Ilmu Silatnya Satu Tukang Aer

aldisurjana_cersil_aldithe_cerita_silat_mandarin

Lie Su tida katauan dari mana asalnya, penduduk Tho-hoa-cun yang terletak di pegunungan dekat Kongciu dari provincie Kangsay kenal Lie Su sabagi satu tukang pikul aer yang bertenaga kuat, dan dari iapunya lagu bicara bisa diduga ia itu berasal kalahiran sabelah utara.

Tabeatnya pendiam dan tawar terhadep kabesaran atawa kasenangan dunia. Ia punya tahang aer dua kali lebih besar dari laen orang; aken tetapi ia minta bayaran yang sama. Paling aneh ia tida mau pikul aer malebihkan dari uwang upahan yang ia rasa suda cukup guna ia punya kaperluan hidup. Apabila ia suda brenti mengaso – satelah ia dapetken upahan yang ia menyukupken iapunya kaperluan hidup, biar pun orang mau kasi upahan satu tail perak buat iapunya satu pikul aer, ia golengken kapala dan tida mengambil open. Lama-lama lantaran orang suda tau tabeatnya begitu, tida ada lagi orang yang memaksa padanya dengen perjanjian uwang upahan tinggi.

Oleh kerna Lie Su tida temaha uwang, pengidupannya pun saderhana. Ia bikin satu gubuk dari alang-alang tercampur lumpur, di mana ia tinggal sendirian, masak nasi sendiri dan menyuci pakean pun tida diupahken pada laen orang. Di waktu pagi dan masi gelap, ia sudah bangun dan pergi ka dalem rimba yang berdekatan dan pada waktu terang tanah baru ia bertindak kaluar dari itu utan kecil, balik ka rumahnya kamudian pikul iapunya tahang aer dan melakuken pakerja’annya di dalem itu desa Tho-hoa-cun, di mana ada mempunyai penduduk kurang lebih lima ratus jiwa.

Penduduk di situ umumnya menuntut pengidupan tani, rata-rata cuma bebrapa antaranya ada lebih mampu, kerna mempunyai banyak sawah dan kebon yang ditanemin puhun tho. Itu kebon-kebon puhun tho terpencar sana-sini, hingga pada saban musim semi ampir disakiternya itu kampung penuh dengen bungah-bungah tho, dan inilah juga sebabnya itu desa mendapet nama Tho-hoa-cun atawa kampung bungah Tho.

Di antara penduduk itu desa yang paling mampu, teritung Kwan Siauw cay, saorang yang telah berumur kira-kira limapuluh ampat taon. Ia tida mempunyai ibu dan ayah, kerna suda lama meninggal dunia. Ia cuma hidup berdua sama istrinya, Lim-sie, biar pun suda berumur satengah abad lebih, istrinya tida bisa melahirken anak, hingga Kwan Siauw cay punya anggota kulawarga ada begitu kecil dan sedari lama iaorang meliwatken pengidupan dalem kasunyian. Tapi ini tida menjadi kaberatan aken marika terus berhubungan dengen rapet. Sifat saling-menghargai antara ini dua orang membikin marika teriket dengen tali persobatan kekel. Kwan Siauw cay selalu mengambil perhatian atas dirinya itu tukang aer pada siapa ia merasa suka, dan maka itu kadang-kadang ia suka menampak bahua Lie Su yang pendiam tindakannya gesit. Matanya selalu awas siap-sedia, saolah-olah ia merasa, bahua sembarang waktu bahaya ada mengancem atas dirinya.

Suda brapa kali Kwan Siauw cay coba cari tau, tapi sia-sia. Lie Su, si tukang aer, hanya mesem saja, mulutnya tetep bungkem.

Tida lama kemudian Lie Su nyataken ingin membikin gubuk, dan Kwan Siauw cay lantes nyataken bersedia buat pinjemken sedikit uwang guna beli barang bahan.

Mulai dari itu waktu, Lie Su tinggal di iapunya gubuk sendiri dan melakuken iapunya pakerja’an lebih rajin dari biasanya; aken tetapi ia tetep menuntut pengidupan saderhana dan dengen tentu ia menyicil utangnya pada Kwan Siauw cay, biar pun ia ini bermula menolak, cuma dari sebab Lie Su memaksa, terpaksa tuan uwang musti trima juga.

Satelah bebrapa lamanya Lie Su tinggal dalem iapunya gubuk sendiri, lalu ia mulai itu kabiasahan diri, lalu ia mulai itu kabiasahan, bangun pada saban pagi masi gelap dan pergi ka dalem itu rimba kecil, hal mana lama-lama menarik perhatian sala-satu tetangganya, tersurung oleh pengrasahan yang ingin tau, itu tetangga bangun dari tempat tidurnya lebih pagi dari Lie Su, kamudian ia pergi mengumpet di jalanan peranti masuk ka dalem rimba itu.

Blakangan Lie Su bertindak masuk ka dalem itu rimba kecil, kamudian ia mendeketin satu lapangan kecil yang tanahnya rata dan tida tumbu pepuhunan. Di situ ia melepasken bajunya yang ditaro di atasnya satu cabang puhun, kamudian ia bikin pergerakan aneh, bermula pelahan semingkin lama jadi semingkin cepet, lalu kadengeran suara angin yang terpukul dengen keras, sebagi juga suwaranya titiran yang terputer dengen cepet dan memukul angin dengen mengaluarken suwara u! u! uu! Kalu di jeman sekarang ada mirip dengen suwaranya propeller yang terputer. Bebrapa banyak batu besar yang kena kelanggar kakinya lantes melayang ka atas udara, malah satu antaranya ampir menimpa kapalanya itu tetangga yang mengintip; sedeng satu tangkal puhun yang sabesarnya paha, kutika kalanggar gerakan tangannya lantes jato rubu dengen tercabut sama-sama akarnya.

The Wie Han, itu tetangga yang mengintip, satu pa tani yang berumur kira-kira tiga-pulu tahon, menyaksiken itu semua kejadian dengen letletken matanya buat mendapet kepastian apatah ia bukan lagi mengimpi.

Pelahan-pelahan langit mulai remeng-remeng terang, Lie Su lalu brentiken iapunya pergerakan, ambil bajunya dari itu cabang puhun, pada sasudanya ia berdiri diam dengen tegak dan menarik napas panjang tiga kali, menarik napas dari hidung sampe dadanya melembung, kamudian kaluwarken dari mulut sampe perutnya kaliatan kempes.

Satelah berbuat begitu, lalu ia pake bajunya dan mau berlalu. The Wie Han dengen cepet kaluar dari tempat sembunyinya, menyamperin pada itu tukang aer dan kamudian berlutut di hadepannya. Lie Su buru-buru mengangkat bangun pada The Wie Han, satelah memandang mukanya, sabentaran lalu menanya:

“The Toako, pagi-pagi kau sudah dateng ka sini; sekarang kau jalanken itu kahormatan yang aku tida sanggup trima, sabetulnya ada urusan apa? Kau boleh ceritaken saja dengen jelas dan tida perlu memake begitu banyak kahormatan.”

“Aku berlutut di hadepan suhu dengen maksud ingin menjadi kau punya murid,” saut Wie Han dengen suwara sunggu-sunggu. “Harep saja suhu jangan menolak.”

“Kau hendak berguru pada’ku dalem pelajaran apa?” menyanya Lie Siu. “Aku tida mempunyai pelajaran apa-apa yang bisa diajarken pada’mu.”

“Pelajaran ilmu silat.”

“Apa duluan kau suda perna meyakinken ilmu silat?”

“Suda, tapi cuma sedikit saja.”

“coba kau pertunjuken ilmu silat yang kau paham.”

Satelah dipaksa Wie Han baru mau pertunjukin ilmu silatnya yang duluan ia telah dapet pelajarken dari guru silat kampungan, Lie Su golengken kapala berulang-ulang.

“Kau suda sala jalan hingga jika kau belajar pada’ku, kau harus buwang sama sekali apa yang dulu kau suda dapet pelajarken,” kata ia. “Ini memakan banyak sekali tempo, kerna kau musti buwang semua kabiasa’an yang dulu. cuma ini masi kurang penting, prihal yang paling perlu, aku ingin tau apa yang menjadi kau punya tujuan mempelajarken ilmu silat.”

“Aku mau gunaken buat menjaga diri dan kaselametannya rumah tangga,” saut Wie Han. “Kalu bisa, aku ingin membela kabeneran dan keadilan di mana ada perlunya.”

“Aken tetapi perkara membela kabeneran dan keadilan, tida terlalu gampang dijalanken, dan juga bukan tida ada bahayanya buat diri sendiri.”

“Kalu saja aku suda pikir mateng, apa yang harus dilakuken, biar pun diri sendiri harus menanggung segala akibatnya, dengen ridla hati aku aken lakuken.

”Lie Su manggut-manggutken kapalanya sambil memandang mukanya Wie Han dengen sorot mata tajem.

“Buat sekarang aku masi belon bisa kasi jawaban pasti,” kata ia akhirnya. “Tiga hari kamudian teritung mulai ini hari, kau boleh dateng lagi ke sini di waktu gelap-gelap. Itu waktu kau bisa denger aku punya putusan.”

The Wie Han berlutut kombali buat haturken trima kasi, kamudian iaorang berpisahan.

Mulai dari itu hari Lie Su diam-diam serepin keadahannya The Wie Han. Ternyata ia bekerja sebagi penyewahnya Ong Kim chiu, penduduk Tho-hoa-cun hartawan yang ampir berimbang kekayahannya dengen Kwan Siauw cay; di rumahnya cuma mempunyai satu ibu janda dan tida mempunyai anak istri. Ia berlaku sanget berbakti terhadep ibunya yang suda tua, cuma ia tida mau menikah dan rawatin ibunya dengen sunggu-sunggu, hingga sang ibu tida merasa tida mempunyai mantu prampuan atawa anak prampuan. Lie Su ambil putusan trima The Wie Han menjadi muridnya dengen tiga perjanjian, kasatu tida boleh menjabat pakerja’an negri, kadua tida boleh jadi perampok, dan katiga harus membantu yang lemah dan menindes perbuatan jahat.

Oleh kerna ini urusan dipegang resia dan Lie Sie mengajar Wie Han dalem gubuknya sendiri di waktu malem, maka tida satu orang yang tau Lie Su ada pande ilmu silat dan Wie Han ada muridnya.

Kira-kira suda berjalan lima taon lamanya, The Wie Han pun suda dapet yakinken delapan bagian ilmu kapandeannya Lie Su. Bukan saja orang tida tau Lie Su ada satu jempolan dalem ilmu silat, malah orang tidak mendusin bahua The Wie Han suda maju jau dalem ilmu silatnya. Orang cuma tau saja duluan Wie Han suda perna belajar ilmu silat sakutika lamanya; tapi dari sebab ia tida suka banggaken kapandeannya dan selamanya berlaku sabar serta mengala, maka orang banyak tida menaro perhatian terhadap dirinya.

Samentara Lie Su punya persobatan dengen Kwan Siauw cay jadi semingkin rapet. Itu utang tigapulu tail perak suda lama Lie Su bayar lunas. Kwan Siauw cay semingkin hargaken sifat dan tabeatnya Lie Su, biar pun di tengah jalanan yang banyak orang, ia senantiasa berlaku hormat pada Lie Su, yang tida lebih dari satu tukang aer. Bermula banyak orang merasa heran atas itu kalakuan luar biasa; aken tetapi lama-lama orang jadi biasa dan malahan pengaruhi orang banyak punya pikiran. Tida ada suatu penduduk kampung, yang brani berlaku sembarangan terhadep Lie Su, hingga orang-orang hartawan atawa berpangkat pun sungkan perlakuken Lie Su sebagi tukang aer biasa. Sebaliknya Lie Su selamanya merendah dan berlaku hormat pada siapa juga, hingga orang banyak punya penghargahan atas dirinya jadi bertambah. Di laen fihak Lie Su tetep jual tenaga memikul aer buat pengidupannya.

Pada suatu pagi The Wie Han dateng ka gubuknya Lie Su dengen paras muka berduka.

“Wie Hiantee, ini pagi kaliatannya kau berduka,” kata sang guru; “ada terjadi urusan apakah?”

“Kemaren sore majikan’ku pesen aku dateng ka rumahnya buat suatu urusan,” manerangken sang murid, “dan barusan aku dateng ka sana ternyata keada’an sanget ribut dan kalut, di lataran depan pintu ada berduduk ampat atawa lima bujang sambil merintih dan mengurut-ngurut kaki dan tangannya yang pada bengkak dan ada juga yang berdarah. Dengen mengandang di depan pintu ada duduk bersila satu hweeshio tinggi besar ambil merangkepken kadua tangannya di depan dada; sedeng dihadepannya ada terletak satu mangkok kuningan besar, di dalem mana ada terdapet satu renceng uwang tembaga bolong dari saribu kepeng. Itu hweeshio tinggi besar duduk bersila dengen meremken kadua matanya.

“Buat mengetahui duduknya perkara, lalu aku mencari katerangan pada satu bujang laen yang tida luka tapi berdiri jau-jau dari itu hweeshio. Ternyata itu hweeshio asing, yang tida katauan dari mana asalnya, dateng minta derma, bermula ia taro itu mangkok kuningan besar di tengah-tengah pintu, kamudian ia sendiri duduk bersila sambil merangkepken kadua tangan dan meremken kadua matanya; tapi ia tida ucapken barang satu pata perkata’an yang menyataken maksud kainginannya. Penjaga pintu suru itu orang pertapahan menyingkir ka pinggir, jangan mengandang di tengah pintu; tapi tida digubris. Blakangan lantaran putus akal, lalu ia masuk ka dalem buat kasi kabar pada majikan, berbareng dengen itu ia coba kutik sama kakinya itu mangkok kuningan besar, ternyata bergeming pun tida. Ia taksir beratnya tentu ratusan kati, saorang yang bisa membawa barang begitu berat tentu tida boleh dibuat permaenan.

“Satelah ia masuk kasi tau pada majikan, siapa lantes prentahkan kasi uwang saribu tangchie pada itu hweeshio dengen baek dan bujukin supaya ia lekas berlalu; aken tetapi sekali pun itu saribu tangchie suda ditaro dalem itu mangkok kuningan besar, itu hweeshio cuma melekin sedikit matanya dan terus duduk bersila, tida mau berkiser barang sedikit dari tempat duduknya. Lantaran bujukan tida diladenin, tukang jaga pintu jadi jengkel dan memaki, kamudian tendang juga bebokongnya itu orang pertapahan; tapi sasa’at itu juga ia jadi terpental dan rasaken ujung kakinya begitu sakit sebagi juga menendang batu atawa besi. Kerna mendenger suara ribut-ribut bebrapa bujang dateng menyamperin meliat tukang jaga pintu duduk di atas tanah sambil mengurut-ngurut kakinya, sedeng itu hweeshio terus duduk bersila dengen tida pikir lagi lantes pukulin dan tendangin itu hweeshio. Kasudahannya satu rupa saja, kaki tangan yang digunaken buat menendang dan memukul semuanya luka sebagi melanggar barang keras, dan iaorang terlempar sampe bebrapa kaki jaunya.

“Aku pikir itu hweeshio tentu ada mempunyai ngekang dan laykang yang tinggi, hingga tida boleh berlaku sembarangan. Dengen sabar aku tanya padanya, mengapa tida mau berlalu sekali pun suda dikasi derma saribu tangchie. Itu hweeshio jawab, ia tida nanti berlalu pada sabelonnya dikasi uwang saratus tail perak. Aku tau bila tida dikasi unjuk kapandean lihay, omong kosong saja terhadap itu kapala gundul, tida ada gunanya. Lalu aku mendekatin itu mangkok kuningan besar buat bisa taksir brapa beratnya. Menurut dugahanku mangkoknya saja tida kurang dari tiga ratus kati, biar pun aku okulan angkat dengen sabelah tangan aken tetapi itu hweeshio bisa bawa-bawa di sapanjang jalan buat minta derma, aku merasa kapandeannya cuma suhu saja yang bisa kalahken. Begitulah dengen sacepetnya aku dateng ka sini buat mengasi kabar pada suhu.”

“Tubunya itu hweeshio kau bilang tinggi besar?” menegesken Lie Su.

“ya, betul begitu. Aku rasa tentu tenaganya pun besar sekali.”

“Apakah kau liat teges paras mukanya: matanya yang sabelah kiri jereng dan jidatnya yang sabelah kanan ada tanda keriputan bekas luka?”

“Apa suhu perna meliat atawa kenal padanya?” berseruh Wie Han dengen heran. “Apa yang suhu barusan lukisken cocok bener sama keada’annya itu hweeshio.”

“Wah, betul ianya!” kata Lie Su sebagi bicara pada diri sendiri.“Ianya siapa? Siapakah yang suhu maksudken?” menegesken Wie Han.

Lie Su tida lantes menyaut. Matanya lantes bercahya, sementara parasnya seperti orang berpikir. akhirnya Lie Su menerangken:

“Itu hweeshio tinggi besar dulunya aku kenal dengen bernama Kam ji Houw, dan ada satu begal yang suka merampok sendirian di bilangan Shoatang. Begal yang brani melakuken perampokan sendirian saja, tentu ilmu kapandeannya sanget tinggi, itulah sudah pasti. Kira-kira dua-pulu taun berselang, aku melakuken pakerja’an popio di bilangan Kanglam, Ouwlam, Ouwpak dan laen-laen provincie Selatan dan Tengah, biar pun aku berasal kelahiran dari Holam, yang termasuk bilangan utara. Satu kali aku melindungin satu pio yang terdiri dari mas dan perak, yang musti dibawa ka ceelam, ibu-kota provincie Shoatang, hingga buat pertama kali aku melakuken pakerja’an di bilangan utara.

“Namanya Kam ji Houw sebagi begal yang melakuken perampokan sendirian, aku sudah lama denger, maka satelah masuk dalem bilangan provincie Shoatang, aku berlaku terlebih hati-hati. Satu hari kutika aku mengiringken grobak-grobak pio meliwatin satu tegalan kosong, mendadak dari sabelah blakang kadengeran suara krincingannya kuda yang dilariken dengen kenceng. Tatkala aku balikin badan dan meliat, ternyata dari ka jauan kaliatan debu naek ka atas udara dan satu kuda bulu putih mendatengin seperti terbang. Aku duga pasti penunggang itu kuda bukan laen dari Kam ji Houw, maka aku lantes bersedia buat hadepken segala perkara heibat.

“Hei, bangsa cecere, kau tida kenal namanya Kam ji-ya?!” berseruh itu penunggang kuda kutika sudah dateng deket dan tahan tali lesnya. “Kalu saja kau masih ingin idup, lekas tinggalken itu grobak-grobak pio yang kau iringken.”

“Aku senang sekali tinggalken ini grobak-grobak pio, asal saja ini golok di tanganku sudah terlepas………………” Pada sebelonnya aku sempet lanjutken pembicara’anku, satu batu hui-hong-cio melayang menyamber ka jurusan gelang-gelangan tanganku yang menyekel golok, dengan cepet aku sampok sama golokku. cuma saja batu yang kadua, katiga dan ka-ampat, dengen beruntun menyamber ka jurusan muka, tenggorokan dan ulu-ati, yang kadua aku sampok lagi dengen golok ka jurusan batu yang katiga hingga beradu di tengah jalan dan ancur lebur; tapi yang ka-ampat aku sengaja tangkep dengen gigi, kemudian aku semburken dengen pake khikang ka jurusan kapalanya Kam ji Houw. Rupanya ini cara sama sekali di luar dugaannya hingga ia jadi kamekmek, bukan saja tida mendapet kutika buat menimpuk lagi, malah ia sendiri terancem bahaya maut, bila ia tida lekas berdaya buat kelit itu batu yang menyamber kepalanya.“Sebisa-bisanya ia coba mengegos buat kasi liwat itu batu; aken tetapi ternyata jalannya sanget pesat dan santer, hingga tida urung melukain juga iapunya jidat kanan. Beruntung bagi ia, lantaran nyamping hingga melejit dengen membikin luka panjang, dan bukannya terbenam dalem iapunya otak. Ia balikin tunggangannya dan menoleh padaku sambil berkata: “Lantaran kurang hati-hati Kam ji Houw sudah musti jato di tangannya satu bu-beng-siauw-cut! Apa kau brani kasi tau kau punya nama dan tempat tinggal?”

“Itulah perkara kecil sekali,” sautku. “Lagian aku punya nama dan tempat tinggal sama sekali tida ada pentingnya. cuma dari sebab kau ingin tau dan supaya bisa bikin pembalesan, namaku Lie Eng Gie dan berasal kalahiran Khay-hong-hu, dan sekarang aku tinggal di Thay-ji-chung dalem bilangan cie-ciu. Kau boleh cari padaku di sana bila ingin bikin pembalesan.“

Itu begal lantes awasken padaku dengen paras penuh kabencian, sembari mengancem: “Awas! Kau sudah bikin malu Kam ji Houw, buat ini kau nanti binasa. Aku aken cari kau dalem tempo sapulu taun, buat bikin pembalesan!” Sigra ia mabur, lariken kudanya.

Aku tunggu dua belas taon lamanya di tempat kadiamanku dengen percuma saja. Blakangan rumahku abis terbakar bersama seantero harta bendaku, hingga aku terpaksa musti menumpang di rumahnya sobat kenalan. Tida lama terjangkit bahaya paceklik heibat hingga sebagian besar penduduk Thay-jie-chung musti mengumbara ka laen tempat, dan akhirnya tinggal tetep di sini dengen melakuken pakerja’an pikul aer, guna sembunyiken nama; aken tetapi dalem hati terus menjaga Kam ji Houw yang mau membales sakit hati, kerna aku percaya pada suatu hari tentu ia aken muncul, yalah pada sasudahnya meyakinken ilmu tinggi dan lihay buat menjatoken padaku. Itu hweeshio tinggi besar yang kau ceritaken, ada banyak mirip dengen Kam ji Houw yang matanya jereng dan itu tanda luka di jidat kanan, bekas kalanggar hui-hong-cio yang aku tangkep dengen gigi dan sembur kombali dengen gunaken khikang.”

“Abis sekarang suhu mau berbuat bagimana terhadep itu hweeshio yang minta derma dengen paksa?” menanya Wie Han.

“Sekarang selekasnya kau balik lagi ka sana,” kata Lie Su, “aken tetapi jangan mendeketin pada itu hweeshio, sebab duluan iapunya ilmu kapandean kira-kira berimbang dengen kau punya kepandean sekarang. Ini waktu ia dateng ka sini tentu ia sudah denger kabar aku berada di ini tempat dan sengaja berbuat begitu buat pancing aku kaluar. Ia mempunyai peritungan terhadep aku, maka cuma aku sendiri saja yang harus berurusan dengan ianya.”

The Wie Han menurut prentahnya sang guru dan berlaku. Lie Su masuk ka dalem kamarnya dan membuka satu peti kayu, dari mana ia ambil kaluar satu prangkat Ho-sim-khia – pakean dari logam buat melindungin bagian dada, yang ia lantes pake di bagian dalemnya iapunya pakean biasa. akhirnya ia ambil satu kotak bunder dari bambu tali yang isinya berat, dan masukin itu ka dalem saku bajunya. Satelah ia kaluar dari gubuknya dan kunci pintu, lalu ia menuju ka jurusan rumahnya Ong Kim chiu.

Tatkala Lie Su sampe di depan rumah yang dituju, ternyata sudah berkrumun banyak orang yang ingin tau, hingga itu hweeshio yang duduk bersila di depan pintu jadi kealingan oleh marika itu. justru pada waktu ia lagi mundur maju, lantes dateng The Wie Han yang bawa ia masuk ka rumahnya iapunya majikan dari suatu pintu samping, yang biasa dipake kaluar masuk oleh kaum bujang.

Tuan rumah, Ong Kim Ciu, justru lagi sanget kesel dan bingung, tapi tida urung ia unjuk pengrasa’an heran kutika meliat bujangnya dateng bersama Lie Su, iapunya langganan tukang pikul aer. Dengen ringkes Wie Han kasi tau iapunya maksud kedatengan bersama gurunya dan mengapa ambil jalan dari pintu samping, perlunya supaya bisa meliat teges pada itu hweeshio yang duduk bersila mengadepin pintu. Maka ia minta supaya sang majikan suka mengijinken ia anterken gurunya jalan masuk dan meliwatin pertengahan dalem. Dengen girang Ong Kim chiu lantes melulusken perminta’an itu.

Kutika Lie Su dianterken sampe di pertengahan dalem, lalu ia mengintip dari blakangnya satu pedengan angin. Ia menampak di tengah-tengah pintu depan ada duduk bersila satu hweeshio tinggi besar dengen meremkan kadua matanya, hingga tidak bisa katauan apa jereng atawa tida, cuma di atas jidat sabelah kanan ada tanda bekas luka panjang. Biar pun kapalanya gundul, toch ia bisa kenalin itu hweeshio bukan laen dari Kam ji Houw, cuma romannya sudah lebih tua dari pada waktu ia katemuken di Shoatang duapulu taon berselang.

Lie Su lalu bertindak kaluar dari tempat mengintip, kemudian lompat melayang di atasan kepalanya itu hweeshio.

“Sekarang Lie Eng Gie dateng bikin peritungan sama kau!” berseruh ia.

Ternyata itu hweeshio, cuma pura-pura meremken matanya. Ia liat saorang bertindak kaluar dari blakangnya pedengan angin, kemudian seperti kilat ia berlompat melayang atasan kapalanya. Rupanya ia kuatir musuhnya menendang kapalanya, dengen cepet ia mengegos ka samping dan berbareng dengen itu ia sodorken tangan kanannya mau menyekel Lie Su punya kaki. Tapi Lie Su sudahmenjaga dengen angkat kadua kakinya lebih tinggi; cuma saja ujung sepatunya kena juga tercekel hingga menjadi putus sebagi terkena piso tajem. Kutika sudah berdiri lagi di muka bumi, Lie Su minta semua orang berlalu dan minggir ka tempat sedikit jau, kerna pertempuran heibat sigra aken menyusul, apa bila iaorang berdiri deket niscaya bisa kalanggar senjata nyasar. Semua orang sekali pun menyingkir pergi; aken tetapi berkumpul tida terlalu jau, supaya bisa menyaksiken itu pertempuran rameh.

Itu hweeshio atawa Kam ji Houw, yang sekarang sebut dirinya Kay In Hweeshio, sudah berbangkit dari silanya dan menyamperin pada Lie Su. Tatkala sudah dateng deket, lalu ia merangkepken kadua tangan di inggan dada sambil membongkok dan berkata: “Eng Siecu, kita punya permusuhan pada dulu hari harus dibikin abis, dan sekarang pinceng dateng ka sini buat haturken ma’af dan trimalah hormatku ini.”

Berkata sampe di sini ia angkat badannya yang dibongkokin sambil angsurken tangan kanannya ka jurusan dadanya Lie Su, biar pun ia terus berhati-hati tida urung itu hweeshio bisa dapet cekel iapunya baju di bagian dada. Oleh kerna Lie Su loncat mundur, kombali dada baju yang tercekel jadi putus seperti terpotong oleh piso tajem memotong kuwee. Lie Su tida menjadi bingung, ia tau bahaya dan kepandean tinggi dari ini hweeshio, maka itu ia selalu jaga, supaya tida bertempur rapet. Dan merasa bahua ini lawanan tida boleh dibuat permaenan, maka dalem sa’at itu juga, dari mulutnya Lie Su menyembur kaluar kira-kira setengah losin barang bunder warna putih mengkilap, menyamber ka jurusan kadua matanya itu hweeshio, yang lantes mengeluarken treakan keras dan jato ka muka bumi dengen berlumuran darah dari kadua matanya. Tapi blakangan ternyata itu barang bunder, putih dan mengkilap, yang disemburken dari mulutnya Lie Su, cuma dua antaranya yang menembusken kadua matanya Kay In Hweeshio, sedeng yang laen-laennya terpental kombali dan jato ka atas tanah.

Ong Kim chiu kaluar dari rumahnya, undang Lie Su masuk berduduk di dalem.

“Nanti dulu, ini hweeshio jahat musti dipasrahken dulu pada pembesar negri supaya dihukum sebagimana mustinya,” kata Lie Su. “cuma iapunya ilmu kepandean houw-jiauw-kang ada sanget lihay, biar pun sekarang ia suda jadi buta, orang kudu terus berhat-hati: jangan kata tubu manusia, sekali pun besi, satu kali kena tercekel oleh tangannya, tentu aken ancur remuk. Maka lebih dulu aku mau bikin puna ilmu kepandeannya itu.”

Ia ucapken perkata’an paling blakang dengen suara pelahan, kemudian ia gerakin tangan minta supaya Ong Kim chiu minggir jauan, kemudian dengen tindakan enteng seperti kucing, ia mendeketin blakangnya Kay In Hweeshio, siapa biarpun tadinya jato reba ka atas bumi, sekarang sudah duduk bersila lagi sambil pasang kuping terus. cuma dari sebab Lie Su punya ilmu mengentengken badan ada begitu sempurna, iapunya tindakan tida dapet didenger oleh itu kapala gundul. Sesampenya di blakangnya itu orang pertapa’an, Lie Su lantes tusukin dua jerijinya ka jurusan urat pundaknya ia itu, dalem sa’at itu juga, Kay In berbangkit lagi buat berduduk. Lie Su gunaken ini kasempetan dateng mendeketin lagi dan tusuk kombali urat pundak kirinya itu orang pertapa’an. Lagi satu kali Kay In menggerung dan rubu ka muka bumi, di mana ia mengglisahan bebrapa lamanya.

“Sekarang ini kapala gundul sudah tida berbahaya lagi,” kata Lie Su dengen suara lega. “Ong Toaya boleh suruh bebrapa orang iket kadua tangannya ini hweeshio dan paserahken pada pembesar negri.”

Ong Kim chiu prentahken bebrapa orangnya buat melakuken itu pakerja’an, kemudian ia ulangken undangannya pada Lie Su; kabetulan Kwan Siauw cay yang denger orang cerita pun dateng ka situ, lalu ia pun diundang sama-sama masuk ka dalem rumah. Satelah masing-masing berduduk dan minum thee yang disuguken, tuan rumah lebih dulu haturken trima kasi atas Lie Su punya tenaga bantuan, kemudian ia menanyaken tentang hal ichwalnya itu hweeshio yang minta derma dengen paksa’an.

Lebih dulu Lie Su tuturken bagimana iapunya permusuhan sama Kam ji Houw, sebagimana ia sudah tuturken pada muridnya, kemudian ia menerangken lebih jau: “Kam ji Houw tau aku punya ilmu kepandean khikang ada sanget lihay, maka iapunya perjanjian sepulu taon tida bisa dibuktiken. Bermula aku pun tida tau yang ia sudah meyakinken ilmu kepandean houw-jiauw-kang yang sangat lihay. coba kalu ia tida coba menyekel kakiku, niscaya aku tida nanti dapet tau pada sabelonnya bertempur, pada waktu mana sedikitnya tentu ia aken bisa melukaken padaku.”

“Itu pelor-pelor yang supo semburken dari mulut,” menanya Ong Kim chiu, “apakah terbikin dari perak, makanya begitu putih dan mengkilap?”

“Bukan; hanya dari waja yang paling baek. Makanya putih dan mengkilap, sebab ampir saban malem aku buat maen dalem tangan. Kam ji Houw atawa sekarang sebut dirinya Kay In Hweeshio, jika bukan diserang kadua matanya niscaya tida bisa dibikin tunduk dengen gampang. Sama sekali aku telah gunaken anem biji pelor waja, cuma dua antaranya yang masuk ka dalem matanya, sedeng ampat yang laennya lantaran mengenaken jidat dan tulang atasan mata, semua mental dan jato ka muka bumi. Ini disebabken ji Houw pun telah meyakinken ilmu kepandean khikang tinggi, cuma ka jurusan kulit mata saja iapunya khikang tida bisa sampe, hingga itu dua pelor bisa menembus.”

“Sekarang dari sebab itu musuh berbahaya sudah dibikin tida berdaya,” menyelak Kwan Siauw cay yang campur mulut. “Lie Su-ko tentu bisa tinggal terus di ini tempat dengen senang. Sedeng penduduk ini tempat aken merasa sanget beruntung bisa senantiasa berdeketan dengen satu pelindung yang seperti kau ini.”

“Memang juga aku merasa senang sekali sama keada’an ini tempat,” saut Lie Su, “terlebih lagi lantaran mempunyai tetangga-tetangga budiman, seperti Kwan dan Ong Toaya, hingga aku merasa semingkin betah dan tida ingin berlalu ka laen tempat.“

Mulai itu waktu Lie Su brenti melakuken pakerja’an pikul aer dan membuka satu perguruan silat dengen dibantu oleh iapunya murid, The Wie Han. Pada akhirnya cuma Wie Han sendiri saja yang bisa turunken sebagian paling besar dari ilmu kepandeannya Lie Su atawa Lie Eng Gie. Sedeng iapunya perhubungan sama kulawarga Kwan dan Ong terus jadi semingkin rapet, terutama perhubungannya dengen Kwan Siauw cay, yang ia anggep sebagi satu sobat paling tulus dan berbudi.

TAMAT

Ilmoe Silatnja Satoe Toekang Aer
Oleh Kwo Lay Yen
Pernah termoeat dalam: Star Weekly No. 47, terbitan 24 November 1946, hal. 17-20
Collectie: Hiang-phek Tauwtoo
Ditik oelang oleh: See-an Toodjin
Edit EYD oleh Aldi The

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s