Kwee Thiam Cing bercerita „Ceping kha-khu, Ceping twa-cu“

(I)

Arti pri-bahasa tersebut, kira2 begini: Kalau sial masuk penjara, bila mujur masuk rumah besar. Ini rupanya yang menjadi sendi pandangan hidup dari orang yang saya kenal sedari taon 1920 ketika kami sama2 bekerja di firma S.L. van Nierop S.co, Pecinan Kulon Surabaia dan saya dibagian administrasi di loteng atas. Namanya Kian Hie atawa lebih dikenal dengen nama “Kakap” seperti orang2 beriken kepadanya sebage nama julukan.

Kakap itu arek Kapasan sejati, lahir di kampong Seng dan terkenal sebage bener2 berani, belon pernah minggir buat hadepin bahaya atawa tantangan. Karna itu ia disegani dan dikenal sebage jago buat Surabaia, mala sampe kota2 sekiternya.

Bener sama2 kenal tetapi tida bisa di bilang pergaulan kami rapat satu pada laen. Hanya satu taon saya bekerja di van Nierop ketika pada suatu hari saya menghadep Woelders, agen dari van Nierop dan minta berenti bekerja. Woelders coba tahan saya, tetapi saya terus terang bilang saya tida tahan lakuken pekerjaan “sleurwerk”, tiap hari sama saja. Apa yang kita akan bikin satu minggu di muka, dari sekarang kita sudah tahu.

Menjawab pertanyaannya saya bilang yang saya aken bekerja di surat-kabar yang banyak lebi menarik buat saya. Sebelon itu saya sudah menjadi pembantu tetep dari “Pewarta Surabaia” dari mana Liem Kun Hian menjadi pemimpin redaksinya.

Ketika ia ini kamudian diriken “Suara Publik” di Surabaia olehnya saya diminta buat duduk dalem redaksi. Dan begitulah saya mulai tuntut penghidupan sebage wartawan.

Dengen kakap bole dibilang sudah tida ada hubungan lagi. Sampe dengen tida terduga ia muncul pula didepan saya yang ketika itu baru sampe dengen jalan kaki dan diborgol dari penjara Kali-sosok ke landraad Sawahan buat pertanggung jawabkan persdelict ke dua sedeng yang pertama menjadi sebab hingga saya dengen pakean perantean (seragam buwi) harus menjadi serupa tontonan.

Katanya saya jurnalis tetapi dengen kaki telanyang dan kedua tangan diborgol seraya dalam pakean buwi tarik perhatian semacam ketek-ogleng yang lagi di pertunjuken. O ya saya lupa kendali saya dihukum sebage jurnalis tetapi jurnalis status ..Inlander!

Kakap tuturken ia tahu hal saya dari surat2 kabar (yang bukan Belanda punya) yang pada protes keras terhadap perlakuan yang diberiken kepada saya. Kakap perluken datang di Sawahan dengen bawa rokok dan makanan, seperti yang umumnya dilakuken oleh mereka yang hendak tengok para terdakwa atawa terhukum.

Budi kecintaan Kakap saya bales ketika satu taon kamudian, sasudah saya merdeka kombali, ia dan beberapa kawannya dihadepken di muka meja pengadilan karena di dakwa mengelapkan barang dagangan asal gudang firma dimana mereka bekerja. Semoa terdakwa dihukum, kacuali Kakap sendiri di bebasken. Karena tida ada bukti ia turut dalem sekongkelan itu.

Tetapi sementara itu Kakap pun sudah berenti bekerja pada firma van Nierop. Sekarang ia usahakan perdagangan di “Kali Mati” dengen punya cabang dipasar “Turi”. Di waktu itu kedua tempat tersebut terkenal sebage pangkalan orang2 yang “berdagang” dengen takut disorot terangnya mata-hari. jadi semuanya jual-beli pun dilakuken dalam keadaan remang2. Alias yang di perjual-beliken itu ada barang2 asal curian.

Kakap orangnya memang cerdas, bisa cepat ambil putusan dan karena terkenal pemberani, maka bisa dimegerti ia menjadi “dalang” dari sobat dan kawannya yang cuma bisa turut perentahnya, bicara menurut kemauan-nya yang bertindak ikut garis2 yang diunjuk oleh Kakap. Dan tentu saya Kakap juga yang dapet andil paling besar, surup dengen nama julukannya si KAKAP.

Banyak taon telah lewat dalem mana tidak sedikit ka-untungan yang ia bisa garuk dengen tida sedikit juga korbankan alatnya yang pada masuk penjara. Dengen si Kakap sendiri bebas sebab tida ada bukti atawa sama sekali berlagak seolah-olah ia berada di luar-nya. Begitu licin dan cerdiknya bisa atur segalanya.

Empat puluh taon kamudian sedari zaman van Nierop, ketika berada di Pasar-baru jakarta, satu auto Impala meluncur dengen perlahan. Di dalemnya saya liat ada duduk seorang yang saya rasa kenal. Begitu orang itu yang terus awasin saya. Impala dikasih berenti dan turunlah seorang lelaki tinggi besar dan terus samperin saya. Kendati sekarang sudah sama2 beruban-an, tokh saya lantas tahu yang orang itu bukan laen adalah si Kakap, kenalan saya dari zaman van Nierop. Akrab sekali kita saling pegang tangan dan akhirnya si Kakap undang saya buat naek mobil-nya. Saya oleh-nya di ajak mampir di rumah nya di Menteng dan karena tida ada yang mesti diurus saya terima tawaran-nya.

Rumahnya Kakap cukup besar dengen pekarangan luas dibagian depan dan belakang. Sasudah duduk di ruangan dalem di mana bujang2 sudah siap sediaken minuman dan sasudah tanya ini dan itu, akhirnya Kakap mulai dengen penuturannya yang saya turunkan dibawah seperti apa yang ia bilang pada saya:

ya, kita satu sama laen sudah saling kenal sedari puluhan taon bukan? Dan semua orang tau, semboyang aku selalu pakai adalah ceping kha-ku, ceping twa-khu, sial masuk penjara , selamat masuk rumah besar. Tetapi akhirnya diwaktu sudah menjadi tua, aku insaf bagaimana keliru adanya semboyan hidup semacam itu yang cuma bisa lahirkan siksaan bathin yang amat heibat. Siksaan2 bathin yang bikin kita akhirnya mengakui betapa besar dan Agung adanya Tuhan yang Maha Esa, dan bagaimana kecil seperti debu adanya kita.

Saya awasin Kakap dengen hampir tida percaya pada pandengan mata sendiri. Apa ini benar Kakap yang sekarang bisa kotbah seperti satu paderi? Meliat perobahan di tampang muka saya; Kakap bersenyum dan lanjutken :

Aku bisa mengerti jalan pikiranmu. Kakap; yang dahulunya menjagoi; sekarang seperti orang yang bertobat; mohon diampuni dosanya; Memang aku bertobat dan mohon yang Maha Murah akhirnya suka denger ratapanku yang setiap aku panjatkan dengen berlutut dalam kamarku.

Begitulah Kakap ken sembari dengen sapu tangan seka aer mata yang kaliatan mengembeng dan akhirnya jatuh kebawah. Astaga! Saya rasa seperti lagi mengimpi. Ini Kakap yang bisa menangis sembari dengen suara meratap utaraken isi hatinya? Ajaib !.

(II)

Aku tahu, kami terperanjat dan hampir tida bisa percaya apa yang kamu liat dengen mata kepala sendiri. Kakap, bekas kepala bajingan, anak Kapasan sejati, sekarang menangis di depanmu. Dan kepadamu ingin aku tuturken segala apa yang aku alamken. Aku tahu kamu suka tulis. Tulislah riwayatku ini kalu kamu anggap ada harganya. Bukan untuk Kakap pribadi, tetapi biarlah apa yang aku alamken bisa menjadi satu cermin bagi pembacamu, agar jangan sampe ada yang tiru sepak terjangku yang tadinya ingin lekas kaya dengen singkirkan segala rintangan moral. ceping kha-khu, ceping twa-cu !

Hm! Itu adalah bisikan setan belaka! Kamu ingat ketika kamu tengok aku di Landraad Sawahan, dimana aku di bebaskan sedeng semua kawan2ku dijatohi hukuman penjara. Mestinya aku, aku si Kakap yang seharusnya masuk buwi; aku saja! Tetapi karena dengen hati2 dan cerdik aku atur segala siasat, maka kawan2 yang kena pulutnya sedeng yang gegares nangkanya ada aku sendiri. Tentu saja merekapun aku cipratin sedikit. Dan begitu seterusnya.

Daganganku di Kali Mati dan di Pasar Turi jalan baek, tetapi jarang sekali aku kesana. Semua aku percayaken kepada kawan2 yang aku tahu aken setia padaku. Atawa juga karena mereka tahu aku ini siapa. jika aku satu2 kali datang yalah sebage pembeli yang pura2 cari ini dan itu. Sebage kedok aku buka toko kecil di Songo-yudan, seperti yang kamu masih inget.

Aku menikah sama gadis di Kalisari yang terkenal amat eilok. Hidup kami keliatan beruntung, tetapi tokh aku mulai gelisah, kuatir kedudukan ku di Surabaia tida bisa terus di pertahankan. Kalau ada satu mulut saja yang bocor, jangan2 aku bisa turut keseret. Dan aku sendiri hadepin berapa puluh mulut! Maka itu aku ambil putusan pindah ke jakarta.

Dari perkawinan kami lahirlah seorang putera yang amat di manjakan, terutama oleh aku sendiri. Dihampir akhir taon 1945 aku pindah ke jakarta dengen bawa istri dan anakku. Bermula aku tinggal di jalan Gajah Mada yang dulunya terkenal dengen nama Molenvliet. Rumah yang kami tinggal ada lumayan besarnya, menghadap jalan raya. Dan justru ini yang bikin aku timbulken ingetan kenapa kita tida buka saja semacam restoran kecil.

Istriku pandai masak dan begitulah kita memulai penghidupan baru. uwang yang dapet aku kumpulken di Surabaia ada cukup banyak hingga kita tida usah terlalu kuatir hadepin segala kamungkinan. Tiap hari pasti ada banyak orang yang mampir buat makan. kamu tahu, dari satu mulut ke laen mulut ada advertensi yang paling baek buat rumah makan. Apa lagi waktu itu masih ada sekutu dan Belanda punya pasukan militer.

Pada suatu sore ada datang di restoranku seorang opsir Belanda pangkat kapten. Karena bahasa Belanda aku pun paham maka dengen leluasa kita bisa bicara. Itu kapten bilang ia hendak minta tolong aku cariken daging sampi berapa banyak juga tiap hari. Dengen harga menurut aku punya suka.

Karena aku ada punya restoran, jadi tentu aku tahu dimana aku bisa dapet daging sampi yang amat dibutuhken buat anak buwahnya. Aku jawab aku tida bisa kasih tanggungan apa2 karena di taon2 1946 keadaan sudah mulai genting hingga buat dapatkan apa yang diminta tida begitu mudah dilakuken. Dan jangan lupa bahaya2 yang bisa mengancam kita. Kapan gelora revolusi masih sedeng berkobar-kobarnya.

Karena sangka aku aken menolak (tida tahu ini cuman taktikku buat bikin si kapten lebi cepat telen pancingku) ia beriken aku satu koper kecil penuh uwang kertas Nica. Sebage jaminan yang ia tida boong. Kapan itu daging bisa di lever semua terserah padaku. Aku minta ia dateng di esok sorenya pura2 seperti langganan yang hendak makan.

Seantero hari aku gunaken buat cari tau dimana aku bisa dapet beli daging sampi; seperti di Tanah Abang, di jatinegara, di jalan Tanggerang. Pendek kata dipinggiran kota. Dan aku kumpulken sobat2 yang aku bisa percaya buat beli daging sampi.

Aku sendiri tetep dibelakang layar, buat jaga jangan sampe kita bisa di selomoti oleh si Belanda. Padahal yang aku kuatirken yalah bahaya2 besar yang bisa menimpa pada pembeli2 daging sampi kalau sampe resia ini bocor pada pemuda. Mala sebage tempat buat lever daging aku pilih satu warung di deket kantor Pos Kota di mana si kapten bisa suruh orangnya ambil.

yang kekuatiranku bukan impian belaka bisa terbukti dari banyaknya sobat2ku yang menjadi korban dan di cap sebage “Anjing Nica”. Korban revolusi! Bener! Tetapi lebi jitu lagi jika di bilang korbanku yang dengen penuh pengetahuan tentang adanya bahaya2 tokh sengaja suroh mereka pergi beli daging sampi, melulu buat bisa garuk kauntungan2 sebesar mungkin. Ini sudah bukan sial masuk penjara lagi, tetapi sial ilang kepala.

Berapa banyak duit aku bisa kumpulken, ini sukar buat di hitung, tetapi kamu bisa taksir sendiri. Di sepanjang taon 1946 sampe aksi politionale pertama ditaon 1947 duitku sudah bertumpuk-tumpuk hingga aku bisa beli ini rumah dan masih ada 4 lain, semua terletak didaerah Menteng.

Aku beli semua itu rumah dengen harga banyak miring, karena yang punya orang2 Belanda yang justru hendak pulang ke negaranya. Disebelah uwang darah asal dari penjualan daging sampi restoranku pun masih berjalan baek dan tiap hari bisa kasih pendapetan yang lebi dari cukup buat tutup segala ongkos. Tetapi tokh aku ambil putusan buat berentiken segala gerakan cari duit, mala restoranku di operkan dapat harga yang berlipat-lipat kali jumlah yang dahulunya aku bayar buat dapet itu tempat. Aku berbuat demikian, terutama sebab istriku mengandung lagi dan sekarang aku sudah bisa sediakan ini rumah seperti yang belon pernah di impikan oleh “Arek Kapasan” selagi ia masih ada di kampong Seng.

Betapa girangnya dan bahagia adanya istriku dan aku sendiri. rumah sudah ada lima, duit cukup banyak dan kita bisa hidup mewah zonder kuatir atawa takut apapun juga. cuma yang bikin aku kadang2 rasa kuatir yalah anakku yang pertama yang dimasa itu usianya sudah hampir 20 taon. Ini anak wataknya memang lembek, aku tahu; keberaniannya buat lakuken ini dan itu tida ada mala kadang2 kentara sekali sifat pengecutnya.

Biasanya cuma petik gitarnya, gulang-gulung sama anak2 sepantarannya dengen ia, yang semua aku golongkan sebage gelandangan yang cuma bisa lutang-lantung, liwatin harinya dengen omong kosong di warung dan restoran, main prempuan dan judi. Itu semua ada salahku; aku terlalu memanjakan ia di waktu masih kecil dan sesudah berangkat besar aku boleh dibilang sama sekali tida perhatikan ia saking sibukku dengen memburu duit dan lagi sekali duit.

(III)

Pernah aku menjadi marah padanya sampe aku hajar ia dengen rotan dan maki ia sebage tikus yang cuma bisa cari makan di sekokan. Kalau mau jadi bajingan, jadilah bajingan kaliber besar. Hingga tida sia-sia ia menjadi anaknya buaia Kapasan !

Istriku menjadi begitu kaget sampe ia keluarken darah. Sedari itu aku tida ambil pusing si anak yang tida ada gunanya. untung itu semua tida ganggu kandungan istriku yang sementara itu sudah bayongi kemari. Kita berdua berbahagia dan harap saja anaka yang bakal dilahirkan ada anak perempuan yang cantik seperti ibunya.

Dan benar juga, ketika sudah dateng waktunya untuk melahirkan, aku bawa ia ke rumah-sakit cikini dan terkabulah pengharapanku. Istriku lahirkan satu anak perempuan yang cantik sekali, lebi eilok dari ibunya, tetapi …..tetapi, sudahlah nanti kamu bisa liat sendiri.

Begitulah Kakap punya putusken penuturannya seraya menangis seseggukan, saya tida berani tanya apa2 hanya tunggu saya. Kakap masih terus menangis, malah buat tahan seseggukannya, seluru tubuhnya yang tegap dan besar keliatan seperti menggigil. Akhirnya ia usap aer matanya dan ia lanjutkan;

Bayi itu supaia ditahan dan tida dikasih liat pada ibunya. Atas permintaan sangat dari aku, dokter yang merawat bilang pada istriku. Baik ia pulang dahulu dan bayinya aken menyusul belakangan karena masih perlu dapat perawatan extra dan tida buleh di jumpai oleh siapapun juga, kacuali oleh dokter dan zuster yang merawatnya.

Apa boleh buat. Istriku menurut dan begitulah aku ajak pulang dahulu. Dengen gembirah dan kadang2 menyanyi istriku tida bosan2 hiasin tempat tidur anak kita yang semuanya dikasih warna merah, untuk bayi-prempuan.

Kamu rasa bisa bayangkan, meliat itu semua setiap hari selagi menunggu datangnya sang bayi. Hatiku seperti diiris-iris. Mulailah aku insaf bagaimana heibatnya Tuhan bisa hukum mahluknya. Dan ketika si bayi dibawa pulang oleh dokter dengen disertain oleh dua zuster yang bakal bekerja di rumahku, istriku dengen tida sabar tunggu di serambi depan.

Bayi yang didukung oleh zuster cuma keliatan mukanya saya, yang memang amat eilok. Dengen sorot mata yang unjuken bagaimana besar adanya iapunya rasa bahagia, istriku pandang aku. Tetapi aku tida berani menatap pandangan matanya, hanya dengen tunduk kepala aku tunggu dengen berdebar-debar kasudahan dari ini kejadian yang amat sedih sekali.

Mendadak kita semua dengar istriku bertereak-tereak seperti orang yang kerasukan; ia menjerit-jerit, katanya itu bayi bukan anaknya. Kamudian ia jatoh pingsan. Sampe lama ia harus dapat rawatan dari dokter yang bilang padaku, istriku telah dapet goncangan bathin yang heibat hingga cuma dengen sabar dan perlahan saja ia harap bisa sembuhken istriku.

Namanya satu ibu dan anaknya! Lambat laun rasa jemu dan jijik ketika pertama kali saksikan bagaimana macam tubuh anaknya, diganti rasa sayang dan cinta terhadap darah dagingnya sendiri. Ia seolah-olah turut tebus dosa dari orang tuanya. Itu anak di kasih nama Loan yang ternyata punya pikiran yang pintar dan lekas mengarti maksud orang. Pun bicaranya bisa lancar. cuma itu tubuh……… itu tubuh yang………., tapi sudah lah nanti kamu bisa liat sendiri. Ketika Loan berusia 3 taon istriku mengandung lagi. 

Bermula dengen paksa ia hendak gugurken kandungannya, tetapi dengen sabar dan tenang dokter yang tadinya tulung waktu Loan lahir, beriken ia berbagai nasehat sampe akhirnya istriku menurut dan serahkan saja segalanya pada putusan Tuhan yang Maha Kuasa.

Waktu lahirnya jambang bayi itu sudah deket, aku pesen tempat di rumah-sakit “Carolus” sebab kalau di cikini aku kuatir timbul kenangan2 yang tida baik buat istriku.

Tetapi Tuhan anggap belon cukup takeran dosa2ku. Bayi yang dilahirken ternyata laki2 tetapi……tetapi….. ia bakal seorang idiot, ketika akhirnya istriku tahu. yang anak itu dilahirkan sebage seorang idiot imbiciel buat selama hidupnya, ia tudukin kepalanya, dengen deras aer matanya mengucur zonder ia sendiri keluarken suaranya. Bisa kamu terka bagaimana perasaanku diwaktu itu, lebi-lebi dari orang yang dihukum picis yang dipotong sedikit demi sedikit di zaman dahulu.

Pernah aku tawarkan bawa pergi saja Loan dan adiknya yang diberi nama Dicky. Istriku dengen perlahan golengken kepalanya; dengen sorot mata yang bersinar amat sedih menggambarkan kehancuran hatinya, ia pandang aku seolah-olah hendak bilang, kita harus tunduk pada kemauan Tuhan, pencipta segala-galanya. Istriku seperti orang mati ngenes; seperti sedikit demi sedikit nyawanya dicabut dengen mesti disaksikan oleh aku suaminya, agar penderitaanku di rasakan lebi heibat lagi.

Empat bulan telah lewat di sepanjang mana istriku cuma duduk termenung-menung di kerosinya diserambi belakang. Dan akhirnya di suatu pagi tamatlah hidupnya yang penuh penderitaan bathin begitu heibat sebage suami istri yang dosanya bertumpuk-tumpuk.

Aku kubur ia di jati Petamburan; lobang yang tengah buat istriku; lobang sebelah kanan buat aku; lobang sebelah kiri buat Loan dan Dicky besok, jika mereka juga di-tamatkan siksaan-nya di dunia ini. Anakku yang sulung jarang aku jumpai; ini anak selamanya selalu seperti takut ketemu aku, tetapi aku tahu ia tambah lama makin tida karuan tingkah lakunya.

Karena akupun tida bisa selalu liatin Loan dan Dicky, buat siapa aku ambil 2 zuster buat tiap anak karena mereka ini selalu mesti dibantu dalem segala-galanya, maka akhirnya aku ambil putusan menikah lagi. Agar Loan dan Dicky pun bisa diamat-amati oleh seorang ibu tiri.

Istriku baru ini masih muda sekali usianya dibandingkan aku. Aku menikah ia dengen bikin surat kawin agar tida bisa dibilang Loan dan Dicky aku serahken pada seorang selir. Dan karena adanya istri ini aku sekarang punya lebi banyak tempo buat urus pekerjaanku yang benar tida sesibuk seperti dulu tetapi tokh selalu masih ada saja yang minta perhatian penuh.

(IV)

DuA taon telah liwat ketika aku dapet tamparan lagi dari sang nasib. Anaku yang sulung yang dahulunya aku begitu cintai dan majakan ternyata sudah bejat sama sekali moralnya. Buat urus pekerjaanku yang masih ada, aku banyak berada di luar rumah, mala kadang2 sampe pergi keluar kota.

Apa mau, diwaktu aku tida ada, si anak cilaka gunakan itu ketika buat main…..pat-pat gulipat dengen istriku, ibu tirinya sendiri. Masa ia berani kangkangin juga apa menjadi hak miliku?.

Ketika aku pergokin mereka itu didalem kamarku sendiri, di pembaringanku sendiri mereka berdua, hampir2 aku bunuh mereka berdua. Bayangan istriku, ibu Loan dan Dicky, bikin aku urung tancap-kan diatas dua manusia keparat. Dengen serentak aku usir anak cilaka dan ancam ia jangan datang di rumahku lagi, pun jangan ke Surabaia karena disana pasti akan mati dibunuh. Dalem beberapa surat kabar aku umumken yang aku tida anggap ia sudah aku usir keluar dari keluargaku dan segala perbuatan-nya ada ia punya urusan sendiri. Sedang si perempuan aku ceraikan itu hari juga.

Bicara sampe disini Kakap keliatan seperti semacam reruntuk bila dibandingkan dengen tadi waktu kita saling bertemu. Dengen tarik napas panjang Kakap lanjutken penuturannya:

Sekarang dua rumah dari 5 buwah yang tadinya aku miliki aku sudah jual. uwangnya aku kasi masuk bank dan melulu digunaken buat tolong sobat2ku di Surabaia yang pernah hilang kemerdekaannya buat aku; tolong keluarga sobat2ku di jakarta yang hilang nyawanya buat aku. Rumah ini dan dua laennya aku serahkan pada gereja dengen perjanjian, kalau aku mati lebih dahulu, gereja-lah yang harus piara dan urus Loan dan Dicky. Bila anak itu meninggal harus dikubur sebelah kuburan ibunya dimana juga aku punya tempat mengasoh penghabisan.

Sekarang aku insaf dan mendusin Tuhan itu ada Murah tetapi pun ada Adil dengen tida bisa ditawar-tawar lagi. Marilah sekarang kebelakang; aku hendak unjuk padamu sisa dari keluargaku !

Dengen perasaan tida karuan saya ikut Kakap menuju keruwangan belakang; rupanya disana biasanya Loan dan Dicky berada. Dan ketika akhirnya aku berpapasan dengen Loan yang waktu itu umurnya kurang lebi 18 taon, saya rasa seperti sudah tida berada di dunia ini lagi. Hanya di Sorga, hadepin satu bidadari. Belon pernah saya saksiken tampang muka yang begitu eilok, begitu cantik dan begitu menarik seperti yang di punyain Loan. Rambutnya yang tebal menjadi timbalan yang setimpal buat lebi tonjolkan putih bersihnya iapunya kulit. jidatnya yang lebar dihiasin sepasang alis yang “nanggal sepisan” melirit halus laksana rembulan muda (bukan yang dipensil seperti alis zaman modern ini).

Matanya terang dan bagus sekali kendati samar2 lukisken kesedihan, dikelilingin oleh bulu mata yang mayit (bukan seperti mayitnya bulu mata tempelan di zaman modern ini). Hidungnya cukup mancung dan sembabat buat mulutnya yang manis dengen bibir penuh, yang satu kali tersenyum unjuken sebaris gigi seperti mutiara dan berbarang sunglap di kedua pipinya sujen yang bikin antero-tampang mukanya lebi cantik dan lebi menggiurken lagi daon kupingnya tida tercela masi dihiasin oleh sepansang anting2 yang mata berlian-nya bisa “godek kepiyur” saban kali Loan geraken kepalanya. Dan itu semua ditunjang oleh batang leher yang jujang dan halus sekali nampaknya. Tetapi….. tetapi…. Saya mendongak keatas dalem hati saya menjerit-jerit kenapa Tuhan yang Maha Murah, kenapa justru muka yang begini ditancapken atas tubuh yang begitu. ya Tuhan, mohon ampun seribu ampun!

Pundak yang mendoyung kekiri barangkali tersorong oleh bongkok yang berada di lehernya, dibagian bawah keliatan semacam tangan tida berlengan, mirip dengen sayapnya ikan. Turun dibawah ada kaki kiri yang boleh dibilang tulang dibungkus kulit saja. Sebaliknya lengan kanan ada begitu panjang hingga hampir si tangan ada sebatas lutut yang dibagian bawah berakhir pada kaki yang boleh dibilang sudah hampir bukan berupa kaki manusia lagi; semua jeriji-nya di pasang malang melintang hingga kaki itu tida bisa digunaken sama sekali. Malah buat tahan berat badannya saja harus di tunjang dengen tungket.

Sebaliknya Dicky kaki tangannya lengkap, cuma memang ia dilahirken sebagai idiot, imbiciel. Kepalanya yang kecil mirip tumpeng, mucung di bagian atas. Kedua matanya tida sama tingginya; yang kiri lebih dibawah dan biji matanya menjuling keatas sedang mata kanan ada sebaliknya.

Hingga kalau Dicky jalan dan menuju kekiri umpamanya, selalu kepalanya berpaling kekanan. usianya 15 taon lebi, tetapi masih seperti anak dibawah dua taon. Ia bisa kencing dan berak ditempat dimana ia berada, hingga saban kali harus dituntun ke kamar-mandi buat cuci dan tuker pakean.

Loan dan Dicky kebanyakan berada di ruwang belakang dan masing2 selalu mesti didampingin oleh zuster sebab dalem hal harus dibantu. Dicky tida bisa bicara cuman treak-treak seperti monyet. Ia suka bergelimpangan di jubin dan kadang2 dalem keadaan telanjang bulat. Buat Dicky itu semua tida berarti karena ia tidak mengarti suatu apapun. Ketika liat saya coba datang dekat, Ia treak2 sembari jalan mundur dan tepok tangan. Kamudian jatohkan diri di jubin, saat lagi balikin tubuhnya dan bikin gerakan seperti orang berenang. Lantas duduk termenung meliat kesatu pojok dengen tida ambil perduli pada siapapun juga.

Saya ambil selamat berpisah dari Loan. Sembari cium kepalanya saya harus gunaken antero kemauan hati saya buat tahan mengalirnya aer mata yang saya tau sudah mulai keluar.

Kakap hantar saya sampe di depan rumahnya. Saya tolak ketika ia tawarkan iapunya Impala dengen alesan saya masih mesti datang di rumah kawan yang tinggal dideketnya.

Saya pulang dengen naek bus yang kendati penuh sesak dan panas, tokh duduk didalem-nya saya rasanya bisa bernapas lebi lega dari pada umpama duduk dengen susun lutut di Kakap punya Impala.

Tjeping kha-khoe, Tjeping twa-tjoe
Kwee Thiam Tjing bertjerita
INDONESIA RAYA
Edit EYD Aldi The

https://topmdi.wordpress.com/2007/11/18/ceping-kha-khu-ceping-twa-cu/

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s