Bab 31 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

 

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjana

Nyonya Hua membuat hubungan rahasia lewat pagar

Suatu hari Ximen mendapat undangan dari tetangganya Hua. Ketika ia sekitar jam makan siang memasuki rumah Hua, hampir saja di kebun depan ia menabrak nyonya Hua, karena ia berjalan sambil melamun. Ximen sudah pernah melihat nyonya Hua dari kejauhan, ketika ia mengunjungi tanah pertanian temannya, tetapi hari ini adalah pertama kali, bahwa ia dapat menikmati wajahnya dari dekat.

Sesuai dengan cuaca panas ia hanya mengenakan pakaian tipis. Baju tipisnya membiarkan lehernya terbuka dan menutupi buah dadanya dengan ringan. Dari bawah rok belahan tinggi terlihat dua buah sepatu kecil dari satin merah dengan pola burung feniks. Di atas rambutnya ia mengenakan jaringan jala perak, di telinganya tergantung berbinar-binar liontin Mirah delima ikatan emas. Tinggi tubuhnya sedang-sedang saja, Wajah bulat ovalnya dihiasi dua buah alis yang berayun sempurna. Pandangan matanya membuat kaum pria melayang-layang ke langit ke tujuh.

Ia menjawab juraan Ximen dengan Wan fu (sepuluh ribu kebahagiaan), yang diucapkan dengan suara lirih, dan segera mengundurkan diri. Tetapi ketika setelah seorang dayang menyilakannya duduk di ruang tamu, wajah cantiknya muncul lagi setengah terhalang dari tepi pintu, dan terdengar ia berkata: „Sebentar ya, suamiku masih dalam perjalanan, tidak lama juga sampai“

Dan tak lama kemudian, setelah dayang menuangkan teh untuknya, ia mendengar suaranya lagi dari balik pintu: „Bolehkah aku memohon sesuatu tuan? Misalnya nanti suamiku ingin pergi denganmu untuk minum-minum di kedai arak, tolong usahakan jangan terlalu lama. Aku di rumah sendirian, hanya ditemani kedua dayang saja.“

Ximen baru sempat mengucapkan: „Nyonya ipar, akan aku usahakan…“ Sudah terdengar kedatangan temannya Hua, di mana nyonya itu langsung menghilang dari pintu. Dugaan nyonya itu ternyata benar, suaminya mengundang Ximen datang ke rumahnya hanya untuk secepatnya berangkat ke rumah pelesiran ibu Wu, karena simpanannya nona „Perak“ hari ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 24, dan tentu saja mesti dirayakan.

Sesuai pesanan nyonya Hua yang cantik, Ximen membawa pulang temannya yang sudah mabuk pada sore harinya. Ketika Hua sudah dibawa ke kamarnya dan Ximen akan permisi pulang, nyonya itu muncul lagi di ruang tamu, dengan alasan untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya. „Suamiku pasti sudah minum berlebihan“, katanya. „Engkau baik sekali, telah mengajaknya pulang!“

Ximen menjura. „Dengan senang hati, hanya sayangnya aku tak dapat mengajaknya pulang, tadi pun di perjalanan pulang hampir saja ia tersangkut lagi, ketika melewati rumah pelesiran ibu Chong, kita berpapasan dengan nona ‚Parfum kekasih‘ yang berdiri di pintu masuk, untung saja aku keburu menariknya pulang, seandainya aku tadi tidak keburu menariknya, pasti ia akan semalam suntuk tinggal di sana. Mengapa ia harus menyia-nyiakan istri cantik jelita di rumah. Sungguh tidak bertanggung jawab, dasar lelaki bodoh!“

„Engkau benar, tingkah lakunya membuat aku sakit saking sedihnya. Bolehkah aku berharap ke depan, demi aku, kau akan menjaganya? Untuk itu aku akan berterima kasih sekali.“
Ximen adalah orang yang sensitif, pengalamannya dalam permainan bulan dan angin sudah bertahun-tahun, jadi ia langsung mengerti, bahwa nyonya Hua yang cantik telah membuka hati padanya. Dengan tersenyum ia menjawab: „Tidak usah dipikirkan, nanti aku akan bantu mengawasi“

Nyonya Hua berterima kasih dan permisi. Ximen menghabiskan teh aprikotnya, dan dengan perasaan puas pergi pulang. Sejak saat itu, secara teratur, sesering apa pun ia pergi dengan teman Hua ke rumah pelesiran, kedua kawan sekongkolnya Ying dan Hsia Hsita selalu meloloh teman Hua dengan minuman keras dan mengusahakan agar teman Hua bermalam di luar rumah.

Ximen sendiri secara sembunyi memperhatikan ketika nyonya Hua bersama kedua dayangnya bolak-balik ke pintu gerbang untuk melihat apakah suaminya telah pulang, sekali-kali Ximen berdehem untuk menarik perhatiannya, sedangkan nyonya Hua malah bersembunyi malu ke balik pintu gerbang, tetapi setelah itu mengeluarkan kepalanya dari balik gerbang menengok ke arah Ximen.

Demikianlah permainan keduanya, di mana yang satu berharap yang lain memulai pendekatan. Suatu malam seperti biasa Ximen berada di tempat pengawasannya dekat gerbang nyonya Hua, tiba-tiba dari seberang rumah datang dayang Hsiuchun padanya. „Apakah nyonyamu ada keperluan denganku?“ tanyanya dengan tegang.

„Ya, ia ingin bicara denganmu, tuan tidak di rumah.“

Dengan cepat Ximen memenuhi undangan itu dan membiarkan dirinya diajak masuk ke ruang tamu.

„Tempo hari kau baik sekali padaku…“ kata nyonya tetangga menyalami. „Apakah kau hari ini atau kemarin ketemu suamiku, ? Ia sudah sejak dua hari tidak pulang ke rumah.“

„Ya, kemarin kita bersama berada di tempat ibu Chong. Karena masih ada urusan bisnis aku pulang lebih dahulu. Hari ini aku belum melihatnya, aku benar-benar tidak tahu, di mana saat ini ia berada. Untung aku tidak ke sana, kalau tidak tentu aku akan mendapat dampratan darimu karena tidak memenuhi janji.“

„Ah, ia membuatku berputus asa dengan ketidakpeduliannya! Haruskah ia selalu kelayapan di luar sana bersama bunga dan rumput?“

„Setahuku, ia adalah orang baik-baik yang ramah“ jawab Ximen pura-pura. Ximen menarik nafas, ia khawatir tepergok suaminya, setelah itu ia permisi pulang.

Ketika Hua pada keesokan harinya pulang ke rumah, istrinya memuntahkan semua kemarahan yang selama ini terkumpul dalam hatinya, kemudian ia berkata: „Tetangga kita tuan Ximen telah banyak berkorban untuk mengurusimu, kalau tidak, mungkin engkau sudah lebih bejat lagi. Kita berhutang budi padanya, sedikit menunjukkan rasa terima kasih adalah baik untuk persahabatan.“

Teman Hua menuruti anjuran istrinya, ia langsung mengirim empat kantong hadiah kecil dan satu guci arak terbaik ke rumah sebelah. Nyonya Bulan yang sudah mendapat penjelasan dari Ximen tentang motif hadiah ini, mengomentari dengan sarkastik: „Lihat, engkau mengurusi temanmu supaya ia berubah menjadi orang baik-baik. Seharusnya kau mengurus dirimu sendiri! Mana mungkin kalian mengajari satu sama lain, kalian setali tiga uang.“. Kemudian Nyonya Bulan memerintahkan pelayannya mengantar hadiah balasan ke rumah keluarga Hua.

Pada tanggal sembilan bulan sebelas, atas anjuran istrinya, teman Hua mengundang Ximen bersama empat kawannya untuk menikmati bunga seruni mekar di rumahnya. Dua orang penari dipanggil untuk hiburan, dan pesta berjalan meriah. Sekitar tengah malam, mendekati saat-saat pesta berakhir, diam-diam Ximen meninggalkan meja perjamuan.

Di luar, di tempat yang agak gelap hampir saja Ximen bertabrakan dengan nyonya Hua. Tetapi nyonya Hua langsung menyelinap ke pintu belakang. Setelah itu, dari tempat gelap ke luar dayang Hsiuchun menghampiri. „Nyonyaku ada pesan“ bisiknya, „Tuan, minumnya jangan banyak-banyak, nanti pada waktunya permisi pulang. Setelah itu nyonya akan mengirim pesan selanjutnya.“

Saking senangnya Ximen sampai lupa untuk membuang air kecil, langsung kembali ke meja perjamuan, sejak itu ia berusaha tidak minum lagi, di mana ia pura-pura mabuk. Dibalik tirai nyonya Hua sudah tidak sabar menunggu tamunya pulang. kentungan Kesatu sudah berlalu, tetapi ia melihat Ximen masih duduk dan pura-pura ketiduran di kursi. Kawannya Ying dan Hsia Hsita tetap duduk tak bergerak di kursi.

Ketika akhirnya kedua kawannya Chu Shinien dan Sun Tienhua pulang, nyonya Hua pun kehabisan sabar. Akhirnya Ximen pun pulang. Ying meneriaki Ximen dari belakang. „Minum sedikit saja sudah mabuk, ada apa dengan kau! tetapi itu tak akan mengganggu kita, ayo kita lanjutkan!“

„Brengsek“ gerutu nyonya Hua. Kemudian ia memanggil suaminya. „Tolonglah, kau pergi saja dengan kedua kawanmu ke rumah pelesiranmu untuk minum sepuas-puasnya. Aku merasa sangat terganggu dengan hingar-bingar ini“

„Sebenarnya aku dari tadi ingin membawa mereka ke sana, tetapi kau nanti mengomel-ngomel lagi“

„Baik, sebelum pagi, kau tak usah pulang ke rumah“

Tidak perlu disuruh dua kali, teman Hua dan kedua temannya serta kedua gadis penyanyi langsung berangkat. Pelayan Tien Fu’rl dan Tian Si’rl juga dibawa serta.

Sementara itu, Ximen duduk di tempat gelap di sebuah rumah taman dekat pagar tembok pembatas halaman dengan tetangga Hua, dan menunggu pesan yang dijanjikan nyonya Hua. Sekarang ia mendengar di seberang anjing menyalak dan pintu berderit. Kemudian sunyi. Tidak lama kemudian terdengar suara kucing mengeong dari atas tembok. Ia menengok ke arah tembok.

Terlihat dayang Yingchun di atas tembok menggapai-gapai tangan ke arahnya. Ia mengerti. cepat-cepat ia mendorong sebuah meja ke kaki tembok, dan naiklah ia ke atas pagar tembok. Di seberang tembok sudah tersedia sebuah tangga. Kemudian ia diajak masuk ke ruang tamu yang diterangi lilin.

Dengan pakaian tipis, rambut terurai, muncullah tetangga cantik itu, ia menyilakan Ximen mengambil tempat duduk dan menyodorkan minuman selamat datang. „Aku sudah habis kesabaran,“ lanjutnya setelah berbasa basi, „Kedua lelaki brengsek yang diundang suamiku, tidak mengenal sopan santun untuk pulang, jadi aku menyuruh suamiku mengajak kedua lelaki itu ke rumah pelesiran terdekat. untuk meneruskan pesta.“

„Tapi bagaimana, bila nanti saudara Hua tiba-tiba pulang?“ selidik Ximen hati-hati.

„Oh, aku sudah memberi izin cuti sampai besok. Kedua pelayan lelaki juga ikut. Aku sendirian dengan kedua dayangku. Dan ibu Fong, penjaga gerbang, orangnya OK punya dan tidak banyak omong.“

Ximen menjadi tenang dan tanpa beban menikmati. Pundak bertemu pundak, kaki bertemu kaki, mereka minum dari mangkuk yang sama. Dayang Yingchun melayani minum, dayang Hsiuchun melayani makan. Dan kemudian, mereka pindah ke kamar tidur yang dipenuhi awan parfum dan menikmati kesenangan berbagi ranjang di bawah kelambu sutera berwarna-warni.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s