Kiam Hiap Kie Koan

 

aldisurjana_aldi_the_cersil_Kiam_Hiap_Kie_Koan_Star_Weekly_Bong_Tiong_Hiap

Ditulis Menurut Pengalamannya Satu Ki-cu.

Di jeman ahala Han tempo Keizer Bu Tee duduk bertakhta, dalem perjalanan di Shoatang ada satu ki-cu (saorang yang telah lulus dari ujian ilmu kasusastra’an atawa kamilitairan) yang liwat dengen menunggangi satu kuda yang bisa berlari sanget cepet.

Ini ki-cu dari sebab merasa yang ia ada bertenaga kuat dan mengarti ilmu silat, maka ia telah bikin perjalanan ka Kota Raja dengen cuma saorang diri saja, zonder pengiring atawa budak yang mengikut. Ia cuma membekel satu gandewa-panah, satu kantong anak-panah dan sebatang pedang pendek. Di sepanjang jalan ia sering panahin burung-burung atawa klinci buat didahar sebagi temennya arak di saban waktu ia brenti perut di rumah-rumah makan yang ia liwatken. Pada satu hari oleh kerna ia kagelapan, maka ia telah mampir ka dalem satu dusun dimana ia berniat aken mencari rumah-penginepan, tetapi lantaran hari sudah malem, karuan saja tida gampang aken ia mencari itu.

Akhir-akhir ia liat satu rumah yang api pelitanya masih berkelak-kelik, dan kutika ia mengamperi ia lalu turun dari kudanya, kemudian ia dorong pintunya yang cuma dirapetin dan tida terkonci, dimana ia mendapet kenyataan yang itu rumah ada dilingkungi dengen satu pekarangan yang luas, sedeng itu api pelita yang telah menembus ka pintu pekarangan telah tertampak keluar dari dalem rumah itu, yang letaknya ada di tengah-tengah pekarangan tersebut. Maka sesudahnya ia menambatken kudanya pada satu puhun, itu ki-cu lalu bertindak mengamperi ka itu rumah dimana ada saorang prempuan tua yang lagi duduk menenun cita yang terbikin dari benangnya puhun moa.

Tatkala ia mendenger suaranya kaki kuda, itu prampuan tua sigra berbangkit dan menanyaken orang punya maksud kedatengan.

Itu ki-cu lalu maju memberi hormat sembari berkata: “Mama, aku ini ada saorang kesasar yang hendak numpang menginep.”

“Oh, sanget menyesel, Koanjin,” kata ia, “yang aku tida bisa mengambil putusan sendiri.”

“Kenapatah begitu, mama, apa suamimu tida ada di rumah?”

“Aku ini ada satu janda,” kata lagi itu prampuan tua. “Aku cuma mempunyai satu anak lelaki yang sekarang justru sedeng pergi berniaga ka laen tempat.”

“Apatah kau ada mempunyai mantu prampuan?”

“Ada,” sautnya, “tetapi budi-pekertinya melebihken daripada orang lelaki saumumnya. Tenaganya sanget kuat, adatnya berangasan; apabila ia ribut sama orang, iapunya satu telunjuk sudah cukup buat membikin orang jadi terguling. Aku merasa jeri dan berbareng benci sekali si mantu ini, tetapi aku tida berdaya apa-apa buat merintangi iapunya segala kahendakan. Maka dari itu, aku kuatir aken menerbitken aku punya mantu punya perasa’an kurang senang, apabila aku mengambil putusan dengen zonder mendapet dulu persetujuannya.”

Begitulah itu prampuan tua telah akhirken pembicara’annya sembari mengucurken aer-mata.

Hingga itu ki-cu yang meliat demikian, hatinya jadi sanget mendongkol dan lalu berkata: “Ah, mama, sunggu tida nyana yang didalem ini dunia ada satu mantu prampuan jahanam itu? Biarlah aku nanti bunuh saja padanya buat membikin tentrem kau punya rumah-tangga ini!” (Ia berkata sembari menyabut iapunya pedang pendek).

“Koanjin,” menasehatken itu prampuan tua, “paling betul kau jangan “kutik-kutik macan tidur”. Aku punya mantu sunggu tida boleh dibuat permaenan. Ia tidak pelajarin menyulam atawa menjait seperti kebanyakan kaum wanita saumumnya, hanya saban hari sesudahnya dahar nasi ia lantas pergi ka utan buat memburu kidang-menjangan, klinci atawa laen-laen binatang utan. Iapunya “bebolehan” ia sering jual di pasar buat bantu mengongkosin rumah-tangga, maka dari itu aku tida brani berbantahan dengen ia itu.”

“Aku sabenernya ada saorang yang takut sama kalemahan tetapi tida taluk sama kakerasan,” kata itu ki-cu akhir-akhirnya. “Maka lantaran menginget yang kau ada mengandel pada itu prampuan katak punya tenaga buat meliwatin hari, aku sekarang suka urungken niatanku buat membunuh pada ia itu. Tetapi orang prampuan yang sebagi ia tida bisa tida dikasi “tau rasa”, agar selanjutnya ia bisa lebih mengenal peradatan terhadep pada orang yang pernanya terlebih tua. cuma belon tau pada waktu begimana ia biasa pulang ka rumah?”

“Aku rasa tida lama lagi ia aken pulang,” sautnya itu prampuan tua.

“Nah, sudalah,” kata itu ki-cu sembari simpen kombali itu pedang ka dalem serangkanya. “Sabentar apabila ia pulang, kau boleh saksiken begimana aku nanti kasih “ajar adat” pada itu prampuan katak.

Biarpun itu prampuan tua telah memberiken nasehat dengen berulang-ulang agar ia jangan menerbitken kaonaran apa-apa, itu ki-cu tetep bilang yang ia mau kasih “ajar adat” pada sang mantu itu.

Tempo ia menunggu belon sebrapa lama, mendadak dari luar ada keliatan saorang yang bertubuh tinggi-besar berjalan mendatengi sembari memanggul apa-apa di atas pundaknya.

“Lo-ma, lekas bawa api,” ia kata pada itu prampuan tua, siapa, sembari mengangkat pelita dengen rupa yang tergupu-gupu, lalu melirik pada itu ki-cu sembari berbisik: “Tu, itulah ada mantu prampuanku.”

“Ini kuda siapa?” menanya itu orang yang baru dateng.

Itu ki-cu tempo melongok ka luar dari blakangnya itu prampuan tua, jadi kaget bukan kepalang hingga iapunya kebranian yang tadinya ada 100%, sekarang telah jadi mengkeret sehingga cuma tinggal bebrapa procent saja. Kerna itu “apa-apa” yang telah dibawa pulang oleh itu mantu prampuan, ternyata ada satu….. macan loreng yang kepalanya telah pecah.

Hingga tempo sang mantu menanyaken seperti di atas itu, itu ki-cu buru-buru maju memberi hormat dengen paras muka yang….. berseri-seri sembari berkata: “Oh, itulah ada kuda’ku yang ditambatken di situ buat samentara waktu.” (Sembari mau membuka tambatan itu, tetapi sang mantu lantas memberi tanda supaya itu kuda dibiarken saja berada di situ).

“Kau ini siapa?”

“Siauwcu ada satu kie-cu yang telah kesasar dan berniat – apabila Toa-so tida menjadi kaberatan – aken numpang menginep di sini,” saut itu ki-cu dengen suara merendah.

“Lo-ma sunggu tida mengerti aturan,” itu mantu prampuan tertawa sembari melemparken itu macan yang sudah mati ke atas jubin, “sehingga Kwijin musti “dijemur” berjam-jam dengen zonder disilahken duduk.” Kemudian ia mengambil satu korsi dan persilahken itu ki-cu duduk. Sedeng ia sendiri, dengen berduduk di satu pinggiran bersama-sama itu prampuan tua telah melayani pada sang tetamu, dimana antara laen-laen ia telah menuturken begimana dengen tangan kosong ia telah pukul itu raja utan sehingga tiwas jiwanya. Hal mana telah membikin itu ki-cu jadi celangap mendengerin itu penuturan tentang kegagahannya sang mantu yang sanget luar biasa itu.

“Sukur juga aku bisa berlaku sedikit sabar,” pikir si tetamu didalem hatinya, “kalu tida…… ah, aku tida tau begimana jadinya…..” Seabisnya ia berpikir begitu, ia lantas berbangkit sembari menanyaken she dan namanya itu kadua nyonya rumah.

“Hal itu aku rasa ada kurang perlu diketahui,” kata si nyonya mantu sembari tertawa. “Atawa, kalu kau mau, kau boleh sebut namaku Bu Toa-so, sedeng ini Lo-ma,” (sembari menunjuk pada itu prampuan tua), “Bu Lo Hujin, abis perkara.”

Sasudahnya ia berkata, ia lantas bawa itu macan ka dalem rumah buat dikeset kulitnya dan dagingnya dimatengin di itu malem juga.

Maka seabisnya ia dijamu dahar daging macan dan minum arak yang terlebih dulu sudah diangetin, itu ki-cu lalu dipersilahken tidur didalem satu kamar yag terletak mengadepin cimce.

“Di sinilah ada kau punya kamar,” kata itu mantu prampuan dengen kelakuan hormat.

Itu ki-cu mengaturken banyak trima kasih, tetapi keliatan bersangsi buat lantas masuk ka dalem kamar itu.

“Kenapa?” menanya Bu Toa-so, “Apa itu kamar kurang baek?”

“Bukan begitu, Toa-so,” sautnya itu ki-cu, “aku sabenernya merasa sanget heran meliat caranya kau memperlakuken pada Bu Lo Huyin…..”

“Apa! Kau mau salahin yang aku tida berlaku hormat pada orang yang menjadi mertua? Mari, mari! Kau boleh timbang sendiri siapa yang bener atawa salah!” kata Bu Toa-so dengen sorot mata berapi, hingga iapunya sikep yang mengindahken telah ilang sama sekali. Satelah itu ia lantas tuturken begimana pada waktu itu ia baru menikah dan pulang ka situ, ia telah mendapet perlakuan yang tida samustinya dari itu mertua yang sangat cerewet, hingga segala pakerja’an yang ia pegang selalu dianggep salah – ini salah, itupun salah, hingga akhirnya ia jadi ilang sabar dan brani melawan, dengen mana ia baru ketahui kakerasan dan kabranian ada lebih ditakutin daripada segala sikap lembek dan mengalah dengen secara membuta. Sala satu actie kakerasan yang ia perna unjuk pada sang mertua, adalah ia perna lemparken sang mertua sampe 10 kaki tingginya, kemudian – di waktu ia sanggapin sehingga si mertua tida sampe jato ka tanah – sang mertua telah jato sakit – bahna kaget – sampe 3 bulan lamanya. Hingga lantaran adanya itu actie perlawanan, selanjutnya Bu Lo Hujin jadi jeri dan tida brani berlaku sembarangan lagi atas iapunya diri!

“Itulah sebabnya kenapa Lo-ma jadi takut sama aku,” kata Bu Toa-so, “biarpun selanjutnya aku bersumpah tida aken mengulangken pula itu perbuatan yang kurang bagus.”

Pada itu malem kutika baru saja ia tidur dengen layap-layap, mendadak itu ki-cu telah dibikin kaget oleh jatonya satu sinar terang di depan pembaringannya, dan kutika sinar itu linyap, lalu tertampak saorang yang mempunyai jembros warna merah, berdiri tegak di hadepannya.

“Kau ini siapa?” ia menanya dengen hati kebat-kebit.

“Kau jangan banyak bacot!” menyentak si jembros Merah yang telah melototin matanya saolah-olah biji mata itu mau melompat kaluar. “Aku telah intip yang kau telah berhasil bisa merebut “hatinya” itu orang prampuan yang aku sanget cintai, oleh siapa rasa cintaku telah tida dibales. Maka lantaran itu juga, selanjutnya aku telah bersumpah aken bunuh semua orang lelaki yang berhasil bisa bikin dirinya dicintai oleh orang prampuan itu!”

“Dan… siapatah adanya orang prampuan itu?” menanya itu ki-cu dengen heran.

“Siapa? Kau blaga gila!” treak si jembros Merah. “Siapa lagi kalu bukannya kau punya nyonya rumah yang telah melayani padamu dengen begitu telaten sekali?”

“Kau kliru! Itu bukan sebab ia menyintai pada aku, hanya cuma sakedar mengunjuk suatu kamustian terhadep pada orang yang menjadi iapunya tetamu. Sedeng ia ada saorang prampuan yang sudah bersuami, cara begimanatah ia bisa menyintai pada saorang lelaki yang sudah beristri?” kata itu ki-cu dengen hati mendongkol. “Barangkali kau sudah jadi mabok, hingga kau telah melantur begitu rupa!”

Tidak usah dibilang lagi begimana besar kagusarannya si jembros Merah kutika ia mendenger itu jengekan yang begitu pedes. Maka dengen zonder banyak bicara lagi ia lantas cabut golok dari atas bebokongnya, dengen mana ia lantas menabas batang lehernya itu ki-cu!

Sret! Itu ki-cu yang telah berkelit dengen sebat telah luput dari itu bacokan, tetapi satu bantal telah menjadi kutung kena terbacok oleh itu golok yang melayang dengen santer!

Kadengeran suaranya pintu yang diketok dengen secara gencer sekali.

“cilaka!” treak si jembros Merah yang lalu berobah jadi sinar pedang dan terus melariken diri dari dalem itu kamar.

Itu ki-cu lekas buka pintu kamar, tetapi itu orang yang berjembros merah telah mengilang entah ka mana perginya. Sebagi laen pengganti dari itu pemandangan yang luar-biasa, ia meliat Bu Toa-so yang mengeluarken sinar pedang dari telunjuknya, sedeng menempur satu sinar pedang ijo yang kemudian ia baru ketahui ada sinar pedangnya si jembros Merah, pertempuran mana telah dilakuken dengen seruh di atas wuwungan rumah, kamana ia pun blakangan turut naek dengen membekel iapunya pedang pendek yang sudah terhunus.

“cendekem!” Bu Toa-so bertreak tempo meliat ia muncul dari itu cimce. “Lekaslah kau cendekem. jangan berayal lagi!”

Hingga dengen zonder diprentah sampe dua kali, itu ki-cu lantas cendekem di atas genteng sembari menonton itu pertempuran pedang resia yang ia cuma baca didalem buku-buku cerita tetapi belon perna menyaksiken dengen mata sendiri.

Selagi Bu Toa-so punya sinar pedang yang berwarna kuning mas desek itu sinar pedang ijo yang jadi mengkeret ka jurusannya selat bukit, mendadak dari sabelah sana – dari dalem satu utan yang lebat – satu sinar pedang yang berwarna merah seperti darah telah muncul di udara dan terus menyamber pada Bu Toa-so punya sinar pedang yang sedeng mendesek pada itu sinar pedang ijo, hingga itu tiga sinar pedang jadi bertempur di udara seperti juga tiga ekor naga yang sedeng bertempur dengen saling membelit pada satu sama lain.

“Ah, cilaka!” Bu Toa-so mendadak telah membanting kaki, kutika ia meliat sinar pedangnya telah kena terkurung, terdesek, hingga akhirnya telah mengkeret tinggal kira-kira 9-10 kaki dari sabelah atasan kepalanya. Maka dari sebab itu juga, ia jadi sanget gugup dan lantas menoleh pada itu ki-cu yang sedeng cendekem di atas genteng zonder brani bergerak barang sedikitpun.
“Kwijin!” treak ia akhir-akhirnya, “Sekarang jiwaku telah terancem bahaya besar! Pergilah kau lekas ambil dua ekor ayam dan lantas lemparken pada itu dua kiam-kong yang sedeng berputer-puter di atas kepalaku. Lekas!”

Itu ki-cu sigra melompat ka dalem itu rumah. Tapi, apa mau, lantaran ia ada saorang asing, ia tida mengetahui dimana adanya kandang ayam dari itu kulawarga, hingga didalem iapunya kebingungan, ia telah kesalahan masuk ka dalem kandang babi, maka dengen zonder banyak piker lagi ia lantas tangkep satu babi yang ia lantas bawa melayang ka atas wuwungan rumah, dimana ia lantas lemparken ka jurusannya itu dua pedang resia yang sedeng mengancem jiwanya Bu Toa-so.
Sret! Sret! Ampir dalem sa’at itu juga, itu babi telah kutung jadi tiga potong dan menyemburken darah yang sigra menyipratin antero pakeannya si nyonya mantu.

“Slamet!” kata Bu Toa-so sembari menarik napas legah, kutika ia menyaksiken itu dua sinar pedang telah mundur sesudahnya mendapet korban satu babi.
Kemudian ia masuk ka dalem rumah dengen dibuntutin oleh itu ki-cu.

“Apabila kau tida membantui pada aku,” kata Bu Toa-so sesampenya didalem rumah, “niscaya aku sudah binasa menjadi korbannya musuh punya pedang resia.”

“Tapi, Toa-so,” kata itu ki-cu, “apatah aku boleh mengetahui apa sebabnya marika begitu memusuhin padamu?”

“Itu kau tida perlu menanyaken sekarang,” kata itu pendekar pedang wanita sembari tertawa. “Di kemudian hari juga kau pasti aken mengetahui duduknya hal yang sabener-benernya.”

Maka biarpun ia tida coba mendesek aken menanyaken asal-mulanya dari Bu Toa-so punya permusuhan terhadep itu pendekar-pendekar pedang yang tersebut di atas, tetapi hatinya itu ki-cu tetep merasa penasaran dan berjanji aken mencari tau siapa, kenapa dan buat maksud apa orang telah memusuhin pada si nyonya rumah itu.

Pada hari esokannya tempo ia berpamitan aken melanjutken perjalanannya ka Kota Raja, Bu Toa-so telah kasiken ia dua pedang yang bagus sekali – satu panjang dan yang laen cuma kira-kira 3 duim panjangnya.

“Ini pedang panjang ada lebih cocok buat digunaken sebagi senjata buat bertempur,” kata itu nyonya rumah pada si tetamu, “sedeng itu pedang pendek yang menyadi milikmu ada terlalu lemes, hingga tida bisa tahan buat dipake maski buat memotong sayuran……”

“Kaguna’annya ini pedang kecil ada 100 lipet lebih menang daripada itu pedang yang panjang,” menerangken Bu Toa-so. “Apabila jiwamu terancem bahaya dan tida mempunyai kans buat bisa terlolos, barulah kau boleh gunaken pedang ini. cara menggunakennya ada gampang sekali. Kau lemparken itu ka atas sembari menyebut: “couw-su-ya! Sampe kapan mau menulungi jiwanya muridmu yang terancem bahaya kematian!” Kemudian kau nanti bisa saksiken begimana besar kemanjurannya. Maka ini pedang kau harus simpen baek-baek dan jangan ditaro di tempat sembarangan. Laen-laen hal kau tentu bisa timbang sendiri, hingga aku tida perlu memesen apa-apa.”

Begitulah sesudahnya ia mengaturken banyak trima kasih atas kebaekannya itu mertua dan mantu prempuan berdua, itu ki-cu lalu melanjutken pula perjalanannya ka Kota Raja.

Pada laen harinya, buat kadua kalinya itu ki-cu telah kagelapan di atas perjalanannya, tapi ini kali bukannya di satu pedusunan yang banyak penduduknya, hanya di satu selat gunung yang sunyi, dimana cuma tertampak satu greja yang pendiriannya bisa dikata cukup besar juga. Maka lantaran tida ada laen rumah dimana ia bisa numpang menginep, ia terpaksa mengamperi pada greja tersebut yang pintunya masih terpentang. Seabisnya ia menambatken kudanya pada satu puhun di depan lataran, ia sigra mengetok pintu bebrapa kali.

“Tuan ini ada kaperluan apa datang ka sini pada waktu begini hari?” menanya satu hweeshio yang kabetulan keluar lantaran mendenger ada orang yang mengetok pintu.

Itu ki-cu lalu terangken maksudnya aken minta numpang menginep di situ, buat mana itu hweeshio – yang ternyata ada kepala-padri dari itu greja – tida menaro kaberatan, hingga di itu malem ia jadi menginep didalem itu greja, yang kemudian telah menjadi satu peringetan yang ia tida bisa lupaken saumur hidupnya.

Pada itu malem kutika ia baru saja naek ka atas pembaringan, mendadak ia telah dibikin kaget oleh suaranya satu orang yang ia rasanya ada kenal baek. “Itu kuda yang ditambatken di lataran,” kata suara itu, “aku kenalin betul ada miliknya aku punya saingan yang bruntung telah bisa terlolos dari dalem tanganku. Maka satelah ia datang ka sini, itulah ada seperti juga Thian mau anterken jiwanya ka dalem tanganku. cuma belon tau ia sekarang ada menginep di kamar mana?”

“Sst! jangan brisik,” kata suaranya satu orang yang laennya. “Ia ada didalem ini kamar.”

“Oh!” kata itu suara yang pertama. Kemudian – dak! – dengen cuma satu kali tending itu pintu kamar telah jadi berantakan, sedeng si jembros Merah – dengen sorot mata berapi – telah tertampak di hadepannya itu ki-cu, siapa telah mengarti bahua dirinya ada didalem bahaya, maka ia sudah sembat itu pedang panjang dengen mana ia berniat aken menjaga keslametan dirinya.

“Hahaha!” tertawa si jembros Merah sembari mengangkat goloknya aken menabas.

Samentara itu ki-cu seperti tikus yang telah terkurung dengen rapet oleh sekawanan kucing, mau atawa tida lalu puter pedangnya buat membela diri.

Begitulah satu pertempuran yang seruh telah terjadi di ruangan pertengahannya dari itu greja, dengen saorang melawan satu jumblah yang terdiri dari 10 atawa 15 orang. Hingga kutika pertempuran baru saja berjalan bebrapa gebrakan, itu ki-cu merasa yang ia punya keada’an telah menjadi sanget berbahaya, hingga itu pedang kecil yang ia dapet dari Bu Toa-so ia lantas cabut dan lemparken ka atas sembari berseru: “couw-su-ya! Tulunglah murid yang sedeng terancem bahaya!” Dan berbareng dengen itu, itu pedang kecil telah berobah menjadi satu sinar putih yang berputer-puter kian-kemari dan membinasaken itu bebrapa kepala gundul yang sigra jadi lari srabutan.

Sedeng si jembros Merah yang meliat gelagat kurang baek, lalu bentangkan sinar pedangnya buat menjaga pada itu sinar pedang putih yang ternyata ada sanget gesit sekali, pada waktu mana ia berniat aken mabur dengen jalan melompat ka luar jendela. Tapi, pada sabelonnya ia bisa berbuat begitu, dua sinar terang telah masuk ka dalem itu greja, yang kemudian – dengen cuma satu kali terjang pada itu sinar pedang ijo – telah membikin si jembros Merah jadi menjerit dan terus rubuh dengen tida bisa berkutik lagi. Sedeng itu ki-cu punya sinar pedang telah membikin ancur itu kiam-kong ijo dengen mengeluarken suara perledakan yang dibarengin dengen muncratnya bebrapa banyak lelatu api!

“Kwijin, ayolah kau sigra berlalu dari ini tempat!” kata satu suara.

Itu kie-cu sudah lantas kenalin bahua itu orang yang bicara bukan laen dari Bu Toa-so adanya.
Tapi di ini kali ia dateng berdua’an dengen saorang muda yang ia sama sekali belon perna kenal atawa bertemu.

“Inilah ada suamiku yang baru pulang dari tempat jauh,” kata itu pendekar pedang wanita. “Tapi sekarang belon temponya kita beromong-omong dengen panjang-lebar, kerna bahaya yang mengancem masih merintangin di atas kita punya perjalanan. Maka dari sebab itu juga, ayolah kau boleh sigra berlalu dari ini tempat….”

“Tapi, Toa-so, itu pedang kecil telah ilang… dan… aku ada urusan penting yang mau ditanyaken padamu…” kata itu ki-cu dengen napas terengah-engah.

“ya, itu semua aku suda tau,” kata Bu Toa-so dengen cepet. “Laen taon kita nanti bertemu lagi.”

Maka dengen zonder banyak bicara lagi, itu ki-cu sigra berpamitan dengen itu sepasang suami-istri, kemudian ia naeken kudanya yang sigra dilariken seperti juga angin cepetnya.
Kutika blakangan ia menoleh ka jurusannya itu selat bukit di blakangnya, ia meliat sinarnya api yang berkobar-kobar sedeng memusnaken pada itu greja dimana ia telah mengalamken itu kejadian-kejadian heibat.

TAMAT

Kiam Hiap Kie Koan
Ditulis Menoeroet Pengalamannja Satoe Ki-tjoe
Oleh Bong Tiong Hiap
Pernah termoeat dalam Star Weekly No. 128 tanggal 13 Juni 1948 hal. 17
Collectie Hiang-phek Tauwtoo dan ditik oelang oleh See-an Toodjin
Edit EYD oleh Aldi The

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s