Festival Pertengahan Musim Gugur – Tiong Ciu Pia

aldisurjana_nonik_dahlia_Festival_Pertengahan_Musim_Gugur_asal_usul_kue_bulan_tiong_ciu_pia_dewi_bulan_chang'e_dewa_pemanah_chang_e
Pada waktu Kaisar Yao (2346-2355 sebelum Masehi) dinobatkan, negerinya ditimpa berbagai malapetaka. Sepuluh matahari memancarkan cahaya yang amat terik, sehingga semua air di bumi ini menguap.

Sesudah itu bertiup pula angin ribut dengan kerasnya, sehingga kota-kota dan kampung-kampung hancur dan banyak manusia mati. Bencana yang ketiga ialah binatang buas, panjangnya 1000 li, yang menelan segala apa yang dijumpai.

Kaisar Yao memerintahkan menyelidiki sebabnya terjadi malapetaka itu, dan bagaimana menghindarkannya.

Maka adalah seorang laki-laki di negeri itu, yang bernama Ho Tjek. Telah bertahun-tahun ia berlatih dengan panah dan busur. Ia sangat pandai, sehingga ia dinamai orang Dewa Pemanah.

Ho Tjek “Dewa Pemanah” beruntung dapat mengetahui dari mana asalnya bahaya itu, yaitu sembilan di antara sepuluh matahari itu bukanlah matahari, melainkan burung-burung yang meludahkan api dan bersarang di puncak gunung yang sangat tinggi. Ho Tjek memanahnya sampai mati. Sembilan gumpalan embun naik dan yang tinggal hanya sembilan gumpalan tanah liat, yang ditembus oleh panah-panah itu.

Sesudah itu Ho Tjek bersiap untuk menahan angin ribut itu. Dewa Gunung dan Api bermaksud akan menganiaya manusia yang ada di bumi ini. Dibukakannya kantungnya tempat menyimpan angin taufan.

Ho Tjek mengajak ia berkelahi dan akhirnya Dewa Guruh dan Api terpaksa memanggil taufan itu kembali ke dalam kantungnya.

Sesudah itu Ho Tjek mencari binatang buas yang 1000 li panjangnya itu dan yang telah banyak meminta kurban. Dijumpainya di pinggir sebuah danau. Ditembak sekali saja binatang itu pun matilah.

Kaisar sangat berterima kasih atas kepahlawananya, sehingga ia dipandang sebagai orang keramat.Pada suatu hari Ho Tjek melihat suatu benda yang bercahaya di langit. Diikutinya benda itu sampai ke suatu gerbang. Di sana dilihatnya seekor binatang yang sangat buruk rupanya yang menjaga pintu itu.

“Tunggu,” katanya, “engkau pun akan kubunuh.” Diambilnya panahnya dan binatang itu pun dipanahnya mati. Kiranya pintu itu jalan masuk ke bagian Surga sebelah barat. Di sana tinggal Dewi See Ong Bo Nio Nio, Sang Dewi dengan dayang-dayangnya, yang memerintah Surga Barat.

Dewi itu telah banyak mendengar kepahlawananya. Selain dari ahli panah, ia juga ahli bangun-bangunan. “Dirikanlah buatku sebuah istana,” kata See Ong Bo Nio Nio. “Sebagus dan sebesar yang belum pernah didirikan orang. Nanti akan aku berikan kepadamu sebuah pel sakti yang mempunyai kasiat dapat menghidupkan orang selama-lamanya.

”Ho Tjek bersenang hati. Didirikanya sebuah istana yang sangat indah yang belum pernah dilihat orang. Dindingnya dari batu giok (jade) yang mahal-mahal, dan dari kayu cendana yang harum baunya serta atapnya dari batu-batu lajur pilihan.

Sesudah istana itu siap, See Ong Bo Nio Nio sangat senang melihatnya. Diberikan pel sakti yang dijanjikan itu kepada Ho Tjek. Tetapi sebelumnya minum itu pel, ia harus setahun lamanya menjauhkan diri dari segala noda dunia.

Dengan rasa penuh terima kasih di dalam hatinya ditinggalkannya See Ong Bo Nio Nio. Pel itu disimpannya di atas kasau.

Belum selang lama ia beristirahat, datanglah seorang suruhan Kaisar yang meminta supaya ia menangkap seorang penjahat, yang mengganggu beberapa daerah di negeri itu. Orang itu dengan segera dapat dikenal sebab giginya yang sebelah atas menjorok keluar. Karena itu ia disebut orang “Gigi Pahat”.

Dengan segera Ho Tjek dapat menangkap dan membunuh penjahat itu. Sementara itu pel sakti yang di atas kasau itu memancarkan cahaya putih. Istri Ho Tjek ingin benar melihatnya. Diambilnya tangga dan pel itu pun diperhatikanya.

“Barangkali pel ini mencantikkan,” pikirnya sambil menelannya. Ia merasa dirinya sangat ringan, seolah-olah pandai terbang. Kebetulan Ho Tjek tiba di rumahnya. Dengan segera ia mengetahui, bahwa pel itu hilang. Sebelum ia sempat bertanya, istrinya telah terbang keluar melalui jendela. Ia tidak mau menunggu sampai suaminya menanyakan diakah barangkali yang memakan pel itu.

Ho Tjek marah sehingga ia hendak memanah istrinya. Tetapi angin kencang meniup dia ke puncak gunung yang tinggi. Sesudah ia sadar dilihatnya Thian berdiri di hadapanya.

“Ampunilah istrimu,” katanya. “Ia tidak tahu, apa yang diperbuatnya. Ia sekarang ada di Istana Bulan. Tempatilah Istana Matahari, sebab kamu telah berjasa terhadap matahari. Ini ada sebuah jimat. Pakailah ini, kalau kamu akan mengunjungi istrimu. Kebalikannya istrimu tidak dapat datang kepadamu sebab ia tidak boleh masuk kedalam Istana Matahari.

Ho Tjek mendapat seekor burung dari langit. Bersama-sama dengan burung itu ia terbang ke matahari. Matahari itu sangat besar. Ho Tjek merasa sangat beruntung. Ia tidak merasa bahwa matahari itu selalu berputar. Apabila duduk di atas sinar matahari dapatlah ia terbang ke bulan. Bulan itu dingin dan berkilat-kilat sebagai kaca. Di daerah yang dingin inilah istrinya tinggal.

Waktu Ho Tjek sampai di bulan, dilihatnya istrinya sedang kedinginan. Tetapi sinar yang dibawanya memanaskan bulan itu sedikit. Bulan itu pun bercahayalah sebagai belum pernah kejadian, tepat pada hari kelima belas bulan itu.

Sejak itu sekali setahun pada hari itu juga Ho Tjek mengunjungi istrinya. Itulah sebabnya, maka pada hari itu bulan memancarkan cahaya seterang-terangnya dan sangat bulat (menurut perhitungan bulan Tionghoa).

Pada hari kelima belas bulan yang kedelapan (pada pertengahan musim rontok) orang merayakan bulan, untuk menghormati Dewi Bulan yang akan memberi cahaya pada bulan-bulan yang akan datang, waktu malam sangat dingin dan lama, sebab matahari menjauhkan diri. Disajikan orang Tiong Ciu Pia, artinya: Kue Pertengahan Musim Rontok, dibuat dari tepung gandum dan bulat berupa bulan purnama, yang berisi daging dan tangkwe (manisan bligo) atau biji mijen yang ditumbuk. Di atasnya digambarkan seekor kelinci merah atau hurufnya.

Versi Lain

Legenda lain bercerita tentang gadis bernama Wu Yan, Wu Yan dibawa ke istana sebagai selir karena kecakapan budi pekertinya, tapi wajahnya masih kalah sama selir-selir lain.Tapi Wu Yan ini memuja bulan, dan karena itu bulan memberinya semacam mukjizat, untuk semalam saja pada tanggal 15 bulan 8, ia jadi super cakep… akhirnya pada malam itu Kaisar memilihnya. Akhirnya Wu Yan jadi permaisuri, dan kebiasaan memuja bulan jadi umum, terutama pada tanggal 15 bulan 8.

Trivia:

Ada cerita menarik saat pendudukan Yuan (Mongol) sekitar abad ke-14. Pemberontak China menggulingkan Dinasti Yuan menggunakan hari raya ini.Pimpinan pemberontak, Zhu Yuanshang menyelipkan pesan di Kue Bulan (kue yang khusus dibuat untuk festival ini), „Bunuh orang Mongol pada tanggal 15 bulan 8“. Karena orang Mongol tidak makan kue bulan maupun merayakan festival ini. Pemberontakan berhasil, Yuan jatuh dan digantikan oleh Dinasti Ming.

Dari catatan Nonik Dahlia
Sumber: Old Kaskus

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s