Puisi Klasik Seputar Kisah Sin Tiauw Hiap Lu

 

mandarin duck

Maklumlah kalau pembaca sangat terkesan dengan puisi „Sepasang Belibis“- nya Yuan Haowen. Memang puisi inilah yang mengilhami Jin Yong menciptakan „tokoh“ dan kisah tragedi sepasang rajawali di kisah Sin Tiauw Hiap Lu. Di situ dikisahkan sang rajawali yang ditinggal mati pasangannya ikut bunuh diri masuk jurang.

Sebenarnya dalam STHL ini banyak bertaburan puisi2 klasik dalam bentuk syair, terutama syair cinta, seolah mengukuhkan warna utama STHL yang memang merupakan Legenda Cinta, berlainan dengan Sia Tiauw Enghiong yang merupakan epos sejarah.

Ini dua buah syair yang mewarnai ikut mewarnai perjalanan Yoko (Yang Guo) dan Siao Liong Li (Xiao Longnu) dalam STHL.

———————————————-

CATATAN MIMPI
Su Shi (1036-1101; Song)

Sepuluh tahun antara hidup mati hampa meremang,
meski tiada mengingat, tak mudah melupakan.
Ribuan li pusara sunyi,
tiada tempat mencurahkan pilu.
Walau saling bersua pasti tak akan dikenali:
wajah dipenuhi debu, cambang seputih salju.
Semalam tiba-tiba bermimpi pulang ke rumah,
di samping jendela kecil, sedang berias wajah.
Saling menatap tanpa kata,
hanya ribuan baris air-mata.
Mudah diduga tempat meradang tahun ke tahun:
di malam bulan purnama, di bukit kecil pohon cemara.


———————————————-

ODE SEPASANG BELIBIS
Yuan Haowen (1190-1257; Yuan)

Semesta ku bertanya,
apakah gerangan cinta
yang terus menyuruh berjanji sehidup semati?
Sejoli kelana melintasi langit selatan bumi utara,
panas dingin berulang menerpa sayap yang renta.
Suka dalam cengkerama,
duka dalam perpisahan,
ternyata ada putra putri yang begitu kerasukan!
Lantas engkau pun mengadu,
ribuan kilo mega tiada bertepi,
ribuan bukit salju di petang hari,
kepada siapakah bayang tunggal menuju?
Jalanan Fen melintang,
tambur seruling tahun itu berubah hampa,
Bumi Chu senantiasa diratai kabut belantara.
Apa gunanya arwah Chu berusaha diundang,
hantu gunung pun ikut meratapi badai hujan.
Langit pun cemburu,
belum juga percaya,
bukankah kenari dan seriti telah menjadi tanah!
Seribu tahun sepanjang masa,
menanti para penyair yang resah,
yang mereguk tuntas bernyanyi lepas,
datang berkunjung ke tempat belibis dikubur..

12 June, 2012
Written by Zhou Fuyuan
Sin Tiauw Hiap Lu (Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali; The Return of the Condor Heroes)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s