Ikhtisar Si Raja Kera Sun Wukong (2)

aldisurjana_si_Raja_Kera_Sun_Wukong_perjalanan_Xuanzang_ke_barat_Xiyouji_Journey_to_the_West_Wu_Cheng_en_Dinasti_Ming
Novel perjalanan ke Barat mengisahkan perjalanan pendeta Xuanzang ke India dalam Dinasti Tang pada abad ke 8. Pendeta Xuanzang mendapat tugas dari Bodhisattva Guanyin untuk mengambil gulungan naskah Mahayana ke Tiongkok. Kaisar Taizong ketika itu masih tinggal di kota Xi’an, yang terkenal di dunia dengan tentara Terrakotta. Disitu sampai sekarang masih berdiri pagoda angsa liar, yang menandakan awal dan akhir perjalanan Xuanzang. Disitu pulalah dia menulis laporan perjalanan, sekembalinya dari perjalanan ke barat dan menerjemahkan gulungan naskah dari bahasa sanskerta ke bahasa Tionghoa. Xuanzang memperoleh hadiah nama Tripitaka dari Kaisar, yang dalam bahasa sanskerta berarti ‘Tiga Keranjang’. 657 gulungan Naskah yang diambilnya dari India ditempatkan dalam 3 buah keranjang besar.

Cerita ini terjadi setelah langit atas desakan Buddha memutuskan bahwa manusia di belahan bumi sebelah selatan yang kehidupannya terlalu banyak mengikuti ketamakan, kesenangan, poligami dan dosa, dengan bantuan naskah Mahayana akan banyak roh-roh yang bisa dibebaskan dari hukuman. Perjalanan ke barat hanya membahas sedikit saja inti dari segi keagamaan yang terdapat dalam naskah Mahayana, yang diambil oleh peziarah dari India.

Ceritanya di bagi dalam 2 bagian. Bagian pertama berkonsentrasi pada penceritaan si raja kera Sun Wukong. Bagian pertama menceritakan tentang kelahirannya dari sebuah telur batu, kariernya sampai menjadi raja kera dan jalan kehidupannya sebagai murid aliran Tao, yang sedemikian hebat, sampai tak terkalahkan dan tidak dapat mati. Atas ketidakpuasannya, karena penolakan secara diplomasi atas jabatan yang seharusnya diperoleh di kerajaan langit, Sun Wukong membuat onar dengan mengacau di langit. Huru-hara di langit ini dipadamkan oleh Buddha; dan Sun Wukong dihukum di bawah gunung 5 elemen selama 500 tahun. Dengan mantra Om Mani Padme Hum gunung disegel oleh Buddha. Jadi walaupun Sun Wukong ilmunya tinggi, dia tidak berdaya untuk membebaskan diri.

Lalu disusul oleh bagian pertengahan yang menceritakan asal muasal Xuanzang, dan kejadian-kejadian dari kehidupan Kaisar. Bagian selanjutnya merupakan bagian utama, mengisahkan perjalanan ke barat yang sebenarnya. Dibagi dalam 81 Petualangan yang harus dilewatkan oleh Xuanzang, agar mendapatkan gulungan naskah yang akan diserahkan pada Kaisar dan memperoleh keabadian untuk dirinya. Guanyin di sini memainkan peranan yang sangat penting. Paling pertama yang diurusnya agar supaya Tripitaka tidak sendirian menghadapi mara-bahaya dalam perjalanan. Dia bertemu Sun Wukong di penjara gunung dan boleh membebaskannya. Tabiat kera Sun Wukong menimbulkan banyak risiko dalam perjalanan. Untuk mengendalikannya, Guanyin memasang cincin besi di kepala Sun Wukong, yang bisa mengecil apabila Tripitaka membacakan doa tertentu dan mengakibatkan sakit kepala yang luar biasa.

Selanjutnya keduanya bertemu seekor Naga, yang telah menelan kuda tunggangannya Tripitaka. Setelah tahu dia sedang berhadapan dengan siapa, menjelmalah si Naga menjadi seekor kuda yang kuat dan pintar untuk membawa Tripitaka ke perjalanan yang jauh ke India. Nasib si Naga mirip Sun Wukong, yang di janjikan pengampunan oleh Guanyin bila mereka berhasil membantu tugas Tripitaka. Si Naga dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya raja Naga lautan barat, karena tampa sengaja telah membakar istana , yang mengakibatkan Mutiara ajaib menjadi rusak.

Hukuman keras dari raja Naga bisa di hindarkan oleh Guanyin, hanya dengan syarat , si Naga harus berjasa pada Tripitaka. Dengan cara yang hampir sama, juga siluman babi Zhu Bajie dan siluman air Sha Wujing menjadi anggota perjalanan. Mulailah suatu perjalanan yang panjang, penuh dengan kesulitan, bahaya, keperkasaan, dan perkelahian lawan manusia, hantu serta jin yang harus dikalahkan. Mereka mengenali Tripitaka sebagai pendeta suci, yang bila dimakan hidup-hidup, akan membuat mereka tidak bisa mati. Selalu saja ada situasi di mana kelihatannya hanya Thian saja yang bisa menolong Tripitaka yang berani. Dan tidak jarang, hanya dengan campur tangan Guanyin mereka bisa selamat. Akhirnya tujuan perjalanan tercapai, dan semua anggota perjalanan mendapat upahnya masing-masing. Banyak bab yang berisi sindiran bersifat kritis terhadap gejala sezaman.

Penulis novel Wu Cheng’en, mengambil dasawarsa Dinasti Ming terakhir, termasuk kejadian-kejadian pada waktu itu seperti korupsi, kelaliman pejabat dan intrik istana; sebagai pola bagian-bagian cerita, terutama penggambaran keadaan dan situasi istana kerajaan langit beserta pejabat-pejabatnya. Ada juga bab yang menceritakan tentang Tridharma, yang sejak jaman dulu di Tiongkok sudah mengisi satu sama lain. Tao, Kong Hu Cu dan Buddha yang sejak dari abad ke 1 sudah menyebar sepanjang jalan sutera. Struktur penceritaan Perjalanan ke Barat sepadan dengan kisah perjalanan keperkasaan tradisi literatur Eropa. Dimulai dari Herakles, Don Quichotte, hingga penerapan cerita ini di produksi Hollywood seperti Star Wars, yang membawa pembaca atau penonton ke dunia fantasi atau dunia mitos.

Bersambung ke (3)

Disusun oleh : Aldi Surjana
https://aldisurjana.wordpress.com/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s