Thio Bu Kie

 

aldisurjana_to_liong_to_zhao_min_zhang_wuji_1

Ini ceritanya ketika cersil „Golok Pembunuh Naga“ (To Liong To) tamat, Thio Bu Ki belakangan menikah dengan nona Tio Beng, tapi sayang pernikahannya pun tidak berjalan mulus, masih dipenuhi bayang-bayang mantan kekasihnya si cantik Ciu Cie Jiak.

Ketika Bu Kie (Wuji) pada suatu malam pulang kerumah, istrinya Tio Beng (Zhao Min) sudah menunggunya dengan makanan. Bu Kie meraih tangan istrinya dan berkata, ia harus berbicara dengannya. Tio Beng tidak mengatakan apa-apa. Bu Kie berkata, bahwa ia mau bercerai darinya dan kembali tidak ada jawaban. Lalu Tio Beng bertanya: „Mengapa“. Tapi Bu Kie tidak bisa memberikan jawaban.

Pada malam ini mereka tidak berbicara lagi satu sama lain. Bu Kie merasa kasihan pada Tio Beng, tapi Bu Kie tidak mencintainya lagi. Hatinya sekarang milik Cie Jiak (Zhiruo). Bu Kie menyiapkan surat cerai, tapi Tio Beng merobek surat itu dan menangis dengan sedih. Tangisannya sangat menyakitkan hati, tapi Bu Kie juga merasa lega, bahwa akhirnya ia sudah mengatakan.

Tio Beng bertanya pada keesokan harinya, apakah mereka bisa satu bulan lagi hidup bersama dengan normal. Demi anak lelakinya, yang sedang menghadapi ujian sekolah. Tio Beng juga menginginkan, bahwa Bu Kie dalam bulan ini setiap pagi menggendongnya keluar dari rumah. Sama seperti pada hari pernikahan mereka dulu. Bu Kie menyetujuinya.

Pada hari pertama terasa aneh. Sejak pertengkaran, mereka tidak pernah bersentuhan. Tapi dari hari ke hari menjadi lebih mudah dan Bu Kie merasa, perlahan-lahan perasaan di antara mereka kembali. Untuk anak lelaki nya tentu itu puncaknya, melihat bagaimana Papa menggendong Mama melalui ambang pintu.

Suatu pagi Bu Kie melihat, bahwa Tio Beng telah menjadi sangat kurus. Tak ada satupun pakaiannya yang masih pas. Tiba-tiba Bu Kie menyadari, betapa buruk keadaan Tio Beng, penderitaan yang menyiksanya. Apa yang telah ia perbuat padanya!? Tio Beng telah menghadiahkan 10 tahun kehidupannya pada Bu Kie dan Bu Kie telah melupakan untuk menyintainya.

Pada hari terakhir Bu Kie membuat keputusan. Bu Kie pergi mendatangi Cie Jiak dan mengatakan padanya, bahwa Bu Kie tidak jadi bercerai. Dia sangat marah, memberi Bu Kie sebuah tamparan dan menangis.

Pada malam itu Bu Kie pulang kerumah. Dengan senyum di bibir dan seikat bunga untuk Tio Beng. Sebuah kartu terlampir, yang telah ditulisnya: „Aku akan menggendongmu melewati ambang pintu sampai maut memisahkan kita.“ Bu Kie berlari menaiki tangga rumah dan mendapatkan Tio Beng berbaring di tempat tidur – mati.

Tio Beng selama berbulan-bulan berjuang melawan kanker dan Bu Kie tidak mengetahuinya, karena Bu Kie telah begitu sibuk dengan Cie Jiak. Tio Beng tidak menginginkan, bahwa anak lelakinya menjadi marah pada Bu Kie, karena Bu Kie menginginkan perceraian. Di mata anaknya Bu Kie adalah seorang suami yang penuh kasih.

Oleh: aldithe

Terinspirasi oleh syair „Ich werde dich über die Schwelle tragen …“

https://aldisurjana.wordpress.com/2019/05/22/thio-bu-kie-minta-cerai/

 

Werbeanzeigen

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s