Bab 31 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingMedan perang terakhir 

Ketika Aroma kembali ke kamar tidur, pemuda kita masih duduk bengong diatas ranjang. Ia merasa seolah-olah baru terbangun dari mimpi panjang atau dari mabuk berat dan baru saja sadar kembali.

„Sekarang, ada urusan apa lagi? Temanku sudah melunaskan rekening untukku. Kita sudah impas. Kau telah memperoleh kesenanganmu. Mengapa kau tidak pergi?“ terdengar suara dingin yang dibuat-buat dari mulut Aroma.

Si pemuda tidak terima dan dengan gigih memperotes: Wah, Kita sama sekali belum lunas, bahkan sebaliknya, sekarang hutangmu bertambah dengan ganti rugi, atas apa yang telah kau lakukan padaku dengan menyelundupkan wakilmu. Sekarang tengah malam, tidak lama lagi fajar, kita jangan buang-buang waktu! Cepat naik ke ranjang kepadaku! Dan jangan berkata apa-apa lagi!“

„Apakah kau serius?“

„Aku benar-benar serius!“

„Baik, maka bangunlah dan kenakan pakaianmu. Sebelum kita berbaring di ranjang, masih ada urusan penting yang harus dikerjakan.“

„Masih ada urusan penting apa lagi, selain bahwa kita bersama berbaring di ranjang?“

„Jangan tanya dan ikut!“

Si pemuda melompat turun dari ranjang dan dengan cepat mengenakan pakaiannya. Aroma menuntun tangan si pemuda dan berjalan bersamanya melalui beberapa ruangan dan pekarangan belakang, menuju ke dapur yang letaknya di belakang. Aroma menunjukan bak mandi yang sudah siap dan kesel (cerek) dengan airnya yang mendidih diatas perapian. Sekarang ia mengerti. Ia harus mandi, dan karena perjalanan cukup jauh dan melalui pekarangan, maka Aroma menyuruhnya mengenakan pakaian. Aroma tidak ingin, bahwa si pemuda dalam perjalanan kebelakang tanpa pakaian, dan kena angin malam, dan kemudian menjadi sakit.  Sangat penuh perhatian! Didalam benaknya si pemuda menyembah penuh terimakasih pada Aroma.

Sementara itu Aroma menyibukan diri dengan sendok dan mengisi bak mandi setengahnya dengan air dingin dan setengahnya lagi dengan air panas dari perapian, membuat air mandi yang menyenangkan, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

„Ayo, naik kedalam bak! Disitu ada sabun dan lap mandi!“

Dan sambungnya lagi:

„Aku tidak mau, bahwa bau yang tidak menyenangkan dari tubuh wanita lain, yang menempel di kulitmu, pindah ke kulitku!“

Si pemuda membenarkan perkataan Aroma. ‚Memang, penting sekali, setelah itu membersihkan badan. Tepatnya, aku juga harus membersihkan mulutku, untuk menghilangkan semua sisa-sisa ciuman‘

Ia mengambil mangkuk air yang sudah terisi dan sikat gigi, yang diraihnya dari rak di dinding luar bak mandi. Ia merasa sangat terkesan, bagaimana Aroma dengan semua keromantisan ini tetap berprilaku sebagai nyonya rumah yang baik, yang memikirkan sampai ke hal-hal yang kecil, seperti begitu rapihnya ia menyiapkan  bak mandi, sabun, lap mandi hingga handuk lembab yang panas untuk mengeringkan tubuh, bagaimana setelah mandi mengeringkan lantai sekitar bak mandi dari percikan air, bagaimana setelah itu ia sudah menyiapkan handuk pengering keringat disamping bantal sebelum berbaring di ranjang.

‚Seorang nyonya rumah yang bijak! – Ia memikirkan semuanya!‘ pujinya dalam kebisuan.

Aroma memadamkan lampu, kemudian ia duduk di tepi ranjang dan tanpa tergesa-gesa melepaskan pakaiannya dalam kegelapan, satu persatu dilipatnya dengan rapih dan diletakan diatas kursi disebelah ranjang..

Layanan lembut, melepaskan penutup tubuh terakhir, membuka BH suteranya dan mencopot celana dalam kain bastisnya, dengan anggun diserahkan kepada jentelmennya. Si pemuda memeluk dan mencium Aroma dan tangannya memeriksa tubuh si cantik. Ia mendapatkan bukit kembar yang memenuhi dadanya, begitu menonjol dan kencang serta elastis, sehingga gengamannya tergelincir, jika ia mencoba untuk menarik dan membukanya. Meskipun kencang, namun dimana-mana terasa lembut dan empuk, tidak ada satu pun tempat yang keras. Hampir sama, kencang tapi toh lembut adalah lengkungan dibawah bentengan, namun terasa lebih licin dan lemas.

Si pemuda membaringkan si cantik, mengangkat kedua kaki si cantik keatas pundaknya dengan lembut dan memulai pertempuran, dimana ia menggunakan taktik yang sama seperti yang tadi ia gunakan pada si jelek, jadi tanpa basa basi melakukan serangan frontal dari jarak tertentu. Dengan itu ia memperhitungan, bahwa awalnya si cantik akan merasa sakit, tetapi setelah itu akan menikmati kegairahan yang besar. Serangan berjalan dengan mulus. Tetapi berlawanan dengan yang diharapan si cantik tetap apatis, seakan-akan ia tidak merasakan apa-apa, baik sakit atau pun gairah. Karena itu ia teringat apa yang tempo hari dikatakan temannya yang berpengalaman, si bandit Kunlun, tersirat tentang besarnya kaliber ‚bingkai sepatu‘ yang dimiliki Quan Laoshi. Tidak mengherankan, jika pasukannya begitu lancar dan tanpa perlawanan menembus gerbang benteng pertahanan lawan. Pada ukuran ’sepatu‘ seperti itu ia tidak memperhitungkannya. Didalam sepatu yang besar itu, ‚bingkainya“ tak berguna,

Penuh keyakinan, bahwa keadaan medan lawan tidak akan membuatnya gentar, ia memutuskan untuk menggunakan taktik lain. Ia menarik bantal dari bawah kepala si cantik dan menjejalkannya kebawah pinggangnya dan  dengan sengaja membiarkan kepalanya tanpa tumpuan. Hal itu mendapat kesan baik dari si cantik dan diam-diam memujinya. Hingga saat ini ia belum merasakan adanya kegairahan, tetapi melihat persiapan yang dilakukan si pemuda, ia mempunyai keyakinan, bahwa si pemuda sangat paham tentang ‚teknik kamar tidur‘, yang akhirnya telah membantunya mendapat kenikmatan.

Pembaca yang budiman, hubungan kelamin antara dua insan dalam hal tertentu mempunyai kemiripan dengan peperangan: sebelum pertempuran dimulai, masing-masing pihak secara diam-diam mencoba mengenali dan menyelidiki kekuatan lawan. Si pemuda mencoba mencari tahu,apakah pada si cantik masuknya bisa dalam atau tidak, agar ia bisa menyiapkan perkakasnya. Sebelumnya si cantik sudah mempelajari keadaan perkakas si pemuda, apakah panjang atau pendek, besar atau kecil, agar bisa menyongsongnya dengan gerakan yang tepat, agar bisa menyesuaikan. Artinya, dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, bisa memastikan peperangan yang berhasil. Panjang dan besarnya perkakas pada lelaki , dalam dan lebarnya ‚gua gairah‘ pada wanita adalah sangat berbeda satu sama lain. Jika ‚goa gairah‘ tidak terlalu dalam, maka perkakas yang sangat panjang adalah tidak tepat, karena tidak bisa masuk keseluruhannya. Seandainya seorang lelaki tetap mencoba memaksakan jalan masuk, maka pasangannya, bukan saja tidak mendapat kenikmatan juga akan merasa kesakitan. haruskah seorang lelaki mendapat kenikmatan sendiri? Itu adalah hal yang keterlaluan. Semisalnya si wanita memiliki ‚goa gairah‘ yang sangat dalam, maka ia membutuhkan pasangan dengan perkakas yang panjang dan kuat, selain itu, ia tidak akan mendapat kepuasan. Bantal sebagai ganjalan pinggang adalah bukan suatu keharusan, melainkan hanya sebagai alat bantu, jika goa gairah bagi alat perkakas terlalu dalam. Jadi kekurangan ini bisa diatasi. Tetapi tidak bisa diatasi, jika ‚ukuran sepatu‘ lebih besar daripada ‚bingkai sepatu‘.

Bahwa meskipun si Tabib Sakti melalui operasi telah memperbesar dan memperkuat perkakas pemuda kita, tetapi tidak membuatnya menjadi lebih panjang. si pemuda membuktikannya pada percobaan pertama kedalam ‚goa gairah‘ Aroma, sebagai kependekan, tidak berhasil sampai ke dasar. Ketika si pemuda dengan bijak menjejalkan bantal kebawah pinggang Aroma, dengan itu ia membuktikannya dimata Aroma sebagai ahli, dan diam-diam memperoleh perhatian dan penghargaan dari Aroma.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s