beradik bertengkar, Istri utama dengan istri muda ribut, di situ suami tuaku menggunakan kertas jimat, yang dibakar jadi abu, dicampur dengan air dan diminumkan, tidak sampai tiga hari semuanya akan menjadi baik.“

Teratai Emas mendengarkan dengan penuh perhatian.  Ia menyajikan ibu Liu teh dan kue, dan ketika pulang diberikan beberapa potong perak. „Ini sebagian untuk ongkos tabib dan sebagian lagi untuk kertas jimat. Kutunggu besok pagi di jam sarapan pagi, dan jangan lupa membawa suamimu.“

Tepat waktu, datanglah ibu Liu pada keesokan harinya bersama suami butanya. Dukun Liu  meminta Teratai Emas menyebutkan jam, hari, bulan, dan tahun kelahirannya, kemudian ia komat-kamit, lalu mengatakan ramalannya antara lain: hubungan suami istrinya tidak harmonis dan hati-hati harus menjaga diri dari „Lidah orang rendahan“.

Setelah selesai, Teratai Emas minta dibuatkan kertas jimat penolak bala, agar dilindungi dari mulut jahat dan suaminya mencintai dan menghormatinya. Dukun Liu  memberikan Teratai Emas sebuah kertas jimat berwarna merah untuk diletakkan di bawah bantal Ximen  dan dua buah patung kecil, satu perempuan dan satunya lagi lelaki, untuk diletakkan di kamar tidur, yang mana kaki patung lelakinya harus dilumuri lem.

Ketika Ximen  pulang ke rumah, Teratai Emas mengerjakan semua yang disarankan oleh dukun Liu. Ternyata berhasil. Dua hari kemudian keduanya menjadi sangat cocok satu lain, dan bersenang-senang bagaikan ikan dalam air. Tetapi, pembaca, tidak percuma seorang suami mendapat peringatan agar menjauhi istrinya dari hubungan rahasia dengan para pendeta, tukang ramal dan comblang.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s