Part 1 – Sampek Engtay (Liang Shanbo dan Zhu Yingtai; The Butterfly Lovers)

aldisurjana_sampek_engtay_lian_shanbo_zhu_yingtai_the_butterfly_lovers

 

Mencari ilmu

1000 tahun yang lalu, di samping sungai Yushui, propinsi Zhejiang terdapat sebuah desa keluarga Zhu. Tuan Zhu di desa tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Yingtai. Ia baru saja berusia 19 tahun, ia tidak hanya pintar dan cantik, tetapi juga banyak belajar. Tetapi peraturan Tuan Zhu sangat ketat, pada hari-hari biasa tidak mengizinkan anak perempuannya keluar rumah. Hal ini membuat Yingtai sangat bermuram durja.

Suatu hari, Yingtai bermalas-malasan duduk di samping jendela memandang dan menikmati pemandangan musim semi yang indah. Di saat yang indah seperti ini memikirkan dirinya sendiri hanya bisa tinggal di dalam rumah, Yingtai diam-diam hatinya menjadi pilu.

Pada waktu itu, Yingtai melihat dari depan jendela sekelompok pelajar dari luar daerah yang pergi ke kota Hangzhou untuk mencari ilmu, hatinya sangat iri, lalu segera berlari memohon kepada ayahnya agar ia diizinkan pergi ke Hangzhou untuk menuntut ilmu. Ayahnya merasa sangat terkejut. Seorang anak perempuan, tiba-tiba ingin keluar rumah pergi ke luar kota untuk belajar? Ini sangat mustahil? Ayah secara tegas menolak permintaan Yingtai.

Yingtai mendapat penolakan, hatinya sangat tidak bahagia, lalu mengurung diri di dalam kamar berpura-pura sakit, tidak mau keluar menemui ayahnya, lalu dengan diam-diam mendiskusikan cara membujuk ayahnya dengan Yinxin, pembantunya.

Tuan Zhu mendengar anak perempuannya sakit, hatinya sangat khawatir. Pada waktu itu, Yinxin berlari masuk ke dalam rumah dan berkata kepada Tuannya,”Di luar ada seorang peramal, haruskah membiarkan ia masuk untuk meramalkan nasib nona?” Tuan zhu sedang gelisah, tidak tahu harus bagaimana baiknya, segera menjawab,”Cepat panggil dia masuk!”

Yang masuk adalah seorang peramal muda yang tampan. Tuan Zhu berkata, “Saya mempunyai seorang anak perempuan, ingin pergi ke Hangzhou untuk mencari ilmu, karena dia anak perempuan, saya tidak menyetujuinya, dia sepanjang hari selalu bersedih, sakit-sakitan, saya tidak tahu bagaimana baiknya, oleh karena itu secara khusus meminta tuan untuk meramalkannya.” Peramal itu lalu menanyakan tanggal lahir Yingtai dan menghitungnya, kemudian berkata pada Tuan Zhu,”Dilihat dari hasil ramalan, dengan tinggalnya nona di rumah, bisa banyak mendapat ketidakberuntungan dan banyak terkena penyakit, kemungkinan dengan menuntut ilmu di luar, bisa membaik.” Tuan Zhu begitu mendengar menjadi gelisah, lalu berkata,”Bagaimana bisa! Bagaimana bisa!” Yinxin dan peramal itu melihat wajah Tuan Zhu tersebut lalu tersenyum. Tuan Zhu berkata dengan tidak senang, “Apa yang kalian tertawakan?” Peramal itu menghentikan senyumannya, dan memanggil “Ayah”, kemudian menanggalkan baju dan topinya. Ternyata ia adalah Yingtai.

Tuan Zhu sangat marah. “Yingtai! Kamu berani mempermainkan ayahmu!” Yingtai menjawab,”Saya berpakaian seperti anak laki-laki, ayah juga tidak dapat mengenali saya, sekarang ayah bisa membiarkan saya untuk pergi sekolah?” Tuan Zhu berkata,”Ngawur! Sejak jaman dulu mana ada anak perempuan yang pergi sekolah? Di rumah membaca buku juga sudah cukup.” Yingtai berkata,”Di kota Hangzhou banyak guru yang terkenal, saya pergi ke sana demi menuntut ilmu dan menambah pengetahuan.” Yinxin juga membantu membelanya,”Nona setiap hari murung di dalam rumah, kalau sampai sakit akan gawat.”. “Ini…” Tuan Zhu pada saat itu tidak bisa berkata-kata. Yingtai melihat ayahnya tergugah, lalu menyadarkan ayahnya dan berkata,”Tahun ini keluarga kerajaan mencari dayang istana, jika saya terpilih masuk istana, kita tidak bisa bertemu lagi selamanya.” Tuan Zhu lama berpikir, mendesah panjang, berkata tanpa ada jalan lain,”Kalau begitu, sebaiknya mengizinkan kamu pergi untuk menghindar sementara waktu, tetapi kamu harus ingat, pertama, sekolah di luar, sama sekali jangan membuka identitasmu, kedua, sekolah tiga tahun penuh, harus tepat waktu kembali, ketiga, jika di rumah ada masalah, begitu melihat surat dari rumah, segera kembali ke rumah.” Yingtai menyetujui permintaan ayahnya dengan gembira.

Yingtai berpakaian seperti pelajar pria, Yinxin berpakaian seperti Shutong. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya, lalu berangkat.

Bersambung ke part 2

By Richard; https://aldisurjana.wordpress.com/

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s