Mengintip pinggul di kamar mandi perempuan, yang biasanya dilarang keras, sekali ini diizinkan.

aldisurjana_aldi_surjana_rou_pu_tuan_rouputuan_The_Carnal_Prayer_Mat

Suatu hari ketika Quan Laoshi sedang sibuk dengan pekerjaan tamannya, secara kebetulan ia melewati kamar rias Harum, ketika Harum sedang mandi didalam bak dan bermain air. Suara batuk kecil yang disengaja atau tidak disengaja terdengar dari luar pintu terdengar oleh Harum ‐ Harum duduk dalam bak dengan punggung menghadap ke jendela ‐ dekat Quan. Harum merasa tergoda untuk memperlihatkan tubuh telanjangnya pada Quan, dan ingin memperhatikan reaksinya.

„Siapa diluar? Aku sedang berendam dalam bak mandi ‐ sekarang tidak bisa masuk!“

Meskipun kata‐kata teriakan itu terdengar seperti penolakan, tetapi Quan merasakan ada tekanan suara yang bisa diartikan sebaliknya: undangan halus, silakan masuk! Tetapi Quan tidak terlalu yakin, dan dengan ragu‐ragu ia terus berjalan menyusuri dinding kamar hingga tiba di jendela. Disitu ia berdiri. Tiba‐tiba ia mendapat dorongan tak tertahankan untuk melihat ke dalam. Ia membasahkan ujung jarinya dengan lidah dan dengan ujung jarinya hati‐hati melunakan kertas perkamen penutup jendela, hingga menjadi lubang kecil. Lalu ia mengintip kedalam dengan tubuh agak membungkuk ke depan sambil menahan napas saking tegangnya, ternyata usahanya membawa hasil.

Seperti sudah diceritakan sebelumnya, Harum duduk didalam bak mandi dengan punggung menghadap ke jendela. Telinganya yang tajam mengikuti langkah sepatu Quan sepanjang dinding kamar, dan ketika langkahnya berhenti di jendela, ia mengambil kesimpulan, bahwa Quan sekarang mau mengintip dari jendela. ‚Biar dia tahu rasa!‘ kata Harum dalam hati mentertawakan, dan ia membalikan tubuhnya setengah putaran, sehingga dengan wajah dan bukit kembarnya menghadap kearah jendela. Tidak cukup dengan itu, untuk memuaskan keinginan si pengintai Harum ikut bermain, karena bagian tubuh intimnya masih terendam dalam air dan tidak terlihat oleh si pengintai, ia mengeliatkan tubuhnya dari atas permukaan air dan berbaring telentang, sehingga kedua kakinya yang dilebarkan tergantung diluar bak dari lutut kebawah. Sekarang semua keindahan terbentang didepan mata Quan dengan jelas. ‐

Agak lama Harum membiarkan Quan menikmati pemandangan dan memperhatikan ‚Lembah kebahagian‘ yang anggun bergelombang, setelah itu Harum kembali pada posisi duduk semula. Untuk waktu yang lama, ternyata posisi telentang dengan pingiran bak mandi sebagai penahan kepala dan lutut tidak nyaman dan melelahkan.

Lalu Harum menundukan wajahnya, memperhatikan pangkuannya sebentar sambil merenung, mengangkat bahunya dan menarik napas sambil mendesah ‐ bagi pengintai diluar jendela itu adalah sikap sangat jelas, yang kurang lebih artinya: ‚Ah, susahnya ‐ tak tertahankan! ‐ Apakah tidak ada pembebasan?‘ ‐

Sekarang Quan Laoshi sebanyak sepuluh persepuluh bagian sudah yakin. Bukankah itu sebuah undangan? Bahkan sebuah undangan yang sangat mendesak, ia akan sangat menyesalkan dirinya, jika seandainya tidak mengerti sikap itu dan menolak sebuah undangan mendesak! Sebuah lidah api panas hasrat menerjangnya. Sekarang tidak ada lagi keraguan bagi Quan. Ia membelokan langkah kakinya kembali ke pintu masuk kamar rias dan memasukinya.

Didepan bak mandi Quan bertekuk lutut dan menggumamkan beberapa patah kata permohonan maaf untuk ‚kelakuan budak kurang ajar, yang pantas dihukum mati‘, kemudian ia membungkukan tubuhnya kedepan dan tanpa basa basi memeluk Harum.

Semula Harum tercengang dan terkejut.

„Apa yang membuatmu menjadi lancang? Apa artinya ini?“

katanya penuh celaan, tetapi terdengar begitu lembut dan indah dari bibir terbukanya yang sudah siap dicium.

„Ah, Nona besar, jangan kau salah mengerti: hanya demi kau aku kesini menjual diriku sebagai budak! Hanya untuk berada didekatmu! Sudah lama aku menunggu kesempatan ini, untuk mengungkapkan emosiku, tetapi tanpa izinmu? Aku tidak berani, tampaknya bagiku terlalu lancang dan kurang ajar. Hari ini terjadi suatu kebetulan, bahwa aku melihat tubuh Nona yang tak ternilai, aku tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, maka aku harus melakukan pelanggaran yang tak terampunkan dan masuk kesini. Sekarang aku disini, bertekuk lutut di kakimu dan memohon padamu: kasihanilah aku dan ampunilah aku!“

Harum tidak mau membuang waktu berharga ini dengan omongan ini itu. Bila terlalu lama menunda‐nunda, bisa saja nanti terganggu oleh dayang atau gadis pelayan yang masuk dan urusan menjadi berantakan. Ia lebih suka tanpa banyak omong langsung ke tujuan sebenarnya …

Cuplikan novel Rou Pu Tuan (The Carnal Prayer Mat)
Indonesian Edition
Translated by Aldi Surjana

Baca novel Rouputuan: Bab Satu

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s