Rambut Toucang, Asal-Usul Serta Tragedinya

Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd 

Bagi yang telah melewati masa hidup era 1990-2000an, banyak sekali film ataupun serial sejarah berlatar Negeri Tirai Bambu yang dipenuhi tokoh laki-laki bergaya rambut setengah botak licin dengan kuncir panjang.

Kebanyakan kita akan teringat aktor kenamaan Hongkong, Jet Li, saat memerankan sosok pesilat, ilmuwan, dan pahlawan rakyat Kanton bernama Wong Fei-hung dalam film Once Upon a Time in China (1991). Kita juga teringat dengan serial Putri Huan Zhu yang diperankan aktris cantik Vicky Zhao pada season pertama (1998 ; diputar di Indonesia tahun 1999). Tokoh protagonisnya, seperti Pangeran Kelima Yong Qi dan Pangeran Fu Erkang ikut memakai gaya rambut berkuncir.

Gaya rambut setengah botak licin berkuncir panjang yang kerap ditampilkan dalam film maupun serial drama itu disebut Bianzi/ Toucang dalam bahasa Tiongkok. Kebanyakan orang belum mengetahui bahwa model rambut itu bukanlah cara berpenampilan asli penduduk Tiongkok. Dari manakah asal gaya rambut tersebut, mengapa Taucang menjadi identik dengan negeri Tiongkok ?

Suku Manchu : Asal Mula Toucang

Orang-orang Manchu adalah kelompok minoritas terbesar kedua di dataran Tiongkok. Di antara 13,3 juta orang Suku Manchu, sebagian besar tinggal di tiga provinsi bekas Manchuria dan tersebar di seluruh penjuru Tiongkok. Mereka tergolong sebagai bangsa non-Sinitik (non-Han). Secara kultur-linguistik, orang Manchu berbeda dengan orang Han atau suku bangsa mayoritas di Cina sebagaimana yang kita kenal ; keturunan orang Han ini yang kita sebut sebagai ‘Tionghoa’ di Indonesia.

Suku Manchu adalah keturunan dari bangsa Jurchen yang termasuk ke dalam ras Proto Turki. Bersama suku-suku di Tiongkok Utara lainnya, Jurchen ialah keturunan suku Xiongnu yang semenjak zaman sebelum Masehi telah merampoki dan mengancam perbatasan utara Tiongkok, sehingga kaisar Qin Shihhuang membangun tembok besar untuk menahan serbuan mereka.

Gaya rambut yang termasuk menjadi bagian dari cara berpenampilan ikut menjadi pembeda antara orang-orang Manchu dengan suku bangsa Han. Kuncir Manchu atau Toucang bisa dilacak keberadaannya kembali pada 2000 tahun silam dan ada alasan praktis di dalamnya.

Secara tradisi, orang-orang Manchu merupakan pemburu yang menunggangi kuda di kawasan pegunungan, mencukur bagian depan kepala (biasanya mencakup setengah sampai ¾ rambut) hingga botak licin akan mempermudah mereka untuk memandang lebih jelas. Kuncir di belakang kepala mereka bisa digelung tinggi menjadi bantalan di atas kepala. Orang-orang Manchu percaya bahwa ruh mereka berdiam di dalam kuncir, sehingga saat prajurit maupun perwira Manchu meninggal, kuncir kepalanya akan dikirim kepada keluarganya untuk selanjutnya dibakar.

Diwajibkannya Toucang, Suatu Tragedi

Penggunaan Taucang dimulai saat Dinasti Ming dari etnis Han di Tiongkok mulai mengalami kemunduran akibat Perang Imjin melawan Jepang (1592-1598), pemberontakan-pemberontakan petani Zhang Xianzhong di Sichuan dan Li Zicheng dari provinsi Shaanxi, kegagalan panen hingga intrik para kasim istana.

Namun yang terberat ialah ketika pemimpin Jurchen bernama Nurhaci (1559-1626) memproklamirkan Nadan Koro atau “Tujuh Kebencian terhadap Dinasti Ming” pada tahun 1618. Penyebabnya ialah kekaisaran Ming telah membunuh ayah Nurhaci yang bernama Taksi dan kakeknya yakni Giocangga tanpa alasan. Dinasti Ming membalas dengan mengirim pasukan ekspedisi setahun berikutnya (1619). Alhasil, sebanyak 200.000 pasukan Ming harus hancur melawan 60.000 pasukan Nurhaci yang menundukkan mereka satu demi satu.

Setelah kematian Nurhaci seusai Perang Ningyuan (1626), penerusnya adalah Huangtaiji (1592-1643) yang berperan dalam mengubah nama bangsanya (Jurchen) menjadi “Manchu” –diambil dari nama Budha Manjushri (Budha kebijaksanaan dan pengetahuan). Huangtaiji wafat pada tahun 1643 karena mendengar Hailanzhu, selir kesayangannya meninggal akibat sakit. Akhirnya, anaknya yang bernama Aisin Gioro Fulin diangkat menjadi kaisar dengan gelar Kaisar Shunzhi.

Shunzhi diangkat sebagai kaisar di usia yang sangat muda yakni 6 tahun. Ketika itu Dinasti Ming tengah mencapai titik nadir kekuasaan. Salah satu jenderal Ming yang bernama Wu Sangui mengirim surat pada Waliraja Manchu yang juga paman Kaisar Shunzhi, Beile (Pangeran) Dorgon, untuk menyerah pada Manchu.

Dorgon-lah yang mengeluarkan “Dekrit Kuncir” di tahun yang sama, yakni kewajiban bagi orang Han untuk mengadopsi Kuncir Manchu (Toucang) serta yang menolak akan dieksekusi, hingga muncullah ungkapan “pertahankan rambut (ala Han) dan kehilangan kepala, atau kehilangan rambut namun kepala selamat.”

Hasilnya ialah perlawanan kepada Manchu di kota-kota delta Sungai Yangtze. Di tahun itu penduduk Jiangyin memilih sikap “mempertahankan rambut ketimbang kepala.” Perlawanan juga muncul saat dekrit itu tiba ke kota Jiading, sampai-sampai terjadi “Pembantaian Tiga Babak” di kota ini.

Peristiwa ini menambah catatan panjang korban penaklukan Manchu atas Ming yang termasuk salah satu dari “Seribu Bencana Kemanusiaan Terburuk dalam Sejarah” : jumlah yang tewas kurang lebih adalah 25 juta jiwa sejak tahun 1616. Menurut catatan yang lebih valid, jumlah korban yang tewas sejak Nurhaci meproklamirkan Nadan Koro ternyata lebih banyak. Tahun Taichang ke-1 (1620), penduduk Tiongkok berjumlah 51,66 Juta jiwa, namun di tahun Shunzhi ke-8 (1651), penduduk Tiongkok yang tersisa hanya 10,63 juta jiwa.

Makna Bagi Kita

Taucang terus dipakai hingga sekitar dua abad berikutnya. Bahkan di Hindia Belanda para migran Tiongkok diwajibkan mengenakan pakaian tradisional mereka, lengkap dengan rambut kepang (Toucang / Bianzi-Pen) yang merupakan trend di dataran Tiongkok, di bawah kekuasaan dinasti Manchuria kala itu.

Dinasti Manchu runtuh akibat Xinhai Geming atau “Revolusi 1911”, atas prakarsa Sun Yat-Sen “Bapak Nasionalis Cina”. Tentang Bianzi / Toucang atau Kuncir Manchu ternyata menyimpan kisah panjang dan bermakna melebihi kepopuleran film Kungfu Wong Fei-hung maupun romantisme serial Putri Huanzhu.

Nilai penting yang dapat dipetik ialah kita mesti menghargai ciri khas maupun perbedaan antar-individu maupun antar-kelompok sebagai khazanah kebhinekaan. Kita tak dapat memaksakan pilihan yang diyakini apalagi dengan kekerasan pada orang lain, sebagaimana pemaksaan kuncir/Toucang oleh Dorgon yang menyebabkan jatuhnya korban.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s