Kui-hoa-po-tian = Pi-sia-kiam-hoat?

aldisurjana_nonik_dahlia_cerita_silat_cersil_Kui_hoa_po_tian_pendekar_hina_kelana_Tonghong_Put_pay
Pi-sia-kiam-hoat (Ilmu Pedang Penghalau Iblis) sebenarnya berasal dari satu sumber yang sama dengan Kui-hoa-po-tian (Kitab Mestika Bunga Matahari).

Kunci utama kedua kiam-boh tersebut tertulis: Ingin meyakinkan ilmu sejati, ramu dan minum obatnya, kebiri diri sendiri dan berlatih lwekangnya. Kalau tidak kebiri dahulu, sekali mulai berlatih serentak hawa nafsu akan berkobar-kobar, akibatnya menjadi cau-hwe-jip-mo, (kelumpuhan), lalu mati kaku.

Namun setelah dikebiri, akibatnya lambat laun kumis jenggot menjadi kelimis, suara berubah, watak juga berubah. Yang melatihnya pasti akan putus keturunan.

Meyakinkan ilmu silat dalam kitab itu lebih banyak merusak daripada mendatangkan manfaat. Tapi setiap orang persilatan di dunia ini betapa pun lihainya, bila sekali sudah tahu jurus pertamanya, maka pasti ingin tahu pula jurus kedua, lalu ingin tahu pula jurus ketiga dan seterusnya. Sekalipun tahu akibatnya akan sangat merugikan dirinya pasti takkan digubrisnya. Sekali membaca ilmu pedang atau ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka itu, biarpun tahu akibatnya bisa celaka toh sukar untuk menahan rasa ingin mempelajarinya.
Asal-Usul Kui-hoa-po-tian/Pi-sia-kiam-hoat

Menurut cerita yang tersiar, Kui-hoa-po-tian itu dikarang bersama oleh sepasang suami istri. Adapun nama kedua orang kosen itu sudah tak bisa diketahui lagi, ada yang bilang nama sang suami itu mungkin ada sebuah huruf ‘kui’ dan sang istri pakai nama ‘hoa’, maka hasil karya mereka bersama itu diberi nama ‘Kui-hoa-po-tian’. Suami istri itu semula sangat baik dan saling cinta-mencintai, tapi kemudian entah sebab apa keduanya telah berselisih paham. Waktu mereka menciptakan ‘Kui-hoa-po-tian’ itu usia mereka diperkirakan baru empat puluhan, ilmu silat mereka sedang berkembang dengan pesat. Sesudah cekcok, sejak itu keduanya menghindari untuk bertemu satu sama lain, karena itu pula sejilid kitab pusaka yang hebat itu pun terbagi menjadi dua. Selama ini kitab yang dikarang oleh sang suami disebut ‘Kian-keng’ (Kitab Langit) dan ciptaan sang istri disebut ‘Kun-keng’ (Kitab Bumi). Tentang ilmu silat yang tertera di dalam kedua kitab Kian dan Kun itu mempunyai pengantar dasar yang berbeda, bahkan terbalik menurut cerita.

Selama dua ratusan tahun, belum pernah ada seorang yang dapat membaca isi kedua kitab itu sehingga meleburnya menjadi satu. Bahwa menyimpan kedua kitab itu sekaligus sudah pernah terjadi. Yaitu ratusan tahun yang lalu ketua Siau-lim-si di Poh-thian Hokkian, Ang-yap Siansu namanya, pernah sekaligus memegang kedua kitab tersebut. Ang-yap Siansu pada zamannya terhitung seorang tokoh yang mahapintar dan cerdik, menurut tingkat ilmu silat dan kecerdasannya, seharusnya tidak susah baginya untuk melebur ilmu silat dari kedua kitab Kian dan Kun itu. Tapi menurut cerita murid beliau, katanya Ang-yap Siansu belum pernah memahami seluruh isi kitab-kitab itu. Agaknya isi kitab itu sangat dalam sehingga tokoh mahacerdas seperti Ang-yap Siansu juga tidak mampu memahaminya.
Kui-hoa-po-tian milik Tonghong Put-pay (seperti diceritakan Hong-ting Taysu)

Dua saudara seperguruan Hoa-san-pay, Lin Siau dan Cu Hong, pernah sempat mengunjungi Siau-lim-si di Hokkian dan mencuri baca kitab Kui-hoa-po-tian itu. Karena waktunya terburu-buru, maka kedua orang Hoa-san-pay itu tidak sempat membaca seluruh isi kitab sekaligus, tapi mereka berdua membagi tugas, masing-masing membaca setengah bagian. Kemudian sesudah pulang ke Hoa-san, lalu mereka saling menguraikan oleh-oleh masing-masing dan tukar pikiran. Tak terduga apa yang mereka kemukakan, satu sama lain ternyata tiada yang cocok, makin dipaparkan makin jauh bedanya. Sebaliknya kedua orang sama-sama yakin akan kebenaran apa yang telah dibacanya sendiri dan anggap pihak lain yang salah baca atau sengaja tidak mau dikemukakan terus terang. Akhirnya kedua orang lantas berlatih secara sendiri-sendiri, dengan demikian Hoa-san-pay terpecah menjadi dua sekte, yaitu Khi-cong (sekte lwekang) dan Kiam-cong (sekte pedang). Kedua suheng dan sute yang tadinya sangat akrab itu akhirnya berubah menjadi musuh malah.

Kemudian Ang-yap Siansu mengetahui akan bocornya Kui-hoa-po-tian itu. Beliau tahu isi kitab pusaka itu terlalu luas dan dalamnya sukar dijajaki, ia sendiri tidak berhasil meyakinkan ilmunya meski sudah berpuluh tahun menyelaminya. Tapi sekarang Lin Siau dan Cu Hong hanya membacanya secara kilat, yang dipahami hanya samar-samar saja, akibatnya tentu malah celaka. Karena itu ia lantas mengutus murid kesayangannya yang bernama To-goan Siansu ke Hoa-san untuk menasihatkan Lin Siau dan Cu Hong agar jangan meyakinkan ilmu silat dari kitab yang mereka baca itu.

Lin dan Cu berdua sangat menghormat kedatangan To-goan Siansu. Mereka mengaku terus terang telah mencuri baca Kui-hoa-po-tian dan minta maaf, tapi di samping itu mereka pun minta petunjuk kepada To-goan tentang ilmu silat yang terbaca dari kitab pusaka itu. Mereka tidak tahu bahwa To-goan sendiri sama sekali tidak tahu ilmu silat yang tertulis dalam kitab itu meski To-goan adalah murid kesayangan Ang-yap Siansu. Namun To-goan juga tidak mengatakan hal itu, dia mendengarkan uraian mereka dari isi kitab yang dibacanya di Siau-lim-si itu, sebisanya ia memberi penjelasan, tapi diam-diam ia mengingat di luar kepala dari apa yang diuraikan Lin dan Cu itu. Dengan demikian To-goan Siansu malahan memperoleh isi kitab pusaka itu dari Lin dan Cu berdua. To-goan Siansu tinggal delapan hari di Hoa-san barulah mohon diri. Tapi sejak itu ia pun tidak pulang ke Siau-lim-si lagi di Hokkian. Ia menulis sepucuk surat kepada gurunya yang memberitahukan bahwa dia takkan pulang ke Siau-lim-si lagi karena timbul hasratnya untuk hidup kembali di masyarakat ramai. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Lim Wan-tho.

Selang berapa puluh tahun kemudian sepuluh tianglo dari Mo-kau menyerbu ke Hoa-san, tujuannya adalah Kui-hoa-po-tian itu. Tatkala itu kekuatan Hoa-san-pay lemah dan tidak mampu melawan gembong-gembong Mo-kau itu. Terpaksa Hoa-san berserikat dengan Thay-san, Heng-san, Ko-san, dan Hing-san-pay sehingga lahir nama Ngo-gak-kiam-pay. Pertama kali terjadilah pertempuran sengit di kaki gunung Hoa-san, hasilnya gembong-gembong Mo-kau itu mengalami kekalahan besar. Tapi lima tahun kemudian, kesepuluh gembong Mo-kau itu berhasil meyakinkan inti ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay dan meluruk kembali ke Hoa-san. Sekali ini kedatangan kesepuluh gembong Mo-kau itu memang sudah disiapkan, mereka sudah punya cara-cara untuk mematahkan setiap ilmu pedang dari Ngo-gak-kiam-pay. Maka pertempuran kedua ini sangat merugikan Ngo-gak-kiam-pay sehingga sejilid salinan Kui-hoa-po-tian jatuh ke tangan orang Mo-kau meskipun kesepuluh gembong Mo-kau itu pun tidak dapat meninggalkan Hoa-san dengan hidup.

Kui-hoa-po-tian yang ditulis dua tokoh Hoa-san dari penjelasan To-goan Siansu itu jatuh ke tangan kaucu Tiau-yang-sin-kau waktu itu, Yim Ngo-heng, dan akhirnya dimiliki oleh Tonghong Put-pay.

“Kesepuluh gembong Mo-kau itu akhirnya tewas semua di Hoa-san, tapi Kui-hoa-po-tian yang ditulis oleh Lin Siau dan Cu Hong juga kena digondol oleh orang Mo-kau,” kata Hong-ting pula. “Maka kitab yang diberikan Yim-kaucu kepada Tonghong Put-pay itu tentulah catatan tokoh-tokoh Hoa-san itu. Memangnya catatan mereka itu tidak lengkap, mungkin yang mereka catat itu masih kalah luas daripada apa yang diselami oleh Lim Wan-tho.” (Hong-ting Taysu, Hina Kelana Bab 104)
Pi-sia-kiam-hoat milik Lim Wan-tho (seperti diceritakan Lim Peng-ci)

Telah diceritakan oleh Hong-ting Taysu, Lim Wan-tho memperoleh intisari Kui-hoa-po-tian dari uraian Lin dan Cu berdua cianpwe Hoa-san-pay. Tetapi menurut Lim Peng-ci, seperti yang dikisahkan Lim Wan-tho sendiri pada akhir kiam-boh yang tertulis di atas kasa, bahwa tatkala itu beliau masih menjadi hwesio di kuil Siau-lim-si di Poh-thian Hokkian dan tanpa sengaja melihat kiam-boh tersebut, lalu diturunnya di atas kasa serta dibawa pulang.

Perihal Lim Wan-tho menikah dan punya anak tentu terjadi sebelum memperoleh kiam-boh. Kemungkinan ia memiliki anak tidak sah dari hubungan gelap. Dan sebabnya ia terpaksa kembali ke masyarakat ramai tentu disebabkan persoalan pribadinya itu. Mungkin rahasianya terbongkar dan terpaksa harus angkat kaki.

Lim Wan-tho kemudan menjadi terkenal karena ilmu pedang “Pi-sia-kiam-hoat” yang meliputi 72 gerakan, ilmu pukulan “Hoan-thian-ciang” yang meliputi pula 108 gerakan, serta 18 batang panah “Gin-ih-cian. Dengan ilmu silat dan ilmu pedang mahalihai itulah Lim Wan-tho mendirikan Hok-wi-piaukiok dan disegani oleh kesatria dunia persilatan pada zamannya.

Setelah meninggal, kiam-boh yang ditulis di atas kasa tinggalan Lim Wan-tho disimpan di rumah keluarga Lim di Hiang-jit-hong (jalan matahari), nama lainnya Kui-hoa-kang (Gang bunga matahari) di kota Hokciu. Ia memperingatkan dengan sangat bahwa ilmu pedang itu terlalu keji dan merugikan orang yang melatihnya, yang melatihnya pasti akan putus keturunan, oleh karena itu ia menganjurkan jangan sembarangan meyakinkan ilmu pedang tersebut.

Karena menaati pesan leluhurnya itu, ilmu pedang keluarga Lim menjadi sangat rendah dan mencolok sekali bedanya dibanding dengan Pi-sia-kiam-hoat Lim Wan-tho yang pernah menggetarkan Kangouw.
Ci-he-pit-kip, kutipan dari Kui-hoa-po-tian?

Pada halaman terakhir dari kitab Ci-he-pit-kip (Kitab Rahasia Ilmu Sakti Pelangi Ungu), pusaka rahasia tulisan tangan leluhur perguruan Hoa-san, tertera 16 huruf yang artinya: „Ci-he-pit-kip, pengantar permulaan pemupukan dasar. Kui-hoa-po-tian, tingkatan tertinggi paling sempurna!“

Agaknya Ci-he-pit-kip adalah sebagian kecil dari Kui-hoa-po-tian.

Disusun oleh: Nonik Dahlia
Referensi: Hina Kelana versi pertama.

https://www.facebook.com/groups/goldenlotus24/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s