Jejak Peninggalan Cheng Ho (Zheng He) di Afrika

Pate Island China Girl named Mwamaka Sharifu is hailed as the most famous descendent of the shipwrecked Chinese sailors
Perjalanan Laksamana Tiongkok Cheng Ho dari Dinasti Ming dan armadanya, yang mengitari pantai Somalia dan menyusuri pantai ke Selat Mozambik.

Tujuan dari ekspedisi tersebut adalah untuk menyebarkan budaya Tionghoa dan memberi sinyal kekuatan Tiongkok. Cheng Ho membawa hadiah dan memberikan gelar dari kaisar Ming kepada penguasa setempat, dengan tujuan untuk membangun sejumlah besar negara tetangga.

Pada bulan Oktober 1415, penjelajah Tiongkok dan Laksamana Cheng Ho mencapai pantai timur Afrika dan mengirim dua jerapah pertama sebagai hadiah kepada Kaisar Tiongkok Yongle.

Ada beberapa laporan lain yang menyebutkan kapal-kapal Tiongkok tenggelam di dekat Pulau Lamu di Kenya pada tahun 1415. Orang-orang yang selamat dikatakan telah menetap di pulau dan menikahi wanita setempat.

Para arkeolog telah menemukan porselen Tiongkok yang dibuat selama dinasti Tang (618–907) di desa-desa Kenya; Namun, ini diyakini telah dibawa oleh Cheng Ho selama perjalanan bahari di abad ke-15.

Di Pulau Lamu di lepas pantai Kenya, cerita lisan setempat mengatakan, bahwa 20 pelaut kapal karam Tiongkok, mungkin bagian dari armada Cheng Ho, terdampar di pantai di sana pada ratusan tahun yang lalu. Diberi izin untuk menetap oleh suku setempat setelah membunuh ular piton yang berbahaya, mereka masuk Islam dan menikahi wanita lokal.

Sekarang, mereka diyakini hanya memiliki enam keturunan yang tersisa di sana; pada tahun 2002, tes DNA yang dilakukan pada salah satu wanita menegaskan bahwa dia keturunan Tionghoa. Putrinya, Mwamaka Sharifu, kemudian menerima beasiswa pemerintah RRC untuk mempelajari pengobatan tradisional Tiongkok (TCM) di Tiongkok.

National Geographic juga menerbitkan sebuah artikel dari Frank Viviano pada bulan Juli 2005, ia mengunjungi Pulau Pate selama ia tinggal di Lamu, pecahan keramik ditemukan di sekitar Lamu yang diklaim oleh petugas administratif dari museum sejarah Swahili setempat sebagai berasal dari Tiongkok, khususnya dari Perjalanan Cheng Ho ke Afrika timur.

Mata orang-orang Pate mirip orang Tionghoa, dan Famao dan Wei adalah beberapa nama di antara mereka yang berspekulasi berasal dari Tiongkok. Leluhur mereka dikatakan berasal dari wanita pribumi yang menikah dengan pelaut Tiongkok Ming ketika mereka terdampar. Dua tempat di Pate disebut „Old Shanga“ dan „New Shanga“, yang diberi nama oleh para pelaut Tiongkok.

Seorang pemandu lokal yang mengaku keturunan Tionghoa memperlihatkan kepada Frank Viviano sebuah kuburan yang terbuat dari karang di pulau itu, menunjukkan bahwa itu adalah kuburan para pelaut Tiongkok, yang oleh penulis digambarkan sebagai „hampir identik“, dengan makam dinasti Ming Tiongkok, lengkap dengan „kubah setengah bulan“.

Menurut Melanie Yap dan Daniel Leong Man dalam buku mereka „Colour, Confusions and Concessions: the History of Chinese in South Africa“, Chu Ssu-pen, seorang pembuat peta Tiongkok, pada tahun 1320 mengambar Afrika bagian selatan di salah satu petanya. Keramik yang ditemukan di Zimbabwe dan Afrika Selatan berasal dari dinasti Song Tiongkok.

Beberapa suku di Cape Town utara mengklaim sebagai keturunan dari pelaut Tiongkok pada abad ke-13. Penampilan mereka mirip dengan orang Tiongkok dengan kulit yang terang dan bahasa yang terdengar bernada Mandarin. Mereka menamakan diri mereka sendiri sebagai „orang-orang terlantar“, Awatwa dalam bahasa mereka.

Diterjemahkan oleh Aldi Surjana
Dari Wikipedia, the free encyclopedia

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s