Kisah Cinta Segiempat Di Pulau Bunga Persik – Jin Yong

Mei Chaofeng (Bwee Tiauw Hong) dalam Legenda Pendekar Pemanah Rajawali (The Legend of the Condor Heroes)

By Grace Tjan

Mei Chaofeng (Bwee Tiauw Hong) duduk di atas tanah, tangan kanannya masih mencengkeram leher Guo Jing (Kwee Ceng), selama lebih dari sepuluh tahun ia tak dapat menemukan musuh yang membunuh suaminya, namun musuh mendadak datang menghantarkan dirinya sendiri, „Apakah arwah si lelaki pencuri di bawah sana ingin membunuh musuh yang membunuhnya dan memancingnya hingga sampai ke tanganku?“ Rambutnya tergerai menutupi wajahnya, ia mendongak ke langit, biasanya ia dapat melihat bintang-bintang di langit, namun saat ini di depan matanya keadaan gelap gulita, ia hendak berdiri, namun separuh tubuh di bawah pinggangnya sama sekali tak bertenaga, pikirnya, „Tentunya tenaga dalamku menyimpang, kalau shifu memberiku sedikit petunjuk saja, aku akan langsung sembuh. Di Mongolia aku bertemu dengan ketujuh murid Quanzhen, Ma Yu (Ma Giok) hanya perlu mengajarkan satu kalimat rumus rahasia tenaga dalam saja, tapi ketika aku hendak menanyakan sebuah titik kunci yang penting, ia tak mau memberitahuku. Kalau saja saat ini aku berada di sisi shifu, walaupun aku menanyakan seribu atau selaksa kalimat, ia akan memberitahuku, shifu……shifu, kalau aku lalu menarik tanganmu, apakah kau masih…..masih mau mengajarku?“ Seketika itu juga ia merasa amat girang, namun juga amat berduka, kenangan masa silam seumur hidup mendadak membanjir silih berganti, adegan demi adegan berkelebat dalam pikirannya:

„Dahulu aku adalah seorang gadis yang polos dan tak tahu apa-apa, seharian hanya bermain-main saja, ayah dan ibu memperlakukanku sebagai buah hati kesayangan, saat itu namaku Mei Ruohua. Sayang ayah dan ibu susul-menyusul meninggal dunia, lalu paman dan bibi dari pihak ayah membesarkanku, ketika aku berumur sebelas tahun, mereka menjualku seharga lima puluh tahil perak ke sebuah keluarga kaya sebagai budak, yaitu di Desa Keluarga Jiang di Kabupaten Shangyu, keluarga itu bermarga Jiang. Tuan Jiang memperlakukanku dengan cukup baik, tapi Nyonya Jiang sangat bengis“.

„Saat aku berusia dua belas tahun, aku sedang mencuci pakaian di samping sumur, Tuan Jiang datang dan mengelus-elus wajahku, sambil tersenyum ramah ia berkata, ‚Nona kecil makin besar makin manis saja, sebelum berusia enam belas tahun, kau pasti akan menjadi seorang wanita cantik‘. Aku berpaling dan tak memperdulikannya, tapi ia mendadak mengangsurkan tangannya dan meraba dadaku, aku gusar dan mendorongnya pergi, tanganku berlepotan getah zao jia[1] sehingga janggutnya juga berlepotan getah. Aku merasa geli, ketika aku sedang tertawa, mendadak terdengar bunyi ‚buk‘, kepalaku terasa amat sakit, aku kena pukul dan hampir pingsan, kudengar Nyonya Jiang memaki dengan sengit, ‚Siluman rubah cilik, kecil-kecil berani mengoda lelaki, benar-benar keterlaluan!‘ Ia memaki sambil memukul, ia memukuli kepalaku bertubi-tubi dengan tongkat kayu. Aku berbalik melarikan diri, Nyonya Jiang mengejarku, menjambak rambutku dan menarik kepalaku ke belakang, ia mengangkat tongkatnya dan memukul wajahku sambil memaki, ‚Gadis bodoh yang cabul, akan kupukuli wajahmu yang memuakkan sampai hancur, lalu kucungkil matamu, coba lihat kau akan berubah menjadi siluman rubah atau tidak!“ Jari-jari tangannya mencubit bola mataku, aku sangat ketakutan dan berteriak keras-keras, lalu mendorongnya, ia jatuh terduduk. Perempuan jahat itu makin murka, ia menyuruh tiga orang budak perempuan besar memegangi tangan dan kakiku, mereka menyeretku ke dapur dan memitingku, sedangkan ia mengambil sebuah jepitan arang dan membakarnya di atas tungku sampai merah padam, lalu berteriak, ‚Aku akan membakar dua buah lubang di wajahmu yang memuakkan, lalu membakar bola matamu sehingga kau menjadi si buruk rupa yang buta!‘ Aku menjerit-jerit minta ampun, ‚Nyonya, aku tak berani, mohon ampuni aku!‘ Nyonya Jiang mengangkat jepitan arang dan menusuk ke arah bola mataku!“

„Aku meronta-ronta sekuat tenaga, namun aku tak berdaya melepaskan diri, aku terpaksa memejamkan mata, aku merasakan hawa panas mendekat, mendadak, ‚Buk!‘, hawa panas tak terasa lagi, suara seorang lelaki berseru, ‚Perempuan jahat, apa kau masih punya hati nurani?‘ Orang-orang yang memegangi tangan dan kakiku melepaskan pegangan mereka, aku cepat-cepat meronta dan merayap bangkit, kulihat tangan kiri seseorang yang mengenakan jubah hijau mencengkeram tengkuk Nyonya Jiang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sedangkan tangan kanannya memegang penjepit arang yang merah membara itu dan menyorongkannya ke depan mata Nyonya Jiang. Nyonya Jiang menjerit-jerit seperti babi yang disembelih, ‚Tolong, tolong, perampok membunuh orang!‘ Beberapa pelayan Keluarga Jiang memburu untuk menolongnya sambil membawa tongkat kayu dan garu besi, namun dengan sekali tendang lelaki itu menendang pelayan-pelayan itu hingga keluar dari dapur dan terjatuh di halaman. Nyonya Jiang menjerit-jerit, ‚Tuan besar, ampuni jiwaku, tuan besar, ampuni jiwaku, aku tak akan berani melakukannya lagi!‘ Lelaki itu bertanya, ‚Apa setelah ini kau masih berani menganiaya gadis ini lagi?‘ Nyonya Jiang berseru, ‚Selamanya tak kan berani, kalau tuan besar tak percaya, silahkan datang beberapa hari lagi untuk memeriksa!‘ Lelaki itu tertawa sinis dan berkata, ‚Aku mana ada waktu untuk terus menerus memeriksa keadaan rumah tanggamu. Akan kubakar dulu kedua bola matamu‘. Nyonya Jiang memohon-mohon, ‚Tuan besar, mohon bawa budak ini pergi. Kami tak menginginkannya, ia kami berikan pada tuan, aku hanya mohon agar tuan mengampuni kami‘. Tangan kiri lelaki itu melepaskan pegangannya sehingga Nyonya Jiang terjatuh ke tanah. Ia bersujud seraya berkata, „Banyak terima kasih karena tuan besar telah mengampuni jiwaku, kami menghadiahkan budak ini kepada tuan besar, harga pembeliannya yang sebesar lima puluh tahil perakpun kami tak menginginkannya‘. Lelaki itu mengeluarkan sebatang perak besar dari saku bajunya dan melemparkannya ke tanah seraya berseru, ‚Siapa yang mau menerima hadiahmu! Kalau gadis kecil ini tak kuselamatkan, cepat atau lambat ia akan kau siksa sampai mati! Ini seratus tahil perak, ambillah kontrak pembeliannya!‘ Sambil mengucurkan air mata dan tersedu sedan, Nyonya Jiang berlari ke ruang tamu depan, tak lama kemudian ia membawa sehelai dokumen berkertas putih, sedangkan tangan kirinya menarik Tuan Jiang. Kedua pipi Tuan Jiang bengkak dan merah, rupanya ia telah berkali-kali kena tampar Nyonya Jiang sebagai pelampiasan amarahnya.

„Aku berlutut dan bersujud pada lelaki itu, berterima kasih atas budinya menyelamatkan jiwaku. Lelaki itu perawakannya kurus kering, raut wajahnya tegas, ia berkata, ‚Tak usah berterima kasih, bangkitlah, setelah ini ikutilah aku‘. Aku kembali bersujud, lalu berkata, ‚Sejak ini Ruohua akan berusaha sekuat tenaga dengan sepenuh hati melayani tuan‘. Lelaki itu tersenyum dan berkata, ‚Kau tak akan menjadi budakku, kau akan menjadi muridku‘. Begitulah, maka aku ikut shifu ke Taohua Dao[2] dan menjadi muridnya. Shifuku adalah majikan Taohua Dao, Huang Yaoshi (Oey Yok Su), ia sudah memiliki murid pertama yaitu Qu Lingfeng (Kiok Leng Hong), murid kedua yaitu Chen Xuanfeng (Tan Hian Hong), dan beberapa murid yang usianya sedikit lebih muda dariku yaitu Lu Chengfeng (Liok Seng Hong), Wu Gangfeng (Murid marga Bu) dan Feng Mofeng (Phang Bek Hong). Shifu mengubah namaku menjadi Mei Chaofeng“.

„Shifu mengajariku ilmu silat, dan membaca serta menulis. Kalau shifu tak punya waktu, kakak pertama mengantikannya mengajariku. Kakak Pertama Qu Lingfeng wen wu quan zai[3], dan juga bisa melukis, ia mengajariku membaca puisi dan menjelaskan makna puisi-puisi itu kepadaku“.

„Dari hari ke hari usiaku makin meningkat. Tahun itu dengan cepat aku telah berusia lima belas tahun, aku sudah tiga tahun lebih berguru pada shifu dan sudah banyak mempelajari kitab-kitab Konghucu dan ilmu silat. Tubuhku sudah tinggi, rambutku amat panjang, aku pernah bercermin di air, wajahku memang sangat cantik, kadang-kadang kakak pertama memandangiku tanpa berkedip, kalau ia melakukan hal itu aku malu-malu. Kakak pertama berusia tiga puluh tahun, dua kali lebih tua dariku, perawakannya sangat tinggi, tapi sangat kurus, agak mirip dengan shifu, dan juga seperti shifu, ia selalu nampak muram, jarang kelihatan gembira, hanya kalau bersamaku ia bisa sedikit bercanda dan mengodaku supaya aku senang. Ia sering mengambil kitab puisi tulisan tangan shifu untuk mengajariku“.

„Di atas tangga ia berkipas dan bermain dengan koin, sedangkan di bawah tangga aku melangkah, dahulupun ketika berjumpa dengannya aku telah menaruh hati padanya, apalagi saat ini“. Beberapa baris puisi ini adalah kaligrafi shifu yang bebas, rapat dan tegas, dituliskan di atas sehelai kertas putih dengan tinta yang pucat. Tanpa berkata apa-apa, Qu Shige menaruhnya di sisi kertas yang sedang kupakai berlatih menulis. Aku berpaling, kulihat ekspresi wajahnya nampak aneh, sorot matanya lebih luar biasa lagi. Dengan pelan aku bertanya, ‚Apakah ini ditulis oleh shifu?‘ Ia mengangguk-angguk, lalu mengambil sehelai kertas putih lagi dan menaruhnya di atas kertas pertama untuk menutupinya, namun kata-kata anggun yang ditulis shifu masih nampak, ‚Pohon Liu Jiangnan, daunnya munggil tak mampu meneduhi, saat ia berusia empat atau lima belas tahun, selagi menganggur kuusungpipa dan mencarinya. Dahulupun ketika berjumpa dengannya aku telah menaruh hati padanya, apalagi saat ini‘. Wajahku memerah, jantungku mendadak berdebar-debar tak keruan, aku merasa jeri dan bingung, aku berdiri dan hendak melarikan diri, namun Qu Shige berkata, ‚Xiao shimei, kau duduklah‘. Aku kembali bertanya dengan pelan, ‚Apakah puisi ini dibuat oleh shifu?‘ Qu Shige berkata, ‚Guru yang menulisnya, tapi ini adalah puisi Ouyang Xiu[4], bukan gubahan shifu‘. Aku menghela napas lega dan menjadi lebih tenang“.

„Qu Shige berkata, ‚Menurut buku-buku, Ouyang Xiu menyukai putri saudara perempuannya, dan ia menulis puisi ini untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia melihat keponakan perempuannya yang berusia dua atau tiga belas tahun sedang bermain melempar koin di aula bersama para dayangnya, sambil tertawa dan berseru-seru mereka mengejarnya dan menuruni tangga sampai ke halaman. Ketika Ouyang Xiu melihat bagaimana keponakan perempuannya begitu cantik dan lincah, lemah gemulai dan manis, mau tak mau hatinya tergerak. Setelah itu, ketika keponakan perempuannya berusia empat atau lima belas tahun, ia makin cantik saja, namun Ouyang Xiu sudah menjadi seorang tua berusia lima puluh tahun lebih, ia terpaksa hanya dapat ‚menaruh hati‘ saja, maka ia menghela napas dan menulis puisi ini. Saat itu Ouyang Xiu telah menjadi pejabat tinggi, keluhuran budi dan karya-karya sastranya dikagumi semua orang, namun ia diserang habis-habisan oleh para sejarahwan istana. Sebenarnya, ia hanya bermaksud memuji kecantikan keponakan perempuannya, dan tidak secara tak pantas melakukan inses, kalau ia agak berlebihan dalam menulis puisi, juga bukan suatu perkara besar. Tapi, kenapa shifu begitu menyukai puisi ini dan berulang-ulang menuliskannya?‘ Ia mencampakkan kertas-kertas putih yang berada di tangan kirinya, yang setiap helainya bertuliskan „dahulupun ketika berjumpa dengannya aku telah menaruh hati padanya, apalagi saat ini“. Ia berkata, ‚Xiao shimei, apakah kau paham?‘ Aku menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, ‚Aku tak paham!‘ Ia mendekatiku, lalu kembali bertanya, ‚Apakah kau benar-benar tak paham?‘ Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Ia tertawa, lalu berkata, ‚Kalau begitu kenapa wajahmu memerah?‘ Aku berkata, ‚Aku akan pergi memberitahu shifu‘. Sekonyong-konyong wajah Qu Shige menjadi pucat pasi, katanya, ‚Xiao shimei, kau sama sekali tak boleh berbicara pada shifu. Kalau shifu tahu, ia akan mematahkan kakiku, lalu siapa yang akan mengajarimu ilmu silat?‘ Suaranya gemetar, sepertinya ia ketakutan setengah mati. Kami semua merasa jeri pada shifu, bagaimanapun juga aku tak dapat menyalahkannya. Aku berkata, ‚Aku pasti tak akan berbicara pada shifu. Masa aku begitu bodoh! Sengaja mengundang amarah shifu?‘ Qu Shige berkata, ‚Shifu tak mungkin menegurmu. Sejak kau tiba di Taohua Dao, apakah shifu pernah menegurmu walaupun hanya sepatah kata saja?‘ „

„Benar. Beberapa tahun belakangan ini, shifu selalu bersikap ramah padaku, tak pernah menegurku walaupun hanya sepatah kata saja, bahkan berwajah masam karena marah saja tak pernah. Tapi terkadang ia mengerenyitkan dahinya, jelas bahwa ia sangat tak senang, maka aku sedikit bercanda untuk menyenangkan hatinya, ‚Shifu, kakak yang mana yang mengundang kemarahanmu? Apakah Chen Shige? Apakah Wu Shidi?‘ Chen Shige bicaranya kasar, kadang-kadang ia menyinggung shifu, maka shifu memukulnya dengan pelan, ilmu ringan tubuh Chen Shige luar biasa, tapi biar bagaimanapun juga ia menghindar, dengan sekali pukul shifu selalu bisa dengan enteng memukul ubun-ubunnya, tapi shifu juga memukul dengan sangat pelan, hanya memukul sekali pelan-pelan dan membiarkannya. Wu Shidi wataknya keras kepala, terkadang ia membantah perkataan shifu, tapi shifu tak memperdulikannya, ia hanya tertawa saja dan membiarkannya, tapi lalu selama beberapa hari berturut-turut tak mengacuhkannya. Wu Shidi ketakutan, lalu bersujud minta ampun, tapi lengan jubah shifu mengayun dan iapun berjungkir balik. Wu Shidi sengaja jatuh berguling-guling sehingga kepala dan wajahnya penuh debu dan tanah, shifu tertawa terbahak-bahak dan tak lagi marah padanya“.

„Ketika shifu mendengarku bertanya demikian, ia berkata, ‚Aku tak marah pada Xuanfeng dan Gangfeng, mereka semua baik. Aku melampiaskan kemarahanku kepada Tuhan‘. Aku berkata, ‚Tuhan juga bisa membuatmu marah? Shifu, mohon ajari aku‘. Dengan wajah serius shifu berkata, ‚Aku tak mau mengajarimu. Kalaupun aku mengajarimu, kau tak akan mengerti‘. Aku menarik lengan bajunya dan pelan-pelan mengayun-ayunkannya sambil memohon, ‚Shifu, kumohon padamu, ajarilah aku sedikit saja, kalau aku tak mengerti, kau banyak-banyaklah mengajariku!‘ Setiap kali aku memohon dengan tulus seperti ini, selalu berhasil dengan gemilang. Shifu tersenyum-senyum, masuk ke kamar belajar, lalu mengambil beberapa lembar kertas putih dan memberikannya padaku. Wajahku memerah, tak berani menatap wajahnya, aku khawatir kalau-kalau yang tertulis di atas kertas itu adalah „dahulupun ketika berjumpa dengannya aku telah menaruh hati padanya, apalagi saat ini“. Untung saja, yang tertulis di atas kertas itu adalah sebuah sajak yang lain:

„Puisi Zhu Xizhen yang Disalin Huang Si Sesat Tua.

Ia telah menua, dan segalanya berubah. Di tengah bebungaan ia tak minum namun air mata membasahi bajunya. Sekarang ia hendak mengunci pintunya dan pergi tidur, membiarkan bunga plum melayang bagai salju.

Orang tua tak bisa mengulangi kegembiraan masa muda, ia tak suka arak, dan lelah bermain musik. Senja ini hujan dan angin kembali menerpa, suara terompet di luar loteng sumbang.

Liu Lang telah uzur, namun bunga persik masih tersenyum seperti dahulu. Angin timur bertiup selaksa li, negara hancur, mentari yang tenggelam menyinari gunung dan sungai.

Peristiwa kini dan dahulu, air mata para pahlawan, wajahnya menjadi makin cepat kelihatan lebih tua dari usianya, selamanya ia membenci mentari senja yang tenggelam di barat dan gelombang yang surut di malam hari“.

„Aku berkata, ‚Shifu, kenapa kau selalu menulis bahwa dirimu sudah tua? Kau belum tua, kau masih begitu kuat, ilmu silatmu begitu tinggi, para shige dan shidi yang masih muda usia dan kuat tenaganya itu tak bisa mengunggulimu‘. Shifu menghela napas dan berkata, ‚Ai! Manusia selalu harus menjadi tua. Melihat kalian anak-anak muda ini, rambut putih di kepala shifu bermunculan. „Di Aula besar cermin berkilauan dengan sendu memperlihatkan rambut putih, rambut hitam legam saat menghadap Yang Mulia belakangan ini berubah menjadi salju“ ‚. Aku berkata, ‚Shifu, kau duduklah, aku akan mencabuti rambut-rambut putihmu‘. Aku benar-benar mengangsurkan tangan ke pelipis shifu, mencabut sehelai rambut putih, lalu menunjukkannya padanya. Shifu menghembuskan napas, tiupan ini sangat kuat, aku mengendurkan jari-jariku, dan rambut putih itupun melayang, melayang sangat tinggi, melambai-lambai dan melayang keluar jendela, lalu terbang ke angkasa. Aku bertepuk tangan dan berkata ‚Bulu angsa yang akan selamanya melayang di angkasa‘. Shifu, bakat menulis dan ilmu silatmu amat jarang, benar-benar seperti bulu angsa yang selamanya melayang di angkasa‘. Shifu tersenyum simpul, lalu berkata, ‚Chaofeng, kau selalu bercanda untuk menyenangkan hati shifu, namun hari-hari yang menyenangkan seperti hari ini tak akan banyak lagi. Walaupun ilmu sastra dan silat shifu makin tinggi, akhirnya shifu akan menjadi tua juga, sedangkan kau dari hari ke hari makin besar, dan akhirnya akan meninggalkan shifu‘. Aku menarik tangan shifu dan pelan-pelan mengayun-ayunkannya seraya berkata, ‚Shifu, aku tak mau menjadi besar, seumur hidupku aku akan belajar ilmu silat padamu dan selalu berada di sisimu‘ „.

„Shifu tersenyum getir, lalu berkata, ‚Benar-benar perkataan yang kekanak-kanakkan! Puisi Ouyang Xiu yang berjudul ‚Menenangkan Angin Dan Gelombang‘ mengatakannya dengan baik:

„Di hadapan bebungaan kuangkat cawan arak, kuhendak bertanya pada anda, Tuan, di dunia ini bagaimana kita bisa tetap muda? Walaupun dapat tetap muda, hanyalah kata-kata kosong belaka, kata bunga yang tak berperasaan pada pasangan kekasih. Tak perduli betapa indahnya bunga, akhirnya harus luruh jua. Sejak dahulu, wajah jelita kapan bisa terus belia? „

‚Kau akan menjadi besar. Chaofeng, tenaga dalam yang kita latih kuat, namun tak bisa melawan Tuhan, Tuhan ingin kita menjadi tua, belajar ilmu apapun tak ada gunanya‘. Aku berkata, ‚Shifu, ilmu silatmu begitu tinggi, Chaofeng akan seumur hidup belajar padamu, melayanimu sampai seratus, dua ratus tahun…..‘ Shifu menggeleng seraya berkata, ‚Banyak terima kasih, bagus sekali kalau kau mempunyai maksud seperti itu.

„Musim semi yang datang tahun ini haruslah dihargai, betapa langkanya, tahulah bahwa bunga tak selamanya merah. Setelah bangun dari mabuk, ia tak bisa dijumpai. Seribu satu perasaannya tak bisa sebebas air mengalir atau angin yang bertiup lagi“ ‚.

„Aku berkata, ‚Shifu, Chaofeng tak mengikuti air yang mengalir dan angin yang bertiup, hanya belajar Tanzhi Shentong!‘ Shifu tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, ‚Kau memang paling bisa membuat shifu tertawa, besok pagi aku akan mengajarimu dasar-dasar Tanzhi Shentong‘ „.

„Beberapa hari kemudian, aku bertanya pada Qu Shige, ‚Kenapa shifu menyebut dirinya sendiri si Sesat Tua Huang? Panggilan ini agak tak enak didengar, shifu kan hanya belasan tahun lebih tua darimu, tidak tua dan juga tidak sesat?‘ Qu Shige berkata sembari tersenyum-senyum, ‚Katamu shifu tidak tua dan juga tidak sesat, bagus sekali, kalau mendengarnya shifu pasti senang‘ „.

„Ia berkata bahwa shifu berasal dari keluarga terkemuka di Zhejiang, sebuah keluarga para sastrawan, leluhurnya berjasa besar pada masa Kaisar Taizhu[5], mereka selalu dianugerahi gelar Adipati atau gelar bangsawan lain, selalu menjadi pejabat tinggi. Kakek dalamnya pada tahun Shaoxing Gaozhong[6] menjadi sejarahwan istana. Ketika pembesar pengkhianat Qin Gui[7]secara tak adil mencelakai jenderal besar Yue Fei[8] yang setia pada negara, kakek dalam shifu mengirimkan petisi pada kaisar untuk mohon keadilan, namun kaisar dan Qin Gui murka, mereka tak hanya menolaknya, namun juga menurunkan pangkatnya. Kakek dalam amat setia, ia berseru-seru di luar istana agar para pejabat dan rakyat jelata melindungi Yue Fei. Qin Gui membunuh kakek dalam dan mengasingkan seluruh keluarganya ke Yunnan. Shifu dilahirkan di Lijiang, Yunnan. Sejak kecil ia telah membaca banyak buku, dan juga telah menguasai ilmu silat, sejak kecil pula ia telah memaki kaisar dan mengatakan bahwa ia hendak menggulingkan Dinasti Song, serta bertekad untuk membunuh kaisar, perdana menteri dan para menteri untuk membalas dendam bagi Kakek Yue Fei dan kakek dalam. Saat itu Qin Gui sudah mati, sedangkan Gaozong sudah tua dan pikun. Ayah shifu mengajarinya prinsip para orang bijak untuk setia pada kaisar dan berbakti pada orang tua, namun shifu tak mau menurut dan terus menerus berdebat dengan kakek guru. Seluruh keluarganya mengatakan bahwa ia adalah anak yang tak berbakti, kemudian ketika kakek guru murka, ia mengusirnya dari rumah. Ia kembali ke Jalan Barat Zhejiang, dan tak hanya menolak mengikuti ujian kekaisaran, tapi juga menghancurkan Aula Minglun di Prefektur Qingyuan. Di depan istana, kantor perdana menteri dan Kementerian Peperangan, serta di muka gerbang Prefektur Qiankong Selatan di Quzhou, ia memasang poster-poster besar yang menuduh kaisar telah memfitnah seseorang yang berbudi luhur dan menegur pemerintahan kekaisaran yang buruk, serta mengatakan bahwa kita harus mengirim pasukan ke utara untuk merebut kembali tanah air. Istana mengirim pasukan yang terdiri atas ratusan orang untuk mengejarnya siang dan malam, namun saat itu ilmu silat shifu sudah amat tinggi, mereka mana bisa mengejarnya. Oleh karenanya, nama shifu bersinar di dunia persilatan, ia menuduh kaisar memfitnah kakek dalam dan memaki istana dengan kurang ajar, sebenarnya yang disuarakannya ini adalah pikiran rakyat jelata yang tersimpan dalam hati namun tak berani diucapkan, sehingga di dunia persilatan ia dijuluki ‚Pendekar Besar Yang Sesat Dan Aneh‘ „.

„Qu Shige berkata, ‚Beberapa tahun sebelumnya, karena perebutan kitab rahasia ilmu silat Jiuyin Zhenjing[9], dunia persilatan dilanda angin ribut dan hujan darah, orang yang terluka atau tewas tak terhitung jumlahnya. Jiaozhu Quanzhen Jiao[10], Pendeta Wang Chongyang, mengundang beberapa jago kelas wahid dunia persilatan ke Huashan untuk beradu kepandaian, saat itu pertemuan itu disebut ‚Huashan Lunjian'[11], ia menyatakan bahwa barangsiapa yang ilmu silatnya paling tinggi akan mendapatkan Jiuyin Zhenjing. Sejak saat itu siapapun juga tak boleh memperebutkannya, sehingga dunia persilatan kembali aman dan tenteram. Saat itu ada lima orang yang ikut pertemuan pedang, yaitu mereka yang dijuluki ‚Sesat Timur‘, ‚Racun Barat‘, ‚Kaisar Selatan‘, ‚Pengemis Utara‘ dan ‚Dewa Tengah‘. ‚Sesat Timur‘ adalah shifu, orang juga memanggilnya ‚Huang Si Sesat Tua‘, tapi sebenarnya diantara mereka berlima, usia shifu paling muda; Dewa Tengah adalah Pendeta Chongyang. Hasil dari pertemuan pedang itu ialah bahwa Sesat Timur, Racun Barat dan yang lainnya berempat harus mengakui keunggulan Dewa Tengah ‚ „.

„Aku bertanya, ‚Kakak pertama, Jiuyin Zhenjing itu apa? Kepandaian shifu sudah begitu tinggi, masa ia kalah dari Dewa Tengah itu?‘ Qu Shige berkata, ‚Kabarnya di dalam Jiuyin Zhenjing itu tertulis ilmu silat dan cara berlatih yang paling cemerlang dan lihai dari setiap perguruan dan aliran di dunia ini. Siapapun yang memperoleh kitab itu dan berlatih menurut isinya akan menjadi tanpa tanding di kolong langit ini! Untung saja ilmu silat Pendeta Chongyang memang yang nomor satu di dunia ini, setelah mendapatkan kitab itu, ia masih yang nomor satu di dunia ini. Ia adalah orang yang adil dan baik dan tak menggunakan kekuatan untuk menganiaya orang lain, sehingga ketika hasilnya diumumkan, semua orang puas dan tak ada yang membantah. Xiao shimei, dalam mempelajari ilmu silat, sesungguhnya diatas langit masih ada langit, di atas seseorang masih ada orang lain lagi. Dalam pandangan kita, shifu tentunya tak bisa ditandingi, namun bukan berarti bahwa tak ada orang yang sedikit lebih unggul dari beliau‘ „.

“ ‚Hari itu beberapa larik puisi yang secara spontan diucapkan shifu, ‚Setelah bangun dari mabuk, ia tak bisa dijumpai. Seribu satu perasaannya tak bisa sebebas air mengalir atau angin yang bertiup lagi’, memang tepat, ketika shifu tersadar dari mabuk, orang-orang kita benar-benar tak terlihat lagi, pergi bersama kakak kedua Chen Xuanfeng. Kakak kedua matanya lebar dan alisnya tebal, tubuhnya kekar, dibandingkan denganku ia lebih tua dua tahun, tapi ia jarang berbicara denganku, hanya memandangiku tanpa berkata-kata, sering wajahku terlihat memerah, lalu ia berbalik dan pergi. Ketika pohon-pohon persik di Taohua Dao berbuah, ia sering membawa buah persik yang merah dan ranum, masuk ke kamarku, menaruhnya di meja, lalu keluar tanpa berbicara apa-apa lagi. Qu Shige lebih tua belasan tahun dibandingkan denganku, Lu Shidi lebih muda dua tahun dariku, Wu Shidi dan Feng Shidi lebih muda lagi usianya, dalam benakku, mereka semua adalah anak kecil. Di pulau itu hanya kakak kedua yang sedikit lebih tua dariku. Ia sangat kasar, pernah pada suatu saat, ia menarik tanganku seraya berkata, ‚Adik kecil pencuri, ayo kita curi buah persik‘. Aku gusar dan melemparkan tangannya seraya berkata, ‚Kau suruh aku berbuat apa?‘ Ia berkata, ‚Kalau kita mencuri buah persik dan menjadi pencuri, tentunya kau adalah adik kecil pencuri‘. Aku berkata, ‚Lalu kau sendiri apa?‘ Ia berkata, ‚Aku kakak pencuri‘. Aku berseru, ‚Kakak pencuri!‘ Ia berkata, ‚Benar! Kakak pencuri ingin mencuri adik kecil pencuri‘. Aku tak memperdulikan dia, tapi dalam hati aku merasa bahagia. Malam hari itu, ia mengajakku mencuri buah persik, kami mencuri banyak sekali. Ia menaruh buah-buah persik itu di atas meja kamarku, di tengah kegelapan, ia mendadak memelukku, aku meronta sekuat tenaga, tapi mendadak sekujur tubuhku lemas, ia berbisik di telingaku, ‚Adik kecil pencuri, aku ingin kau selamanya bersamaku, dan sama sekali tak akan berpisah lagi‘ „.

Seberkas rona merah muncul di wajah Mei Chaofeng, Guo Jing mendengar bahwa napasnya makin terengah-engah, lalu dengan pelan ia menghela napas panjang, suara desahan napasnya amat lembut, lengannya yang mencengkeram kepala Guo Jing sedikit mengendur. Dengan pelan Mei Chaofeng berkata, ‚Kenapa? Kenapa shifu mematahkan kaki Qu Shige? Dan kenapa mengusirnya dari pulau?‘ „

Saat ini musuh besar sudah berada dalam genggamannya, mereka berdua duduk di mulut gua tanpa berkata apa-apa, di keempat penjuru suasana sunyi senyap, iapun kembali tenggelam dalam kenangan masa lampau:

„Qu Shige juga selalu memandangku dengan lembut, saat itu aku sudah berusia enam belas tahun dan paham arti pandangan matanya. Tapi ia sudah pernah menikah, istrinya meninggal, dan ia juga mempunyai seorang putri, lagipula aku sudah terlanjur akrab dengan kakak pencuri, maka aku terpaksa menghindari pandangan matanya. Pada suatu malam, ketika kakak pencuri sedang berada dalam kamarku dan memelukku di atas ranjang, di balik jendela sekonyong-konyong seseorang berseru, ‚Chen Xuanfeng! Kau binatang, cepat keluar!‘ Suara itu adalah suara Qu Shige. Kakak pencuri cepat-cepat mengenakan pakaian dan menerjang keluar dari pintu, lalu terdengar suara kesiuran angin di luar pintu, ternyata Qu Shige sedang berkelahi dengannya. Aku sangat takut dan berseru memohon-mohon, ‚Kakak pertama, maafkan kami, ampunilah kami!‘ Qu Shige berkata dengan dingin, ‚Mengampuni kalian? „Dahulupun ketika berjumpa dengannya aku telah menaruh hati padanya, apalagi saat ini“. Siapa yang menulisnya? Aku bisa mengampuni kalian, tapi jangan-jangan shifu tak akan mengampuni kalian‘. ‚Duk!‘, entah siapa yang terkena pukulan keras. Chen Shige berteriak keras-keras, ‚Aiyo! Kau benar-benar hendak memukulku sampai mati?‘ Qu Shige berkata, ‚Masih berpura-pura saja! Mei Shimei, kau berkata bahwa kau akan seumur hidup belajar kungfu pada shifu, selamanya menemani beliau, kau telah membohongi shifu‘. Chen Shige berseru, ‚Shifu tak perduli, tapi kau perduli! Kau bukannya sedang mengurusi urusan orang lain, tapi sedang minum cuka, tak tahu malu!‘ Aku memandang keluar dari jendela dan hanya melihat sosok mereka berdua bertarung dengan secepat kilat, kungfuku tak cukup tinggi sehingga aku tak dapat melihatnya dengan jelas“.

„Sekonyong-konyong terdengar suara berdebam keras, tubuh Chen Shige melayang, lalu terjatuh ke tanah. Qu Shige berkata, ‚Aku bukannya minum cuka, melainkan mewakili shifu melampiaskan amarah. Hari ini aku akan memukul kau si binatang yang tak berperasaan dan tak setia ini sampai mampus!‘ Aku melompat keluar dari jendela dan memapah Chen Shige seraya berseru-seru, ‚Kakak pertama, ampunilah jiwanya, kakak pertama, ampunilah jiwanya!‘ Qu Shige menghela napas, lalu berbalik dan pergi.

„Keesokan harinya shifu memanggil kami bertiga. Aku sangat takut dan tak berani memandang wajahnya, ekspresi wajah shifu nampak amat sedih, seakan hendak menangis, ia hanya bertanya, ‚Kenapa? Kenapa?‘ Chen Shige berkata, ‚Kakak pertama melihat bahwa aku akrab dengan xiao shimei, ia menjadi cemburu dan hendak memukuliku sampai mati‘. Shifu menghela napas dan berkata, ‚Lingfeng, perbuatan seperti ini tak ada gunanya‘. Sambil berbicara ia tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Aku menangis, sambil berlutut di hadapan shifu aku berkata, ‚Shifu, akulah yang tak baik, mohon jangan hukum kakak pertama‘. Shifu berkata, ‚Lingfeng, kenapa kau hendak menyembunyikan baris puisi „apalagi saat ini“ itu? Kenapa kau menyalahkan Chaofeng dan berkata bahwa ia membohongiku, berkata bahwa ia berjanji akan seumur hidupnya melayaniku, tapi tak menepati janjinya? Hah, kau selalu menguping pembicaraan kami! Kalau Si Sesat Tua Huang berbicara pada orang dan ada yang menguping, masa Si Sesat Tua Huang tak tahu? Hehehe, kau terlalu meremehkanku. Aku mana punya amarah untuk dilampiaskan? Kalau aku hendak melampiaskan kemarahan, masa aku sendiri tak mampu melakukannya? Aku tak perlu menyuruhmu pergi memukuli orang! Kalau aku menyuruhmu memukuli orang, akulah yang minum cuka. Xuanfeng, Chaofeng, kalian keluarlah!‘ Demikianlah, dengan menggunakan sebatang tongkat kayu, shifu mematahkan kedua tulang kaki Qu Shige, kepada seluruh saudara seperguruan ia berkata, ‚Qu Lingfeng tak mematuhi peraturan perguruan, sejak saat ini ia bukan murid Taohua Daoku‘. Ia lalu menyuruh seorang pelayan bisu menemaninya kembali ke Linan“.

„Sejak saat itu, shifu tak lagi berbicara padaku, dan tak lagi berbicara pada Chen Shiqe, juga tak lagi mengajariku kungfu“. Tak lama kemudian ia pergi ke Prefektur Qingyuan dan Linan, dua tahun kemudian, ia tiba-tiba menikahi shimu dan membawanya pulang. Shimu usianya sangat muda, seumur denganku. Kami berdua shio monyet. Wajah shimu amat cantik, kulitnya putih dan halus, seperti susu saja, tak heran shifu amat mencintainya dan sering mengajaknya berpergian. Shimu tak bisa silat, namun sangat gemar membaca dan menulis. Pernah pada saat Zhongjiujie[12], shimu mempersiapkan arak dan hidangan, lalu mengundang para murid, shifu minum-minum sampai mabuk berat, ketika shimu masuk ke dapur untuk membuat sup, shifu mengumam dengan mabuk, ‚Apa masih ada orang yang bicara sembarangan dan mengatakan bahwa Si Sesat Tua Huang ingin memperistri murid perempuannya? Bagaimana dengan Linfeng? Aku tak menyalahkannya! Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kakinya?‘ „

„Shimu dibandingkan denganku juga lebih muda beberapa bulan, ia lahir di bulan kesepuluh. Ia memperlakukanku dengan sangat baik, pada suatu hari ia pernah berkata kepadaku, ‚Shifu sering memujimu sangat patuh dan sangat berbakti padanya. Ia juga berkata bahwa nasibmu sangat menyedihkan, ia ingin aku memperlakukanmu dengan sangat baik. Shifu tak mengerti masalah anak gadis, ia membesarkanmu dari kecil, tapi ia tak bisa mengurus banyak hal, ia merasa sangat menyesal. Kalau kau punya masalah atau menginginkan sesuatu, bicaralah baik-baik padaku‘. Ketika mendengarnya aku mencucurkan air mata, lalu aku berkata, ‚Shifu sudah memperlakukanku dengan sangat baik. Kami lihat setelah menikahimu ia sangat bahagia, maka semua murid juga ikut bahagia untuknya‘. Shimu berkata, ‚Kali ini ketika aku dan shifu berpergian, kami mendapatkan sebuah kitab silat yang luar biasa, yaitu Jiuyin Zhenjing, dengan kepandaian silat shifumu, kalau ia mempelajarinya, entah betapa hebatnya. Namun di dalamnya ada bagian yang aneh, seperti ocehan yang sulit dimengerti. Shifumu selalu suka menang, dan suka memecahkan teka-teki yang sulit, namun setelah mempelajarinya bersamaku untuk beberapa lama, ia belum juga berhasil memecahkannya, oleh karenanya ia tak punya waktu untuk mengajari kalian kungfu‘. Ia menunjuk ke arah dua buah kitab berkertas putih di atas meja seraya berkata, ‚Ini adalah salinan tulisan tangan Jiuyin Zhenjing. Sebenarnya ilmu silat Taohua Dao sudah setinggi langit, untuk apa memperdulikan ilmu silat orang lain. Tapi para pesilat asalkan melihat sedikit saja jurus baru pasti hendak mempelajarinya, seperti kalau kita melihat beberapa baris puisi indah yang cemerlang saja, kita pasti ingin menghafalkannya dan tak akan melepaskannya‘ „.

„Aku melaporkan pembicaraan ini pada kakak pencuri, ia berkata, ‚Di malam Zhongqiujie itu shifu tak sengaja mengungkapkan isi hatinya, sepertinya rasa sayangnya pada kakak pertama belum hilang, ia dapat mengizinkannya masuk kembali ke perguruan. Kalau kakak pertama pulang, kita akan mati. Adik kecil pencuri, sekali ini kita akan benar-benar menjadi pencuri, kita curi kitab Jiuyin Zhenjing shifu, kita kuasai ilmu silat kelas wahid, lalu mengembalikannya pada shifu, saat itu bahkan terhadap shifupun kita tak jeri, apalagi terhadap kakak pertama‘. Aku berusaha membantah sebisaku dan berkata hendak melapor pada shifu. Si kakak pencuri ini benar-benar berani mati, malam itu ia mencuri kitab itu, namun ia hanya mencuri satu kitab saja“.

„Beberapa hari belakangan itu, shifu sering mendongak memikirkan sesuatu, menurutku ia tak sedang mengubah syair, namun jari jemari sepasang tangannya tak henti-hentinya bergerak-gerak. Ketika aku berbicara tentang hal ini pada Chen Shige, ia berkata bahwa setelah shifu mendapatkan Jiuyin Zhenjing, ia sedang memikirkan kungfu di dalam kitab itu dengan seksama. Beberapa hari belakangan itu shifu tak mengajari kami kungfu, bahkan tak banyak berkata-kata juga, sepertinya banyak hal membebani pikirannya. Kulihat rambut-rambut putih bermunculan di kepalanya, dalam hati aku amat iba padanya. Kata Chen Shige, malam hari itu ia melihat shifu memegang sebuah salinan tangan kitab itu sambil berjalan ke paviliun tempat berlatih pedang, ia mengumam-gumam entah berbicara apa, lalu mendongak ke langit. Chen Shige berjalan ke hadapannya, lalu berseru, ‚Shifu!‘ Namun Shifu seakan tak melihatnya, dan juga tak mendengarnya, tanpa memperdulikan apa-apa, ia berjalan lurus ke depan. Chen Shige cepat-cepat minggir ke samping, ia berjalan ke arah kamar baca shifu dan diam-diam memasukinya, ia melihat bahwa salinan kitab itu sudah diletakkan di atas meja, namun hanya ada satu jilid saja, sejilid yang lain berada di tangan shifu. Hanya karena shifu sedang berpikir keras untuk memahami kungfu dalam kitab itu, Chen Shige dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mencuri gulungan salinan yang terdapat di bawah kitab. Kalau tidak, karena shifu begitu cerdik dan awas, Chen Shige mana bisa mencurinya?“

„Ia masih ingin mencuri jilid yang satunya lagi, apapun yang kukatakan, ia tak sudi menurut, aku berkata bahwa mencuri satu jilid saja sudah mengecewakan shifu, kalau ia masih ingin mencuri satu jilid lagi, ia benar-benar tak pantas menjadi manusia. Shifu memperlakukan kita dengan begitu baik, jadi orang harus sedikit punya liangxin[13]. Kakak Pencuri berkata, ‚Tentu saja ia memperlakukanmu dengan sangat baik, tapi masa ia memperlakukanku dengan baik?‘ Aku berkata, ‚Kalau kau ingin pergi mencurinya, aku akan berteriak keras-keras di luar kamar baca shifu, ‚Ada orang mencuri Jiuyin Zhenjing! Ada orang mencuri Jiuyin Zhenjing!‘ „

Ketika ia berpikir tentang hal ini, ia tak bisa menahan diri untuk berkata dengan pelan, „Ada orang mencuri Jiuyin Zhenjing! Shifu, shifu!“

Guo Jing merasa agak terkejut, tanyanya, „Mencuri Jiuyin Zhenjing apa?“ Mei Chaofeng tak kuasa menahan tawa, lalu berkata, „Bukan apa-apa, aku asal bicara saja“. Keharuman bunga persik di taman itu lamat-lamat menyeruak, membuatnya teringat pada keharuman bunga-bunga di Taohua Dao:

„Kakak pencuri sangat ketakutan, malam itu juga kami meninggalkan Taohua Dao, dengan menumpang kapal kami pergi ke Gunung Pudu, lalu bersembunyi di sebuah gua di tepi laut. Dalam beberapa hari itu, ia bolak-balik membaca gulungan kedua salinan tangan kitab itu, dahinya berkerut karena berpikir dengan keras. Kulihat bahwa huruf-huruf di salinan itu adalah tulisan shimu. Kakak pencuri berkata, ‚Kita salin kitab ini, lalu aslinya kita kembalikan pada shifu, tapi kemana kita harus pergi?‘ Aku berkata, ‚Pergi ke Taohua Dao!‘ Kakak pencuri berkata, ‚Adik kecil pencuri, kau masih ingin hidup tidak? Kau masih berani pergi ke Taohua Dao?‘ Kami tak berani berlama-lama tinggal di Gunung Pudu karena bagaimanapun juga kami masih terlalu dekat dengan Taohua Dao. Setelah sebulan berlalu, kami berlayar ke Zhongdu[14], lalu kami bersembunyi di tempat-tempat seperti Qingyuan, Shangyu, Baiguan dan Yuyao selama beberapa bulan, kemudian kami melarikan diri sampai ke kali-kali di tempat-tempat seperti Linan, Jiaxing, Huzhou dan Suzhou, ke seribu satu kali kecil di daerah sungai dan telaga itu, di siang hari kami bersembunyi di kapal sambil menutup kerainya rapat-rapat, shifu dan para shidi tak akan melihat kami lagi, dan kami juga kemungkinan besar tak akan berjumpa dengan Qu Shige“.

„Aku dan shige bersama-sama bolak-balik membaca kungfu dalam kitab itu. Kitab itu penuh berisi berbagai macam ilmu silat yang lihai, dimulai dengan ‚Jiuyin Baigu Zhao[15] dan ‚Cuixin Zhang[16]‘. Di kitab itu dijelaskan bagaimana cara berlatih dua kungfu ini dan cara memecahkannya. Dalam kitab itu dikatakan, ‚Kedua ilmu ini tak memerlukan dasar tenaga dalam, dapat dimulai hanya dengan waigong[17] saja. Kedua adik seperguruan tewas karena kedua ilmu ini, membunuh orang bagai rumput tanpa suara, itulah makna kedua ilmu ini‘. Shige dan aku kegirangan, kami segera mempelajarinya. Untuk berlatih kedua ilmu itu, kami harus membunuh orang yang masih hidup untuk dipakai berlatih. Aku berkata pada shige supaya kita pergi ke Desa Keluarga Jiang di Shangyu dan mulai dengan si Nyonya Jiang yang jahat itu, lalu menggunakan semua lelaki dan perempuan, tua dan muda, di Desa Keluarga Jiang untuk berlatih sehingga mereka menjadi kerangka bertulang putih. Aku teringat pada budi baik shifu menyelamatkan diriku dan dalam hati aku amat menyesal. Setelah shige mengetahuinya, ia sangat cemburu, ia menyalahkanku dan melarangku mengingat-ingat shifu. Setelah berlatih sampai ke belakang, semua kungfu yang terdapat dalam kitab itu memerlukan dasar tenaga dalam. Namun rumus untuk mempelajari tenaga dalam itu seluruhnya terdapat dalam gulungan itu. Kungfu dalam kitab itu termasuk dalam aliran Taois, sama sekali tidak sama dengan yang diajarkan shifu, kami belum pernah mempelajarinya. Shige berkata, ‚Selama ada kemauan, pasti akan berhasil!‘ Maka ia berlatih dengan cara yang dipikirkannya sendiri, lalu mengajariku ikut berlatih. Ketika ia berlatih ilmu silat tangan kosong, ia membuatkanku sebuah cambuk baja bersepuh perak untuk berlatih Cambuk Piton Putih. Katanya ia tak memberiku tanda mata tanda cinta, dan tak memberiku hadiah pernikahan, namun ia memberiku sebuah senjata yang indah. Saat itu kami sangat kaya, hahaha, setelah menguasai ilmu silat yang cemerlang itu, kami merampok keluarga-keluarga kaya dan para pejabat, namun kami hanya mengambil seperlunya saja“.

Saat itu angin sepoi-sepoi perlahan-lahan meniup rambut Mei Chaofeng, ia mengangkat kepala ke arah langit seraya bertanya dengan pelan, „Apakah di langit ada bintang-bintang?“ Guo Jing berkata, „Ada“. Mei Chaofeng bertanya, „Apakah ada Bima Sakti?“ Guo Jing berkata, „Ada“. Mei Chaofeng kembali bertanya, „Apakah ada Bintang Niulang Zhinu[18]?“ Guo Jing berkata, „Ada“. Mei Chaofeng bertanya, „Apakah ada Bintang Biduk Utara?“ Guo Jing berkata, „Aku tak mengenalinya“. Mei Chaofeng berkata, „Kau ini bodoh sekali. Lihatlah ke langit sebelah utara, disana ada tujuh bintang gemerlapan yang susunannya seperti gayung kayu, itulah Bintang Biduk Utara“.

Dengan penuh konsentrasi, Guo Jing mencari-cari di angkasa luas, benar saja, di langit sebelah utara ia melihat tujuh buah bintang cemerlang yang susunannya seperti gayung air yang sangat panjang, dengan girang ia berkata, „Sudah kelihatan! Sudah kelihatan!“ Mei Chaofeng berkata, „Kenapa disebut ‚Tujuh Bintang Berkumpul‘?“ Guo Jing berkata, „Aku tak tahu“. Sepasang tangan Mei Chaofeng mencengkeram erat-erat, ia berkata dengan bengis, „Ma Yu itu belum mengajarimu?“ Guo Jing berkata, „Belum. Pendeta hanya mengajariku bagaimana cara bernapas setelah berbaring“. Mei Chaofeng berkata, „Bagaimana cara bernapas?“ Guo Jing berkata, „Saat mengambil napas perut mengembang, saat menghembuskan napas perut ditarik ke belakang“. Mei Chaofeng mencoba melakukannya seraya berpikir, „Ketika kami berlatih bernapas justru sebaliknya. Jangan-jangan ini rumus rahasia kungfu Taois“.

„Yang tertulis dalam gulungan kedua Jiuyin Zhenjing seluruhnya adalah metode ilmu silat, si lelaki pencuri tak bisa berlatih lebih jauh lagi, ia sering berkata hendak mencuri gulungan pertama kitab itu. Aku berkata kembali ke Taohua Dao juga baik, kita terlebih dahulu memberikan gulungan kedua pada shifu dan shiniang. Shige berkata, ‚Kita belum selesai mempelajari ilmu silat dalam gulungan kedua! Ada beberapa kungfu yang jelas ditandai ‚dapat dipelajari dalam lima tahun‘, ‚dapat dipelajari dalam tujuh tahun‘, ’sepuluh tahun baru mulai mengintip kuncinya‘, tapi kita tak perlu memperdulikannya, beberapa kungfu seperti Jiuyin Baigu Zhao, Cuixin Zhang dan Cambuk Piton Putih, walaupun dasar tenaga dalamnya diajarkan di gulungan pertama, asalkan kita berlatih dengan tekun akan mahir juga, dan juga amat cepat mahirnya. Bagaimana latihan Cambuk Piton Putihmu?‘ Aku berkata, ‚Lumayan, tapi sekarang aku belum bisa menggunakannya dengan sangat baik, masih butuh waktu setahun lagi‘ „.

„Untuk mempelajari kungfu seperti Jiuyin Baigu Zhao yang kejam itu, kami melakukan kejahatan dengan sering menyaru sebagai anggota perguruan lurus terkemuka, berpura-pura menjadi orang baik dan pahlawan kentut anjing, mereka tak henti-hentinya mengepung kami suami istri, kami mati-matian berlatih dan bekerja sangat keras. Setelah membunuh banyak orang, makin lama keadaan kami makin runyam, bersembunyi dimana-mana, namun sulit untuk berlindung. Mereka berkata bahwa mereka tak dapat membiarkan kami membunuh orang tak berdosa dan mempelajari ilmu silat kejam seperti ini, sebenarnya mereka tak bermaksud merampas kitab dalam genggaman kami itu. Akan tetapi, kungfu Taohua Dao yang telah kami pelajari dari perguruan memang sangat hebat, begitu kami berdua hanya dengan menggunakan kungfu Taohua Dao membunuh beberapa ekor anjing, mereka langsung lari terbirit-birit begitu melihat kami dan memanggil kami ‚Sepasang Pembunuh Angin Hitam‘ segala, benar-benar tak enak didengar, seharusnya mereka memanggil kami ‚Sepasang Pembunuh Bunga Persik‘! Setelah itu orang yang datang makin lama makin kuat, kungfu kami suami istri sudah tinggi, nama kamipun sudah terkenal, namun lambat laun kami tak sanggup terus menerus bertahan. Dengan penuh ketakutan seperti itu, dua tahunpun berlalu, aku sering berpikir sendirian, andaikan dari dulu tahu akan begini, mencuri kitab yang merepotkan itu masih tak lebih baik daripada hidup dengan tenang di Taohua Dao, tapi bagaimana sikap Chen Shige kepadaku, shifu juga sudah tahu, kami mana punya muka berlama-lama di Taohua Dao? Kami juga takut Qu Shige kembali ke pulau“.

„Selain itu kami juga mendengar, bahwa shifu marah besar karena kami berdua mencuri kitab dan melarikan diri, saat membujuknya Lu dan Wu Shidi berdua tak berhati-hati dalam berkata, sehingga saat shifu murka ia mematahkan tulang kaki mereka berdua. Feng Shidi juga berkata, ‚Yang mengkhianati shifu hanya Chen Shige dan Mei Shizi berdua, kami semua setia sepenuh hati pada shifu, shifu tak boleh melampiaskan kemarahan pada orang yang tak bersalah dan melukai Qu, Lu dan Wu Shige bertiga‘. Shifu murka dan berteriak, ‚Bahkan kaupun akan kupukul, memangnya kenapa? Aku sudah bersusah payah, bekerja keras mengajari kalian kungfu, tapi akhirnya kalian semua berbalik melawanku. Aku Si Sesat Tua Huang lebih baik mati!‘ Dengan tongkat kayu, iapun mematahkan tulang kaki Feng Shidi“.

„Ketiga adik seperguruan semuanya diusir dari Taohua Dao, belakangan kabar ini tersiar keluar, dunia persilatan menjadi geger, dan semua orang berkata bahwa Si Sesat Tua Huang memang sesat. Aku mendengar kabar angin bahwa shifu berkata, ‚Aku Si Sesat Tua Huang lebih baik mati saja!‘ Mau tak mau hatiku bagai disayat-sayat pisau, aku benar-benar ingin berlutut di hadapan shifu dan shimu, dan menerima hukuman mati dari mereka untuk menebus dosaku. Oleh karenanya ketika shige berkata bahwa ia hendak pergi ke Taohua Dao, aku sama sekali tak menghentikannya, aku ingin bertemu muka dengan shifu lagi. Shige berkata bahwa pahlawan-pahlawan kentut anjing itu selalu mengejar-kejar kita, cepat atau lambat shifu akan mendengar kabar angin tentang hal ini, dan kalau shifu sampai ikut mengejar kita, nyawa kita akan melayang. Asalkan bisa mendapatkan gulungan pertama, kita dapat pergi ke Mongolia atau Xixia untuk melarikan diri jauh-jauh, setelah ribuan atau laksaan li, siapapun tak akan dapat menemukan kita. Kupikir hal ini sama sekali tak salah, maka aku siap berkorban nyawa dan memutuskan untuk kembali ke Taohua Dao. Lagipula kalau aku tak pergi ke sana, cepat atau lambat aku akan menghantar nyawa, kalau aku mati di tangan shifu, semua masalah akan berakhir dan jiwaku akan tenang“.

„Pada suatu malam, akhirnya kami tiba di Taohua Dao. Begitu tiba diluar aula besar, terdengar shifu sedang bertengkar dengan seseorang dengan suara keras, katanya, ‚Saudara Butong, aku tak mengambil kitabmu, bagaimana kau bisa memintaku mengembalikannya?‘ Kupikir shifu berbicara dengan tak sopan, di muka seseorang memanggilnya ‚Saudara Butong'[19]. Aku dan shige mengintip dari celah jendela untuk melihat, kulihat bahwa orang yang berbicara dengan shifu adalah seorang lelaki setengah baya yang memelihara janggut panjang, usianya sedikit lebih tua dibandingkan dengan shifu. Tapi ternyata ia tak gusar, sambil meringgis, ia berkata, ‚Sesat Tua Huang, tindak tandukmu selalu sesat, siapa yang percaya padamu‘. Shifu berkata, ‚Kesesatanku Si Sesat Tua Huang adalah menentang orang suci dan orang bajik, memberontak pada raja dan memunggungi leluhur, tak menuruti ajaran orang suci dan bajik, tak menghormati raja dan ayah, dan sama sekali tak punya li yi lian chi [20].Kalau aku berkata bahwa aku tak mengambil kitabmu, aku benar-benar tak mengambilnya. Kalaupun aku mengambilnya, dengan apa yang pernah dipelajari dan diketahui oleh Si Sesat Tua Huang ini, aku tak akan merendahkan diriku untuk mempelajari kungfu bau dalam kitab Quanzhen Jiao palsu kentut anjingmu itu‘. Orang itu tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata, ‚Mana yang harum dan mana yang bau, akan langsung ketahuan dengan sekali cium, mana yang asli dan mana yang palsu, begitu bertarung akan langsung ketahuan. Sesat Tua Huang, ayo kita dua bersaudara ini bermain-main untuk melihat apakah kau sudah mempelajari kungfu Jiuyin Zhenjing itu atau belum‘. Ia bangkit, menunggu sampai shifu bangkit dari kursinya, lalu tangan kirinya mengepal dan meninju ke arah shifu. Shifu juga melancarkan jurus ‚Taohua Luoying Zhang'[21]. Mereka berdua baru mulai bergerak, namun cahaya lilin nampak bergoyang-goyang, gerakan mereka amat sebat. Ketika aku memandang shige, ia juga sedang memandangku, kami berdua menjulurkan lidah, ilmu silat yang secemerlang ini belum pernah kami saksikan sebelumnya“.

„Aku menarik-tarik lengan baju shige, lalu memberi isyarat dengan tangan, kupikir ini adalah kesempatan emas yang tak sekali datang dalam seribu tahun, shifu sedang sibuk melayani seorang jago kelas wahid, untuk sementara waktu ia tak bisa melepaskan diri, ini adalah saat yang tepat untuk pergi ke kamar baca dan mencuri gulungan pertama kitab. Shimu tak bisa ilmu silat, kami sama sekali tak akan melukainya dan juga sama sekali tak akan menakut-nakutinya, kami hanya akan menghormat kepadanya beberapa kali untuk menunjukkan rasa terima kasih kami, mencuri kitab lalu pergi. Tapi shige terpesona menonton pertarungan itu, apapun yang kukatakan ia tak mau pergi. Setelah itu ia berkata, ia berpikir bahwa dalam pertarungan diantara shifu dan si janggut panjang dari Quanzhen Jiao itu, pada akhirnya mereka pasti akan menggunakan ilmu silat Jiuyin Zhenjing, kalaupun shifu benar-benar belum mempelajarinya, si janggut panjang itu pasti dapat menggunakannya. Dapat melihat dua orang jago kelas wahid bertukar jurus jauh lebih baik daripada hanya membaca deskripsi yang ditulis dalam kitab. Ia enggan pergi dan aku juga tak berani pergi sendirian, ketika aku mengintip melalui celah jendela, terlihat tubuh shifu seakan melayang di atas air, bergeser kesana kemari dengan licin, seakan hanya menghindar saja dan tak melancarkan jurus. Gerakan ‚Saudara Butong‘ itu juga luar biasa aneh dan cemerlang. Nampak shifu dengan licin mundur sampai ke samping jendela, tangan kiri si janggut panjang itu mengayun dan memukul, shifu merunduk, ‚Plak!‘, tangan si janggut panjang memukul sisi jendela, aku cepat-cepat mengegos ke samping. Secara sekilas, shifu melihat rambut panjangku, ia tertegun sejenak, lalu memanggilku, ‚Chaofeng!‘ Gerakan tubuhnya sedikit melambat, sedangkan pukulan telapak kanan si janggut panjang itu telah tiba, sepertinya shifu tak dapat menghindar, dan pukulan itupun mengenai bahunya. Shifu terhuyung-huyung, kaki kanannya setengah berlutut, namun ia menjulurkan dua jarinya, „Tok, tok!“, peluru Tanzhi Shentong mengenai kedua kaki si janggut panjang, si janggut panjang terjatuh ke tanah, ia berguling-guling lalu berhenti dan tak bangkit lagi“.

„Shifu tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata, ‚Chaofeng, shifu tak belajar Jiuyin Zhenjing, hanya memakai Tanzhi Shentong saja sudah bisa mengalahkan dia! Kau datang kesini untuk apa?‘ Aku melompat bangkit dan berlutut di hadapan shifu, sambil menangis aku berkata, ‚Shifu, murid telah mengecewakan shifu, murid datang untuk menemui shifu dan shiniang‘. Dengan sedih shifu berkata, ‚Shimumu sudah tiada! Aula duka ada di belakang‘. Ia menunjuk ke belakang. Aku takut dan pikiranku galau, aku berlari masuk ke belakang, kulihat aula di belakang halaman telah dihias dengan megah menjadi sebuah aula duka, di tengahnya terdapat sebuah papan arwah yang bertuliskan ‚Papan Arwah Mendiang Nona Feng‘. Aku berlutut dan bersujud, menangis sampai suaraku habis. Tiba-tiba aku melihat bahwa di samping aula duka itu ada seorang gadis kecil berusia dua tahun, ia duduk di atas kursi dan tersenyum padaku, anak perempuan ini benar-benar mirip shimu, tentunya ia adalah putrinya, apakah ia meninggal karena kesukaran dalam melahirkan?“

„Shifu berdiri di belakangku, kudengar anak perempuan itu berseru sambil tertawa, ‚Ayah, gendong!‘ Senyumnya bagai sekuntum bunga, ia mementang kedua tangannya dan berlari ke arah shifu. Shifu khawatir ia akan terjatuh dan memeluknya. Chen Shige menarikku dan lari sekencang-kencangnya, memburu sampai ke perahu, air laut menciprat ke dalam perahu, jantungku berdebar-debar melompat-lompat, seperti hendak menerjang keluar dari mulutku, kudengar suara shifu dari kejauhan, ‚Kalian pergilah! Jaga diri kalian sendiri, jangan belajar Jiuyin Zhenjing, yang penting adalah mempertahankan hidup kalian‘ „.

Catatan Kaki Penerjemah

[1] Pohon yang getahnya dipakai sebagai deterjen (Inggris: Chinese Honey Locust).
[2] Pulau Bunga Persik (Hokkian: Tho Hoa To).
[3] Mahir ilmu silat dan surat (Hokkian: Bun bu coan cay).
[4] Ouyang Xiu (1007- 1072M) adalah seorang negarawan, sejarahwan dan penyair yang hidup di masa Dinasti Song. Pada tahun 1045 ia diadili karena dituduh mempunyai hubungan gelap dengan keponakan perempuannya. Walaupun akhirnya ia dibebaskan dari tuduhan itu, reputasinya terlanjur rusak dan pangkatnya diturunkan.
[5] Kaisar pendiri Dinasti Song.
[6] Kaisar pertama Dinasti Song Selatan.
[7] Hokkian: Cin Kwee.
[8] Hokkian: Gak Hui.
[9] Kitab Sembilan Bulan (Hokkian: Kiu Im Cin Keng).
[10] Agama Quanzhen (Hokkian: Coan Cin Kauw).
[11] Pertemuan Pedang Huashan (Hokkian: Hoasan Lunkiam).
[12] Perayaan pertengahan musim gugur (Hokkian: Tiongciu).
[13] Hati nurani (Hokkian: liang sim).
[14] Dataran Tengah, sama dengan Zhongyuan (Hokkian: Tionggoan).
[15] Cakar Tulang Putih Sembilan Yin (Hokkian: Kiu Im Pek Kut Jiauw).
[16] Tapak Penghancur Jantung.
[17] Tenaga luar (Hokkian: gwakang).
[18] Si Pengembala dan Gadis Penenun dari cerita rakyat China, yang hanya diperbolehkan bertemu sekali dalam setahun.
[19] Butong berarti ‚tak mengerti‘ atau ‚tak masuk akal‘.
[20] Empat ikatan sosial, yaitu kepatutan, keadilan, integritas dan kehormatan.
[21] Berarti Tapak Bunga Persik Luruh.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s