Jalan Menuju Awan Putih

 

Aldi_Surjana_Jalan_Menuju_Awan_Putih_Rulin_Waishi-RulinWaishi-rimba_cendekia_The_Sholars_Wu_Jing_Si_Dinasti_Qing

Dalam kehidupan kau sering berdiri di persimpangan jalan, para menteri, jenderal, orang suci semua memiliki nasib yang sama. Ribuan generasi datang dan pergi bagaikan siang dan malam; kehormatan, ketenaran, kekayaan dan pangkat tidak bisa dibangun. Kau menyia-nyiakan kekuatan hidupmu, dan waktu berlalu dengan cepat. Tiga cawan arak keras – dan kau sudah mabuk. Air mengalir tanpa henti, bunga layu… ke manakah mereka pergi?

Bait-bait diatas membicarakan kebijakan kuno. Bait-bait itu tidak ingin mengatakan yang lain, selain bahwa kehormatan, ketenaran, kekayaan dan pangkat pada dasarnya tidak ada artinya. Namun, manusia hanya perlu menyadari adanya kemuliaan dan kehormatan, lalu mereka akan memburunya dengan pertaruhan nyawa. Tetapi setelah mereka mencapai tujuannya, maka kemuliaan dan kehormatan terasa tidak lebih baik, daripada seandainya jika mereka mengunyah lilin. Namun betapa sedikitnya hingga kini yang dapat mengenalinya!

Terjemahan syair „Jalan Menuju Awan Putih“, oleh Aldi Surjana
Dari Novel Rulin Waishi- The Sholars – Wu Jing-Si (1750 – Dinasti Qing)

Baca: https://aldisurjana.wordpress.com/category/rulin-waishi/

Werbeanzeigen

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s