Sapaan: „Sudah Cia?“

Ini kejadiannya sudah lama, tapi kalau diingat-ingat suka senyum sendiri. Ceritanya dulu di Indonesia, sebelum kembali ke Jerman untuk kedua kalinya, saya pernah tinggal di daerah perumahan baru, dimana hubungan antar tetangga sangat harmonis.

Ketua RT nya pak Jim, Tionghoa asal Medan atau Pontianak, lupa. Setiap sore (diduga sehabis makan) dia suka keliling blok, dan sambil menepuk-nepuk perutnya, dia selalu menyapa dgn sapaan yg sama: „Sudah Cia? (Cia = makan)

Sekali waktu saya duduk di teras bersama tetangga, orang Tapanuli. Entah apa yang ada di benak kami berdua, ketika pak Jim menyapa dgn sapaannya yg khas, kami dgn kompak menjawab: „Belum“.

Langsung pak Jim mengundang kita untuk makan di rumahnya. Meskipun sudah berkali-kali menjelaskan, bahwa kita cuma gurau, tapi dia tetap bersikeras dgn undangannya: „Ayo, gua punya sosis Cungkuo.“ (Cungkuo = China)

Akhirnya kita bertiga jalan ke rumah pak Jim yg letaknya hanya terpisah satu jalan. Di rumahnya pak Jim sibuk mengiris sosis Cungkuo dan menggorengnya. Ternyata memang lezat. Rasanya mirip dgn sosis Sucuk dari Turki.

Belakangan saya tahu, bahwa sapaan „sudah cia?“ itu, di masa lampau adalah sapaan yg lumrah antar sesama keturunan Tionghoa di Indonesia.

Tujuannya sederhana, selain sopan santun, juga memang benar2 menanyakan apakah sudah makan. Karena di jaman itu banyak Tionghoa perantauan yg baru tiba di Indonesia tanpa uang sepeser pun di sakunya.  ~ aldithe

Diceritakan oleh Aldi The

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s