Bab 32 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingMemperlihatkan kemahiran sebenarnya.

Urusan dengan bantal kepala adalah sebuah trik sederhana yang sudah umum, tetapi hanya sedikit yang memperaktekannya dengan benar, kebanyakan diserahkan kepada pasangannya, selain bantal dibawah pinggang, juga masih ada sebuah bantal dibawah kepala. Salah besar!. Karena membuat tubuh pasangan wanita pada kedua ujungnya naik keatas, sebaliknya pertengahan tubuhnya melengkung kebawah. Jika pasangan pria menekankan seluruh berat tubuhnya dari atas ke pasangan wanitanya, bisa dibayangkan, bagaimanya tidak nyamannya pasangan wanita dalam situasi seperti itu. Apalagi kalau mau mencium: si pria harus membungkukan tubuhnya untuk mencapai mulut si wanita, si wanita harus bersusah payah dengan  tengkuk (leher bagian belakang) nya, untuk mengangkat wajahnya ke depan. sebelum bibir dan lidahnya bertemu dengan bibir dan lidah si pria. Dan semua itu hanya karena gara-gara bantal kepala. Jadi singkirkanlah! Sangul pasangan wanita letaknya harus tepat diluar tepian kasur. Maka kepala dan anggota tubuh kedua pasangan akan harmonis saling berdekapan, dengan lancar „ekor Yak*“ si pria memasuki ‚gua gairah‘ pasangan wanitanya, lidah ungu kecil si wanita tanpa halangan akan menemukan jalan masuk ke mulut si pria, tidak ada bidang yang tidak rata yang akan menganggu peleburan intim, tidak ada kekejangan yang akan menggangu pelepasan gairah tertinggi. (*Yak =Sejenis banteng di pegunungan Tibet)

Setelah menyimpang dari pokok cerita mari kita lanjutkan. Dengan kaki giok pasangan wanitanya dipundak dan kedua tangannya menekan kasur,  pemuda kita memulai lagi serangan yang tadi terhenti – sekali ini dengan penuh keberhasilan. Bagian bawah anggota tubuhnya yang keras tidak memungkiri sebagian asal dan sifat anjingnya. Semakin panas pertempuran, semakin membengkak, bukan hanya keberaniannya, juga ukurannya, yang membuat ‚goa gairah‘ tidak lagi tak terselami, baik ke samping maupun kebawah penuh terisi seperti yang diinginkan. Dengan demikian Aroma pun merubah prilakunya. Tadi, pada serangan pertama, ia masih sangat apatis, ia tidak mengeluarkan suara kesakitan maupun kesenangan, ia hanya berbaring dengan diam. Jadi sekarang tubuhnya mulai menggelepar dan dengan penuh hasrat menggeliang, dan mengeluarkan suara erangan dari bibirnya ..ah …uh , dan dengan suara agak cadel saking gairanya ia mendesah:

„Hsin kan, Kekasih! Aku datang! – Aku merasakan

suatu perasaan yang menyenangkan!“

„Sudah? Aku toh baru mulai – tunggu sampai aku selesai memperlihatkan kebolehanku, maka kau akan mengalami sesuatu yang luar biasa, wo ti kwai jou, kau daging gairahku!“, jawab si pemuda dengan suara berbisik dan melanjutkan kerjanya dengan mengebu-gebu, sehingga langit dan bumi bergeser dari keseimbangannya. Seruan-seruan tertahan „Kekasih!“ dan „Tercinta!“ berhamburan, diatas rumput dan semak disekeliling ‚pintu‘ Aroma sudah basah oleh embun hasrat. Si pemuda mengambil handuk keringat yang sudah disiapkan, untuk mengelap embun. Aroma menolaknya. Mengapa? Sebelumnya sudah pernah disinggung, bahwa Aroma mempunyai kecenderungan penuh gairah. Jika mengikuti seleranya, kebersamaan ini seharusnya dipenuhi hingar-bingar, menjadi tarian ekstase yang diiringi suara gong dan tambur yang melecut-lecut. Apakah semua itu harus diinterupsi oleh kegiatan mengelap? – Tidak mungkin. Juga pada saat kebersamaan dengan suaminya ia berlaku demikian. Boleh saja embun hasrat melembabkan rumput dan semak hingga basah, tetapi mengeringkannya baru akan dilakukan belakangan, setelah awan meledak, tarian dan hingar bingar berlalu. Itu adalah kebiasaan aneh Aroma – Yang hanya akan dipahami oleh ahli yang berpengalaman dan penggemar makanan terpilih!.

Ketika pemuda kita sedang asik-asiknya, tiba-tiba Aroma memeluknya dengan kedua tangannya, menekannya ke tubuhnya dan mendesah:

„Wo yao tiu la! Aku sudah hampir tiba! – Biarkan kita larut bersama dalam kenikmatan!“

Sebenarnya bagi si pemuda masih terlalu pagi. ingin sekali ia terus melanjutkan dan memberikan kesan baik akan kekuatan durasinya. Tetapi Aroma tidak mau membiarkan.

„Berhenti! Kau sudah cukup meyakinkan aku akan kekuatan dan durasimu. Semalam penuh kau telah bekerja keras, dengan dua orang wanita dan kau telah menguasainya dengan baik – istirahatlah – simpan kekuatanmu untuk besok – kemudian kita bercinta lagi -, aku tidak mau kau berlebihan dan merugikan dirimu sendiri – dan aku tidak akan mendapat apa-apa lagi darimu!“

Jadi, Aroma memikirkan kesehatan si pemuda! Begitu lembut! Begitu penuh perhatian! Dengan terharu si pemuda memeluk Aroma dengan kedua lengannya, menekankan pada tubuhnya dan dengan tubuh berhimpitan berbagi rasa kenikmatan ledakan awan.

Lama mereka berpelukan dan tidak berkata apa-apa, hingga akhirnya kebisuan pecah:

„Diluar sudah mulai fajar – bangun, bangun! Kenakan pakaianmu! – Kau harus pergi, sebelum terang tanah – Para tetangga tidak boleh melihatmu!“ kata Aroma mengingatkan.

Mereka berpakaian. Aroma mengantar si pemuda ke pintu rumah, membiarkannya keluar dan dengan perlahan menguncinya kembali.

Sejak itu, dengan cara yang sama keduanya bertemu setiap malam. Si pemuda datang dalam kegelapan tanpa ada yang melihat, tetapi tidak lagi sebagai Liang chang k¸n tze „jentelmen atas genteng“, dengan normal masuk dari pintu rumah, dan kembali keluar pada saat fajar. Kadang-kadang, jika perpisahan bagi keduanya terlalu berat, si pemuda tetap tinggal dirumah Aroma pada siang hari. kemudian mereka bersenang-senang dibawah penerangan matahari yang terang benderang, berjalan kesana kesini didalam rumah tanpa pakaian dan saling bergembira dengan ketelanjangan tubuh masing-masing. Dalam situasi seperti itu, Aroma berpura-pura sakit, juga mengunci pintu rumah pada siang hari.

Pada malam berikutnya, setelah malam percintaan pertama, wanita tetangga dari seberang datang dan memohon – ia meminta bagian dari si pemuda. Si pemuda tidak bisa menyingkirkan dan menolak si wanita begitu saja sebagai orang yang ikut tahu. Jadi ia mentolerirnya dengan sedikit beramah-tamah. Sedangkan ‚rasa lapar“seksual si wanita sama sekali ia tidak berusaha meredamnya. Tetapi paling tidak, ia menjaga suasana hatinya dan mengurangi kejengkelannya.

Sulit dihindari, bahwa meskipun sangat berhati-hati, tetapi para tetangga sudah mulai curiga, mengenai apa yang terjadi dirumah Quan Laoshi pada malam hari selama kepergiannya. Suara-suara yang mencurigakan sampai ke telinga mereka. Mereka menduga Saikunlun sebagai sebagai pengganggu rumah tangga Quan. Saikunlun pernah bertanya-tanya tentang  tetangga Quan dan keadaan rumah tangganya. Siapa lagi kalau bukan dia? Bahwa dibelakang Saikunlun ada pemuda kita, tidak pernah ada yang menduga. Namun mereka berhati-hati, jangan sampai bentrok dengan si Bandit Budiman, mereka tidak mau membuat Saikunlun marah dan menerima pembalasan dendamnya. Jadi mereka berprilaku seakan-akan buta dan tuli, dimana sore-sore sudah menutup pintu dan jendela toko dan pada malam hari selangkahpun mereka tidak menginjak jalan raya.

Sepuluh malam lamanya pasangan kita bisa bersenang-senang tanpa gangguan, kemudian kepulangan sang suami menghentikan perselingkuhan. Cukup pahit bagi keduanya, bahwa mereka tidak bisa bertemu. Jika menuruti keingginan pemuda kita, maka paling tidak ia bisa melihatnya pada siang hari melalui jendela toko. Tetapi itu dilarang keras oleh temannya yang berpengalaman. Saikunlun khawatir, kesembronoan yang kekanak-kanakan itu bisa menimbulkan skandal. Namun ia bersedia menjadi pengantar surat cinta bagi si pemuda. Sebagai langganan biasa, Saikunlun masuk kedalam toko, untuk menemui Aroma dan diam-diam membawakan kabar dari si pemuda atau sebaliknya. Bila sang suami Quan kebetulan juga sedang di toko, ia tidak menganggap buruk pada kedatangan Saikunlun. Quan melihat  Saikunlun sebagai langganan beruang dan tidak curiga, jika Saikunlun setiap kali belanja minta dilayani oleh istrinya dari pada dia, biasanya setiap kali kedatangan Saikunlun, dengan rendah hati ia menghilang ke belakang dan membiarkan transaksi dilakukan istrinya. Dalam kejujurannya ia mempercayai sesama manusia, begitu juga pada langganan terhormatnya. Tidak salah, jika ia mempunyai nama julukan Lao Shi „percaya“, benar-benar sesuai. Sampai pada suatu hari yang indah, dimana para tetangga membuka mata Quan Lao shi. Mengenai itu, akan kalian ketahui di bab selanjutnya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s