Part 3 – Sampek Engtay (Liang Shanbo dan Zhu Yingtai; The Butterfly Lovers)

,0

aldisurjana_sampek_engtay_lian_shanbo_zhu_yingtai_the_butterfly_lovers

 

Perpisahan

Angin musim semi yang bertiup setahun sekali meniup daun-daun di sebelah selatan hilir sungai Changjiang. Yingtai pergi sekolah sudah 3 tahun penuh. Telah datang beberapa pucuk surat dari rumahnya yang mendesaknya untuk pulang. Pada hari itu, Yinxin masuk membawa sepucuk surat lagi. Begitu Yingtai membacanya, ada kabar bahwa ayahnya telah jatuh sakit dan menyuruhnya segera pulang setelah menerima surat itu. Hati Yingtai sangat serba salah, ia terpaksa mengatakan pada Yinxin bahwa ia telah jatuh cinta pada Shanbo, sehingga tidak ingin berpisah dengannya. Yinxin menasehatinya agar mencari bantuan pada ibu guru.

Ibu guru adalah seorang wanita yang baik hati. Ia melihat Yingtai dengan wajah merah mencarinya, lalu bertanya pada Yingtai ada masalah apa. Setelah Yingtai terdiam beberapa waktu lamanya barulah memberitahukan ibu guru bahwa ia sebenarnya adalah seorang gadis, karena ingin sekolah maka ia menyamar sebagai laki-laki. Ibu guru tertawa, berkata,”Saya sudah mengetahuinya sejak awal.” Yingtai memberitahukan kegundahan hatinya pada ibu guru, kemudian ia menyerahkan sebuah bandulan kipas pada ibu guru dan berkata,”Tolong anda memberikannya pada kakakku Liang Shanbo, saya selamanya tidak akan melupakan kebaikan hati anda.” Ibu guru berkata,”Kamu pergilah dengan tenang, saya akan melakukannya untukmu. Kalian benar-benar adalah pasangan yang serasi.”

Liang Shanbo mendengar berita bahwa Yingtai akan pulang, ia merasa ini sangat tiba-tiba dan ia sangat bersedih, tapi ia tidak dapat menghalanginya, sehingga ia hanya bersedih di dalam hati.

Hari ketika Yingtai berangkat, Liang Shanbo mengantarnya, mereka berdua tidak ingin berpisah. Yingtai berpikir, hari ini berpisah dengan kakak Liang tidak tahu kapan baru bisa bertemu lagi. Yingtai ingin memberitahukan hal yang sebenarnya padanya, tetapi sulit untuk mengatakannya. Ketika ia sedang ragu-ragu, tiba-tiba terdengar bunyi “Cha-Cha.” ia mengangkat kepalanya dan melihat, rupanya ada sepasang burung murai yang bertengger di atas ranting. Hati Yingtai tergerak dan berkata pada Shanbo, “Kak Liang, lihatlah! Burung murai di atas pohon semuanya berpasangan, tetapi adik hari ini akan pulang seorang diri.” Shanbo berkata,”burung murai selalu membawa berita gembira, mungkin mereka datang untuk mengucapkan selamat jalan padamu, walaupun kamu pulang seorang diri, tetapi begitu tiba di rumah, kamu akan seperti burung-burung ini yang telah pulang ke hutan.” Yingtai melihat Shanbo tidak menangkap arti kata-katanya, sehingga ia bermaksud akan terus memberikan isyarat padanya bahwa dirinya adalah seorang gadis.

Setelah berjalan tidak terlalu jauh, mereka melihat seorang penebang kayu. Yingtai berkata lagi,”Penebang kayu menebang pohon demi istrinya, demi siapakah kakak Liang berjalan begitu jauh?” Tanpa berpikir panjang Shanbo langsung menjawab,”Tentu saja demi adik.”

Mereka melewati beberapa rumah penduduk, di halaman rumah mereka sedang bermekaran bunga peony yang beraneka warna, Shanbo sangat suka melihatnya. Yingtai berkata,”Kamu melihat bunga peony samakah dengan gadis yang cantik? Di rumah saya juga ada bunga peony yang cantik, bila Kak Liang menginginkannya, datanglah ke rumah saya untuk memetiknya.” Shanbo berkata,”Saya pasti akan ke rumah adik, sampai pada saat itu kita bisa menceritakan tali persahabatan ini sambil menikmati bunga.”

Mereka berjalan lagi, kemudian tiba di depan sebuah kolam, di atasnya terdapat banyak Yuanyang (angsa Cina) yang sedang berenang berpasang-pasangan. Yingtai berkata,”Kak Liang, apabila Yingtai adalah seorang gadis, aku ingin berdua dengan kak Liang seperti angsa ini yang tak terpisahkan.” Shanbo tersenyum. “Sayang kamu bukanlah seorang gadis.”

Mereka berdua tiba di tepi sebuah sumur, Yingtai menarik Shanbo ke permukaan sumur, Shanbo dengan heran berkata,”Kamu tidak meneruskan perjalanan, malahan menarik saya ke permukaan sumur, untuk apa?” Yingtai menunjuk ke dalam sumur dan berkata,”Lihatlah kedua bayangan itu, yang satu adalah laki-laki dan yang satu lagi adalah perempuan.” Shanbo salah paham lagi akan maksud Yingtai dan berkata,”Kenapa kamu sembarangan bicara, saya laki-laki, kenapa kamu mengibaratkan saya adalah seorang perempuan?”

Mereka melewati lagi sebuah sungai, di sungai itu terdapat sepasang angsa putih yang sedang berenang dengan posisi satu di depan dan satu di belakang. Yingtai menunjuk angsa itu dan berkata, “Kak Liang, kak Liang, lihatlah! Angsa betina itu mengikuti dari belakang angsa jantan yang namanya Kakak.” Shanbo berkata,”Adik jangan sembarangan bicara.“ Yingtai melihat Shanbo selalu tidak menangkap isyaratnya, hatinya sangat khawatir, lalu berkata,”Kakak Liang sama bodohnya dengan angsa itu!” Shanbo melerai lengan bajunya dan berkata, “Hari ini ada apa denganmu, sepanjang jalan kamu terus membandingkan sesuatu dengan saya?” Yingtai melihat Shanbo bukan saja tidak mengerti isi hatinya tetapi malah menjadi marah. Terpaksa Yingtai minta maaf dan berkata,”Kak Liang jangan marah, adik hanya ingin menjodohkan kakak.” Shanbo segera bertanya,”gadis manakah yang ingin adik jodohkan dengan saya?” “Ia adalah adik perempuan saya.” Yingtai memberitahukan Shanbo bahwa adik perempuannya mirip dengannya, juga sangat pintar. Setelah Shanbo mendengarnya ia sangat gembira, langsung menyetujuinya. Ketika berpisah, Yingtai berkali-kali menyuruh Shanbo segera melamar ke rumahnya.

Setelah Yingtai pergi, Shanbo sangat kesepian, ia setiap hari merindukan Yingtai. Pada hari itu, ia pergi mencari gurunya untuk minta izin karena akan pergi menjenguk Yingtai. Ibu guru memberikannya sebuah bandulan kipas dan berkata, “Ini adalah barang yang dititipkan Yingtai pada saya, sekarang saya serahkan padamu.” Shanbo bertanya,”Kenapa diberikan pada saya? Yingtai akan menikahi siapa?” Ibu guru tersenyum,”Yingtai adalah seorang gadis, adik perempuannya itu adalah dirinya sendiri, bodoh!” Setelah mendengarnya Shanbo tertegun beberapa saat. Ia mengingat situasi ketika mengantar Yingtai pergi, barulah ia menyadari maksud hati Yingtai. Dia sangat gembira, lalu segera membereskan barang-barangnya, setelah berpamitan dengan pak guru dan ibu guru, ia membawa Shutongnya segera pergi ke desa Zhu.

Bersambung ke part 4

By Richard; https://aldisurjana.wordpress.com/

 

Werbeanzeigen

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s