Oey Yok Su (Huang Yaoshi), Si Sesat dari Timur.

Oey Yok Su – Trilogi Rajawali – Jin Yong

Majikan Pulau Persik, ayah  kandung dari Oey Yong. Dia mendapatkan gelar „Sesat“ karena tindak tanduknya yang sangat aneh dan suka melanggar norma serta tatanan budaya yang berlaku dalam masyarakat. 

Sifat anehnya ini sering membuatnya berada pada posisi yang sulit dan dianggap jahat serta tak bermoral, tapi hebatnya dia sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang. 

Hal ini terlihat saat orang-orang menuduhnya membuat cacat seluruh pembantunya di Pulau Persik, padahal sebenarnya dia mengumpulkan orang-orang cacat untuk memberi mereka kehidupan yang lebih baik. Sedikitpun ia tak pernah berusaha meluruskan pandangan orang terhadap dirinya.

Berikut adalah beberapa contoh tindakan aneh yang dilakukannya.

Saat dia dituduh membunuh 5 dari 7 Pendekar Aneh dari Kanglam (Kanglam Cit Koay). Dia tidak membantah dan juga tidak mengakuinya. Hal ini nyaris membuat perjodohan antara Kwee Ceng dengan putinya Oey Yong berantakan. 

Oey Yok Su tidak segan-segan membuat cacat 4 orang muridnya yang tidak bersalah kemudian mengusir mereka karena murka atas pengkhianatan 2 orang muridnya yang lain yang telah mencuri salinan Kitab Kiu Im Cin Keng darinya. Kejadian ini berbuntut panjang. 

Istri Oey Yok Su, yang membuatkan salinan kitab tersebut berusaha menghibur suaminya dengan berusaha membuat salinan yang baru berbekal hafalannya. Karena berpikir terlalu keras saat membuat salinan yang baru dalam keadaan hamil, istrinya jatuh sakit kemudian meninggal saat melahirkan putri mereka.

Terpukul dengan kematian istrinya, dia mencari orang lain yang memiliki salinan kitab tersebut, yaitu adik seperguruan Ong Tiong Yang yang bernama Ciu Pek Tong, Si Bocah Tua Nakal. Walau tidak berhasil mengalahkan Ciu Pek Tong, namun ia berhasil menawan Si Bocah Tua Nakal selama belasan tahun di Pulau Persik. 

Tujuannya cuma satu, mengambil kitab yang ada pada Ciu Pek Tong untuk kemudian dibakar sebagai persembahan untuk arwah istrinya. Hal ini terjadi karena ia mempersalahkan Ciu Pek Tong yang telah memamerkan kitab Kiu Im Cin Keng pada istrinya, sehingga istrinya penasaran dengan kitab itu. 

Setelah memperdaya Ciu Pek Tong yang lugu, istrinya bisa membaca dan menghafal kitab itu, kemudian menuliskannya kembali. Dalam logika Oey Yok Su, seandainya Ciu Pek Tong tidak memamerkan kitab itu, maka tidak akan terjadi rentetan kejadian yang mengakibatkan istrinya meninggal dunia.

Dalam cerita Return Of The Condor Heroes, dia merupakan satu-satunya tokoh yang mendukung kisah cinta antara Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Padahal kisah cinta itu merupakan cinta terlarang dan sangat tabu dizaman itu karena Yo Ko adalah murid Siauw Liong Lie. Pada masa itu kedudukan guru dianggap sama dengan orang tua. 

Dipihak lain, Kwee Ceng, menantunya yang kaku dan sangat terikat pada norma dan adat, berpikiran bahwa lebih baik Yo Ko mati ditangannya daripada membuat aib bagi leluhurnya. Kwee Ceng merasa bertanggung jawab karena ia adalah kakak angkat Yo Kang, ayahanda Yo Ko.

Diluar segala keanehan/kesesatan yang dimilikinya, Oey Yok Su merupakan seorang jenius. Dia mahir ilmu silat, sastra, strategi perang, ilmu ramalan, ilmu perbintangan, dan juga mahir memainkan beragam alat musik. 

Diantara lima jagoan, dialah yang berusia paling muda. Usianya saat pertarungan di Puncak Hoa San bahkan belum sampai setengah usia Ong Tiong Yang, karena itula Ong Tiong Yang sangat mengaguminya. Sifat dan karakternya sangat bertolak belakang dengan Kwee Ceng sang menantu yang agak bebal dan lugu. 

Perbedaan karakter inilah yang membuatnya tidak menyetujui perjodohan antara Kwee Ceng dan putrinya Oey Yong. Dia melakukan berbagai cara untuk menggagalkan kisah cinta mereka. Tapi akhirnya ia mengalah, demi kebahagiaan sang putri.

Sisi kelembutan Oey Yok Su dapat terlihat dalam hubungannya dengan sang istri. Cintanya hanya pada satu wanita. Setelah istrinya meninggal, dia tidak berusaha mencari pengganti. Setiap hari dia datang ke makam istrinya dan mengajak (nisan) istrinya bercakap-cakap. 

Ia menghias makam istrinya dengan berbagai benda-benda mewah dan mahal, dan tak seorangpun diizinkan memasuki makam kecuali putri mereka. 

Gilanya lagi, dia membuat sebuah kapal mewah yang rencananya akan digunakan untuk sebuah pelayaran bunuh diri mengarungi lautan untuk menyusul istrinya ke alam baka. 

Kapal itu dirancang untuk hancur di tengah lautan. Yang menahannya dari misi bunuh diri itu hanya satu, dia tidak tega meninggalkan putri semata wayang yang sangat dicintainya sendirian di dunia.

Selanjutnya, saat murid yang pernah mengkhianatinya tewas ditangan orang lain, dia sangat murka dan berniat untuk menuntut balas. Dia berpikiran, tidak seorangpun berhak membunuh muridnya, kecuali dirinya. 

Hinaan terhadap mantan muridnya tetap dianggapnya sebagai hinaan langsung pada dirinya. Diluar segala tindakan kejam terhadap muridnya, dia tetap menyayangi mereka.

Selain itu, gambaran sesat, kejam, dan aneh yang melekat pada dirinya seringkali merupakan sebuah kesengajaan yang diciptakannya sendiri untuk menutupi sisi kelembutan dan kebaikan yang ada dalam dirinya. 

Meskipun dijuluki „sesat“, tak pernah sekalipun dia melakukan tindakan yang tidak jantan ataupun tindakan memalukan bagi seorang ksatria. Tokoh ini benar-benar merupakan seorang tokoh yang kompleks. 

Pribadi yang unik. Dalam tindakannya yang terkadang kejam, tersembunyi kelembutan yang tiada batas, khususnya bagi orang-orang terdekatnya. Karena itulah tokoh ini merupakan salah satu tokoh favorit dalam Trilogi Rajawali karya Jin Yong.

By Praths

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s